Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup
Di Markas The Raven, aktivitas berjalan seperti biasa. Hanya saja dengan jumlah anggota yang lebih banyak dari biasanya.
Sekelompok anggota tengah berpatroli melewati sebuah lorong yang sepi. Albert, yang menjadi salah satu dari mereka tiba-tiba memperlambat langkahnya.
"Kenapa berhenti?" salah seorang rekannya bertanya.
Albert menoleh sekilas. "Sepertinya ada sesuatu yang aneh dengan ventilasi ini." Ia menunjuk ke bagian atas dinding.
Beberapa pasang mata ikut mendongak.
Albert memanfaatkan detik itu untuk mendekati panel di samping lorong. Tangannya bergerak cepat, seolah sedang memeriksa sesuatu yang memang menjadi bagian dari tugasnya.
Padahal, di balik panel tersebut, sudah terpasang sebuah benda kecil yang sejak pagi ia siapkan. Tidak hanya di sana, tapi juga di berbagai tempat.
Jarinya menyentuh bagian yang tersembunyi dan—
Klik!
Terdengar suara kecil tapi, tidak seorang pun menyadarinya.
Albert segera menarik tangannya dan kembali berdiri seperti tidak terjadi apa-apa.
"Tidak ada masalah," ucapnya santai. "Mungkin hanya suara dari saluran udara."
"Kalau begitu, ayo."
Albert mengangguk dan kembali berjalan bersama yang lainnya.
Tidak lama kemudian, sesuatu mulai bekerja di balik dinding.
Tidak terlihat dan tidak menimbulkan suara mencurigakan. Hanya perlahan mengikuti aliran udara yang berputar di dalam bangunan.
Albert tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia tetap berjalan bersama rekan-rekannya, sesekali berbincang ringan, bahkan sempat tertawa saat salah seorang penjaga melontarkan candaan.
Padahal, dari sudut matanya, ia terus memperhatikan keadaan di sekeliling.
Satu per satu penjaga yang sejak tadi berpatroli mulai memperlambat langkah. Beberapa menguap, sebagian lainnya terlihat mengusap wajah dengan mata yang semakin berat.
"Entah kenapa hari ini aku mengantuk sekali," gumamnya.
"Mungkin karena kurang tidur."
Albert hanya tersenyum kecil. "Bisa jadi."
Ia kemudian ikut menguap, pura-pura kelelahan seperti yang lainnya.
Beberapa menit kemudian, langkah para penjaga mulai melambat. Suara percakapan yang sejak tadi memenuhi lorong perlahan menghilang.
Satu penjaga berhenti berjalan. "Sebentar…"
Pria itu memegang dahinya. Tubuhnya bergoyang sebelum akhirnya bersandar pada dinding.
"Hey!"
Salah seorang rekannya segera menghampiri. Tapi, baru beberapa langkah, pria itu sendiri kehilangan keseimbangan.
Brukh!
Tubuhnya jatuh ke lantai.
Suasana seketika menjadi kacau.
"Ada apa dengan kalian?"
"Aku juga merasa pusing."
"Apa yang terjadi?"
Suara-suara mulai terdengar bersahutan.
Alber terdiam. Ia sengaja memperlambat langkah, lalu memegang sisi kepalanya.
"Ah..."
Seorang penjaga menoleh padanya. "Albert, kamu tidak apa-apa?"
Albert tidak menjawab. Ia memejamkan mata dan membuat tubuhnya oleng.
"Sepertinya... aku juga... "
Tubuhnya kemudian jatuh ke lantai. Tapi, sebelum kepalanya benar-benar menyentuh permukaan, ia sudah mengatur posisi tubuhnya agar terlihat seperti kehilangan kesadaran.
Ia menahan napas sejenak, diam tidak bergerak.
Dari balik kelopak matanya yang tertutup, Albert masih bisa melihat bayangan kaki orang-orang yang berjalan melewatinya.
Beberapa detik kemudian, tidak ada suara langkah dan percakapan apapun.
Tapi, Albert tetap diam. Ia tidak langsung bangun. Setelah beberapa saat, barulah Albert membuka sebelah matanya.
Lorong itu benar-benar sunyi.
Ia mengangkat kepala perlahan, memastikan semua penjaga sudah tumbang di tempat masing-masing.
Albert bangkit dengan hati-hati. Kemudian, ia mengambil masker dan memakainya. Napasnya mulai terengah-engah.
"Hah... Untung saja," gumamnya.
Ia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi rekannya.
"Sekarang, giliran mu."
Di seberang telepon, seorang pria menurunkan ponselnya. Ia tersenyum tipis, menatap semua anggota The Raven yang tergeletak tidak sadarkan diri.
Lalu, ia mengambil alih komputer dan menyabotase sistem kamera pengawas.
Sementara itu, Albert kini sudah berada di depan brankas, tempat penyimpanan dokumen penting The Raven.
Ia menarik napas lalu, berjongkok. Tangannya terangkat, menyentuh permukaan brankas yang dingin, memperhatikan panel angka dan roda kombinasi di bagian tengah brankas.
Ia mengeluarkan secarik kertas kecil dari saku, bertuliskan beberapa angka yang berhasil ia dapatkan saat mengintip Victor dan Daniel beberapa hari yang lalu.
"Semoga berhasil."
Jarinya mulai memutar roda kombinasi sampai berbunyi klik, lalu berhenti. Setelahnya, ia kembali memutarnya ke arah berlawanan.
Albert memusatkan seluruh perhatiannya pada suara kecil dari mekanisme di dalam brankas.
Satu putaran, dua putaran kemudian, kembali ke angka tertentu.
Albert menahan napas. Tangannya berhenti sesaat, mengusap keringat dingin di pelipisnya. Lalu—
Klik!
Suara kecil terdengar, membuat matanya berbinar.
Ia segera memutar pegangan brankas dan membukanya.
Kedua matanya berkaca-kaca menatap dokumen di dalamnya.
"Berhasil!"
Ia mengusap air matanya dan buru-buru mengambil dokumen tersebut. Tapi, ia tidak membawanya. Ia hanya membuka bagian halaman penting dan memotret nya menggunakan ponsel.
Terus begitu, sampai semuanya selesai. Setelahnya, ia meletakkan dokumen itu kembali ke tempat semula, sebelum menutup pintu brankas.
"Semua beres. Sekarang, aku harus pergi dari sini."
"Sepertinya kamu cukup sibuk malam ini."
Albert membeku, mendengar suara di belakangnya. Ia menoleh perlahan. Tatapannya tajam, penuh waspada.
***
Sean baru saja tiba setelah memastikan Leon sampai di acara pesta dengan selamat. Tapi, begitu masuk, ia mendapati semua anggota tergeletak tidak sadarkan diri.
"Ada apa ini?" ia berjongkok, memeriksa napas salah satu anggotanya. "Dia masih hidup," gumamnya. Lalu, ia kembali memeriksa yang lain.
"Mereka semua pingsan? Tapi, bagaimana... " Sean terdiam beberapa saat. Lalu, matanya melebar. "Jangan-jangan... "
Ia segera berlari menelusuri lorong dan menemukan semua orang tergeletak tidak sadarkan diri.
"Sial!" Sean hendak menghubungi Leon, tapi gerakannya terhenti saat mendengar suara di dalam ruangan.
Ia mengerutkan keningnya dan berjalan perlahan. Saat ia mengintip ruang penyimpanan dokumen, kedua matanya melebar.
"Ternyata ada penyusup."
Sean menatap kesana kemari. Di lorong terasa sunyi. Lalu, tatapannya kembali pada pria di dalam ruangan.
"Apa dia bergerak sendiri?" batinnya. "Lalu, apa yang dia lakukan?"
Sean tersadar. "Jangan-jangan, dokumen rahasia."
Sean akhirnya muncul dan bersandar pada kusen pintu dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya tajam, tertuju pada Albert.
"Sepertinya, kamu cukup sibuk malam ini."
Albert terdiam sesaat.
"Aku tidak menyangka ada orang bodoh yang berani masuk ke sini," ucap Sean.
Albert tersenyum miring. "Sepertinya, kamu salah paham, Tuan," ucap Albert. "Bukan aku yang bodoh, tapi... Kalian."
Sean mengepalkan tangannya erat. "Kamu tidak akan bisa lolos."
Sean menarik pistol nya dan mengarahkannya pada Albert.
Satu tembakan ia lepaskan, tapi Albert dengan cepat menghindar. Ia berguling, bersembunyi di balik lemari.
Sean terus melepas tembakan ke arah tempat Albert bersembunyi.
DOR! DOR! DOR!
"Sial!" Albert mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada rekannya.
"Aku butuh bantuan."
Setelah pesan terkirim, ia menyimpan kembali ponselnya dan beralih pada Sean.
"Sayang sekali aku tidak boleh membunuhmu," gumamnya.
Ia lalu berguling, berpindah dengan cepat.
Sean kembali melepas tembakan. Tapi, tidak ada satupun peluru yang berhasil melukai Albert.
"Sial!" umpat Sean.
Albert tersenyum miring. "Kenapa, Nak? Kesal karena tidak bisa membunuhku?"
Sean menggeram. Dia berjalan mendekat sambil mengarahkan pistol nya. Tapi, tiba-tiba Albert muncul dan memukul tangan Sean sehingga pistol di tangannya terjatuh.
Albert menendang pistol tersebut menjauh, lalu memberi salam perkenalan di wajah Sean.
BUGH!
"Akh!" Sean mundur beberapa langkah. Tangannya terangkat, mengusap darah di sudut bibirnya.
Sean mengepalkan tangannya lalu, melesat maju, menyerang Albert. Tapi, Albert berhasil menghindar sebelum pukulan Sean menghantam wajahnya.
Albert mundur satu langkah, lalu membalas dengan pukulan cepat.
Sean menangkisnya.
Keduanya terlibat perkelahian sengit di ruangan sempit itu.
Albert menyerang lebih dulu, tetapi Sean ternyata bukan lawan yang mudah dikalahkan. Ia berhasil memukul bahu Albert.
"Akh!" Albert terhuyung. Ia lalu memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan.
Sean menahan serangan itu dengan kedua lengannya, tetapi tetap terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Siapa kamu sebenarnya?" bentak Sean.
Albert hanya menatapnya tajam sambil menyeringai. "Coba tebak!"
Sean menggeram. Dia kembali maju sehingga keduanya saling beradu serangan, membuat beberapa benda di sekitar mereka jatuh berantakan.
Hingga akhirnya, Sean berhasil menangkap kerah seragam Albert dan membantingnya ke dinding.
Brakh!
Punggung Albert menghantam permukaan dengan keras.
"Sekarang, kamu tidak punya tempat untuk lari."
Albert menyeringai tipis meskipun napasnya mulai memburu.
"Benarkah?"
Tatapan Sean berubah waspada.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat dan berhenti tepat di belakang mereka.
Sean menoleh perlahan. Tubuhnya membeku, menatap seseorang yang menodongkan pistol ke arahnya.. "Kamu... "
"Lepaskan dia kalau kamu masih ingin hidup!"
Sean melepaskan Albert, lalu mengangkat kedua tangannya.
Albert merapikan bajunya, lalu mendekati rekannya.
"Kita pergi saja," ucapnya.
"Lalu, dia... "
"Nona tidak ingin ada darah di sini." Albert lalu menoleh, menatap Sean. "Karena kami baik, kami tidak akan membunuhmu. Tapi, sedikit saran, lebih baik kamu bereskan kekacauan ini sebelum Victor mengetahuinya."
Setelah mengatakan itu, keduanya pergi begitu saja meninggalkan Sean yang menggeram marah. Ia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Leon.
"Tu-tuan, ada penyusup."
💖💖💖
nyogok biar dobel up🤭
huh benalu menyusahkan👊