Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — Harga Sebuah Harapan
Ekaterina — 18 tahun
3 Bulan Sebelumnya...
Aku terlambat.
Lagi.
Aku berlari di trotoar, mendekap tas erat-erat ke tubuh sementara angin dingin menampar wajahku. Jam di ponselku seakan menghakimiku setiap detik yang berlalu.
Tapi aku memang tak bisa keluar lebih awal.
Tidak, saat Lis akhirnya bisa tidur tanpa menangis kesakitan.
Tidur setiap malam di rumah sakit itu sudah jadi rutinitasku. Adikku menghabiskan sepanjang hari sendirian di kamar putih itu selagi aku bekerja, jadi malam-malam adalah milik kami. Meski tak nyaman, meski lelah... aku tetap menemaninya.
Selalu akan begitu.
Aku masuk lewat pintu belakang kantor firma hukum, berusaha tak menarik perhatian. Kalau aku bisa sampai ke gudang perlengkapan, mungkin—
"Lihat siapa ini... ratu pel akhirnya muncul juga."
Aku memejamkan mata sejenak.
Ivan.
Anak si pemilik kantor.
Dan lelaki yang tak pernah bisa menerima kenyataan bahwa aku tak sudi kencan dengannya.
Aku mengangkat wajah dan memaksakan sopan santun.
"Selamat pagi. Maaf aku terlambat."
Dia menyeringai penuh cemooh, menatapku dari atas ke bawah.
"Santai saja, Upik Abu."
Sebelum aku sempat menjauh, dia mencengkeram lenganku.
Tubuhku langsung menegang.
"Aku punya satu pekerjaan untukmu."
Aku menarik lenganku diam-diam.
"Aku bisa lembur."
Senyum di bibirnya berubah.
Penuh niat buruk.
"Kalau ini... cukup satu malam saja."
Perutku langsung mual.
Aku paham seketika apa yang dia sindir.
Aku mundur selangkah.
"Kalau begitu, aku tidak tertarik."
Aku berbalik hendak pergi.
Tapi Ivan menarikku kembali terlalu keras.
Punggungku membentur dinding.
Kaget itu membuat jantungku berpacu.
"Tenang," katanya pelan. "Ini bukan denganku."
Aku menatapnya penuh curiga.
"Cuma menemani seorang teman di bar. Mengobrol... mengalihkan perhatiannya beberapa jam."
Aku mengernyit.
"Mengalihkan untuk apa?"
Dia melepaskan tanganku perlahan.
"Aku cuma perlu mengambil beberapa foto yang memberatkan. Tak ada yang besar."
Dadaku sesak.
Ini terasa salah.
Sangat salah.
"Kau tak harus melakukan apa pun dengan pria itu kalau tak mau," lanjut Ivan. "Cukup pastikan dia tak bisa dihubungi selagi semuanya berlangsung."
Aku seharusnya pergi.
Seharusnya.
Tapi kemudian aku memikirkan Lis.
Obat-obat mahal itu.
Tagihan yang menumpuk.
Operasinya.
Jantungku terasa berat di dalam dada.
"Berapa?" tanyaku pelan.
Ivan tersenyum perlahan.
Seakan sudah tahu aku pasti akan bertanya.
"Tiga puluh ribu dolar."
Udara seakan lenyap dari paru-paruku.
Tiga puluh ribu.
Uang yang cukup untuk membayar operasi Lis.
Uang yang cukup untuk memberi adikku kesempatan tetap hidup.
Ivan mundur dua langkah.
"Kalau tertarik... hubungi aku."
Lalu dia pergi.
Meninggalkanku sendirian di lorong itu.
Sendirian...
dengan keputusasaan mencekik tenggorokanku.
Dan pilihan terburuk dalam hidupku bermula di sana.
Tapi Lisbela adalah prioritasku.
Sepanjang hari aku bekerja sambil memikirkan tawaran si keparat Ivan.
Setiap ruangan yang kubersihkan.
Setiap meja yang kurapikan.
Setiap sampah yang kubuang.
Semuanya terasa lebih berat.
Karena kepalaku tak bisa lepas dari itu.
Tiga puluh ribu dolar.
Uang yang cukup untuk menyelamatkan Lis.
Aku sudah mencoba segalanya.
Pinjaman.
Bantuan.
Cicilan.
Tapi tak ada yang mau meminjamkan uang pada gadis delapan belas tahun yang tenggelam dalam utang.
Rumah yang kami tinggali sudah digadaikan bertahun-tahun lalu... oleh ayahku si pemabuk.
Alfredo bisa disebut apa saja, kecuali seorang ayah. Dia menyerahkan diri pada kecanduan sejak kematian ibuku dan tak pernah sama lagi.
Dan aku masih mencicil sedikit demi sedikit gadai yang dia buat, hanya agar kami tak kehilangan satu-satunya atap yang kami punya.
Aku tak punya jalan keluar.
Sama sekali.
Di akhir jam kerja, aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali sebelum memberanikan diri mencari Ivan.
Aku menemukannya di lorong, bersandar ke dinding, mengobrol dengan seorang anak magang. Atau lebih tepatnya... menggodanya terang-terangan selagi ayahnya tak ada di kantor.
Begitu melihatku, dia langsung tersenyum.
Seolah sudah tahu jawabanku.
"Jadi... sudah kaupikirkan?"
Perutku bergejolak.
Tapi aku mengangguk.
"Aku terima."
Matanya berbinar puas.
"Anak pintar."
Aku mengabaikan komentarnya.
"Tapi kau harus membayar lebih dulu."
Ivan tertawa pelan.
"Penuh curiga."
"Putus asa," ralatku.
Dia menatapku beberapa detik sebelum mengangguk setuju.
"Aku bayar."
Dadaku sedikit lega.
Sampai dia menambahkan:
"Tapi kalau kau tak muncul di bar itu besok... kubunuh kau."
Ancaman itu datang bersama sebuah senyum.
Seolah cuma gurauan.
Tapi aku tahu itu bukan gurauan.
Aku tetap diam.
Ivan menatapku dari atas ke bawah.
Lama.
Membuatku ingin lenyap dari sana.
"Dan aku jelas harus mencarikanmu pakaian yang layak."
Aku langsung menyilangkan tangan.
"Tak perlu."
"Perlu. Besok, Ekaterina. Jangan lupa."
Aku mengangguk saja, hanya supaya urusan ini cepat selesai.
Dia mengeluarkan selembar cek dan mulai mengisinya perlahan.
Saat dia menaruh kertas itu di tanganku, jari-jariku gemetar.
Tiga puluh ribu dolar.
Uang yang cukup untuk operasi Lis.
Mataku langsung terasa panas.
"Besok," ulang Ivan. "Kalau kau mengecewakanku, kau tamat."
"Aku akan datang."
Suaraku keluar pelan.
Lelah.
Aku menyimpan cek itu ke dalam tas dan keluar dari kantor dengan kaki yang terasa lemas.
Seolah baru saja menjual sepotong harga diriku.
Bus menuju rumah sakit terasa lebih lama dari biasanya.
Dan sepanjang perjalanan, aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku melakukan ini demi alasan yang benar.
Demi Lis.
Selalu demi Lis.
Begitu tiba di rumah sakit, aku langsung menuju bagian administrasi bahkan sebelum menemuinya.
Petugasnya menatapku terkejut ketika aku menyerahkan cek itu.
Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan...
aku bisa bernapas sedikit lebih lega.
Operasinya sudah lunas.
Masih tersisa sebagian utang dari rawat inap sebelumnya, tapi operasinya sudah terjamin.
Adikku akan punya kesempatan.
Dan itu membuat segalanya terasa bisa ditanggung.
Atau nyaris.
Saat aku masuk ke kamar, Lis langsung tersenyum melihatku.
Senyum kecil dan rapuh yang selalu meremukkan hatiku.
"Kathy."
Dia membuka kedua lengan kurusnya ke arahku.
Dan di detik itu...
seluruh beban dunia lenyap untuk beberapa saat.
Karena dia masih di sini.
Dan selama dia masih ada...
Aku akan melakukan apa pun untuk melihatnya sehat.
Aku mandi cepat di kamar mandi rumah sakit dan kembali ke kamar sambil berusaha menyingkirkan semua beban hari itu dari wajahku.
Dia sudah bangun.
Menungguku.
Begitu melihatku masuk, dia langsung tersenyum.
"Ceritakan kisah Cinderella?"
Aku tertawa kecil.
Selalu yang sama.
Favoritnya.
Lis berusia lima tahun dan masih percaya pada dongeng, gaun-gaun indah, dan pangeran tampan.
Dia belum tahu...
bahwa di kehidupan nyata, yang ada hampir selalu cuma kodok.
Meski begitu, aku duduk di sisinya di ranjang dan mulai menceritakan kisah itu sekali lagi, sementara dia mendengarkan penuh perhatian, memeluk kelinci boneka yang sudah usang dimakan waktu.
Di tengah cerita, seorang perawat masuk membawa makan malamku.
Para perawat di lantai itu membantuku semampu mereka.
Kadang dengan makanan.
Kadang menemani Lis beberapa menit supaya aku bisa mandi.
Kadang cuma tersenyum ketika mereka sadar aku hampir runtuh.
Dan aku bersyukur untuk setiap kebaikan kecil itu.
Sangat.
Setelah selesai makan, aku menatap Lis beberapa saat, berusaha menahan emosi di dalam dada.
Tapi aku tak bisa.
Maka kugenggam tangan mungilnya.
"Lis..."
Dia menatapku penasaran.
"Aku sudah dapat uang untuk operasimu."
Sesaat dia hanya menatapku.
Seolah tak mengerti.
Lalu mata birunya berbinar.
"Sungguh?"
Aku mengangguk sambil tersenyum, mataku sudah mulai berkaca-kaca.
Dan Lis langsung meledak dalam kebahagiaan.
"Aku akan sembuh?"
Pertanyaan itu menghancurkan hatiku dalam diam.
Tapi aku tetap tersenyum.
"Iya, sayang."
Dia mulai tertawa dan bertepuk tangan kecil, girang bukan main.
"Berarti aku bisa berlari?"
"Bisa."
"Dan bermain?"
Tenggorokanku tercekat.
"Bisa."
"Seperti anak-anak sungguhan lainnya?"
Aku memegang wajahnya penuh sayang.
"Kau memang sudah anak sungguhan, Lis."
Dia langsung memelukku erat.
Seerat yang bisa dilakukan tubuh kecilnya.
Dan aku balas memeluknya seketika.
Tanpa melepaskan.
Karena di saat itu...
meski aku memikul rasa bersalah, takut, dan putus asa di dalam diriku...
aku merasa mungkin semua ini sepadan.
Karena adikku akan hidup.
Dan demi dia...
Aku sanggup menghadapi neraka mana pun.