Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
Xiao Yu melangkah menuju Paviliun Teratai Emas. Di sana, perjamuan telah disiapkan secara megah. Ratu duduk di takhta kayu cendana yang ditinggikan, didampingi oleh beberapa dayang senior.
Selir Huo Yan duduk paling depan dengan gaun merah menyala bertabur benang perak.
Sementara Selir Kui mengenakan gaun sutra ungu dengan mahkota batu giok yang berkilau di bawah sinar matahari.
Selir Lin duduk agak di belakang dengan sikap tenang. Sementara Xiao Yu mengambil posisi paling sudut, menundukkan kepalanya seolah takut menatap kemegahan istana. Padahal ia sedang memantau segala sudut.
Tak jauh dari pelataran utama Pangeran Zhang Li mengenakan jubah resmi kerajaan berwarna hitam bersulam naga emas. Beliau duduk di Paviliun Angin mendampingi Ratu bersama Pengawal Feng Chuan yang berdiri siaga di belakangnya.
"Aku mendengar dari pengawal kediamanmu, Zhang Li," ujar Ratu seraya menyesap tehnya yang harum, "Bahwa selir-selir barumu sangat patuh. Apakah Kediaman Barat cukup tenteram?"
"Hamba hanya fokus pada urusan militer dan pemerintahan, Ibu Ratu," jawab Zhang Li datar. "Urusan wanita di pelataran bukanlah hal yang menyita perhatian hamba."
Ratu tersenyum tipis. "Wanita adalah cermin dari kestabilan kediamanmu. Mari kita lihat bagaimana mereka menyeduh teh hari ini."
Ratu memerintahkan para selir untuk menyajikan teh istana khusus. Teh Salju Melati yang membutuhkan ketelitian suhu air dan kehalusan gerakan tangan dalam menyeduhnya. Ini adalah ujian etika yang dirancang Ratu untuk menilai latar belakang keluarga para selir.
Selir Huo Yan maju pertama kali. Dengan gerakan jemari yang sengaja dibikin anggun dan penuh pamer, ia menuangkan air panas ke cangkir porselen putih seraya membanggakan pengetahuan keluarganya tentang teh langka dari wilayah selatan.
Selir Kui tidak mau kalah, ia menyajikan teh dengan gerakan tubuh meliuk-liuk demi menarik pandangan pangeran Zhang Li di Paviliun Angin.
Namun mata Zhang Li sama sekali tidak tertuju pada gemerlap perhiasan mereka. Pikirannya justru melayang pada sosok penyamar misterius yang menancapkan anak panah semalam. Dalam hatinya, Zhang Li berpikir tentang penyusup semalam adalah mata-mata yang diselipkan salah satu faksi selir ini.
Tiba-tiba, suara Ratu memecah lamunannya. "Selir Xiao, giliranmu."
Xiao Yu bangkit berdiri dari sudutnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi gugup yang sangat natural. Dengan langkah pelan dan sedikit ragu-ragu, ia mendekati meja penyeduhan teh di depan takhta Ratu.
Ketika Xiao Yu meraih teko tembaga yang berisi air panas, jemarinya yang halus terlihat gemetar pelan. Ia mengangkat teko tersebut, namun karena berpura-pura canggung dan tak terbiasa dengan peralatan istana yang berat, teko tersebut sedikit oleng di tangannya.
Cling!
Tutup teko tembaga itu bergetar dan hampir jatuh, menciptakan suara denting nyaring di tengah keheningan jamuan. Selir Huo Yan dan Selir Kui seketika menutup mulut mereka, menahan tawa ejekan.
"Ampuni hamba, Yang Mulia Ratu," cicit Xiao Yu cepat-cepat. Ia meletakkan teko itu kembali ke meja. Menundukkan kepalanya dalam-dalam seraya menarik jemarinya ke dalam lipatan lengan gaunnya. Tubuhnya sedikit mematung seolah ketakutan akan dimurkai. "Hamba ... hamba tidak terbiasa menggunakan peralatan teh seindah ini di kediaman lama hamba."
Ketika teko tembaga itu hampir jatuh dan berdentang keras, Ratu menegakkan punggungnya. Tatapan matanya yang kaku dan tajam mengunci Xiao Yu, lalu beralih sebentar menatap Zhang Li di Paviliun Angin dengan tatapan heran.
Wanita lugu dan canggung seperti ini yang dipaksakan Zhang Li pada Kaisar? batin Ratu tidak habis pikir. Namun beliau berusaha untuk bijaksana.
Ratu yang berwibawa dan adil mengamati sesuatu yang lain. Di balik jemarinya yang gemetar dan sikap canggungnya memegang porselen halus, tatapan mata Xiao Yu tidak memancarkan kepanikan liar khas orang polos.
Postur tubuhnya saat menunduk pun tetap tegak lurus serapi prajurit yang terlatih. Ratu mencatat hal itu dalam hatinya. Bahwa keburukan dan kelemahan seseorang tidak bisa dinilai mentah-mentah hanya dari seberapa pandai ia menyajikan teh. Beliau ingin tahu lebih banyak lagi tentang putri dari kelahiran Xiao Yu.
"Keluarga Xiao memang keluarga prajurit dari di daerah perbatasan. Keterampilan etika seperti ini mungkin butuh waktu untuk dipelajari. Duduklah kembali, Selir Xiao," kata Ratu mengerti.
"Terima kasih atas kemurahan hati Ibu Ratu," bisik Xiao Yu seraya membungkuk hormat dan berjalan kembali ke sudut tempat duduknya dengan wajah disembunyikan. Ini adalah akting yang sempurna.
*
*
*
Dari Paviliun, Zhang Li memperhatikan seluruh adegan itu tanpa berkedip. Matanya yang tajam mengunci jemari Xiao Yu yang tadi gemetar saat memegang teko tembaga.
Feng Chuan yang berdiri di belakang Zhang Li berbisik pelan, "Yang Mulia... sepertinya Selir Xiao benar-benar gadis desa yang tidak tahu etika istana. Memegang teko tembaga ringan saja tangannya sudah gemetar."
Zhang Li mengungkit senyum tipis penuh kepastian. Ia mengalihkan pandangannya dari Xiao Yu dan kembali menyesap tehnya.
Jemari semanja dan selemah itu? Memegang teko kecil saja hampir jatuh karena ketakutan di hadapan Ratu, batin Zhang Li seraya memutar-mutar cangkirnya. Dia sosok yang tepat untuk mencemooh kaisar.
Ia mendengus pelan dalam hati. Alasan awal Zhang memaksa Kaisar menyetujui Xiao Yu hanyalah sebagai catur politik. Memilih selir dari keluarga perbatasan yang paling aman. Tidak berfaksi dan dianggap mudah dikendalikan agar tidak merepotkan hidupnya.
Dan melihat akting Xiao Yu yang sangat tidak berguna hari ini, Zhang Li makin yakin bahwa pilihannya berhasil. Wanita ini hanyalah bidak polos yang tidak akan memberinya drama.
Dalam pikiran Zhang Li, penyusup di arena latihannya pastilah seorang pembunuh gelap kelas atas atau mata-mata terlatih dari pangeran saingan di ibu kota. Seorang pria atau prajurit terlatih yang sedang mengintai kelemahannya.
Zhang Li menyandarkan punggungnya, menatap ke arah taman bambu yang membentang di balik dinding kediamannya. Rasa penasaran di hatinya makin membara.
*
*
*
Malam hari.
Jendela kayu Paviliun Anggrek berderit halus ditimpa angin malam. Di dalam kamar yang hanya diterangi sebatang lilin redup, Bao’er berjalan bolak-balik tanpa henti. Tangan pelayan muda itu gemetar hebat, meremas ujung gaunnya sampai kainnya kusut.
Di sudut ruangan, Xiao Yu sedang mengikatkan kain penutup wajah berwarna hitam. Gerakannya tenang dan sangat cekatan. Sangat kontras dengan kepanikan yang memenuhi seluruh ruangan.
"Yu'er... aku mohon, batalkan niatmu malam ini," bisik Bao'er dengan suara tertahan dan bergetar. Ia melangkah cepat, menahan lengan Xiao Yu. "Siang tadi di depan Ratu dan Pangeran Zhang Li, kita baru saja lolos dari jurang kematian! Aktingmu sebagai selir canggung berhasil. Kenapa kau harus nekat keluar lagi malam ini?!"
selama ini tk ada yg mencurigakan🤔
apa mrk gk lapor klu majikan'a tdk disamping'a? 🙄