Indonesia
NovelToon NovelToon
Masuk Novel Pikiran Ku Di Baca Pangeran

Masuk Novel Pikiran Ku Di Baca Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Isi hati pelayan?

Barisan pelayan kini diminta berdiri tegak dan kaku di belakang, bersiap menyiagakan diri jika ada petinggi kerajaan yang membutuhkan cangkir mereka diisi ulang atau piring kotor mereka disingkirkan. Di tengah keheningan yang amat formal itu, denting pelan sendok dan garpu emas yang beradu dengan porselen mahal menjadi satu-satunya suara yang mendominasi ruangan.

Lina, yang berdiri di barisan paling ujung, menelan ludahnya berkali-kali. Tenggorokannya terasa kering dan perutnya yang sedari tadi cuma diisi air kran mendadak bergejolak hebat. Lewat sudut matanya, ia melirik ke arah meja makan panjang yang dipenuhi hidangan kelas atas—daging kalkun panggang berlapis madu, potongan daging sapi yang disiram saus anggur merah berkilauan, hingga buah-buahan segar yang bahkan ukurannya tidak wajar.

"Buset... orang have-have emang beda ya makanan pas makan siangnya," ratap Lina pedih di dalam hatinya, menangisi nasib perutnya sendiri. "Gue di kampus kalau punya uang sepuluh ribu cuma dapat nasi kucing sama es teh manis, ini orang-orang kaya makanannya bisa buat bayar uang semesteran gue dua bulan!"

Pandangannya perlahan bergeser, menatap sosok Lucien yang sedang memotong daging di piringnya dengan gerakan yang amat elegan dan teratur. Setiap lekuk jemarinya yang terbalut sarung tangan kulit tipis, cara rahangnya bergerak saat mengunyah, hingga cara sinar matahari menembus kaca patri dan menimpa wajahnya semuanya terlihat bagaikan lukisan mahakarya.

"Tapi ya gimanapun juga, ngeliat Pangeran Lucien makan tuh behhh... emang gak ada yang bisa ngalahin ketampanannya," puji Lina lagi, matanya berbinar sebentar sebelum akhirnya meredup drastis. Sebuah helaan nafas yang sangat berat bergema di dalam pikirannya.

"Sayang banget, ganteng-ganteng tapi umurnya gak panjang. Kasihan, bentar lagi dia juga bakal mati ditipu sama orang terdekatnya, terus mati mengenaskan dengan gelar pengkhianat kerajaan. Ckckck, nasib orang ganteng di novel romansa emang cuma jadi tumbal alur."

CRANG!

Suara pisau makan yang beradu keras dengan porselen membuat beberapa bangsawan di ruangan itu terlonjak kaget.

Lucien membeku di tempatnya. Tangannya yang memegang pisau perak mendadak mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan manik mata birunya yang sedingin es mendadak melebar sempurna.

Apa?! jerit Lucien di dalam benaknya sendiri, diliputi keguncangan yang luar biasa. Aku... bakal mati? Ditipu? Mati dengan gelar pengkhianat?!

Suara wanita itu kembali terdengar begitu jelas, begitu nyata, dan menyampaikan sesuatu yang begitu tidak masuk akal hingga membuat darah di tubuh Lucien terasa berhenti mengalir. Bagaimana bisa seorang pelayan kelas bawah tahu tentang takdir masa depan? Bagaimana bisa pelayan kusam itu bicara tentang tuduhan pengkhianatan yang bahkan tidak pernah melintas di benak siapapun di kerajaan ini?

Lucien berusaha keras menguasai raut wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berpura-pura mengusap bibirnya dengan serbet kain untuk menyembunyikan getaran di garis bibirnya.

Pelayan itu... dia cuma bicara omong kosong! pikir Lucien mencoba meyakinkan dirinya sendiri, matanya melirik tajam ke arah Lina melalui pantulan cangkir perak di depannya. Tapi kalau ini cuma omong kosong atau sihir musuh... kenapa hanya aku yang bisa mendengar suara hatinya? Kenapa tidak ada orang lain di ruangan ini yang bereaksi?!

Teka-teki gila itu mulai berputar di kepala sang Pangeran Mahkota. Tatapannya kini terkunci sepenuhnya pada gadis pelayan yang berdiri lugu di pojokan ruangan, yang sama sekali tidak menyadari bahwa rahasia terbesar dari takdirnya baru saja bocor ke tangan pria paling berbahaya di kerajaan tersebut.

Malam hari akhirnya tiba, membawa keheningan yang dingin menelusuri koridor-koridor batu Kediaman Adipati. Setelah seharian penuh memeras keringat di dapur dan melayani para bangsawan, Lina yang kini terjebak dalam tubuh Eliana akhirnya bisa melangkah menyeret kakinya menuju area belakang kastil. Tempat tinggal para pelayan kelas terbawah.

Kamar Eliana terletak di ujung lorong paling gelap, dekat dengan gudang penyimpanan kayu bakar. Ruangannya sempit, beratap rendah dengan aroma lembap yang menyeruak tajam. Hanya ada satu tempat tidur kayu tanpa kasur busa, satu selimut tipis yang sudah berserat, dan sebuah meja kecil dengan cermin retak di atasnya.

"Astaga, ini kamar apa kandang jangkrik?" menghela nafas panjang, Lina menghempaskan tubuhnya ke pinggir ranjang. Suara kayu berderit nyaring menyambutnya.

Meskipun badannya serasa mau remuk, jiwa mantan mahasiswa pekerja keras dalam diri Lina tidak bisa diam begitu saja melihat kondisi tubuh barunya. Ia bangkit, mendekati meja kayu kecil dan menyalakan sebatang lilin redup. Mata kecokelatannya menatap lurus ke arah cermin retak di hadapannya.

Di balik pantulan kaca yang kusam, terlihat sosok gadis berkulit pucat dengan rambut pirang kusam yang terikat asal-asalan. Wajahnya penuh noda jelantah dan debu dapur, bibirnya kering pecah-pecah, serta matanya memiliki lingkar hitam yang cukup dalam.

"Sebenarnya kulit dasarnya putih bersih, tapi parah banget gak terawat begini," gumam Lina sambil mengusap pipi kusam itu. Pikiran positifnya mendadak menyala. "Oke, Eliana. Di kehidupan lama gue gak sempat glowing gara-gara sibuk kerja paruh waktu, sekarang di dunia novel gue gak boleh kusam begini! Mari kita rawat!"

Dengan semangat yang mendadak membumbung tinggi, Lina mulai memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang sempat ia ' amankan' dari sisa dapur tadi sore—seperti minyak zaitun murni, ampas kopi, dan sedikit madu yang ia simpan di wadah kecil.

Lina mengambil ember berisi air hangat yang ia angkut sendiri dari sumur belakang. Tanpa membuang waktu, ia membasuh wajahnya, lalu mulai meracik lulur alami dari ampas kopi dan minyak zaitun. Jemarinya menggosok lembut kulit lengan, leher, hingga seluruh permukaan wajahnya. Perlahan tapi pasti, lapisan sel kulit mati dan noda jelantah yang menempel bertahun-tahun mulai terangkat.

Selesai membilas tubuh dan wajahnya dengan air bersih, Lina menyapu rambut basahnya ke belakang dan kembali berdiri di depan cermin. Ia menyapu embun yang menutupi permukaan kaca retak itu.

Seketika, mata Lina membelalak sempurna. Mulutnya menganga lebar.

"Busetttt..." pekik Lina tertahan, menepuk kedua pipinya sendiri yang kini terasa sangat halus dan kenyal.

Di balik tumpukan kotoran dan debu dapur yang telah bersih, tersembunyi paras yang benar-benar memukau. Kulitnya pucat transparan bagaikan porselen terbaik, kontras dengan bibir merah alami yang merekah padat. Hidungnya kecil menjulang bangir, dan pasang mata jernihnya memancarkan aura yang amat memesona. Fitur wajahnya sama sekali tidak mencerminkan gen seorang rakyat biasa atau pelayan suruhan. Struktur tulang pipinya yang tegas dan anggun justru lebih mirip dengan keturunan bangsawan murni.

Lina memutar-mutar wajahnya di depan cermin, mengamati setiap inci keturunan genetik tubuh Eliana dari berbagai sudut dengan rasa takjub yang luar biasa.

"Gila... ini mah bukan muka pembantu!" bisiknya dengan rasa bangga yang tidak bisa ditahan. "Gue cuma perlu keramas kencang sama pakai lulur kopi sekali aja bisa langsung bening begini?! Kalo Eliana yang asli dandan dikit aja dari dulu, dia udah bisa saingan sama pemeran utama wanita di novel ini! Pesona hidden gem banget, anjir!"

1
Uthie
Lanjut menyimak 👍😁
Uthie
Pas.. lagi seneng cerita yg soal bisa membaca Pikiran 😁👍👍👍
Noveni Lawasti Munte
kurang jeli nih si pangeran mahkota masa ga da pengawal bayangan untuk eliana🙄
Inez Putri
gmn nasibnya alianaa... smga slmat
JasmineA
mereka keluar istana terus adik nya Lucien si Althea gi mana? masa ditinggal sm predator sih...kasian pasti dia depresi gara2 kakak nya meninggoy
Nyai mardianti
ka aku Suka bangat sama novel kaka yg satu ini apakah ini masih on going
Retno Isma
ini kerjaan modern kan. kenapa ga pake lampu aja. masih pake obor Kya jaman purba.
Retno Isma
🌹🌹🌹🌹
Talita Rafifah artanti
ceritanya bagus, menarik untuk dibaca.
Anita Rahayu
Yg banyak dan panjang thor buat cerita👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Wahyuningsih
q mampir thor dpt bonus ruang dimensi gk thor biar makin sru n buat eliana badaz abiz
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!