Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Segalon

Cinta Segalon

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: wabula

Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecurigaan wulan

Perubahan sikap Gilang yang semakin sering tersenyum sendiri sambil memandangi ponselnya, tidak luput dari perhatian Wulan yang setiap pagi selalu menyaksikan kebiasaan tersebut ketika pemuda itu mampir sarapan di warungnya. Sebagai seseorang yang sudah lama memendam perasaan terhadap Gilang, Wulan memiliki kepekaan tersendiri terhadap setiap perubahan kecil dalam perilaku sahabat masa kecilnya tersebut.

"Lang, kamu akhir-akhir ini kok beda ya. Sering senyum-senyum sendiri gitu liat hape," ujar Wulan suatu pagi, mencoba menyelidiki penyebab perubahan tersebut dengan nada yang berusaha terdengar santai.

Gilang sedikit tersentak mendapati dirinya ketahuan, buru-buru memasukkan ponselnya ke saku celana. "Ah, nggak ada apa-apa kok, Wul. Cuma baca berita aja."

"Bohong. Muka kamu itu nggak bisa bohong, Lang. Coba cerita, siapa yang bikin kamu seneng kayak gitu," desak Wulan, semakin penasaran dengan jawaban yang menurutnya terlalu mengelak tersebut.

Gilang menghela napas, menyadari sahabatnya tersebut tidak akan mudah menyerah sebelum mendapatkan jawaban yang memuaskan. "Ya udah deh, sebenarnya ada pelanggan yang cukup sering ngajak ngobrol pas saya anter galon. Orangnya baik, tapi ya sekadar temen ngobrol aja kok."

"Pelanggan yang mana? Cewek ya?" tanya Wulan dengan nada yang mulai terdengar sedikit tegang, meski berusaha menyembunyikan perasaan tersebut di balik senyum yang dipaksakan.

"Iya, tapi bukan apa-apa kok, Wul. Dia tinggal di komplek elite, keluarganya kaya raya. Kita mah beda dunia," jawab Gilang mencoba menjelaskan dengan santai, tidak menyadari bahwa penjelasan tersebut justru semakin memperjelas kekhawatiran yang mulai tumbuh dalam diri Wulan.

m

Wulan terdiam sejenak, mencerna informasi tersebut dengan perasaan yang sulit dia jelaskan sendiri, campuran antara kecemburuan dan ketakutan akan kehilangan kesempatan yang selama ini dia harapkan. "Kamu yakin cuma sekadar temen ngobrol, Lang? Soalnya dari cara kamu cerita, kayaknya lebih dari itu deh."

"Ah, nggak lah, Wul. Mana mungkin orang kayak dia mau sama saya. Kita cuma temenan biasa aja," jawab Gilang mencoba meyakinkan, meski jauh di dalam hatinya sendiri, dia mulai mempertanyakan kebenaran dari kata-katanya tersebut.

Ibu Rahayu, yang kebetulan mendengar percakapan tersebut dari dalam warung, keluar sambil membawa piring pesanan Gilang, memberikan pandangan penuh arti kepada putrinya. "Wulan, biarin aja urusan Gilang. Bukan urusan kita mau dia deket sama siapa."

"Iya, Bu, saya tau kok," jawab Wulan singkat, meski nada suaranya menunjukkan kekecewaan yang tidak sepenuhnya bisa dia sembunyikan.

Gilang, yang tidak sepenuhnya menyadari kedalaman perasaan Wulan terhadap dirinya, hanya mengangguk tidak enak melihat suasana yang tiba-tiba berubah canggung tersebut. "Wul, kamu nggak apa-apa kan? Kok kayak ada yang mengganjal gitu."

"Nggak apa-apa kok, Lang. Cuma capek aja tadi malem begadang bantu Ibu masak buat pesenan besok," jawab Wulan berusaha mengalihkan topik, tidak siap untuk mengungkapkan perasaan yang selama bertahun-tahun dia pendam tersebut, terlebih di saat yang menurutnya sudah terlambat.

Setelah Gilang pergi melanjutkan rute pengantarannya, Wulan duduk termenung di belakang meja kasir warungnya, memikirkan kembali percakapan tersebut dengan perasaan yang semakin berat. Dia menyadari, kesempatan yang selama ini dia tunggu untuk mengungkapkan perasaannya kepada Gilang, mungkin akan segera menghilang seiring dengan berkembangnya kedekatan pemuda tersebut dengan sosok lain yang jauh lebih menarik perhatiannya.

"Kenapa aku nggak pernah berani ngomong dari dulu ya," gumam Wulan pelan pada dirinya sendiri, menyesali keterlambatan yang mungkin akan membuatnya kehilangan kesempatan untuk selamanya. Dia memandangi jalanan tempat Gilang baru saja pergi, hatinya dipenuhi kegelisahan akan masa depan hubungan mereka yang selama bertahun-tahun hanya berjalan sebatas persahabatan, sementara perasaan yang lebih dalam terus dia simpan sendirian tanpa pernah berani diungkapkan secara terbuka kepada orang yang sebenarnya paling dia harapkan untuk mendengarnya.

Sore harinya, Wulan menghubungi salah satu teman dekatnya, seorang gadis bernama Sari yang bekerja di salon dekat rumahnya, untuk mencari sedikit dukungan emosional atas kegelisahan yang dia rasakan. "Sar, gimana ya, aku ngerasa mulai kehilangan kesempatan sama Gilang. Dia kayaknya mulai deket sama orang lain."

"Emang kamu udah pernah bilang perasaan kamu ke dia, Wul?" tanya Sari melalui telepon, memberikan pertanyaan yang sebenarnya sudah lama ingin dihindari Wulan.

"Belum, Sar. Aku takut ngerusak pertemanan kita kalau ternyata dia nggak punya perasaan yang sama," jawab Wulan jujur, mengungkapkan ketakutan yang selama bertahun-tahun menahannya untuk maju.

"Nah, itu masalahnya, Wul. Kalau kamu terus nunggu tanpa pernah ngomong, ya wajar aja kalau akhirnya kamu kehilangan kesempatan. Mumpung belum terlambat, coba deh dipikirin lagi buat jujur sama perasaan kamu sendiri," saran Sari dengan nada yang penuh perhatian.

Percakapan tersebut membuat Wulan semakin galau, mempertimbangkan apakah sudah waktunya bagi dia untuk mengambil risiko mengungkapkan perasaan yang selama ini dia simpan rapat-rapat, ataukah lebih baik dia merelakan Gilang mengejar kebahagiaannya sendiri bersama sosok lain, meski hal tersebut berarti mengubur dalam-dalam harapan yang sudah dia rawat sejak masa remaja dulu.

1
Dewi Kasinji
ijin baca kaj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!