Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.
Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.
Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.
Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.
Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.
Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.
📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Steak dan Spreadsheet
Madoc mengetik pesan itu tiga kali sebelum akhirnya mengirimnya, dan bahkan setelah terkirim, dia masih membaca ulang setiap kata seolah ada yang salah di sana.
Strategi Aditama masih perlu didalami lebih lanjut. Makan malam sambil bahas? Jam 7, saya reservasi tempat.
Dia menatap layar ponselnya, menunggu balasan, dan menyadari tangannya sedikit berkeringat—sesuatu yang aneh, mengingat dia sudah mengirim ratusan pesan serupa ke berbagai kolega dan klien sepanjang kariernya tanpa pernah merasa seperti ini.
GWEN: boleh, Pak. Jam 7 di mana?
Jawaban itu datang cepat, singkat, profesional—persis seperti yang dia harapkan, tapi entah kenapa terasa kurang dari yang dia inginkan.
Restoran Artemis, di kawasan Senopati, balasnya, lalu menambahkan alamat lengkap.
Dia menutup ponselnya, menyandarkan punggung ke kursi, dan menghela napas panjang. Artemis bukan tempat yang biasa dia pilih untuk rapat kerja biasa—terlalu formal, terlalu mahal, jenis restoran yang biasa dia pakai untuk menjamu klien penting atau investor asing, bukan untuk sekadar diskusi strategi dengan bawahannya sendiri.
Tapi begitu dia memikirkan tempat lain—kafe kasual, ruang rapat kantor yang sudah terlalu sering mereka pakai—tidak ada yang terasa cukup pantas untuk momen yang, entah bagaimana, sudah dia bayangkan lebih dari sekadar rapat kerja biasa di kepalanya sendiri.
---
Gwen sampai di Artemis jam tujuh tepat, mengenakan blazer yang sama seperti yang biasa dia pakai ke kantor, membawa tas kerja yang berisi laptop dan beberapa dokumen cetakan tentang analisis Aditama yang sudah dia siapkan sejak sore.
Restoran itu jauh lebih mewah dari yang dia bayangkan—lampu temaram, meja-meja berjarak yang memberi privasi, pelayan berseragam rapi yang bergerak dengan gestur formal khas restoran bintang lima. Dia sempat ragu sejenak di pintu masuk, memeriksa ulang alamat di ponselnya untuk memastikan dia tidak salah tempat.
"Reservasi atas nama Kane," katanya ke petugas resepsionis, mengikuti instruksi yang dikirim Madoc.
Dia diantar ke meja di sudut ruangan, dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan kota malam. Madoc sudah duduk di sana, mengenakan setelan yang sedikit lebih santai dari biasanya—tanpa dasi, dua kancing atas terbuka—dan berdiri sedikit ketika melihatnya datang.
"Pak," kata Gwen, duduk di kursi seberangnya, langsung membuka tas dan mengeluarkan laptopnya. "Saya udah siapin analisis tambahan soal strategi referral yang kemarin kita bahas."
---
Madoc menatap laptop yang baru saja diletakkan di atas meja fine-dining itu, di antara peralatan makan berkilau dan lilin kecil yang menyala di tengah meja, dan merasakan sesuatu yang aneh menjalar di dadanya—campuran antara geli dan kekecewaan yang tidak sepenuhnya bisa dia jelaskan.
"Kita pesen dulu," katanya, mencoba mengulur waktu. "Baru bahas."
"Oh, iya, Pak. Maaf." Gwen menutup laptopnya sedikit, tapi tetap membiarkannya terbuka di sampingnya, siap digunakan kapan saja.
Pelayan datang membawa menu, dan Gwen membacanya dengan cepat, matanya mencari harga di sisi kanan setiap item—kebiasaan yang tidak pernah hilang meski sekarang dia bekerja di perusahaan besar dengan gaji yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Bapak yang pesen aja," katanya akhirnya, menutup menu. "Saya kurang familiar sama menu kayak gini."
"Suka steak?"
"Suka."
Madoc memesan untuk keduanya—steak medium untuk Gwen, sesuatu yang lebih ringan untuk dirinya sendiri, ditambah satu botol wine yang dia pilih hampir tanpa berpikir, kebiasaan lama dari acara-acara formal yang sering dia hadiri.
"Wine-nya enak, Pak?" tanya Gwen, waktu pelayan menuangkan sedikit ke gelasnya untuk dicicipi.
"Lumayan," kata Madoc, mencicipi sendiri. "Kamu suka wine?"
"Jarang minum, sih. Kalau kerja biasanya cuma air putih atau teh."
Madoc tersenyum kecil, mencatat detail itu tanpa sadar, menambahkannya ke daftar informasi yang sudah dia kumpulkan diam-diam sejak berbulan-bulan lalu.
---
Sambil menunggu makanan datang, Gwen membuka laptopnya lagi, memutar layarnya ke arah Madoc.
"Jadi," katanya, langsung ke inti, "saya udah hitung ulang proyeksi burn rate Aditama berdasarkan data minggu ini. Kayaknya prediksi awal saya masih akurat—mereka bakal mulai kesulitan modal sekitar bulan ketiga, bukan keempat."
Madoc menatap layar itu, mencoba fokus pada angka-angka yang ditunjukkan, tapi pikirannya terus terganggu oleh suasana di sekitar mereka—lilin yang menyala redup, musik pelan dari sound system restoran, pasangan-pasangan lain yang duduk berdua di meja sekitar mereka, jelas menikmati momen romantis yang jauh berbeda dari percakapan yang sedang berlangsung di meja mereka sendiri.
"Kenapa lebih cepet?" tanyanya, mencoba fokus.
"Karena mereka baru aja buka gerai keempat minggu ini," kata Gwen, menunjuk grafik di layarnya, "yang berarti burn rate mereka naik lebih cepet dari proyeksi awal. Kalau pola ini terus, cash reserve mereka bakal habis lebih cepet."
Pelayan datang membawa hidangan pembuka, meletakkannya dengan gestur elegan di depan mereka berdua. Gwen melirik sebentar, mengangguk terima kasih, lalu langsung kembali ke laptopnya tanpa jeda berarti.
"Ini datanya," lanjutnya, menunjuk tabel lain, "kalau kita bandingin sama pola historis mereka di ekspansi sebelumnya—"
---
Makan malam itu berlangsung seperti itu sepanjang tiga course—hidangan pembuka, steak utama, sampai dessert—dengan Gwen terus menjelaskan analisis demi analisis, sesekali berhenti untuk mengunyah, lalu melanjutkan kalimatnya seolah tidak ada jeda sama sekali.
Madoc mendengarkan, menjawab pertanyaan-pertanyaan strategisnya dengan serius, tapi sebagian dari dirinya terus menunggu momen lain yang tidak pernah datang—jeda untuk sekadar mengobrol santai, pertanyaan personal yang biasa muncul di antara mereka selama retreat Bandung, sesuatu yang bisa mengubah suasana meja ini dari rapat kerja formal jadi sesuatu yang lebih dekat ke apa yang sebenarnya dia harapkan waktu memilih tempat semewah ini.
"Steaknya enak, Pak," kata Gwen, di tengah suapan, menoleh sebentar dari laptopnya. "Makasih udah ajak makan di sini."
Itu satu-satunya kalimat personal yang keluar sepanjang makan malam, dan Madoc menangkapnya dengan antusiasme yang agak berlebihan untuk sebuah komentar sederhana soal daging panggang.
"Sama-sama," katanya, cepat. "Kalau kamu suka, kita bisa ke sini lagi."
"Buat bahas strategi selanjutnya, ya?"
"Iya," katanya, meski sebenarnya tidak sepenuhnya itu yang dia maksud. "Buat itu."
Gwen mengangguk, tersenyum, lalu kembali menoleh ke layar laptopnya untuk melanjutkan poin berikutnya soal proyeksi minggu depan, sepenuhnya tidak menyadari nada suara Madoc yang barusan berubah sedikit, atau jeda kecil sebelum jawabannya yang menyimpan sesuatu yang jauh lebih personal dari sekadar rencana rapat lanjutan.
---
Ketika makan malam itu selesai, dan Madoc membayar tagihan tanpa membiarkan Gwen melihat nominalnya, mereka berjalan bersama keluar restoran, laptop Gwen sudah kembali masuk ke tasnya, penuh dengan catatan tambahan hasil diskusi malam itu.
"Makasih, Pak, buat makan malamnya," kata Gwen, di depan pintu keluar. "Analisisnya jadi lebih matang setelah didiskusiin langsung kayak gini."
"Sama-sama," kata Madoc, berdiri canggung sejenak, mencari kalimat lain yang bisa memperpanjang momen itu sedikit lebih lama.
"Saya pesen taksi aja, Pak," kata Gwen, sudah membuka aplikasi di ponselnya. "Makasih lagi."
"Hati-hati di jalan."
Dia menyaksikan Gwen berjalan menjauh, masuk ke taksi yang sudah menunggu, dan mobil itu melaju pergi ke jalanan Jakarta yang mulai sepi, meninggalkan Madoc berdiri sendirian di depan restoran mewah yang malam itu menjadi saksi dari sesuatu yang sebenarnya jauh lebih sederhana dari yang dia bayangkan sebelumnya—bukan makan malam romantis yang sempat dia harapkan diam-diam, melainkan sesi kerja lanjutan yang kebetulan berlangsung di meja dengan lilin dan wine, tanpa satu pun dari kedua hal itu berhasil mengubah topik pembicaraan yang sudah sejak awal terpatri kuat di kepala Gwen: data, angka, dan strategi menghadapi kompetitor.
Dia masuk ke mobilnya sendiri, menyalakan mesin, dan tertawa pelan sendirian di kursi kemudi—tawa yang campur aduk antara geli dan kekecewaan, menyadari betapa dia baru saja menghabiskan dua jam di restoran termahal yang bisa dia pikirkan, dan satu-satunya hal romantis yang terjadi malam itu adalah kesepakatan untuk kembali lagi demi membahas proyeksi kuartal berikutnya.