Saka mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak pembatas jembatan lalu terjun bebas ke sungai dan meledak.
Ajaibnya Saka masih hidup. Namun saat membuka mata, dia terbangun di tubuh orang lain. Saka hidup dalam tubuh Aryan, pria yang mengalami kecelakaan di hari yang sama dengannya.
Setelah selamat dari kecelakaan tragis, hidup Saka berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan saja harus menjalani kehidupan orang lain, matanya juga bisa melihat kilatan masa depan.
Saka bisa melihat kejadian buruk di masa depan. Kejadian yang memaksanya ikut campur dalam takdir seseorang. Dan membuka tabir rahasia tentang kematiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuatmu Jatuh Cinta Lagi
“Lebih baik kamu pergi! Apa kamu lupa akan janjimu pada Pak Wisnu?” tanya Fredy yang sukses membuat Ayura terdiam.
Saka yang sudah berada di dekat Ayura langsung membantunya berdiri. Rahangnya mengeras saat melihat telapak tangan Ayura terluka karena bergesekan dengan aspal.
Dia langsung menarik kerah kemeja Fredy. Hal tersebut tentu saja mengejutkan Ayura juga Fredy.
“Beraninya kamu melukainya!” berang Saka.
Pria itu mengepalkan tangannya dan hendak menghantamkan tinjunya ke wajah Fredy. Bertepatan dengan itu, Ayura sudah berada di dekatnya dan langsung mencegahnya.
“Berhenti, Ar. Lebih baik kita pulang aja.”
Fredy yang terkejut melihat reaksi Saka, dibuat terdiam. Sorot mata pria itu sama persis seperti sorot mata Saka. Untuk sesaat dia menyangka pria di hadapannya adalah Saka, anak atasannya yang sudah meninggal dunia.
“Ada apa ini?”
Dari arah belakang terdengar suara seorang wanita.
Saka terpaku di tempatnya saat melihat ibunya datang mendekat. Ibunya terlihat lebih kurus dari terakhir kali dia melihatnya. “Mama,” gumamnya pelan.
Tanpa sadar Saka melangkah mendekati Novia. Pandangannya terus tertuju pada wanita itu hingga akhirnya dia berdiri tepat di hadapan ibunya.
“Mama,” panggilnya lagi dengan suara pelan tetapi bisa tertangkap telinga Novia.
Untuk sesaat Novia terpaku melihat pria di hadapannya. Wajahnya tidak mirip dengan Saka, kulitnya juga sedikit lebih gelap, tetapi aura pria itu terasa familiar. Sorot mata itu langsung mengingatkannya akan Saka.
“Siapa kamu?”
Pertanyaan Novia menyadarkan Saka bahwa sekarang dirinya adalah Aryan. Saka yang dikenal ibunya sudah meninggal dalam kecelakaan. Saka pun beringsut mundur.
“Maaf, Bu. Saya hanya supir taksi yang mengantarkan teman saya.” Saka menunjuk pada Ayura. “Tapi dia sudah bersikap kasar, bahkan sampai mendorongnya.”
Novia langsung menoleh ke arah Ayura. Dia mengenali wanita itu. Dulu Saka sering menceritakan tentang perasaannya kepada Ayura. Tidak seperti Wisnu, Novia menyetujui hubungan Saka dengan Ayura.
Saat kehilangan Kala, kembaran Saka, tidak lama setelah anak itu lahir, Novia pernah berjanji pada dirinya sendiri. Jika Saka sudah dewasa nanti menemukan wanita yang dicintainya, dia tidak akan menghalangi.
Wanita itu percaya kalau anaknya akan menemukan wanita yang tepat untuk dirinya.
“Kamu … Ayura, kan?” tanya Novia sambil mendekati Ayura.
“Iya, Tante,” Ayura meraih tangan Novia lalu mencium punggung tangannya. “Maafkan aku. Aku tidak datang saat pemakaman Mas Saka,” sambung Ayura sambil menangis.
Novia langsung memeluk Ayura. Meski suaminya mengatakan bahwa Ayura adalah perempuan materialistis yang mendekati Saka karena harta semata, Novia tidak mempercayainya. Dia lebih mempercayai pilihan anaknya daripada ucapan suaminya.
“Kamu ke mana saja? Saka terus mencarimu.”
“Maafkan aku, Tante. Maafkan aku,” hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Ayura.
“Ma,” suara Indra, kakak Saka terdengar dari arah belakang. Indra berjalan mendekati Novia. “Dia siapa, Ma?” tanya Indra.
“Dia temannya Saka.”
“Acaranya sebentar lagi mau mulai. Ayo masuk, Ma,” ajak Indra. Pria itu sama sekali tidak peduli dengan Ayura.
“Kamu mau ikut masuk?” tawar Novia kepada Ayura.
“Nggak usah, Tante. Saya mau langsung pulang aja.”
“Fredy, tolong ambilkan dua bingkisan di dalam.”
Mau tidak mau Fredy mematuhi perintah Novia. Pria itu bergegas masuk dan tak lama kemudian dia kembali dengan membawa dua bingkisan di tangannya.
“Ini untukmu dan satu lagi untukmu,” Novia memberikan dua bingkisan itu kepada Ayura dan Saka.
“Terima kasih, Tante.”
“Tolong doakan Saka.”
“Pasti, Tante.”
Ayura mencium dulu punggung tangan Novia sebelum pergi. Novia tertegun saat Saka ikut mencium punggung tangannya.
Tanpa sadar dia mengusap puncak kepala pria itu. Hampir saja Saka menangis saat merasakan sentuhan ibunya.
Pria itu buru-buru berpamitan. Dia segera masuk ke dalam mobil. Saat roda kendaraan mulai bergerak, dia terus memandangi Novia hingga mobilnya menjauh.
“Kenapa kamu tidak mau masuk? Padahal ibunya sudah menawarkanmu masuk,” tanya Saka memecah kesunyian di kabin mobil.
“Aku hanya tidak mau membuat suasana tidak nyaman dalam keluarganya.”
“Tadi aku dengar, lelaki menyebalkan itu mengatakan kamu sudah berjanji kepada Pak Wisnu. Pak Wisnu itu ayahnya Saka, kan?” tanya Saka lagi yang masih penasaran dengan ucapan Fredy tadi.
“Ceritanya panjang.”
“Perjalanan kita juga masih panjang,” Saka menoleh seraya melemparkan senyuman.
Hati Ayura menghangat melihat senyuman Saka. Merasa nyaman dengan sikap Saka, akhirnya Ayura pun menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Wisnu. Janji apa yang dibuat olehnya hingga Ayura memilih pergi lagi.
Tangan Saka mencengkeram erat setir begitu mendengar cerita Ayura. Tidak disangka sang ayah begitu kejam memisahkan dirinya dan Ayura. Bahkan selama ini pria itu bersikap seolah-olah tidak tahu-menahu tentang menghilangnya Ayura.
“Pasti dalam pikiran Pak Wisnu, aku benar-benar perempuan matre. Jumlah tiga ratus juta yang ditawarkan olehnya kutolak. Aku mengajukan angka satu miliar. Dan ternyata dia mengabulkannya.”
“Jumlah satu miliar hanya seujung kuku dari total kekayaannya. Harusnya kamu meminta lebih banyak.”
Ayura yang menyangka ucapan Saka hanya candaan tak bisa menahan tawa.
“Lalu, uang yang kamu dapatkan, kamu gunakan untuk apa?”
“Sampai sekarang ceknya belum kucairkan.”
“Apa? Kenapa tidak kamu cairkan?” tanya Saka bingung.
“Karena sejak awal aku tidak membutuhkan uang itu. Aku benar-benar tulus mencintai Mas Saka. Kalau aku menggunakan uang itu, rasanya aku sudah menggadaikan cintaku untuknya.”
Saka hanya bisa terdiam. Andai saja ayahnya mendengar apa yang dikatakan Ayura, apa pria itu masih berpikiran bahwa wanita di sebelahnya ini hanya mengincar harta saja?
“Sekarang Saka sudah meninggal. Lebih baik gunakan saja uang itu. Belikan rumah atau gunakan untuk membuka usaha. Aku yakin kalau Saka tidak keberatan.”
Ayura menggeleng pelan. Wanita itu sama sekali tidak mau mencairkan cek tersebut. Biarlah itu menjadi kenangan untuknya.
Cek yang diberikan Wisnu dianggap sebagai pengganti Saka. Jika dia mencairkan cek tersebut, maka sosok Saka seolah hilang darinya.
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, akhirnya mereka kembali ke kota Kerthabumi. Saka langsung mengantarkan Ayura sampai ke depan gang rumah kontrakannya.
“Terima kasih, sudah mengantar dan menemaniku.”
Ayura membuka dompetnya lalu memberikan uang pembayaran kepada Saka sesuai argo yang tertera. Saka mengembalikan setengah pembayaran pada Ayura. “Sudah kubilang kamu hanya perlu membayar setengah saja.”
“Terima kasih,” Ayura segera turun dari mobil. Wanita itu melambaikan tangannya sebelum memasuki gang rumahnya.
Saka masih belum menjalankan mobilnya. Dia masih menatap Ayura sampai hilang dari pandangannya.
“Aku akan mendapatkanmu kembali, Ay. Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku dengan wujudku yang sekarang. Dan saat itu terjadi, aku tidak akan melepaskan tanganmu lagi.”
Saka menyalakan kembali mesin mobilnya lalu segera kembali ke pool.
***
Setelah merapikan seragam yang dikenakannya, Saka keluar dari kamarnya. Seperti biasa, dia akan bekerja mencari penumpang demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan Astri. Saat menuruni tangga, pria itu bisa mendengar suara Dirga sedang berbicara dengan Astri.
Pria itu melambaikan tangannya saat melihat kemunculan Aryan. Keningnya berkerut melihat Saka sudah mengenakan seragamnya. “Kamu mau kerja?” tanya Dirga bingung.
“Iya. Emangnya kenapa?” Saka balik bertanya dengan ekspresi bingung.
“Nggak apa-apa.”
Saka segera menarik sebuah kursi. Bersama Dirga, dia menikmati sarapan yang sudah disiapkan Astri.
Selesai sarapan, Dirga langsung mengajak Saka pergi.
Dirga melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Saka dibuat bingung karena Dirga melewati pool begitu saja. Dia langsung menepuk pundak Dirga. “Kita mau ke mana?” tanya Saka.
“Ke rumah sakit,” jawab Dirga sedikit berteriak agar terdengar Saka.
“Ngapain?”
“Sekarang waktunya kontrol.”
“Jadwal kontrol masih dua minggu lagi.”
Tak ada jawaban dari Dirga. Pria itu terus melajukan motornya hingga akhirnya berbelok memasuki halaman rumah sakit.
Namun rumah sakit yang didatanginya ini berbeda dengan rumah sakit tempat dia dirawat setelah kecelakaan.
***
Aryan sakitkah?
bentar mau ambil air sama baskom...
mau di liat lewat media air dlm baskom... apakah bisa keliatan gk ya .... Saka mau jujur apa mingkem 😂
apakah mau jujur kau...ato kau masih mau ngeles blom mau terbuka 😔
jangan bikin in cemas pembaca Ka....kamu itu kuat dan dgn keyakinan seyakin-yakinnya pasti kerja kerasmu akan membuahkan hasil /Determined//Determined//Determined/