kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Beri Nina waktu sebentar untuk pamitan, Ayah," ujar Nina pelan, memamerkan senyum penurut yang membuat Faris mengangguk setuju tanpa rasa curiga.
Nina melangkah keluar menuju rumah Ibu Sumiati yang tak jauh dari sana. Keputusan untuk segera pergi ke Jakarta terasa seperti takdir yang tepat. Selain untuk rencana besarnya, pergi dari desa ini adalah cara terbaik untuk melarikan diri dari bayang-bayang Dias, agar hatinya tak makin hancur meratapi cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Di halaman rumah Taniza, Pak Harto dan Bu Sumiati sedang mencabut rumput, sementara Dias yang mengenakan seragam PNS rapi tampak bersiap menaiki sepeda motornya untuk berangkat kerja. Tak jauh dari sana, Yoga, sahabat Nina sejak kecil yang juga akan berangkat kuliah sedang memasukkan tas ke dalam bagasi mobil. Yoga memutuskan kuliah di tempat yang sama dengan Nina, di sana ,ia menumpang di rumah saudaranya. Nina sudah seperti saudara kandungnya, Yoga tidak akan membiarkan Nina jauh dari pengawasan nya.
Melihat kedatangan Nina dengan mata sembab, Bu Sumiati langsung menghentikan kegiatannya.
"Nina? Ada apa, Nak? Kenapa matamu sembab begitu?" tanya Bu Sumiati cemas, menghampiri dan menggenggam kedua tangan Nina.
Taniza yang mendengar suara ibunya keluar dari dalam rumah, disusul Yoga dan Dias yang ikut mendekat.
"Bu, Pak, Taniza, Yoga... Mas Dias," Nina menarik napas panjang, menahan getaran di dadanya. "Nina datang mau pamitan. Hari ini Nina harus ikut Ayah kandung Nina ke Jakarta."
"Jakarta?" Taniza terperanjat, matanya seketika berkaca-kaca. Ia memeluk Nina erat-erat. "Kenapa mendadak banget, Nin? Katanya kamu mau nyari kostan pelan-pelan?"
"Ada hal yang harus Nina selesaikan di sana, Tan," bisik Nina lembut. Saat matanya tak sengaja beradu pandang dengan Dias, dada Nina berdenyut nyeri. Namun, ia buru-buru mengalihkan pandangannya pada Pak Harto dan Bu Sumiati. "Bu, Pak... terima kasih banyak sudah menganggap Nina seperti anak sendiri selama ini. Maaf kalau Nina banyak salah."
Bu Sumiati tak sanggup menahan air matanya. Ia memeluk Nina bergantian , memberikan usapan hangat di punggung gadis itu.
Yoga yang berdiri di samping mobilnya menatap Nina dengan pandangan berat. "Nin, kalau ada apa-apa di Jakarta, langsung kabari aku. Aku juga kan pindah kuliah di sana. Jangan dipendam sendiri."
"Pasti, Ga. Makasih ya," jawab Nina tulus.
Dias melangkah mendekat, mengulas senyum tipis yang tulus. "Hati-hati di jalan ya, Nina. Semoga sukses kuliahnya di Jakarta."
"Terima kasih, Mas Dias. Selamat juga untuk rencana pernikahan Mas dan Taniza,... Aku nanti yang akan merancang kebaya pengantin buat Taniza " sahut Nina mantap, mengubur dalam-dalam seluruh perasaan yang pernah ada. Ini adalah salam perpisahan terbaik yang bisa ia berikan.
"Tidak perlu repot-repot nin, cukup kau nanti bisa hadir saja, aku sangat bahagia " balas Taniza tersenyum haru .
'Kabari saja kalau kalian menikah...,Tania saja, aku bikinin...masa kamu tidak,kalian adalah sahabat sekaligus saudara untuk ku.... Aku titip Paman Juan ya, kalau ada apa-apa , kabari Aku"
Setelah suasana haru di rumah ibu sumiati berlalu, Nina kembali ke rumah Paman Juan untuk mengambil tas pakaiannya. Sebelum Nina melangkah menuju mobil mewah Faris, Paman Juan menahan lengannya di balik pilar teras yang sepi dari jangkauan pandangan Faris.
Pria paruh baya yang biasanya berwajah dingin itu menatap mata Nina dalam-dalam. Cengkeramannya di lengan Nina terasa tegas, namun ada kekhawatiran tersirat di sana.
"Ingat pesan Paman, Nina," bisik Paman Juan dengan suara berat dan penuh penekanan. "Kamu sedang masuk ke dalam sarang serigala. Pria itu tidak membawa kamu karena kasih sayang, tapi ada niat terselubung. Tetap waspada, jangan pernah terlihat lemah di depannya, dan jangan sampai kamu tertipu oleh kebaikan palsunya."
Nina menatap balik mata pamannya dengan binar tegar yang kini tak lagi ditutupi kepura-puraan.
"Nina paham, Paman. Nina tidak akan lupa semua didikan Paman selama ini,... terimakasih semuanya paman, Nina tumbuh menjadi kuat karena didikan paman, Paman hati-hati di rumah, kabari Nina kalau ada apa-apa... Nina sangat menyayangi paman..., Paman adalah ayah Nina," jawab Nina tegas.
Paman Juan mengangguk pelan, menyisakan sebuah epilog dingin di balik kepergian keponakannya. Nina berbalik, melangkah pasti menuju mobil mewah ayahnya, memulai babak baru petualangannya di tengah bahaya yang menanti di Jakarta.
____
Di dalam sedan mewah yang melaju membelah jalanan antarkota menuju Jakarta, keheningan mencekam menyelimuti ruang penumpang. Faris sibuk dengan gawai di tangannya, sesekali melempar tatapan menilai ke arah Nina yang bersandar kaku di dekat jendela.
Dari kaca spion tengah, Pak Heri sopir pribadi Faris,sesekali melirik ke arah Nina. Ada binar rasa kasihan yang sangat dalam di mata pria paruh baya itu. Sebagai orang kepercayaan yang tahu betul tabiat busuk tuannya dan keluarga nya , Pak Heri paham betul nasib seperti apa yang sedang menanti gadis polos berhijab itu. Nina tidak sedang dibawa menuju rumah hangat seorang ayah, melainkan sedang diseret masuk ke dalam kandang serigala yang penuh tipu daya dan muslihat.
Di kursi belakang, Nina berpura-pura menunduk sedih, menyembunyikan jemarinya yang lincah menari di atas layar ponsel. Ia sedang bertukar pesan dengan Tania, kembaran Taniza yang kini menetap di Jakarta setelah menikah dengan Tuan Muda Ameer.
Berbeda dengan Taniza yang lembut dan polos, Tania memiliki kepribadian yang tegas dan keras, persis seperti Nina. Sejak dulu, hanya Tanialah satu-satunya sahabat yang tahu sisi tegar Nina yang dididik Paman Juan, bukan sekadar gambaran gadis desa yang lemah.
“Assalamualaikum...Tania, aku dalam perjalanan ke Jakarta. Aku bakal tinggal di rumah ayah kandungku,” ketik Nina, memberi tahu kabar kepindahannya.
Balasan dari Tania masuk dalam hitungan detik.
“Waalaikumsalam ... Demi apa, Nin?! Pria tak bertanggung jawab itu mendadak jemput kamu? Jangan bilang kamu percaya gitu aja sama dia. Hati-hati, Nin. Aku kenal seluk-beluk dunia orang kaya di Jakarta gara-gara ikut Mas Ameer, penuh serigala berbulu domba.”
Nina mengulas senyum tipis yang tak terlihat oleh Faris, lalu membalas cepat.
“Aku tahu, Tan. Paman Juan udah wanti-wanti. Aku nggak sepolos yang ayahku kira. Aku sengaja ikut untuk ngebongkar apa pun rencana busuk yang dia simpan. Nanti kalau aku udah sampai, kita ketemu ya.”
“Siap! Kalau ada apa-apa atau kamu butuh bantuan, langsung kabari aku. Suamiku punya banyak akses di Jakarta. Tetap waspada, Nina.”
Nina mengunci layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia menatap ke luar jendela, memperhatikan pepohonan yang berganti menjadi deretan gedung pencakar langit. Di sampingnya, Faris tersenyum tipis, merasa berhasil membawa umpan yang sempurna untuk rencananya, tanpa menyadari bahwa putri yang dikira lemah itu siap membalas setiap pengkhianatan
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰