Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Kesadaran Jeffry perlahan-lahan kembali, namun tubuhnya terasa bagaikan diikat oleh timah panas.
Setiap sendi dan ototnya menolak untuk digerakkan.
Efek cairan bius dosis tinggi itu masih bekerja kuat melumpuhkan sistem sarafnya, membuat ia bahkan kesulitan sekadar mengepalkan tangan atau membuka mulut untuk berteriak.
Melalui kelopak mata yang terasa sangat berat dan pandangan yang masih buram, Jeffry mencoba mengenali situasi.
Sinar matahari pagi yang terik menembus kaca jendela mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.
Bau debu jalanan dan pengapnya kabin mobil mendesak indra penciumannya.
Ia tidak lagi berada di area kampus. Jalanan di luar kini tampak asing—pohon-pohon tinggi dan sunyi mulai mendominasi pemandangan, menandakan mereka telah keluar jauh dari batas kota.
Di kursi pengemudi, punggung seseorang tertangkap oleh penglihatannya yang kabur. Ningrum.
Gadis itu duduk tegak dengan kedua tangan mencengkeram setir kemudi.
Namun, yang membuat darah Jeffry berdesir ngeri bukanlah kecepatan mobilnya, melainkan apa yang sedang dilakukan Ningrum.
Sepupu tirinya itu tengah tersenyum sendiri menatap lurus ke depan, tertawa-tawa kecil di sela-sela gumamannya.
Dengan suara berbisik-bisik fals dan nada yang teramat sumbang, Ningrum mendendangkan sebuah lagu pop lawas yang familier—lagu cinta sendu milik Backstreet Boys, "As Long As You Love Me", namun dinyanyikan berulang-ulang pada lirik yang sama dengan intonasi yang menyeramkan:
"As long as you love me. We could be starving, we could be broke, as long as you love me."
Senyum di bibir Ningrum semakin melebar, memperlihatkan tatapan kosong yang menyiratkan bahwa kewarasannya telah sepenuhnya runtuh.
Obsesi gila itu telah mengubahnya menjadi sosok yang asing dan menakutkan.
Di jok belakang, Jeffry merasakan kepanikan hebat menghantam dadanya. Ia ingin bergerak, ingin memanggil nama Puja, ingin menghentikan kegilaan ini.
Namun, tenggorokannya terasa kelu, dan tubuhnya tetap tak bergeming.
Mobil terus melaju kencang, membawa Jeffry semakin jauh ke dalam perangkap psikopat yang siap menghancurkan segalanya.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Jam kuliah Puja akhirnya usai setelah dosen menutup materi dan mempersilakan mahasiswanya meninggalkan ruangan.
Dengan tergesa-gesa, Puja merapikan buku-bukunya ke dalam tas, lalu bergegas melangkah keluar menuju lobi dan area parkir utama—tempat biasa suaminya menjemput.
Ia menunggu selama sepuluh menit. Lima belas menit. Setengah jam.
Namun, mobil milik Jeffry tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Puja mulai merasa gelisah. Ia merogoh ponsel dari dalam tasnya, lalu menekan nomor suaminya.
Tut... tut... tut...
Tidak ada jawaban. Panggilan itu terus berdering hingga operator menyusul, membuat dada Puja semakin bergemuruh hebat.
Mencoba menepis prasangka buruk, ia kembali mencoba menelepon untuk kedua dan ketiga kalinya, namun hasilnya tetap nihil.
"Mana mungkin Mas Jeffry mangkir tanpa kabar?" gumam Puja cemas, menggigit bibirnya gelisah.
Karena panik, ia memutuskan berjalan cepat menuju gedung fakultas sebelah, tepatnya ke ruang dosen tempat suaminya biasa singgah.
Setibanya di sana, pintu ruangan terbuka setengah.
Puja mendapati seorang dosen senior rekan kerja Jeffry sedang membereskan mejanya.
"Permisi, Prof. Maaf mengganggu. Apakah bapak tahu di mana Pak Jeffry?" tanya Puja dengan napas sedikit memburu.
Dosen senior itu menghentikan aktivitasnya, menoleh, lalu mengernyitkan dahi bingung.
"Pak Jeffry? Oh, dari tadi pagi beliau belum pernah masuk ke ruangannya, Mbak Puja. Mejanya masih bersih sejak pagi."
Deg!
Jantung Puja seperti berhenti berdetak seketika. Darahnya mendadak mendingin.
"B-belum pernah masuk, Prof? Tapi tadi pagi kami datang bersama" suara Puja tercekat di tenggorokan.
Rekan kerja Jeffry mengangguk yakin. "Iya, betul. Tapi kalau tidak salah, tadi pagi sekitar jam delapan, saya sempat melihat dari jendela mobil Pak Jeffry melaju kencang meninggalkan area parkir secara tiba-tiba. Saya pikir beliau ada urusan mendadak."
Dunia seolah runtuh seketika di hadapan Puja. Kata-kata dosen itu berputar-putar di kepalanya, memunculkan bayangan mengerikan tentang pesan teror dan ancaman dari Ningrum yang sempat mereka bahas kemarin.
Kemana Mas Jeffry?! teriak batin Puja histeris. Lututnya terasa lemas, hampir membuatnya jatuh jika ia tidak mencengkeram kusen pintu.
Di tengah kepanikan yang melanda, sebuah suara familiar terdengar memanggil dari arah belakang.
"Puja?"
Seseorang menepuk pelan pundaknya. Puja menoleh dan mendapati Andy yang berdiri dengan tatapan penuh keheranan melihat wajah Puja yang pucat pasi.
Andy melirik sekilas ke arah ponsel di tangan Puja yang bergetar pelan, lalu menatap lekat-lekat mata gadis itu yang sudah berkaca-kaca.
"Puja, ada apa? Kamu kelihatan pucat banget. Lagi ada masalah?" tanya Andy dengan nada suara yang menyiratkan kekhawatiran seorang teman lama.
Puja menatap Andy dengan pandangan putus asa, air matanya tak mampu lagi tertahan dan tumpah membasahi pipi.
Suaranya bergetar hebat saat ia mencengkeram lengan jaket Andy.
"Mas Jeffry hilang, Mas." rintih Puja pilu di antara isak tangisnya.
Mendengar kalimat putus asa itu, ekspresi Andy seketika berubah serius.
Sebagai kakak kelas yang mengenalnya dengan baik, ia tidak tinggal diam melihat Puja yang hampir kehilangan keseimbangan.
Andy sigap memegang kedua bahu Puja, menuntun gadis itu untuk duduk di kursi tunggu di depan ruang dosen dan mengambilkan sebotol air mineral.
"Tenang dulu, Puja. Tarik napas dalam-dalam. Ceritakan pelan-pelan, apa maksudnya Mas Jeffry hilang?" bujuk Andy dengan nada tegas namun menenangkan.
Puja menggelengkan kepalanya panik, air matanya terus mengalir deras.
Dengan tangan gemetar, ia menceritakan kejanggalan pagi tadi—mulai dari pesan teror yang diterima Jeffry, hingga kesaksian rekan dosen yang melihat mobil suaminya melaju kencang secara tiba-tiba tanpa sempat masuk ke ruangannya.
"Kita tidak boleh berasumsi macam-macam. Mari kita ke ruang bagian keamanan kampus sekarang juga. Kita cek rekaman CCTV parkiran!" ajak Andy mantap, memberikan secercah harapan di tengah kepanikan Puja.
Tanpa membuang waktu, mereka berdua bergegas menuju pos pengamanan utama kampus.
Berkat bantuan Andy yang meyakinkan petugas keamanan dengan alasan darurat, mereka diizinkan memutar ulang rekaman CCTV area parkir dosen pada pukul delapan pagi tadi.
Napas Puja kembali tercekat saat layar monitor menampilkan detik-detik sebelum kejadian.
Di sana, terlihat mobil Jeffry terparkir. Namun, rekaman menunjukkan sebuah detail mengerikan yang membuat darah Puja mendidih sekaligus membeku: sesosok bayangan manusia—yang dari postur dan jilbabnya sangat dikenali sebagai Ningrum—terlihat mengendap-endap dan menyelinap masuk ke dalam bagasi belakang mobil saat Jeffry lengah. Tak lama kemudian, mobil itu melaju kencang meninggalkan area kampus.
"Ya Allah, Ningrum." lirih Puja lemas, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Kesadaran itu menghantamnya telak: suaminya diculik oleh perempuan psikopat itu.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, di tengah rimbunnya hutan perbukitan yang sunyi dan terpencil, sebuah bangunan tua terbengkalai berdiri mangkrak.
Tempat itu dulunya adalah sebuah vila peristirahatan yang sudah lama ditinggalkan, dikelilingi ilalang tinggi dan pepohonan lebat yang membuat jejak mereka mustahil ditemukan dengan cepat.
Mobil Jeffry merangsek masuk ke halaman berumput liar, lalu berhenti tepat di depan pintu utama bangunan yang berderit nyaring.
Di dalam mobil, efek obat bius berangsur-angsur melemah, menyisakan kesadaran yang mulai pulih di benak Jeffry, meski otot-ototnya masih terasa kaku.
Pintu kursi belakang tiba-tiba terbuka kasar. Ningrum menarik tangan Jeffry tanpa belas kasihan, menyeret tubuh pria itu keluar dari mobil.
"Bangun, Mas! Kita sudah sampai di rumah kita!" teriak Ningrum dengan mata berbinar-binar penuh kegilaan.
Jeffry terhuyung, tubuhnya yang lemas dipaksa melangkah masuk ke dalam ruangan utama vila yang berdebu dan berbau lembap.
Ningrum mendudukkan Jeffry secara paksa di sebuah kursi kayu tua yang reot.
Tanpa membuang waktu, gadis itu mengambil seutas tali tambang kasar yang sudah ia siapkan di bagasi, lalu melilitkan tubuh Jeffry erat-erat pada sandaran kursi hingga pria itu tak mampu meronta.
Tidak berhenti sampai di situ, Ningrum menyumpal mulut Jeffry dengan kain kusam agar suara protesnya tertahan, memastikan suaminya benar-benar tak berdaya.
Setelah memastikan Jeffry terkunci sempurna, Ningrum berdiri berkacak pinggang di hadapan sang dosen.
Senyuman lebar menghiasi wajahnya, namun sorot matanya kosong, menyuarakan delusi parah yang menguasai jiwanya.
Ningrum berlutut di dekat kursi Jeffry, mengelus rahang pria itu dengan jemari yang bergetar penuh obsesi.
"Kenapa kamu diam saja, Mas? Kamu senang kan, kita akhirnya bisa berdua saja di sini? Tanpa ada perempuan jalang itu! Tanpa ada siapa pun yang bisa memisahkan kita!" racau Ningrum, suaranya melengking tinggi memecah keheningan vila tua.
Ningrum bangkit, mondar-mandir di hadapan Jeffry sambil mencurahkan seluruh isi kepalanya yang rusak.
Ia berbicara tentang masa lalu yang ia rekayasa sendiri di dalam otaknya, tentang bagaimana takdir seharusnya mempersatukan mereka, dan bagaimana Puja hanyalah parasit yang merusak segalanya.
"Sekarang, tatap aku, Mas!" tuntut Ningrum dengan nada tinggi, mencengkeram dagu Jeffry agar menghadap kepadanya.
"Ucapkan sekarang, kalau kamu mencintaiku! Dan janji di hadapanku kalau kamu akan segera menceraikan Puja hari ini juga!"
Diikat dan tak berdaya, Jeffry tidak gentar. Melalui tatapan tajam nan mematikan yang menghujam lurus ke mata Ningrum, napas Jeffry memburu di balik kain yang menutup mulutnya.
Jelas tergambar penolakan mutlak, kebencian mendalam, dan keteguhan hati bahwa sampai kapan pun, hatinya hanya milik Puja seorang.