Indonesia
NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Gigitan Vampir

"Ke mana perginya pria itu? Jalannya buntu," gumamnya heran dan penuh selidik.

Ia turun dari sepedanya, lalu mulai mendorong kendaraan roda dua itu perlahan, menyusuri jalanan setapak hutan cemara yang sepi sembari celingukan, matanya yang sewarna cokelat gelap menyapu setiap celah pohon untuk mencari sosok pengendara motor sport yang ia incar.

Brukk!

Tiba-tiba, sebuah suara dentuman keras yang berat terdengar dari arah belakang tubuhnya, seolah-olah ada sesuatu yang bermassa besar baru saja mendarat dari ketinggian dengan kekuatan yang luar biasa.

Aroma laut yang pekat itu mendadak muncul kembali membanjiri udara. Namun kali ini, rasanya jauh berbeda dari sebelumnya.

Aroma laut ini terasa ratusan kali lipat lebih kental, murni, dan purba—begitu menenangkan sekaligus magis, hingga rasa kalut serta kemarahan yang tadinya menguasai pikiran Elisa sesaat menguap tak berbekas, digantikan oleh rasa damai yang asing.

Elisa berbalik dengan cepat dan seketika tersentak hebat di tempatnya berdiri.

Tepat di depannya, berdiri seorang pemuda berpostur jangkung dan tegap dengan visual yang luar biasa tampan—ketampanan yang terasa tidak nyata dan berbahaya.

Kulit pemuda itu seputih pualam, menciptakan kontras yang dramatis dengan rambutnya yang hitam legam sepekat malam, serta sepasang manik mata yang sebiru batu safir murni yang berkilau tajam. Ia mengenakan jaket kulit hitam yang pas di tubuh atletisnya dan celana jeans hitam yang robek di bagian lutut.

Pemuda misterius itu berdiri tegak, menatap Elisa dengan tatapan mata dingin, tajam, namun menyimpan ketertarikan yang pekat dan sulit diartikan.

Elisa mengamati penampilannya sejenak dari balik topi bulatnya. Jelas sekali, pria tampan ini bukan si pengendara motor sport konyol yang mencipratinya tadi. Pakaian mereka berbeda, dan yang paling mencolok adalah auranya—pemuda di depannya ini memiliki aura dominan yang begitu kuat, gelap, dan sangat mengintimidasi, seolah dia adalah predator tertinggi di hutan ini.

"Siapa... siapa kau?" tanya Elisa, suaranya sedikit berjengkit mundur dua langkah secara instingtif.

Seluruh alarm bahaya di dalam otaknya berteriak nyaring bahwa makhluk di depannya ini bukanlah manusia biasa.

Pemuda bermata safir itu tidak menjawab sepatah kata pun. Ia justru melangkah maju mendekati Elisa secara perlahan, dengan gerakan yang anggun layaknya seekor macan kumbang yang sedang mengunci mangsanya.

Sepasang matanya tidak berkedip, seolah-olah tubuhnya ditarik oleh kekuatan magnet tak kasat mata yang berasal dari diri Elisa.

Pemuda itu berhenti tepat dua langkah di depan Elisa, menunduk demi menatap langsung ke dalam manik mata cokelat gelap gadis itu.

Suaranya terdengar berat, serak, dan sangat memikat saat ia berbisik, "Aroma darahmu... kenapa bisa terasa begitu memabukkan? Aku... belum pernah merasakan aroma magis yang sekental ini seumur hidupku..."

Seketika, warna biru safir yang jernih di sepasang mata pemuda itu bermutasi. Warnanya menggelap, berubah menjadi merah darah yang pekat—sorot mata predator puncak yang baru saja menemukan mangsa paling berharga di dunia.

"Menjauh dariku! Jangan macam-macam ya!" teriak Elisa, suaranya melengking di tengah kesunyian hutan cemara.

Mengikuti instingnya, ia bersiap mengumpulkan sisa energinya, memusatkan fokus pada gelombang otaknya untuk menghipnotis dan memanipulasi pikiran pria asing di depannya.

Namun, sesuatu yang aneh dan mengerikan terjadi. Tubuh Elisa mendadak kaku sekeras batu. Di bawah tatapan mata merah yang berkilat intimidatif itu, insting bertahan hidupnya seolah dilumpuhkan oleh sihir yang jauh lebih kuat. Atmosfer di sekitarnya mendadak terasa berat, menjerat paru-parunya hingga ia kesulitan bernapas.

Aku harus lari. Sekarang juga! batinnya menjerit histeris.

Braakk!

Dengan gerakan panik, Elisa menjatuhkan sepeda bututnya begitu saja ke atas tanah berlumut dan berbalik untuk berlari tunggang langgang. Namun, pemuda bermata merah itu hanya menyeringai tipis, seolah menganggap pelarian Elisa tak lebih dari permainan anak kucing.

Wusshh!

Hanya dalam satu kedipan mata, sebuah bayangan hitam melesat membelah angin. Sebelum Elisa sempat mengambil langkah kelimanya, pemuda itu sudah berdiri tegak tepat di depan wajahnya, memotong jalannya dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Tanpa memberikan aba-aba atau kesempatan untuk menghindar, tangan kekar pemuda itu menyambar pinggang Elisa. Ia menarik tubuh gadis itu mendekat, mengunci seluruh pergerakannya dengan satu lengan yang rasanya sekeras baja silinder.

Detik berikutnya, pemuda itu memiringkan kepala Elisa, membuka akses pada leher jenjangnya, dan menancapkan sepasang taringnya yang panjang dan tajam tepat di vena leher gadis itu.

Jleb!

Sepasang mata cokelat gelap Elisa membelah horor. Rasa panas yang membakar bak aliran lava seketika menjalar dari titik luka di lehernya, merambat ke seluruh pembuluh darah.

Pemuda itu... sedang menghisap darahnya dengan rakus. Sengatan rasa sakit dan sensasi aneh yang memabukkan bercampur aduk, menguras seluruh tenaganya dalam hitungan detik. Jelas, makhluk yang memeluknya dengan erat ini bukanlah manusia.

"To... long..."

Suara Elisa tercekat di tenggorokan, hanya berupa bisikan parau yang malang.

Pandangan matanya mulai mengabur dan berkunang-kunang. Dengan sisa kesadarannya yang kian menipis, ia berusaha mengedarkan pandangan ke jalanan setapak hutan cemara yang sunyi itu, berharap ada keajaiban berupa orang lewat yang bisa menolongnya. Namun, nihil. Tidak ada siapa-siapa di tempat terkutuk ini.

Dalam keputusasaan yang mendesak dan ketakutan akan kematian yang kian dekat, Elisa memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengangkat tangan kanannya dengan seluruh sisa tenaga terakhir yang berhasil ia kumpulkan dari ujung sarafnya. Ia mencoba mendorong dada bidang pemuda itu.

Sia-sia belaka. Tubuh pria asing itu benar-benar seperti bongkahan batu tebal yang tak tergoyahkan sedikit pun.

Merasa tidak ada pilihan lain, Elisa mengarahkan telapak tangannya ke atas, menempelkannya tepat di kening pucat pemuda yang masih asyik menghisap darahnya. Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh jiwa, memori, dan esensi purba Mnemosyne yang tersisa di dalam kepalanya, lalu melepaskan gelombang perintah mutlak.

“Berhentilah... menjauh dariku! Lupakan aku... Lupakan semua kejadian di hutan ini!” jerit batin Elisa, menyalurkan energi sihir penghapus memori terbesar yang pernah ia lepaskan seumur hidupnya.

Efeknya instan. Pemuda itu akhirnya berhenti menghisap. Tubuhnya menegang sesaat sebelum ia menarik diri, melepaskan cengkeramannya pada pinggang Elisa.

Ia melangkah mundur satu langkah, lalu menyeka sudut bibirnya yang ternoda warna merah segar dengan ibu jari, kemudian menjilat sisa darah Elisa yang tertinggal di sana dengan gerakan lambat yang sensual.

Akan tetapi, ekspektasi Elisa patah. Pemuda itu sama sekali tidak tampak linglung atau kebingungan seperti Louis. Sorot mata merahnya tetap tajam, fokus, dan penuh kesadaran mutlak. Malah, sebuah senyum tipis yang sarat akan kepuasan terukir di wajah pucatnya yang rupawan.

"Terima kasih atas hidangannya, Nona," ucap pemuda itu dengan nada suara yang tenang, berat, dan bertenaga.

"Aku tidak akan pernah melupakanmu. Bahkan... setelah ikatan darah ini, kau yang pasti akan terus mencariku."

Wusshh!

Tanpa menunggu jawaban, tubuh pemuda itu melesat secepat badai, melebur ke arah kegelapan hutan cemara yang lebat dan menghilang tanpa jejak.

Elisa mematung di tempatnya selama beberapa detik, sebelum akhirnya seluruh persendian lututnya melemas. Tubuhnya ambruk begitu saja ke atas aspal yang dingin. Dengan tangan gemetar, ia memegangi leher kirinya yang terasa berdenyut nyeri, panas, dan basah oleh sisa darah.

"Apa... apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia tidak lupa? Kenapa kekuatanku gagal total?"

Elisa bertanya-tanya pada keheningan dengan napas tersengal-sengal.

Anehnya, ia menyadari satu hal ganjil lagi. Biasanya, setelah ia menggunakan kekuatan manipulasinya, ia akan dihantam oleh migrain hebat yang membuatnya ingin pingsan.

Namun kali ini, kepalanya sama sekali tidak sakit. Hanya detak jantungnya yang berpacu gila dan rasa meremang di tengkuknya yang tersisa.

Elisa menatap nanar ke arah dedaunan lebat tempat pemuda misterius itu menghilang.

"Vampir..." bisiknya ngeri dengan bibir bergetar.

"VAMPIR!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!