Indonesia
NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Bayangan Ketujuh

Malam yang panjang setelah runtuhnya citra Keluarga Sterling akhirnya berganti menjadi pagi yang mendung. Di sebuah rumah persembunyian rahasia bertingkat tinggi yang dikelola oleh Phantom Vanguard, Profesor Hemlock duduk gemetar sambil memegang secangkir teh panas. Pria paruh baya berambut putih itu masih mengenakan pakaiannya yang kotor akibat penyekapan di ruang bawah tanah.

Di seberang meja, Arthur Summers duduk dengan postur santai namun mengintimidasi. Di sisinya, Maya Lin berdiri dengan tablet di tangannya, siap mencatat setiap informasi.

"Keluarga Sterling mungkin tamak, Profesor," ucap Arthur tenang, memecah keheningan. "Tetapi mereka adalah pebisnis. Menculik seorang akademisi terkemuka untuk membedah sebuah gulungan kuno adalah tindakan yang terlalu berisiko bagi mereka. Pasti ada pihak lain yang menekan Lord Vance dari belakang."

Profesor Hemlock menelan ludah, matanya memancarkan ketakutan yang mendalam. Ia menatap Arthur, menyadari bahwa pria yang menyelamatkannya ini bukanlah 'dosen sejarah' biasa.

"Anda benar, Tuan Summers," suara Profesor Hemlock bergetar. "Lord Vance Sterling memang menginginkan gulungan itu untuk perusahaannya, tapi dia didorong oleh ketakutan. Gulungan yang Anda miliki... itu bukan sekadar resep obat saraf biasa. Itu adalah Formula Somatik, sebuah cetak biru alkimia kuno untuk merekayasa batas fisik manusia dan menghilangkan rasa sakit secara kuat."

Maya mengernyitkan dahi. "Maksud Anda... semacam formula untuk menciptakan prajurit super?"

Hemlock mengangguk lemah. "Ya. Dan itulah sebabnya gulungan itu diincar oleh iblis. Beberapa hari sebelum saya diculik, Lord Vance mendatangi saya dalam keadaan panik. Dia bilang dia mendapat ancaman dari sebuah kelompok bayangan dari perbatasan Utara. Kelompok itu memberinya batas waktu untuk menyerahkan formula tersebut, atau seluruh garis keturunan Sterling akan dihabisi."

Mata Arthur sedikit menyipit. "Siapa nama kelompok itu?"

"Mereka tidak memiliki nama resmi, tapi di dunia bawah tanah internasional, mereka dikenal sebagai The 7 Assassins," bisik Hemlock seolah menyebutkan nama kutukan. "Mereka adalah tujuh pembunuh elit dari Kekaisaran Utara. Kabarnya, mereka dikirim langsung untuk melanjutkan misi dari seorang Jenderal yang baru saja tewas di kota ini."

Udara di ruangan itu mendadak mendingin. Arthur bersandar di kursinya. Kematian Jenderal Volkov di pelabuhan ternyata telah memicu reaksi berantai yang lebih cepat dari perkiraannya. The 7 Assassins bukanlah preman bayaran; mereka adalah hantu-hantu pembunuh bermotif politik yang tidak pernah gagal dalam misinya.

"Maya," panggil Arthur pelan. "Bawa Profesor Hemlock ke fasilitas pengamanan tingkat satu kita. Jangan biarkan dia keluar sampai keadaan kondusif."

"Siap, Bos," jawab Maya segera.

Begitu ruangan itu kosong, Silas Mercer melangkah keluar dari balik bayangan. "Jenderal, jika The 7 Assassins sudah mulai menyusup ke kota ini, mereka pasti akan menggunakan berbagai penyamaran. Pengusaha, politisi, atau bahkan aparat penegak hukum. Mereka jauh lebih licik dari Volkov."

"Biarkan mereka masuk, Silas," jawab Arthur dengan senyum dingin yang sangat taktis. "Jangan halangi perbatasan. Musuh yang terlihat jelas lebih mudah dihancurkan daripada musuh yang bersembunyi. Kita akan bermain catur dengan mereka. Biarkan mereka mengira mereka yang memegang kendali kota ini, sampai kita memutus leher mereka satu per satu."

Ponsel di saku Arthur tiba-tiba bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor Mia Zimmer.

Arthur mengangkatnya. "Mia?"

"Arthur... selamat pagi," suara Mia dari seberang telepon terdengar tidak stabil. Ada nada parau yang berusaha ditutupi, seolah gadis itu habis menangis semalaman. "Maaf mengganggumu pagi-pagi. Bisakah kita bertemu sebentar di taman kampus? Aku harus pergi."

Setengah jam kemudian, Arthur tiba di taman Universitas St. Jude. Daun-daun musim gugur berguguran tertiup angin dingin. Di sebuah bangku kayu, Mia duduk sendirian. Ia mengenakan mantel panjang berwarna hitam. Tidak ada lagi senyum ceria atau rona merah di pipinya. Wajah cantiknya terlihat pucat, dan kedua matanya sembab.

"Mia, apa yang terjadi?" tanya Arthur lembut, duduk di sebelahnya.

Mia menoleh, memaksakan sebuah senyuman tipis yang justru terlihat sangat menyakitkan. "Tidak ada hal yang serius, Arthur. Aku hanya... aku dipanggil kembali ke ibu kota oleh keluarga utamaku. Ada pelatihan bisnis mendadak yang harus kuikuti. Sepertinya aku akan meninggalkan kota ini untuk waktu yang cukup lama."

Arthur menatap langsung ke dalam mata gadis itu. Sebagai pria yang telah menghadapi ribuan kebohongan di medan perang, Arthur tahu persis bahwa Mia sedang berbohong. Ada beban emosional yang sangat besar di balik tatapan matanya. Gadis itu menyembunyikan sesuatu yang menghancurkan hatinya.

"Kau yakin hanya itu?" tanya Arthur perlahan, memberi ruang bagi Mia untuk jujur.

Mia menggigit bibir bawahnya, menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan Arthur. Ia sangat ingin menceritakan segalanya, meminta perlindungan di balik bahu pria yang kuat ini. Namun, ia merasa masalah keluarganya terlalu memalukan dan pelik. Ia tidak ingin menjadi beban bagi Arthur, pria yang baru saja menemukan sedikit kedamaian di kota ini.

"Ya, Arthur. Hanya urusan bisnis biasa," jawab Mia berdusta, menundukkan kepalanya. "Aku... aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas waktumu selama ini. Jaga dirimu baik-baik."

Mia berdiri dengan tergesa-gesa, lalu berbalik dan berjalan cepat menjauhi taman, takut pertahanannya akan runtuh jika ia menatap Arthur sedetik lebih lama.

Arthur tidak mengejarnya. Ia membiarkan Mia pergi. Ia mengerti bahwa setiap orang memiliki privasinya masing-masing. Terkadang, memaksa seseorang untuk membuka luka yang masih berdarah justru akan memperburuk keadaan.

Namun, bukan berarti sang raja akan tinggal diam.

Begitu mobil Mia meninggalkan area kampus, Arthur mengeluarkan ponselnya dan menghubungi letnannya.

"Silas. Kerahkan divisi intelijen kita ke ibu kota sekarang juga," perintah Arthur mutlak. "Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Keluarga Utama Zimmer dalam dua puluh empat jam terakhir. Laporan lengkap ada di mejaku dalam sepuluh menit."

Sepuluh menit kemudian, Arthur yang tengah duduk di ruang kerjanya menerima dokumen terenkripsi dari Silas. Saat ia membaca baris demi baris laporan itu, raut wajah Arthur seketika menjadi sangat gelap seperti seekor binatang buas yang marah, siap untuk menerkam.

Laporan itu berbunyi:

Tadi malam pukul 02:00, Patriark Keluarga Utama Zimmer (Kakek Mia) meninggal dunia secara mendadak dengan indikasi serangan jantung yang mencurigakan. Segera setelah kematiannya, paman dan bibi Mia melakukan kudeta internal. Ayah dan ibu Mia dituduh melakukan penggelapan dana dan secara resmi diusir dari kediaman keluarga utama pagi ini tanpa membawa harta sepeser pun.

Arthur menutup matanya erat-erat. Dokumen di tangannya sedikit meremas.

Kematian kakek yang mendadak. Perebutan kekuasaan yang kejam. Pengusiran dari keluarga.

Kejadian yang menimpa Mia ini bagaikan cermin yang memantulkan kembali kepingan masa lalunya sendiri yang paling menyakitkan. Enam tahun lalu, setelah ibunya meninggal secara tidak wajar, Arthur juga berselisih dengan para tetua keluarga dan akhirnya diusir dari kediaman Summer Manor, dibiarkan begitu saja berkeliaran di jalanan. Rasa sakit akibat dikhianati oleh darah daging sendiri adalah sebuah racun yang tidak ada penawarnya.

Mia tidak memberitahunya karena gadis itu memiliki harga diri, sama seperti Arthur dulu.

Ia bisa saja mengirim satu batalion pasukannya untuk membumihanguskan klan utama Zimmer hari ini juga.

Namun, Arthur adalah grandmaster dalam permainan kekuasaan. Menghancurkan paman Mia secara terang-terangan mungkin akan menyelesaikan masalah, namun itu akan membongkar identitasnya di depan The 7 Assassins yang sedang mengintai, dan yang lebih penting, hal itu tidak akan mengembalikan kehormatan ayah dan ibu Mia secara sah.

"Silas," panggil Arthur melalui saluran komunikasi.

"Siap, Jenderal."

"Kirimkan Shadow Guard Pasukan Pengawal Bayangan tingkat elit untuk mengikuti Nona Mia ke ibu kota secara diam-diam," perintah Arthur dingin. "Pastikan dia dan kedua orang tuanya aman dari segala upaya pembunuhan. Jangan sampai mereka menyadari kehadiran kalian."

"Dimengerti, Jenderal. Apakah Anda akan menyusul ke ibu kota?"

"Belum saatnya," jawab Arthur, menatap ke arah luar jendela, menatap awan kelabu yang menggantung di atas kota. "Kudeta di Keluarga Zimmer terlalu cepat dan terlalu rapi. Ada dalang yang lebih besar di balik ini. Selidiki apakah The 7 Assassins memiliki campur tangan dalam kematian kakek Mia. Kita akan menjerat mereka semua dalam satu jaring besar."

Mata Arthur memancarkan kilatan tekad yang mematikan. Dulu, ia tidak bisa menyelamatkan nasibnya sendiri saat diusir. Namun kali ini, ia tidak akan membiarkan gadis yang telah melindunginya di toko barang antik itu mengalami kepahitan yang sama.

1
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
nanonano
tembak aja tadi
Budi Wahyono
ini kalau di wuxiakan
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bikin Arthur bantai keluarga volkov
Budi Wahyono
apakah nanti pengkhianatan terbesar justru datang dari silas ?
nanonano
yah kalah transaksi sama pion kecil
REY ASMODEUS: rahasianya di hack dan kelemahannya ada pada informasi dan kepercayaan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!