"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlambat satu langkah
Kafe langganan mereka terletak di sudut jalan, dua blok dari kantor, tempat yang sama di mana dulu Rain dan Pandu sering menghabiskan waktu setelah jam kerja, sekadar mengobrol ringan atau kadang cuma diam sambil menikmati lagu-lagu akustik yang diputar pelan dari speaker kafe. Malam itu, hujan gerimis turun tipis-tipis, membuat suasana kafe terasa lebih syahdu dari biasanya.
Rain sampai lebih dulu, memilih meja di pojok dekat jendela, tempat favorit mereka. Dia memesan segelas cokelat hangat, lalu duduk menunggu sambil sesekali melirik pintu masuk setiap kali lonceng kecil di atasnya berbunyi.
Sepuluh menit kemudian, Pandu muncul, rambutnya sedikit basah karena gerimis, membawa map tipis yang langsung dia letakkan di meja begitu duduk.
"Maaf, telat. Tadi ada yang minta tolong dadakan," kata Pandu, agak terengah.
"Nggak apa-apa," jawab Rain, tersenyum kecil. "Kamu mau pesan apa?"
"Kopi item aja," jawab Pandu ke pelayan yang kebetulan lewat, lalu kembali menatap Rain. Ada jeda canggung sesaat, sebelum akhirnya dia membuka suara. "Makasih udah mau ketemu malam-malam gini."
"Kamu bilang mau ngomong sesuatu," Rain mengingatkan, mencoba terdengar santai meski jantungnya berdebar-debar sejak tadi sore. "Ada apa?"
Pandu menghela napas panjang, matanya menatap map di depannya sebentar sebelum akhirnya menatap Rain langsung.
"Rain, udah lama aku mau ngomong ini," mulainya, suaranya sedikit gemetar. "Tapi aku selalu nunda, karena aku takut... ya, banyak hal. Takut kamu berubah kalau tahu, takut ngerusak pertemanan kita, takut belum waktunya."
Rain diam, menunggu dengan jantung yang makin berdebar kencang.
"Aku suka kamu, Rain," Pandu akhirnya mengucapkannya, kata-kata yang sudah lama Rain nanti-nantikan, tapi entah kenapa terasa berbeda dari yang dia bayangkan. "Udah lama, sebenarnya. Dari waktu kita masih sering lembur bareng dulu, waktu kamu cerita soal keluarga kamu, soal perjuanganmu. Aku ngerasa kagum, terus lama-lama jadi lebih dari sekadar kagum."
"Pandu"
"Tunggu, biar aku selesaikan dulu," potong Pandu, menggenggam cangkir kopinya erat-erat, seolah mencari kekuatan dari situ. "Aku tahu aku terlalu lama nunda ngomong ini. Aku pengen semuanya jelas dulu, pekerjaan aku stabil, hidup aku udah tertata, baru aku berani nawarin sesuatu yang serius ke kamu. Aku nggak mau asal ngomong suka terus nggak bisa kasih kepastian apa-apa."
Rain menatap Pandu lama, mencoba mencerna setiap kata yang keluar. Ini yang selama ini dia tunggu, pengakuan yang jelas, bukan sekadar isyarat atau perhatian yang ambigu. Tapi anehnya, alih-alih merasa lega atau bahagia seperti yang dia bayangkan berbulan-bulan lalu, yang dia rasakan justru kebingungan yang aneh, bercampur dengan perasaan lain yang belum sepenuhnya berani dia akui.
"Kenapa baru sekarang?" tanya Rain akhirnya, suaranya pelan.
Pandu terdiam sejenak. "Karena aku baru sadar, kalau aku terus nunggu waktu yang sempurna, mungkin aku bakal kehilangan kesempatan buat selamanya."
Ada keheningan panjang di antara mereka. Rain menatap cokelat hangatnya yang mulai dingin, memikirkan bagaimana harus menjawab tanpa menyakiti seseorang yang selama ini begitu berarti dalam hidupnya.
"Pandu," Rain akhirnya membuka suara, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "aku beneran menghargai ini. Aku tahu ini nggak gampang buat kamu ngomong langsung."
"Tapi?" Pandu menangkap nada itu, wajahnya mulai tegang.
"Tapi... aku juga harus jujur sama kamu," Rain melanjutkan, menatap Pandu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Dulu, aku beneran ngerasa ada rasa itu ke kamu. Aku nyaman banget sama kamu, kamu selalu ada, selalu dengerin aku. Tapi belakangan ini... aku ngerasa ada yang berubah dalam diriku sendiri."
Pandu menatapnya, mencoba memahami arah pembicaraan itu meski raut wajahnya mulai menunjukkan firasat yang tidak menyenangkan.
"Berubah gimana?" tanyanya, suaranya nyaris berbisik.
Rain menghela napas panjang, mencoba menemukan cara paling jujur untuk mengungkapkan sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya dia pahami sendiri. "Aku nggak tahu harus bilang apa tanpa bikin ini makin rumit. Tapi... belakangan ini, ada orang lain yang mulai bikin aku mikirin banyak hal. Bukan cuma soal kerjaan."
Wajah Pandu berubah pucat. "Kenzo?"
Rain tidak menjawab, tapi diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Pandu menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang, seolah baru saja menerima pukulan yang sudah lama dia curigai akan datang, tapi tetap terasa menyakitkan ketika benar-benar terjadi.
"Aku tahu ini bakal terdengar egois," kata Pandu pelan, "tapi kenapa harus dia? Dari semua orang, kenapa harus Kenzo?"
"Aku juga nggak pernah berencana buat ini terjadi," jawab Rain jujur. "Awalnya aku benci banget sama dia. Tiap rapat rasanya kayak diserang terus. Tapi lama-lama aku sadar, caranya dia 'menyerang' itu sebenarnya caranya dia percaya aku bisa lebih baik. Dia nggak pernah muji aku buat bikin aku nyaman, Pandu. Tapi dia dorong aku buat jadi lebih baik dari yang aku kira aku bisa."
"Dan aku nggak pernah kasih kamu itu?" tanya Pandu, suaranya mulai bergetar antara sedih dan sedikit marah pada dirinya sendiri.
"Bukan gitu," Rain buru-buru menjelaskan, tidak ingin menyakiti lebih jauh. "Kamu kasih aku kenyamanan yang aku butuhin waktu aku capek berjuang sendirian. Itu berarti banget buat aku, Pandu, beneran. Tapi... aku juga baru sadar, kenyamanan doang kadang nggak cukup buat bikin aku berkembang."
Pandu terdiam lama, menatap ke luar jendela yang basah oleh gerimis. "Aku selalu mikir, kalau aku nunggu sampai semuanya siap, semuanya bakal baik-baik aja. Aku nggak pernah kepikiran, kalau kamu juga punya waktu sendiri yang terus berjalan, terlepas dari kesiapan aku."
"Pandu, ini bukan salah kamu sepenuhnya," Rain mencoba menenangkan, meski dia tahu kata-kata itu terasa terlalu ringan untuk situasi seberat ini. "Kamu orang baik. Kamu selalu jadi orang baik ke semua orang, dan itu salah satu hal yang aku kagumi dari kamu. Tapi mungkin... jadi baik ke semua orang itu, kadang bikin susah buat orang lain tahu, mana yang beneran spesial buat kamu."
Kalimat itu terasa menusuk, tapi Pandu tahu itu benar. Dia mengangguk pelan, menerima kenyataan yang sudah lama dia hindari untuk dilihat.
"Aku nggak nyalahin kamu, Rain," katanya akhirnya, suaranya lebih tenang meski matanya masih menyimpan kekecewaan yang dalam. "Aku cuma nyesel, kenapa aku nggak lebih berani dari dulu."
---
Mereka berdua terdiam cukup lama, hujan gerimis di luar semakin deras, seolah ikut merasakan suasana hati yang berat di antara mereka berdua.
"Kita masih bisa berteman, kan?" tanya Rain akhirnya, suaranya penuh harap.
Pandu tersenyum kecil, meski senyumnya kali ini terasa lebih rapuh dari biasanya. "Tentu aja. Aku nggak akan seenak itu ngerusak semuanya cuma karena aku telat ngomong."
"Makasih, Pandu. Buat semuanya," Rain berkata tulus, menatap sahabat lama yang selama ini menjadi tempatnya berlindung dari lelahnya dunia kerja. "Kamu orang baik, dan kamu pantas dapetin orang yang bisa balas semua kebaikan kamu, tanpa kamu harus ragu-ragu dulu buat nunjukin perasaan kamu."
Pandu mengangguk, mencoba tersenyum lebih lebar meski hatinya masih terasa berat. "Semoga kamu bahagia, Rain. Beneran."
---
Malam itu, Rain pulang dengan hati yang campur aduk, lega karena akhirnya semuanya jadi jelas, tapi juga sedih karena harus menyaksikan seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya terluka karena keterlambatannya sendiri.
Sesampainya di rumah, Tiyu masih terjaga, sibuk dengan laptop dan tumpukan kertas skripsi di meja ruang tengah.
"Kak, kok mukanya kusut gitu? Abis nangis?" tanya Tiyu, langsung menyadari sesuatu tidak beres begitu melihat wajah kakaknya.
"Nggak nangis," Rain menjawab, meski suaranya sedikit serak. "Cuma abis ngomong sesuatu yang berat sama teman."
Tiyu menutup laptopnya, memberi perhatian penuh ke kakaknya. "Mau cerita?"
Rain duduk di sebelah adiknya, menyandarkan kepalanya ke bahu Tiyu seperti kebiasaan mereka sejak kecil setiap kali salah satu dari mereka sedang sedih.
"Pandu akhirnya nembak aku tadi," Rain bercerita pelan. "Tapi aku... aku nggak bisa terima."
"Kenapa? Kakak kan udah lama suka sama dia," Tiyu bertanya, bingung.
"Aku juga nggak sepenuhnya ngerti kenapa," Rain mengaku jujur. "Tapi belakangan ini, ada orang lain yang bikin aku mikir ulang soal apa yang sebenarnya aku butuhin dari sebuah hubungan."
Tiyu terdiam sejenak, mencerna cerita kakaknya. "Yang di kantor itu? Yang katanya galak tapi diem-diem baik itu?"
Rain tersenyum kecil, agak kaget adiknya masih ingat cerita sekilas yang pernah dia ceritakan bulan lalu. "Iya, itu."
"Ya udah, ikutin aja kata hati Kakak," kata Tiyu sederhana, tanpa berusaha memberi nasihat yang berbelit-belit. "Kakak udah cukup lama korbanin banyak hal buat orang lain. Sekali-kali, dengerin apa yang Kakak sendiri mau, nggak apa-apa, kok."
Rain menatap adiknya, merasa hangat mendengar kalimat sesederhana itu datang dari seseorang yang selama ini justru sering dia jaga, bukan sebaliknya.
"Makasih, Tiyu," katanya, memeluk adiknya sebentar sebelum akhirnya beranjak untuk beristirahat.
Malam itu, Rain berbaring lama menatap langit-langit kamarnya yang sederhana, pikirannya dipenuhi oleh wajah Pandu yang terluka, dan di saat bersamaan, oleh satu nama lain yang belakangan tak pernah benar-benar pergi dari benaknya.
Untuk pertama kalinya, Rain mengakui pada dirinya sendiri, tanpa keraguan lagi, dia sudah kepentok cinta pada orang yang paling tidak dia duga akan membuatnya jatuh hati.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...