Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan yang Tertunda
Suara derap langkah petugas kepolisian dan tim pengadilan yang berhamburan pergi akhirnya menghilang dari koridor utama. Pintu kayu tebal ruang kerja pimpinan Wibowo Group melipat keheningan yang teramat pekat. Sinar matahari siang menembus kaca jendela besar, memantulkan bayangan dua insan yang berdiri berhadapan hanya berjarak beberapa jengkal.
Maya berdiri di balik mejanya dengan dada yang naik turun dengan kencang. Jemarinya mengepal kuat di samping tubuh, sementara matanya menatap lurus ke dalam sepasang manik mata gelap milik suaminya.
Kejadian yang baru saja berlangsung di depan matanya terlampau mustahil untuk dicerna oleh akal sehat. Seorang jaksa senior dari Pengadilan Tinggi Kota yang datang membawa ancaman penyitaan mendadak membungkuk ketakutan hanya karena melihat sebaris dokumen digital di ponsel lipat Arka.
Semua alibi sederhana tentang kenalan penambal ban, teman bengkel kaya, atau hadiah undian kini hancur lebur tanpa sisa.
"Arka," panggil Maya dengan suara pelan namun sarat akan penekanan yang tak bisa ditawar lagi. "Jangan berani berani menggunakan alasan konyolmu lagi padaku."
Arka berdiri tenang. Gulungan kemeja putih sederhana yang dipakainya tampak sangat kontras dengan aura ketegangan di dalam ruangan tersebut.
"Katakan padaku sekarang," tuntut Maya, melangkah satu titik mengikis jarak di antara mereka. Matanya mulai memerah menahan gejolak emosi dan kecurigaan yang telah memuncak. "Siapa kamu sebenarnya? Dokumen proteksi aset strategis tingkat nasional bukan barang mainan yang bisa didapatkan oleh seorang buruh serabutan!"
Arka menatap raut wajah istrinya yang penuh kesungguhan. Tatapan polos dan lugu yang selama ini selalu ia tampilkan di hadapan Maya perlahan memudar. Wajah pria itu berubah menjadi sangat serius. Sorot matanya memancarkan ketenangan yang pekat, tegas, dan menekan khas seorang penguasa puncak yang biasa mengendalikan ribuan nyawa.
Arka menarik napas panjang, lalu melangkah mendekati meja kerja Maya.
"Maya," ucap Arka dengan suara beratnya yang teramat dalam dan mantap. "Ada banyak hal di dunia ini yang sengaja tidak aku ceritakan agar kamu tidak terseret ke dalam bahaya yang jauh lebih besar. Tapi jika kamu memang menuntut kebenaran itu sekarang..."
Arka merogoh saku dalam kemeja putihnya. Dari balik kain kemejanya yang sederhana, ia mengeluarkan sebuah kartu tipis berwarna hitam pekat berbahan titanium murni. Garis ukiran berlian mengelilingi tepi kartu tersebut, dan di tengahnya terukir lambang mahkota emas dengan tulisan bertinta perak yang memantulkan cahaya: Nusantara Group Executive Chairman.
Maya menahan napasnya seketika. Manik matanya membelalak lebar saat menatap benda yang terhampar di atas telapak tangan Arka.
Itu adalah Black Card VIP Sovereign, kartu identitas khusus dan tertinggi di negeri ini yang konon hanya dipegang oleh satu orang saja, yaitu pendiri sekaligus pimpinan tertinggi Konsorsium Nusantara Group.
"Arka..." bisik Maya dengan suara yang tercekik di tenggorokan. Tubuhnya gemetar hebat. "Kamu... kamu adalah..."
Sebelum kalimat pengakuan itu selesai terucap dari bibir Maya, suara dering keras ponsel pintar di atas meja kerja mendadak memecah ketegangan yang hampir mencapai titik puncaknya.
Kring! Kring! Kring!
Layar ponsel Maya menyala memancarkan nama kontak Hendra Kepala Pengaman Proyek Wibowo Park.
Maya tersentak kaget, pandangannya terpecah antara kartu titanium di tangan Arka dan ponselnya yang terus meraung keras.
Arka menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan penyesalan karena momentum pengakuannya terganggu lagi. Ia menghela napas pelan, mengusap kartu titaniumnya lalu memasukkannya kembali ke dalam saku kemeja.
"Angkatlah, Maya," ujar Arka lembut namun tegas. "Tampaknya ada masalah serius di lapangan."
Dengan tangan yang masih gemetar, Maya menyambar ponselnya dan menggeser tombol hijau ke telinganya. "Halo, Pak Hendra?!"
"Bu Maya! Bahaya besar, Bu!" suara kepala pengaman di ujung telepon terdengar sangat panik diiringi deru suara mesin truk dan teriakan riuh belasan orang di latar belakang. "Lokasi konstruksi Wibowo Park digrebek oleh puluhan preman karang taruna bentukan Pak Gunawan dan Rian! Mereka membawa balok kayu, batu, dan rantai besi! Mereka memblokir pintu masuk alat berat dan mengancam akan membakar seluruh material proyek kalau operasional tidak dihentikan sekarang juga!"
Maya membelalakkan matanya dengan napas memburu. "Apa?! Preman?!"
"Iya, Bu! Kepolisian setempat mengaku tidak bisa bertindak cepat karena Rian memanipulasi ini sebagai sengketa lahan warga! Tolong Bu Maya, kalau alat berat dihentikan sehari saja, kerugian penalti kita bisa mencapai miliaran rupiah!"
Brak!
Suara benturan besi keras terdengar di ujung telepon sebelum sambungan itu mendadak terputus.
Wajah Maya seketika berubah pucat pasi. Ia mengepalkan tangannya kuat kuat di atas meja kerja. Pak Gunawan dan Rian rupanya benar benar sudah kalap dan kehilangan akal sehat. Setelah rencana mereka dihancurkan di meja RUPS, lewat jalur bank, dan lewat jalur hukum pengadilan, mereka kini menggunakan cara terasing dan paling kotor, yaitu mengerahkan kelompok mafia jalanan untuk melumpuhkan proyek secara fisik.
"Ada apa?" tanya Arka pelan, meski dari kilatan matanya ia sudah menyadari bahaya yang sedang terjadi.
"Paman Gunawan dan Rian..." jawab Maya dengan suara bergetar menahan amarah yang membakar dada. "Mereka menyewa puluhan preman bersenjata untuk memblokir dan merusak lokasi proyek Wibowo Park. Mereka mengancam keselamatan para pekerja kita."
Maya menyambar tas tangannya dengan cepat, bermaksud melangkah keluar dari ruangan kerja. "Aku harus ke lokasi proyek sekarang juga sebelum ada korban jiwa!"
Namun, baru saja Maya melangkah dua titik, jemari Arka menggenggam pergelangan tangan Maya dengan lembut namun sangat kokoh, menghentikan pergerakan wanita itu di tempat.
"Jangan pergi ke sana sendirian," kata Arka dengan nada suara yang seketika berubah menjadi sangat dingin dan tajam. "Tempat itu sedang tidak aman untuk seorang wanita."
"Tapi proyek itu adalah taruhan masa depan Wibowo Group, Arka!" seru Maya dengan mata memerah karena panik. "Aku tidak bisa cuma diam di sini melihat mereka menghancurkan segalanya!"
Arka menatap lurus ke dalam mata Maya. Senyum tipis yang memancarkan aura kepercayaan diri tanpa batas terukir di bibirnya. Ia merapikan gulungan kemeja putih di lengannya hingga ke batas siku.
"Kalau begitu," kata Arka tenang dan mantap, "biarkan suamimu ini yang mengantarmu dan membersihkan para pengganggu itu."
Maya menatap Arka dengan perasaan campur aduk. Pria di hadapannya ini baru saja memegang kartu pemilik kekuasaan terbesar di negeri ini, namun kini ia siap pasang badan untuk melindunginya secara fisik.
"Kamu mau bertarung melawan puluhan preman bersenjata?" tanya Maya ragu.
"Aku cuma mau meratakan jalan untuk istriku," jawab Arka santai sambil membukakan pintu ruangan. "Ayo."
Tiga puluh menit kemudian.
Sebuah mobil sedan putih melaju kencang dan berhenti mendadak tepat di depan pintu gerbang utama area konstruksi Proyek Wibowo Park.
Suasana di lokasi proyek tersebut sangat kacau balau. Puluhan pria bertubuh tegap dengan tato di lengan serta membawa balok kayu tebal dan rantai besi tampak berdiri mengepung pintu masuk utama. Beberapa unit ekskavator terhenti operasionalnya, sementara para pekerja bangunan terkepung ketakutan di dalam area kantor lapangan.
Di tengah kerumunan preman tersebut, tampak Rian berdiri jemawa bersama seorang pria bertubuh kekar berambut gondrong yang dikenal sebagai kepala kelompok mafia daerah setempat. Rian tertawa puas melihat proyek milik Maya lumpuh total.
"Dengar semuanya!" teriak Rian menggunakan pengeras suara portal. "Proyek ini berdiri di atas tanah sengketa! Selama ganti rugi belum diselesaikan oleh Maya Wibowo, tidak boleh ada satu pun truk yang keluar masuk!"
Para preman bersorak riuh sambil mengayunkan balok kayu ke udara.
Pintu sedan putih terbuka. Maya melangkah keluar dari mobil, diikuti oleh Arka yang berjalan santai di belakangnya.
Melihat kedatangan Maya, Rian tertawa berderak derak penuh kejengkelan. Ia melangkah maju didampingi belasan preman bersenjata kayu.
"Lihat siapa yang akhirnya datang!" ejek Rian dengan suara lantang. "Pimpinan baru Wibowo Group akhirnya berani menunjukkan mukanya! Kenapa, Maya? Kamu pikir dengan membawa suami montir jalananmu ini kamu bisa mengusir orang orangku?"
Maya melangkah maju dengan berani, menunjuk Rian dengan tegas. "Rian! Kamu dan Paman Gunawan sudah melanggar hukum! Mengapa kamu menggunakan cara premanisme kotor seperti ini?!"
"Hukum?" Rian terkekeh sinis. "Di area ini, hukum tidak berlaku, Maya! Di sini, siapa yang punya otot dan massa paling banyak, dialah yang berkuasa! Kalau kamu mau proyek ini berjalan lagi, serahkan kembali hak pengelolaan aset kepada Pak Gunawan!"
Maya mengepalkan jemarinya rapat rapat, dadanya naik turun oleh kekesalan yang memuncak.
Arka perlahan melangkah melewati tubuh Maya, berdiri tepat di depan istrinya untuk memblokir pandangan Rian. Pria berkemeja putih itu menyapu pandangan matanya ke sekeliling, menghitung jumlah preman yang berkumpul di area tersebut. Ada sekitar tiga puluh orang pria bersenjata.
"Rian," panggil Arka dengan nada suara datar yang teramat tenang. "Aku berikan kamu satu kesempatan. Tarik mundur semua orang orangmu dari tempat ini dalam waktu tiga menit, atau kamu akan menyesali keputusan ini sepanjang hidupmu."
Rian dan seluruh kelompok preman itu tertawa terbahak bahak mendengar ancaman dari seorang pria yang mereka anggap buruh harian.
"Gertakan yang bagus, montir gembel!" tawa Rian melengking. "Kamu pikir kamu siapa?! Anak anak, hajar pria ini sampai dia merangkak di tanah!"
Kepala mafia berambut gondrong memberi isyarat tangan. Empat orang preman bertubuh besar langsung melompat maju, mengayunkan balok kayu tebal ke arah kepala Arka secara serentak.
"Arka! Awas!" jerit Maya histeris, memejamkan matanya karena ketakutan.
Namun, gerakan Arka jauh lebih cepat daripada embusan angin.
Sebelum balok kayu pertama menyentuh tubuhnya, Arka melangkah miring satu titik dengan sangat presisi. Tangannya melesat cepat seperti kilat, mencengkeram pergelangan tangan preman pertama dan memutarnya dengan keras.
Krek!
Suara patahan tulang terdengar nyaring di udara sore. Preman pertama menjerit kesakitan saat balok kayunya terlepas. Arka menyambar balok kayu tersebut di udara, memutarnya dengan mahir, lalu menghantamkan ujung kayu itu tepat ke dada preman kedua hingga pria berbadan besar itu terpental lima meter ke belakang dan pingsan di atas tanah.
Tanpa menghentikan gerakannya, Arka berbalik badan, melakukan tendangan memutar yang sangat kuat ke arah rahang dua preman tersisa.
Brak!
Dua orang preman itu tumbang seketika dengan wajah berdarah, menghantam pagar besi hingga ringsek. Seluruh pertarungan mematikan itu terjadi hanya dalam hitungan lima detik.
Keheningan mendadak melanda seluruh area lapangan.
Tawa Rian terhenti seketika. Matanya membelalak lebar seperti mau melompat keluar dari kelopaknya. Puluhan preman yang tadinya bersorak kini terperanjat mundur dengan wajah pucat pasi.
Maya perlahan membuka matanya. Ia berdiri mematung di tempat, menyaksikan empat pria berbadan besar tumbang tak berdaya di tanah, sementara suaminya berdiri tegap di tengah lapangan tanpa ada satu pun noda kotor di kemeja putihnya.
Arka membuang sisa kayu di tangannya ke tanah. Pria itu menatap Rian dan kepala mafia gondrong dengan pandangan mata yang sangat pekat, dingin, dan sarat akan aura pembunuh yang tertidur.
"Dua menit tersisa," kata Arka datar, melangkah maju satu titik. "Siapa lagi yang mau mencoba?"
itu.