Indonesia
NovelToon NovelToon
Semuanya Palsu

Semuanya Palsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: likaa0_0

Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 7

Dalam perjalanan pulang, Rey menyetir mobil sambil mengantar Angga ke rumahnya. Suasana di dalam mobil awalnya tenang, sampai tiba-tiba Angga membuka pembicaraan.

"Rey..."

"Hmm? Apa?"

"Kenapa, ya, cewekku selalu bersikap dingin kepadaku? Padahal aku sudah bilang kalau aku sibuk. Kamu tahu sendiri, kan, pekerjaan kita seperti apa?"

"Bahkan waktu aku meneleponnya, teleponnya berdering, tapi malah memanggil sedangkan dirinya dalam keadaan online. Keren sekali fitur zaman sekarang."

Ujar Angga dengan nada suara Angga terdengar campur aduk antara kecewa dan sedih.

"Cewekmu nganggur?"

"Iya."

"Pantas saja."

"Pantas apanya?"

"Kamu sering mengemis perhatian kepadanya?"

"Iya... Terus dia juga sering memarahiku. Dia menyuruhku untuk selalu mengabarinya. Padahal aku sendiri juga butuh ruang."

rey menghela napas

"Angga, kamu tahu? Dalam hubungan, ada orang yang hanya tertarik karena rasa penasaran. Begitu rasa penasarannya hilang, dia bisa pergi begitu saja. Tapi ada juga orang yang benar-benar mencintai pasangannya. Orang yang benar-benar mencintaimu akan menghargai hal-hal kecil. Mereka akan berpikir sebelum bertindak karena mempertimbangkan perasaanmu. Mereka tidak akan membuatmu merasa harus terus-menerus membuktikan bahwa kamu mencintai mereka."

"Tapi, Rey... Cewekku sering bilang semua itu cuma bentuk pembuktian kalau aku benar-benar mencintainya."

rey melirik sekilas ke arah angga

"Lalu apa yang kamu dapatkan dari semua itu?"

Angga tidak menjawab pertanyaan. Rey mengetahui bahwa Angga tidak menjawab dia sudah tau jawaban namun angga enggan menjawabnya

"Sepertinya kamu cuma mendapatkan hikmahnya. aduh... Susah ini sepertinya dirimu sudah terkena domestic Stockholm syndrome"

(Kondisi psikologis ketika korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau hubungan beracun mengembangkan rasa simpati, loyalitas, atau ikatan emosional terhadap pasangan yang menyiksanya.)

Angga menghela napas lalu menatap ke arah jendela di sampingnya melihat pemandangan dengan ekspresi wajahnya yang begitu murung, cahaya sore hari yang menyinari membuat suasana yang tenang membuat Angga menyadari bahwa hubungannya dengan pasangannya adalah hal yang buruk.

"Aku tahu, Rey. Kadang aku juga merasa hubungan ini malah jadi beban buatku."

Mobil yang dikendarai Rey kemudian berbelok ke kanan menuju jalan yang lebih luas dan sedikit kendaraan lain berkendara di situ

"Kalau kamu sudah tahu hubungan ini membuatmu tertekan, apakah kamu masih ingin mencoba memperbaikinya?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena... Aku masih punya rasa padanya."

(jawab Angga sambil melihat pemandangan dari samping jendela)

Rey menginjak gas mobil mempercepat laju mobilnya sehingga Angga yang melihat pemandangan dari samping jendela membuatnya tersentak terkejut Angga langsung reflek menoleh ke arah Rey.

"hey... ngapain kamu tiba-tiba ngebutin mobilnya?"

"aku kesal Ayolah, lagian Jangan terus-terusan menyiksa dirimu sendiri. Kalau seseorang benar-benar mencintaimu, dia seharusnya tidak memperlakukanmu seenak jidatnya, Sadarlah.."

Rey menginjak gas semakin dalam

"Kalau hubungan ini memang terus membuatmu merasa tertekan, setidaknya pikirkan lagi apakah hubungan itu masih layak dipertahankan."

"Hei, tapi aku sudah memberimu uang tip. Anggap saja itu tambahan untuk sesi curhatku."

"Ini bukan tempat curhat. aku akan mengembalikan uang tip mu nanti" (ujar Rey dengan kesal)

"tidak.... tidak ada pengembalian uang untuk costumer."

Mobil yang di kendarai oleh Rey semakin kencang menyalip-nyalip semua kendaraan yang berada di jalan tersebut. Hingga sebuah lampu lalulintas di depan mereka berubah warna menjadi merah rey melihat lampu lalulintas yang berubah, Rey langsung menginjak rem mobilnya secara mendadak mobilnya yang awalnya melaju sangat kencang tiba-tiba berhenti mendadak, membuat Angga yang tidak siap pengereman mendadak membuat punggungnya terbentur kursi mobil.

brak ..

Rey sambil menunggu lampu merah berubah menjadi lampu hijau segera ia merogoh-rogoh sakunya untuk mengambil uang tip yang di berikan oleh Angga untuk di kembalikan lagi.

setelah mendapatkan uang tersebut Rey langsung menaruh uang tersebut di paha angga

"Ini."

Angga menatap uang tersebut dengan bingung.

"Apa ini?"

"Uang tipmu. Cepat ambil. Selesaikan curhatmu sebelum kita sampai rumahmu."

"Rey?"

"Aku nggak butuh uang tip kalau sumber masalahnya adalah pacarmu."

Angga terdiam. Senyumnya perlahan menghilang. Ia menundukkan kepala sambil menggenggam uang tersebut.

"Angga."

"Hmm?"

"Jangan tundukkan kepalamu."

Angga mengangkat wajahnya.

"Aku bersikap tegas bukan karena aku membencimu. Aku cuma nggak mau melihat temanku sendiri terus-terusan menjadi badut dalam hubungan yang membuatnya menderita."

Angga terdiam mendengar perkataan itu. Saat lampu berubah kembali menjadi hijau kini, Rey langsung menginjak gas mobil secara pelan kini mobil itu berjalan secara normal.

"Dan satu lagi."

"Apa?"

"Jangan mencintai seseorang hanya karena wajah atau penampilannya."

Rey berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih serius.

"Cintailah dia karena sifatnya. Karena cara dia memperlakukanmu, cara dia menghargaimu, dan bagaimana kalian bisa saling mendukung."

Rey kemudian melirik Angga sekilas.

"Tapi ingat, itu juga bukan berarti kamu harus merasa berhak mengatur pasanganmu sesuka hati. Hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang berkuasa. Kalian berdua harus bisa saling menghargai."

Angga terdiam cukup lama. Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, wajahnya terlihat sedikit lebih tenang.

"Rey..."

"Hmm?"

"Kadang kamu terdengar seperti orang yang sudah menikah."

"Diamlah."

Angga tertawa kecil.

"hahahahaha aku cuman bercanda."

Untuk beberapa saat, suasana di dalam mobil kembali tenang. Namun kali ini, setidaknya Angga tidak lagi merasa sendirian menghadapi masalahnya.

"makasih... Rey" (ujar Angga sambil tersenyum tipis)

Rey akhirnya tiba di rumah Angga. Ia menghentikan mobil tepat di depan rumah temannya itu.

“Sudah sampai,” ujar Rey.

Angga segera membuka pintu dan turun dari mobil.

“Makasih, Rey. Hati-hati di jalan.”

“Iya. Kamu juga.”

Setelah memastikan Angga masuk ke halaman rumahnya, Rey kembali menjalankan mobil dan meninggalkan tempat itu.

Di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah bawah.

"Pstt.....Pstt....."

Rey mengernyitkan dahi. Ia menepikan pandangan sejenak, lalu menarik sedikit ujung celana di kaki kirinya tampak sebuah ankle monitor kecil terpasang erat di pergelangan kakinya.

“Kenapa kamu belum pulang? Ini sudah jam berapa?”

Suara itu berasal dari perangkat tersebut.

“Iya, aku sedang dalam perjalanan pulang,”

jawab Rey sambil tetap fokus menyetir.

“Tadi aku mengantar temanku, jadi agak terlambat.”

“Siapa temanmu?”

“Angga. Dia teman kerjaku."

Tidak ada lagi suara dari ankle monitor itu. Rey pun segera menurunkan kembali kain celananya, menutupi perangkat yang terpasang di kakinya Ia menarik napas panjang dan kembali memusatkan perhatian pada jalan.

Beberapa saat kemudian, Rey akhirnya tiba di rumahnya. Begitu mobilnya mendekati gerbang, gerbang tersebut terbuka secara otomatis. Rey langsung mengemudikan mobil masuk ke halaman dan menuju garasi.

Setelah memarkirkan mobil, Rey keluar dan membuka bagasi. Ia mengambil tas kerjanya, kemudian berjalan menuju pintu masuk rumah begitu pintu terbuka, suasana hangat langsung menyambutnya.

“Rey... anak Mama!”

Dwi, ibunya, segera menghampirinya dengan senyum lebar.

“Sini, tas sama jas-mu kasih ke Mama. Biar Mama yang rapikan.”

Rey menyerahkan tas dan jasnya kepada Dwi.

“makasih, Ma.”

“Kamu jangan langsung bersih-bersih dulu. Makan dulu, ya. Mama sudah masak rawon. Pasti enak banget dimakan selagi masih hangat setelah kamu capek pulang kerja.”

Mendengar itu, wajah Rey sedikit berbinar.

“Ada telur bebek asin, kan?”

“Tentu ada, anak Mama.” (Dwi terkekeh)

“Mama sudah stok banyak. Mama tahu kamu suka banget sama telur bebek asin.”

“Hehehe... Mama memang paling tau.”

Dwi tersenyum sambil membawa tas dan jas Rey, segera Dwi memanggil assiten rumah tangganya untuk meletakkan Jas dan tas Rey

"Mbak!!!"

Salah satu assiten pun tiba langsung mengambil jas dan tas milik lalu membawanya ke dalam.

"gitu katanya mama yang merapikannya"

Segera Dwi mengiring Rey untuk menuju meja

“Ayo, makan dulu. Nanti baru mandi dan istirahat.”

rey pun berjalan menuju makan bersama Dwi

1
Dian Dian
good job👍
likaa: makasih kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!