Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Pedagang yang sedang sibuk mengikat karung itu langsung mendongakkan kepalanya mencari batu besar di sekitar lapaknya. Matanya tertuju pada batu abu-abu ceper yang sedari tadi ia jadikan tempat duduk.

"Tuan Muda, bagaimana kalau batu penyangga pantatku ini? Bentuknya sangat jelek dan ukurannya pas untuk menaruh ratusan batu kecil Anda," tawar pedagang itu antusias.

Pedagang itu menepuk-nepuk debu kotor di atas Giok Salju Surgawi bernilai sepuluh miliar tersebut dengan kasarnya.

"Ini batu kali sisa fondasi jembatan desa, sangat kuat dan tahan banting Tuan," promosi pedagang itu tanpa dosa.

Gibran mengelus dagunya seolah sedang menimbang-nimbang tawaran tersebut dengan serius.

"Bentuknya lumayan cocok untuk tamanku. Berapa harga tambahan yang harus kubayar untuk batu dudukanmu itu Paman?" tanya Gibran tenang.

Pedagang berkumis itu tersenyum sangat lebar hingga kumisnya terangkat naik ke atas. Ia menemukan batu itu tergeletak begitu saja di pinggir sungai sepuluh tahun yang lalu dan membawanya kemari hanya untuk dijadikan kursi gratis.

"Batu besar ini sangat berat Tuan, ongkos angkutnya pasti mahal."

"Tambahkan saja sepuluh juta rupiah lagi, dan batu kursi kebanggaan saya ini resmi menjadi milik Anda," tembak pedagang itu dengan harga yang tidak masuk akal untuk sebuah batu kali kotor.

Gibran mengangguk pelan seolah menyetujui tawaran harga yang menurutnya sangat masuk akal itu.

"Totalnya enam puluh juta rupiah kalau begitu. Nomor rekening Paman berapa?" tanya Gibran sambil mengeluarkan ponsel mahalnya.

Pedagang itu nyaris melompat kegirangan dan langsung menyebutkan nomor rekeningnya dengan suara terbata-bata.

Tik tik tik.

Bunyi notifikasi transfer berhasil langsung masuk ke ponsel butut milik pedagang tersebut dalam hitungan detik.

"Uangnya sudah masuk Tuan Muda! Terima kasih banyak atas kemurahan hati Anda hari ini!" ucap pedagang itu membungkuk berkali-kali seperti sedang menyembah dewa rezeki.

Gibran tersenyum sangat tulus melihat pria itu merasa menang karena berhasil menipunya.

"Sama-sama Paman, semoga uang itu bisa bermanfaat untuk Paman."

"Tolong bantu aku memanggil kuli angkut pasar untuk memindahkan karung dan batu besar ini ke truk putih di depan sana ya," instruksi Gibran sambil menunjuk ke arah jalan utama.

Pedagang itu langsung berlari memanggil tiga orang kuli panggul bertubuh kekar. Mereka menggunakan gerobak dorong kayu untuk memindahkan Giok Salju Surgawi itu karena beratnya yang mencapai puluhan kilogram.

Gibran berjalan santai di belakang gerobak dorong tersebut dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Sepanjang perjalanan menuju truk, banyak pedagang lain yang tertawa mengejek Gibran secara terang-terangan.

"Lihat anak muda bodoh itu, dia menghabiskan puluhan juta hanya untuk membeli batu pijakan kaki dari Mang Ujang," bisik seorang ibu-ibu pedagang sayur.

"Dasar orang kaya baru, uangnya dibuang-buang untuk batu sungai yang bisa diambil gratis di selokan," cibir pedagang lainnya.

Gibran sama sekali tidak terpengaruh dengan omongan bising dari orang-orang bodoh tersebut. Ia hanya fokus pada kilauan cahaya putih kebiruan yang memancar menembus pandangan matanya dari dalam batu kotor di atas gerobak itu.

"Kalian bebas menertawakanku sekarang sesuka hati kalian."

"Tapi saat batu ini dipoles dan memenangkan lelang akbar nanti, aku pastikan kalian semua akan menangis darah menyadari harta apa yang kalian buang," batin Gibran dengan rasa puas yang luar biasa.

Sesampainya di depan truk kargo, sopir utusan Aurel langsung terkejut melihat barang belanjaan Gibran.

"Tuan Gibran, Anda jauh-jauh ke sini hanya untuk memborong batu kerikil dan satu batu fondasi jembatan ini?" tanya sopir itu tidak percaya.

"Jangan banyak bertanya Paman, bantu mereka menaikkannya ke dalam bak truk dengan hati-hati," jawab Gibran singkat dan padat.

Brak.

Batu abu-abu raksasa itu mendarat mulus di lantai bak truk berlapis karpet tebal. Gibran memberikan uang tip seratus ribu kepada masing-masing kuli angkut yang langsung membuat mereka tersenyum kegirangan.

Setelah memastikan pintu bak truk tertutup rapat dan terkunci, Gibran kembali duduk di kursi penumpang depan.

"Tugas kita di sini sudah selesai Paman, sekarang bawa truk ini langsung ke garasi pribadi di markas utama Keluarga Larasati," perintah Gibran sambil menyandarkan punggungnya santai.

Sopir itu mengangguk cepat dan langsung menginjak pedal gas truk kargo tersebut.

Brumm.

Truk putih itu melaju meninggalkan kawasan kumuh pasar loak, membawa harta karun surgawi senilai sepuluh miliar rupiah di bagian belakangnya. Gibran mengeluarkan ponselnya dan kembali menghubungi nomor Aurel Larasati.

Telepon langsung diangkat pada nada dering pertama.

"Kuharap kau tidak pulang dengan tangan kosong dari tempat pembuangan sampah itu, Gibran," sapa Aurel dengan suara tajamnya yang khas.

"Kosongkan ruang pemotongan berlian VIP milikmu hari ini juga Nona Aurel."

"Aku baru saja membawa pulang sesuatu yang akan membuat master giok sewaan Keluarga Mahendra terlihat seperti anak kecil yang bermain lumpur," ucap Gibran dengan tawa merendahkan yang sangat mendominasi.

Aurel terdiam beberapa detik di ujung telepon seolah sedang mencerna tingkat kesombongan Gibran yang tidak ada batasnya itu.

"Aku akan menunggu di garasi bawah tanah dengan tim ahliku sekarang juga."

"Jangan sampai batu sampah yang kau bawa malah mengotori lantai marmerku, Gibran," ancam Aurel dengan nada dingin namun terselip rasa penasaran yang kuat.

Gibran hanya tersenyum lebar dan langsung memutuskan panggilan tersebut.

Tut.

"Kau akan terkejut setengah mati nanti Nona Aurel, bersiaplah melihat keajaiban dari mata saktiku ini," gumam Gibran pelan sambil menatap jalan raya dari kaca jendela truk.

1
nadymaddy
💚💟
setiawan
🤩🥳
nurul khusna
🌹🥳
fitri
semangat gibran🥰
pricilia
seru banget🥰
gofur
sangat menarik ingin cepat di lanjutkan crita nya
sasa
💕💋
yani
🥳🥳
samuel df
mantap kaka 😘
clara
mantap
DD
bab ini diulang ya Thor 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!