Di Kerajaan Shanyue, tepat dipinggiran Kota Shiyue seorang gadis tinggal di sebuah desa terpencil bernama Desa Caiyun.
Dia Xia Qinglan, anak seorang Jenderal ternama di Kerajaan Shanyue yaitu Putri Jenderal Xia Agung, Xia Longyuan.
Xia Qinglan memiliki takdir pernikahan dengan Lima Pangeran yang memiliki sikap angkuh, manja, dingin, bahkan ada juga yang menjadi budak cinta. Namun, alih-alih Qinglan menolak mereka justru ia menaklukan kelima Pangeran itu dengan caranya sendiri.
Dibalik kisah Cinta mereka di liputi perjuangan yang penuh tantangan yaitu mereka berenam harus berhadapan dengan Pangeran Ketiga, Xi Zhouyun yang licik.
Xi Zhouyun adik dari tunangan Qinglan yaitu Xi Yunzhi sang Putra Mahkota. Qinglan tidak memihak siapapun ia hanya berdiri pada keputusannya sendiri. Bahkan, kelima Pangeran itu Feng Huang, Xiao Mingye, Gu Yichen, Ling Chen dan Xi Yunzhi di didik secara langsung oleh Qinglan untuk menjadi Pilar Kerajaan Shanyue.
Ikuti kisah petualangan mereka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengawal Kaku Berambut Hitam-Hijau
Langkahnya mantap menyusuri jalan setapak yang dipenuhi semak belukar di lebatnya hutan pegunungan Desa Caiyun. Udara pagi yang lembap dan dingin menyapa kulit, berpadu dengan aroma tanah basah dan dedaunan pinus. Tujuan Xia Qinglan pagi itu sederhana: mengumpulkan ranting-ranting kayu kering untuk mengisi kembali lumbung di rumahnya. Namun, baru beberapa lama ia sibuk memunguti ranting yang berserakan di bawah naungan pohon-pohon besar, indra pendengarannya menangkap suara gemerincing logam yang beradu nyaring tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Denting pedang bersahutan, disusul suara napas memburu dan bentakan-bentakan kasar yang memecah ketenangan pagi.
Kening Qinglan sedikit berkerut. Tanpa suara, ia berjalan mendekati sumber suara tersebut, mengendap di balik rimbunnya dedaunan semak belukar tinggi. Dari balik persembunyiannya, ia melihat sebuah pemandangan yang cukup pelik: seorang pemuda berambut hitam legam dengan kilatan hijau alami di ujung helaiannya tengah bertarung habis-habisan melawan lima orang perampok gunung berbadan kekar.
Pemuda berambut hitam-hijau itu tampak terdesak hebat. Pakaian birunya robek di sana-sini, bersimbah darah segar yang mengalir dari luka-luka menganga di sekujur tubuhnya. Meski begitu, posturnya tetap berdiri tegak, memegang pedang dengan sisa-sisa tenaga terakhir sebelum akhirnya ia terhuyung dan jatuh berlutut ke tanah akibat terjangan pedang lawan.
Alih-alih berbalik pergi atau sekadar menonton dari kejauhan, Qinglan justru menghela napas panjang. Kakinya melangkah keluar dari balik semak belukar, tangannya dengan santai memungut sebatang ranting kayu kering yang cukup kokoh dari tanah.
“Berhenti!”
Suara Qinglan menggema tegas di tengah keheningan hutan, langsung menghentikan gerakan para perampok yang hendak melayangkan tebasan maut terakhir kepada pemuda malang itu. Kelima perampok tersebut sontak menoleh secara serempak ke arah sumber suara.
Begitu melihat sosok gadis muda berwajah jelita berdiri seorang diri di tengah hutan sunyi, seringai kotor langsung tersungging di bibir pemimpin perampok itu. Matanya menatap tubuh Qinglan dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan penuh merendahkan dan berahi.
“Yo... Gadis cantik! Siapa sangka di tengah hutan terpencil seperti ini kita kedatangan mangsa yang sangat rupawan. Kulitnya bahkan begitu putih bersih,” rayu sang pemimpin perampok, melangkah mendekat dengan gestur mengancam seraya memutar bilah pedang berlumuran darah di tangannya.
Qinglan tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Ia hanya berdiri tenang sambil memutar-mutar ranting kayu di antara jemarinya, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang dingin.
“Aku sedang tidak punya waktu luang untuk berurusan dengan sampah masyarakat seperti kalian. Lepaskan dia,” perintah Qinglan datar, menunjuk dengan ujung ranting kayunya ke arah pemuda berambut hitam-hijau yang sudah berlumuran darah di atas tanah.
Mendengar perintah itu, gerombolan perampok tersebut terbahak-bahak keras hingga suaranya memantul di antara pepohonan.
“Hahaha! Bocah ini berani sekali memberi perintah! Boleh saja kami melepaskannya... tapi sebagai gantinya, kau harus ikut bersama kami malam ini untuk menghibur saudara-saudaraku!” tawa pemimpin perampok itu semakin menjadi-jadi, diiringi siulan cabul dari anak buahnya.
Seketika itu juga, binar di mata Qinglan menggelap. Tanpa aba-aba, pergelangan tangannya bergerak cepat menyabetkan ranting kayu di genggamannya.
Syuuussst!
Angin berkecepatan tinggi berdesing tajam. Tanpa sempat disadari oleh siapapun—bahkan oleh pemimpin perampok itu sendiri—ranting kayu rapuh yang dipegang Qinglan melesat menembus udara dan menusuk telak tepat di titik urat leher sang pemimpin perampok.
Pria bertubuh kekar itu langsung terbelalak lebar. Ia mencengkeram lehernya sendiri yang seketika mengucurkan darah segar tanpa henti. Tubuhnya kejang sesaat sebelum akhirnya ambruk membentur tanah dengan suara gedebuk yang keras, tewas mengenaskan dalam hitungan detik.
Suasana hutan yang tadinya gaduh mendadak berubah senyap mencekam.
Keempat anak buah perampok yang tersisa terpaku kaku bagai arca. Seringai mesum di wajah mereka langsung lenyap, berganti dengan kepanikan luar biasa. Keringat dingin bercucuran deras membasahi pelipis mereka, dan lutut mereka bergetar hebat melihat bagaimana seorang gadis lemah—hanya dengan sebatang ranting kayu rapuh—bisa merenggut nyawa pemimpin mereka seketika tanpa ampun.
“Kalian... masih ingin maju?” tantang Qinglan dingin, suaranya tenang namun menusuk tulang. Ia melangkah maju selangkah, lalu memungut sebatang ranting kayu lagi dari tanah di dekat kakinya.
Ketahanan mental para perampok itu runtuh seketika. Salah satu dari mereka langsung menjatuhkan senjatanya, berlutut gemetar di tanah dengan air mata nyaris tumpah.
“Nona besar! Ampuni kami! Mohon ampuni nyawa kami! Kami benar-benar tidak bermaksud lancang, kami hanya terpaksa melakukan ini karena dibayar oleh seseorang!” ratap perampok itu histeris memohon belas kasihan.
Qinglan menatap rendah sosok-sosok pengecut di hadapannya. “Aku paling tidak suka basa-basi. Kalian hanya membuang-buang waktuku saja,” desisnya tajam.
Melihat celah saat perhatian Qinglan sedikit bergeser, anak buah perampok yang paling ketakutan itu secara diam-diam memberi kode kepada rekan-rekannya untuk berbalik arah dan melarikan diri sekencang mungkin menerobos semak-semak hutan.
Qinglan menghela napas malas melihat kebodohan mereka.
“Ingin lari? Sayang sekali... kalian sudah terlambat,” gumam Qinglan pelan.
Tangannya bergerak dalam sebuah ayunan kilat. Tiga ranting kayu di tangannya terlepas, melesat membelah udara dengan kecepatan setara anak panah beracun.
Cepat! Akurat! Mematikan!
Ketiga ranting kayu itu menembus punggung para perampok yang sedang berlari terbirit-birit. Mereka langsung tersungkur jatuh ke tanah secara bersamaan dan tewas seketika tanpa sempat mengeluarkan teriakan terakhir.
Hutan kembali hening. Angin pagi berhembus pelan, menerbangkan ujung helai rambut hitam Qinglan yang berdiri tenang di antara sisa-sisa pertarungan mematikan tersebut. Sebuah babak baru yang mempertemukannya dengan rahasia dan orang-orang dari dunia persilatan yang lebih luas baru saja dimulai dari tempat itu.
Qinglan menghela napas pendek, menurunkan tangannya perlahan. Ia berjalan mendekati tumpukan ranting kayu bakar yang sempat ia kumpulkan sebelumnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pemuda berambut hitam-hijau yang masih terduduk lemah bersandar di batang pohon besar.
Pemuda itu adalah Gu Yichen. Penampilannya tampak mengenaskan; jubah birunya robek di sana-sini, bersimbah darah segar akibat luka tikaman senjata tajam, namun postur tubuhnya tetap tegak kaku dengan sisa-sisa kewaspadaan yang tidak luntur sedikit pun. Sepasang mata tajamnya menatap ke arah Qinglan dengan sorot penuh selidik dan keheranan yang mendalam.
Qinglan tidak memedulikan tatapan menyelidik itu. Ia berjongkok sejenak, merobek secarik kain dari jubah salah satu perampok yang mati, lalu melemparkannya ke pangkuan Gu Yichen.
“Gunakan itu untuk menutup lukamu yang menganga di bahu kanan, atau kau akan mati kehabisan darah sebelum sempat keluar dari hutan ini,” ucap Qinglan datar, tanpa nada simpati yang berlebihan.
Gu Yichen menangkap kain itu dengan tangan kirinya yang masih bisa digerakkan. Suaranya terdengar berat dan kaku saat ia merespons, “Kenapa kau menyelamatkanku? Aku tidak meminta bantuanmu.”
Qinglan mendengus pelan, bangkit berdiri dan kembali memanggul keranjang bambunya yang berisi ranting kayu. “Aku tidak sedang berniat menyelamatkanmu. Aku hanya terganggu karena suara bising pertarungan kalian merusak ketenangan pagiku, dan para sampah itu kebetulan mencari mati di hadapanku.”
Meskipun ucapannya ketus, Qinglan tidak lantas meninggalkan pemuda itu begitu saja. Ia melangkah mendekati Gu Yichen, mengulurkan sebelah tangannya untuk membantu pemuda kaku berambut hitam-hijau itu bangkit berdiri dari tanah.
Gu Yichen sempat terpaku menatap uluran tangan itu beberapa saat. Sebagai seorang pengawal bayangan yang terbiasa hidup di dalam dunia penuh pengkhianatan dan darah, ia tidak pernah mempercayai siapapun dengan mudah. Namun, melihat bagaimana gadis di hadapannya baru saja membantai lima perampok berbahaya hanya menggunakan ranting kayu biasa, Gu Yichen akhirnya meraih tangan Qinglan dan membiarkan dirinya ditarik berdiri.
Begitu berdiri sepenuhnya, tubuh Gu Yichen sempat terhuyung karena rasa sakit yang mendera sekujur tulangnya, namun ia segera menegakkan kembali punggungnya dengan kaku, mempertahankan harga diri seorang pengawal profesional.
“Siapa namamu?” tanya Qinglan singkat, mulai berjalan menyusuri jalur setapak kembali ke arah desa, sementara Gu Yichen berjalan pincang mengikuti di belakangnya.
“Gu Yichen,” jawab pemuda itu singkat, padat, dan tanpa ekspresi. “Pengawal pribadi... dari klan bangsawan utara.”
Qinglan mengangguk samar. Di dalam kepalanya, potongan puzzle mengenai ramalan kuno Kerajaan Shanyue dan tanda lahir bunga plum kembali berputar. Rambut hitam dengan kelebatan warna hijau alami di ujungnya... tatapan mata yang kaku dan disiplin tingkat tinggi... Gu Yichen bukanlah orang sembarangan.
Setibanya mereka di kediaman sederhana Qinglan, suasana damai yang tadinya dijaga oleh Feng Huang dan Mingye mendadak langsung berubah kacau balau.
Feng Huang yang sedari tadi mondar-mandir di halaman depan karena cemas menanti kepulangan Qinglan langsung menghentikan langkahnya begitu melihat sang gadis muncul dari balik rimbunnya semak. Namun, mata merahnya seketika melebar tajam saat melihat sosok pemuda asing berambut hitam-hijau yang terluka parah berjalan di belakang Qinglan.
“Lanlan! Apa yang kau bawa pulang dari hutan? Kenapa kau membawa pria asing berdarah-darah ke rumah kita?!” seru Feng Huang tidak terima, langsung melangkah mendekat dengan gestur protektif sekaligus cemburu akut.
Mingye yang menyusul keluar dari dalam rumah ikut terperanjat. Ia mengamati penampilan Gu Yichen dari atas sampai bawah, lalu melipat tangan di dada dengan senyuman sinis khasnya. “Wah... jangan-jangan pangkalan kita kedatangan pengemis baru yang hobi mencari masalah di hutan?” sindir Mingye tajam.
Gu Yichen melirik Feng Huang dan Mingye secara bergantian dengan tatapan dinginnya yang kaku. Tanpa gentar sedikit pun menghadapi aura permusuhan dari dua pangeran tersebut, Gu Yichen membungkuk sedikit kepada Qinglan. “Terima kasih atas bantuannya, Nona. Aku akan pergi setelah lukaku sedikit membaik.”
“Jangan bodoh. Dengan kondisi tubuhmu yang hampir hancur itu, kau bahkan akan langsung mati diterkam harimau begitu melangkah keluar halaman rumahku,” potong Qinglan mutlak, meletakkan keranjang kayunya di dekat pintu. Ia menoleh tajam ke arah Feng Huang dan Mingye yang masih memasang wajah tidak suka.
“A-Feng, Mingye, berhenti bersikap seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Ambilkan air hangat dan kain bersih dari dalam, lalu obati luka pemuda ini di kamar samping,” perintah Qinglan dengan suara tegas yang tidak bisa dibantah.
Feng Huang mendengus keras, melipat tangan di dada sambil membuang muka. “Ogah! Suruh saja dia mengurus lukanya sendiri! Kenapa aku harus merawat saingan baru yang tiba-tiba nyelonong masuk ke rumah kita?”
“Benar! Kenapa tidak suruh dia tidur di kandang ayam saja?” timpal Mingye panas-panas memperkeruh suasana.
Qinglan menarik napas panjang, menatap tajam kedua pangeran itu dengan tatapan maut yang langsung membuat bulu kuduk Feng Huang dan Mingye merinding seketika. Belum sempat Qinglan melayangkan ancaman pukulannya, Gu Yichen dengan suara datarnya yang kaku tiba-tiba angkat bicara.
“Aku tidak butuh bantuan dari dua pangeran manja yang kerjanya hanya berdebat tidak jelas,” ujar Gu Yichen tanpa filter, membuat urat di pelipis Feng Huang dan Mingye serempak berkedut hebat.
Suasana halaman rumah Qinglan mendadak menegang dalam keheningan yang mematikan. Dua pangeran arogan dan seorang pengawal kaku—kehadiran Gu Yichen di tempat itu tampaknya akan menjadi babak baru yang jauh lebih melelahkan dan penuh kekacauan bagi hari-hari Xia Qinglan ke depan.