Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warna Baru Di Lembar Yang Baru
Mendengar tuduhan telak dari Balisya, suasana di dalam ruang OSIS yang ber-AC itu mendadak terasa semakin mencekik. Auren merasakan seluruh tubuhnya melemas. Matanya mulai berkaca-kaca karena terkejut sekaligus tidak percaya bahwa kejujurannya kembali dipertanyakan, apalagi di depan Evan yang baru saja berbaikan dengannya hari Sabtu kemarin.Namun, di saat Evan masih terdiam sambil menatap lembaran kertas itu dengan kening berkerut, Putra tiba-tiba menarik kertas laporan dan tumpukan nota yang dibawa Balisya ke hadapannya.Sebagai Wakil Ketua Kelas yang terkenal paling teliti dan jeli, Putra tidak langsung menelan mentah-mentah omongan Balisya. Jemarinya dengan cepat membolak-balik lembaran nota belanja kelas—mulai dari nota pembelian sapu, kain pel, hingga kertas manila untuk mading."Tunggu, Sya," cetus Putra memecah keheningan. Sorot matanya yang biasa santai kini menatap tajam ke arah lembaran nota di tangan kanannya. "Lo bilang ada selisih seratus ribu gara-gara catatan Auren yang salah?""Iya, Put. Kamu lihat sendiri kan angka di total akhirnya? Jelas-jelas gak cocok sama uang yang ada di dompet kas," jawab Balisya defensif. Jilbab putihnya yang rapi bergoyang kecil saat ia melipat tangan di dada dengan penuh percaya diri.Putra mengeluarkan pulpen dari saku seragamnya, lalu mengetuk ujung pulpen itu ke salah satu nota pembelian barang hiasan mading kelas yang tintanya tampak sedikit berbeda."Balisya, lo lupa ya kalau minggu lalu kita belanja perlengkapan mading ini bareng-bareng?" tanya Putra dengan nada suara yang sangat tenang namun sukses membuat Balisya sedikit tersentak. "Nota yang asli itu totalnya cuma tiga puluh ribu, Sya. Kenapa di nota yang lo bawa sekarang, angka tiganya berubah jadi angka delapan? Dan di sini tertulis delapan puluh ribu?"Putra menyejajarkan nota tersebut dengan buku catatan milik Auren. "Di buku rekap yang dibuat Auren, dia tetap nulis tiga puluh ribu karena Auren mencatat sesuai jumlah uang yang kita keluarin di toko waktu itu. Makanya uang kasnya kelihatan tekor di dompet lo, karena lo masukin nota yang angkanya udah ditambahin sendiri sebesar lima puluh ribu!"Mendengar analisis Putra yang begitu jeli, Evan langsung menyambar nota itu dari tangan Putra. Kedua mata sang Ketua Kelas menyipit, mengamati goresan angka delapan pada nota yang memang terlihat agak dipaksakan dan menggunakan tinta pulpen yang berbeda dengan tulisan toko aslinya.
"Putra benar," ujar Evan, suaranya mendadak berubah dingin dan berat. Ia meletakkan nota manipulatif itu kembali ke meja dengan sentakan pelan, lalu menatap Balisya lurus-lurus. "Sya, lo sengaja ngubah angka di nota ini cuma buat bikin catatan Auren kelihatan salah?"Wajah Balisya yang tadinya memancarkan keyakinan mutlak seketika berubah pucat pasi. Bibirnya bergetar, dan sepasang tangannya yang tadinya bersedekap dada langsung turun dengan lemas. Jilbab putihnya yang selalu tegak tanpa cela seolah kontras dengan tubuhnya yang kini mendadak gemetar karena taktik liciknya terkelupas habis di depan semua pengurus inti."Aku... aku gak bermaksud..." kalimat Balisya terputus di tenggorokan. Ia tidak bisa mengelak lagi karena Putra memegang bukti fisik yang sah. Rasa malu yang luar biasa seketika menjalar di wajahnya. Tanpa berani menatap mata mereka bertiga lagi, Balisya langsung menyambar tasnya di kursi, membalikkan badan, dan berlari keluar dari ruang OSIS sambil menahan tangis.Pintu ruang OSIS tertutup dengan dentuman pelan, menyisakan keheningan di antara tiga orang yang tersisa.Auren mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya, membiarkan setetes air mata kelegaan lolos ke pipinya. Kali ini, ia benar-benar bersyukur memiliki sahabat sewaktu organisasi seperti Putra yang selalu bisa diandalkan di masa-masa sulit.Evan perlahan berdiri dari kursinya, berjalan mendekati meja Auren, lalu mengetuk permukaan meja kayu itu sebanyak dua kali—gestur akrab yang kali ini membawa rasa bersalah sekaligus janji perlindungan yang lebih kuat dari sebelumnya."Ren, maafin gue yang sempat diam tadi ya," bisik Evan dengan tatapan mata yang sangat tulus. "Mulai sekarang, gak akan ada lagi sketsa kita yang boleh dirusak sama siapa pun."