Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DEKLARASI PERANG DI TANAH ES
Jakarta tidak pernah sedingin ini bagi Ziva, atau mungkin, hanya perasaannya saja yang sedang membara.
Gadis berusia dua puluh tahun itu menatap pantulan dirinya di cermin besar walk-in closet milik mamanya.
Gaun hitam backless yang melekat ketat di tubuhnya menunjukkan lekuk yang sering membuat pria-pria muda di kampus kehilangan fokus.
Dengan tinggi badan semampai dan kaki jenjang yang ditopang stiletto senada, Ziva tampak sepuluh tahun lebih dewasa dan seribu kali lebih berbahaya.
Ia memutar tubuhnya perlahan, menikmati bagaimana kain sutra hitam itu jatuh mengikat pinggangnya yang ramping.
Di kampus hukum tempatnya menimba ilmu, Ziva dikenal sebagai badai: cantik, cerdas, vokal, dan tak tersentuh.
Pria-pria seusianya yang sibuk memamerkan mobil sport atau jaket organisasi tidak pernah berhasil membuat napasnya tertahan.
Bagi Ziva, mereka terlalu mudah diprediksi, terlalu lapar akan validasi, dan terlalu gampang ditaklukkan.
"Ziva!
Sudah siap?
Kita bisa terlambat ke acara syukuran Mas Gibran!" teriak Ajeng dari lantai bawah, suaranya menggema menembus langit-langit rumah mewah mereka.
Ziva mengambil lip gloss merah mudanya dari atas meja rias, mengoleskannya untuk terakhir kali hingga bibirnya tampak basah dan penuh.
"Bentar, Ma!
Cantik itu butuh proses, bukan sulap!"
Ia menyambar tas kecil berantai emas milik _brand_ ternama dan turun menuruni tangga melingkar dengan langkah berirama.
Setiap ketukan stiletto -nya di atas marmer adalah pernyataan dominasi.
Ia tahu dia cantik.
Ia tahu dia seksi.
Dan yang paling penting, ia tahu betul bagaimana cara menggunakan semua atribut itu untuk mendapatkan apa pun yang ia mau.
Tapi malam ini, tujuannya bukan sekadar pujian kosong dari pria-pria kesepian.
Ia penasaran sangat penasaran dengan sosok yang selama tiga bulan terakhir selalu menjadi topik utama dalam setiap obrolan mamanya: Gibran Mahendra.
"Mas Gibran itu sekarang Letnan Jenderal, Ziva.
Pangkatnya paling tinggi di angkatannya.
Dia sahabat Papa kamu, orang terpandang.
Kamu jangan memalukan Mama di sana, jangan bar-bar," pesan Ajeng berulang kali saat mereka sudah berada di dalam mobil sedan hitam yang membelah kemacetan Jakarta menuju aula militer.
Ziva menyandarkan kepalanya di jendela, menyilangkan kakinya yang mulus.
"Iya, Ma.
Ziva bakal jadi anak manis... selama Om Jenderal-mu itu nggak membosankan kayak bapak-bapak pejabat pada umumnya."
"Dia bukan bapak-bapak biasa, Ziva.
Dia disiplin, dingin, dan... sangat berwibawa.
Kamu harus sopan," tegur Ajeng tajam.
Ziva hanya terkekeh pelan, memainkan ujung rambutnya yang ditata wavy.
Dingin? pikir Ziva.
Justru itu yang membuatnya menarik.
Tidak ada yang lebih membosankan di dunia ini selain pria yang langsung berlutut di detik pertama Ziva tersenyum.
Suasana di aula militer itu begitu kaku dan teratur.
Lampu gantung kristal yang megah memantulkan cahaya pada lantai marmer yang mengkilap hingga orang bisa melihat pantulan bayangannya sendiri.
Aroma melati yang kuat dari karangan bunga ucapan selamat bercampur dengan bau khas semir sepatu bot militer dan minyak wangi maskulin yang pekat.
Orang-orang berseragam hijau tua dengan lencana dan tanda pangkat yang berderet rapi di dada memenuhi ruangan.
Pembicaraan di sana berkisar tentang strategi, politik pertahanan, dan retorika kekuasaan.
Di tengah tumpukan seragam yang seragam dan membosankan itu, Ziva masuk seperti percikan api di tengah tumpukan kertas kering.
Gaun hitamnya memamerkan punggung mulusnya yang terbuka hingga ke pinggang bawah.
Ketika ia berjalan, para perwira muda yang berdiri di sudut ruangan mendadak menghentikan percakapan mereka, mata mereka mengekor gerakan pinggul Ziva.
Ziva menikmati setiap detik dari perhatian itu, namun matanya terus menyapu ruangan.
Mana sang tokoh utama?
Lalu, pintu kayu jati berukir di ujung utama aula terbuka lebar.
Dua ajudan berseragam lengkap berdiri tegap, dan seorang pria melangkah masuk.
Dunia seolah melambat bagi Ziva.
Pria itu bergerak dengan efisiensi gerakan yang terlatih.
Tubuhnya tegap, dadanya bidang, dan bahunya lebar serta kokoh seolah mampu memanggul beban seluruh pertahanan negeri ini tanpa membongkok sedikit pun.
Seragam kebangsaannya yang dihiasi Bintang Tiga berwarna emas di pundak tampak begitu pas melekat, membungkus otot-otot padat yang tetap terjaga ketat meski usianya dipastikan sudah melampaui angka tiga puluh lima.
Wajahnya dipahat dengan garis rahang yang keras, kulitnya sedikit gelap terbakar matahari medan perang, dan matanya... matanya setajam elang yang baru saja menemukan target buruannya dari ketinggian.
"Itu Mas Gibran," bisik Ajeng dengan nada kagum yang tak bisa disembunyikan.
Ziva terpaku di tempatnya berdiri.
Jantungnya, yang biasanya berdetak dengan ritme santai dan penuh kendali, tiba-tiba melakukan maraton liar.
Pria itu bukan sekadar tampan dalam pengertian majalah moda.
Gibran Mahendra memiliki aura otoritas yang begitu pekat, jenis dominasi alami yang membuat udara di sekitar Ziva mendadak terasa tipis dan sulit dihirup.
Pria ini bukan cowok kampus yang akan bertekuk lutut hanya karena Ziva mengedipkan mata atau mendesah manja.
Pria ini adalah gunung es yang curam; sebuah benteng tinggi yang tampak mustahil untuk ditaklukkan.
Dan Ziva menyukai hal-hal yang mustahil.
"Ayo, kita beri selamat," ajak Ajeng sambil menarik pelan tangan Ziva.
Ziva mengekor di belakang mamanya, melangkah membelah kerumunan perwakilan diplomatik dan perwira tinggi.
Gibran sedang berdiri dengan kedua tangan terkunci rapat di belakang punggungnya.
Ia mendengarkan ucapan selamat dari seorang menteri dengan wajah yang sangat datar, nyaris tanpa selapis pun ekspresi.
Bicaranya singkat, padat, rendah, dan sangat hemat kata.
"Selamat ya, Mas Gibran.
Kenaikan pangkat yang luar biasa.
Bram pasti bangga kalau melihat ini " ujar Ajeng tulus saat gilirannya tiba.
Gibran menoleh.
Pandangan matanya melembut sedikit hanya sedikit ketika melihat Ajeng.
Ia mengangguk dengan gerakan minimalis yang tetap terlihat anggun dan terukur.
"Terima kasih, Jeng Ajeng.
Suatu kehormatan Anda dan keluarga bisa hadir malam ini."
Suara pria itu berat, bergema di dada Ziva seperti dentuman bass dalam ruangan tertutup.
Lalu, mata elang itu bergulir.
Beralih dari wajah Ajeng ke sosok yang berdiri tepat di sampingnya.
Ke arah Ziva.
Ziva tidak menunduk, tidak pula menunjukkan gestur malu-malu seperti gadis muda pada umumnya ketika berhadapan dengan pejabat tinggi.
Ia justru sengaja membusungkan dadanya, menarik bahunya ke belakang, membiarkan tatapan tajam Gibran menyisir penampilannya yang sangat kontras dengan norma kaku aula militer tersebut.
Ziva bisa merasakan adrenalin membanjiri pembuluh darahnya.
Ia menyukai cara Gibran menatapnya bukan dengan tatapan lapar nan murahan seperti pria-pria di klub malam, melainkan dengan penilaian yang dingin, rasional, dan sedikit... terganggu.
"Ini putriku, Ziva.
Waktu kamu dinas di luar negeri dulu, dia masih SMA," lanjut Ajeng, memperkenalkannya.
Ziva mengambil satu langkah maju.
Ia sengaja mengikis jarak di antara mereka, masuk ke dalam lingkaran ruang personal sang Letnan Jenderal hingga aroma woody, tobacco, dan kehangatan tubuh Gibran menyerbu indra penciumannya.
Aroma pria dewasa yang matang, berbahaya, dan sepenuhnya memegang kendali.
"Selamat ya, Om Jenderal," suara Ziva sengaja ditekan menjadi serak, rendah, dan penuh nada provokasi.
Ia mengulurkan tangannya yang halus dengan jemari lentik bertinta kuku merah darah.
Namun, ia tidak mengulurkannya untuk bersalaman secara biasa; ia mengulurkannya dengan telapak tangan menghadap ke bawah sebuah gestur manja yang menuntut agar tangannya dicium atau diperlakukan secara khusus.
Gibran menatap tangan Ziva yang terulur di udara selama dua detik yang terasa sangat panjang.
Bola mata hitamnya lalu naik, mengunci manik mata Ziva.
Ia tidak jatuh ke dalam perangkap kecil itu.
Dengan gerakan yang sangat formal dan terhitung, Gibran menyambut jemari Ziva, menjabatnya dengan genggaman yang sangat kuat, singkat, dan dingin bak es.
"Terima kasih, Ziva," jawab Gibran pendek.
Suaranya tidak memiliki intonasi ramah sama sekali.
"Pangkatnya tinggi banget ya, Om?
Bintangnya berderet sampai penuh di pundak," Ziva mengikis jarak setengah langkah lagi, memiringkan kepalanya dengan senyuman nakal yang memamerkan deretan giginya yang rapi.
Matanya berkilat menantang.
"Tapi kok wajahnya kaku banget?
Apa di militer ada undang-undang yang melarang polisinya tersenyum?
Mau saya ajari cara pakai bibir Om buat sesuatu yang lebih... menyenangkan?"
Suasana di radius dua meter di sekitar mereka mendadak membeku.
Ajeng membelalakkan mata, wajahnya pucat pasi, hampir pingsan di tempat karena ketakutan dan rasa malu yang luar biasa.
Dua ajudan pribadi yang berdiri setengah meter di belakang Gibran langsung menyegarkan posisi berdiri mereka, menahan napas dengan mata terbelalak.
Tak seorang pun pernah berani bicara seperti itu kepada Letnan Jenderal Gibran Mahendra bukan di markas, bukan di ruang publik, dan jelas tidak di acara resmi negaranya.
Namun, Gibran tidak bergeming.
Rahangnya yang tegas mengeras, sebuah otot di pipinya bertaut menahan reaksi emosi.
Bukannya mundur atau marah secara terang-terangan, sang Jenderal justru memiringkan tubuhnya.
Ia menunduk sedikit, mengikis jarak yang tersisa di antara wajah mereka.
Gerakannya begitu cepat dan dominan hingga Ziva sempat tertahan di tempat.
Wajah Gibran kini berada tepat di samping telinga Ziva.
Jarak mereka begitu dekat hingga napas hangat, berat, dan beraroma mentol dari Gibran menyapu lembut kulit leher Ziva yang terbuka.
Sensasi panas yang membakar langsung menjalar dari leher Ziva hingga ke tulang belakangnya.
"Kamu terlalu berisik untuk anak seusiamu," bisik Gibran.
Suaranya sangat rendah, berat, dan dipenuhi oleh aura intrik yang mematikan.
"Pulanglah.
Pakai baju yang benar, dan jangan pernah mencoba mencari masalah di tempat yang tidak akan pernah bisa kamu kendalikan."
Setiap kata diucapkan dengan penekanan yang mutlak.
Tanpa menunggu balasan, tanpa memberi Ziva kesempatan untuk menyusun kalimat balasan, Gibran menegakkan kembali tubuhnya yang jangkung.
Ia menatap Ziva sekali lagi dengan tatapan yang seolah memotong Ziva menjadi potongan-potongan tak berarti, lalu berbalik dan melangkah pergi membelah kerumunan tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Ziva berdiri terpaku di tengah aula yang penuh cahaya.
Suara riuh acara syukuran itu mendadak terdengar seperti suara latar yang jauh.
Tangannya perlahan terangkat, menyentuh kulit lehernya sendiri yang masih terasa hangat dan berdesir akibat terpaan napas Gibran beberapa detik lalu.
"Ziva!
Kamu gila ya?!
Apa-apaan kalimat kamu tadi?!" omel Ajeng dengan suara bergetar panik, menarik lengan Ziva dengan kasar.
"Ayo pulang!
Mama malu setengah mati!"
Ziva tidak mendengarkan omelan mamanya.
Ia tidak sakit hati.
Ia tidak merasa terhina oleh pengusiran dingin sang Jenderal.
Sebaliknya, sebuah seringai lambat, manis, dan penuh kemenangan perlahan mengembang di bibirnya yang dipoles merah muda.
Matanya mengekor punggung tegap Gibran yang kini sedang dijabat oleh para jenderal senior di ujung ruangan.
Pria itu baru saja menunjukkan padanya betapa tangguhnya benteng yang harus ia hancurkan.
Dan bagi Ziva Adriana, tidak ada permainan yang lebih mengasyikkan daripada meruntuhkan keangkuhan seorang pria yang merasa dirinya tak terjangkau.
"Sombong banget ya," gumam Ziva pelan, suaranya hampir tak terdengar di tengah keramaian, sambil terus mengelus lehernya.
"Lihat aja nanti, Om.
Sebelum janur kuning melengkung di hidup Om, aku bakal bikin Om lupa cara jadi tentara... dan cuma ingat cara menyebut nama aku."
Malam itu, di tengah dinding-dinding kaku aula militer yang dingin, Ziva resmi menabuh genderang perang.
Bukan perang dengan senapan atau strategi tempur darat, melainkan perang saraf dan obsesi yang akan meretakkan seluruh ketenangan dan disiplin hidup sang Letnan Jenderal selamanya.