Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 : Makan malam yang di tunggu.
Pintu besar ruang kerja itu diketuk pelan tiga kali dengan ritme yang sudah disepakati, kode yang hanya dipahami oleh orang-orang kepercayaan tertinggi.
"Masuk." Suara Damian terdengar tenang namun berat, memecah keheningan ruangan yang masih beraroma kopi dingin dan sisa ketegangan semalam.
Luca melangkah masuk dengan langkah tegap namun tenang, menutup pintu di belakangnya hingga menutup rapat tanpa bunyi sedikit pun. Di tangannya terdapat map kulit hitam tebal, berlabel merah yang menandakan tingkat kerahasiaan tertinggi. Ia berhenti dua langkah di depan meja kerja Damian, menunduk hormat sebentar sebelum berdiri tegak kembali.
"Selamat siang, Don."
Damian mengangguk pelan, meletakkan pena yang sedari tadi dipegangnya ke atas meja, menandakan sepenuhnya fokus pada laporan ini. "Langsung saja, Luca. Bagaimana hasil penyelidikan soal insiden di atap parkiran semalam?"
Luca membuka map itu, mengambil selembar foto rekaman CCTV yang diperbesar, lalu meletakkannya di hadapan Damian dengan hati-hati.
"Tim penyelidik sudah selesai memeriksa lokasi dan mengumpulkan semua bukti, Don. Dari jejak yang ditemukan di atap gedung seberang, tidak ada selongsong peluru yang ditemukan, tapi ada jejak penyangga senjata dan sisa jejak kaki yang sesuai dengan ukuran sepatu taktis milik kelompok Romano."
Damian menatap foto itu, rahangnya perlahan mengeras, namun wajahnya tetap tanpa ekspresi yang berlebihan. "Romano..." gumamnya pelan, nada suaranya rendah namun mengandung ancaman yang nyata. "Dia pasti tidak terima karena aku melumpuhkan orangnya malam itu."
"Benar, Don." Luca mengangguk, lalu melanjutkan dengan laporan yang lebih mendetail. "Kami juga memeriksa rekaman lalu lintas dan data komunikasi di sekitar lokasi. Terdapat satu mobil van yang teridentifikasi sering melintas di radius dua kilometer dari lokasi beberapa jam sebelum kejadian. Nomor polisi palsu, tapi kami berhasil melacak kepemilikan aslinya terdaftar atas nama perusahaan cangkang yang dikelola oleh keponakan Romano."
Damian berdiri perlahan, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke luar, memunggungi Luca sejenak sebelum berbicara.
"Apakah ada bukti yang menunjukkan mereka berniat menembak, atau hanya mengawasi?"
"Kami menduga awalnya hanya pengawasan rutin untuk mencari celah kelemahan keamanan Anda dan Nyonya," jawab Luca jujur. "Tapi melihat posisi penempatan alat pengintai yang begitu presisi, dan fakta bahwa mereka memilih saat Nyonya ada di sisi Anda... kemungkinan besar rencana awalnya adalah menilai seberapa ketat pengawalan kita, lalu menyusun rencana selanjutnya, baik penculikan maupun serangan langsung."
Damian memejamkan mata sejenak, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Bukan karena takut, tapi karena marah ada yang berani menyentuh miliknya. "Jadi Celine benar-benar menjadi sasaran..."
"Karena sekarang beliau adalah titik lemah Anda, Don." Luca menyampaikannya dengan sopan namun jujur. "Siapa pun yang memahami struktur kekuasaan di kota ini tahu bahwa melukai Nyonya adalah cara paling cepat untuk melukai Anda."
Damian berbalik perlahan kembali menghadap anak buahnya, sorot matanya kini tajam dan penuh tekad yang tak bisa digoyahkan.
"Siapa yang memberi informasi waktu dan lokasi kita ke sana?" tanyanya tiba-tiba, suaranya dingin dan langsung ke inti. "Informasi pergerakan kita itu terbatas. Hanya orang-orang dalam lingkaran terdekat yang tahu aku sudah menikah dan menjemput istriku di kafe semalam."
Luca menelan ludah, mengerti maksud pertanyaan itu. "Kami sedang memeriksa catatan komunikasi dan keberadaan semua personel yang memiliki akses ke jadwal Anda, Don. Termasuk yang ada di lingkungan keluarga. Namun sejauh ini belum ada bukti yang mengarah ke nama tertentu."
Damian mengangguk pelan, seolah sudah menduga hal itu. "Teruskan. Perluas lingkaran penyelidikan. Jangan kecualikan siapa pun. Bahkan keluarga sendiri sekalipun."
"Termasuk... Tuan Matteo, Don?"
Damian diam sejenak, "Termasuk."
"Akan saya laksanakan, Don." Luca menunduk hormat. Dia sudah menduga jawabannya. "Lalu... bagaimana langkah selanjutnya? Apakah kita akan langsung menuntut pertanggungjawaban kepada Romano?"
Damian terdiam sejenak, menatap foto di atas meja sekali lagi, lalu meremas ujung kertas itu pelan dengan jari-jarinya yang kuat.
"Belum. Jika kita serang sekarang, seolah kita yang memulai perang terbuka. Dan itu justru menguntungkan pihak ketiga yang mungkin sedang menunggu kita saling hancur." Damian berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan perintah yang tegas. "Perkuat semua pos pengamanan. Tingkatkan status siaga ke level dua. Jaga pergerakan Romano dan anak buahnya dengan ketat. Dan yang paling penting, pastikan keamanan istriku tidak boleh sekecil apa pun celahnya."
"Dimengerti, Don."
Luca menutup map itu kembali, berbalik dan beranjak pergi. Baru saja ia melangkah setengah jalan menuju pintu, kakinya terhenti seketika. Ia menoleh kembali ke arah Damian, wajahnya sedikit berubah seolah baru teringat sesuatu yang penting dan mendesak.
"Don..." suaranya terdengar sedikit ragu, namun tetap sopan. "Saya baru teringat satu hal penting. Malam ini ada jadwal makan malam bersama Matteo dan adik Anda, Valentina, di Mansion. Anda sendiri yang mengundang mereka untuk perkenalan resmi Nyonya."
Damian terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan. Tangan kanannya meremas pelan tepian meja kerja yang kokoh itu.
"Aku belum lupa," jawabnya rendah, namun nada bicaranya terdengar sedikit lebih berat dari sebelumnya. "Justru karena insiden semalam... pertemuan malam ini jadi jauh lebih penting dari yang aku kira."
Luca mengangguk paham, namun sorot matanya masih tampak waspada. "Apakah Anda ingin menjadwalkan ulang, Don? Dengan situasi yang masih tegang dan ancaman yang belum jelas, mungkin lebih aman jika tamu tidak datang ke mansion malam ini. Saya khawatir Nyonya akan tertekan."
Damian menggeleng tegas. "Tidak. Biarkan mereka datang. Kita lihat siapa yang berani menunjukkan wajah aslinya malam ini."
-
-
-
Siang berganti sore, dan cahaya keemasan matahari mulai miring, menyelinap masuk lewat jendela kamar utama Mansion yang luas. Di dalam ruangan itu, suasana sibuk namun tertata rapi. Beberapa pelayan bergerak pelan mengatur meja rias, sementara Madam Rosa berdiri di samping lemari pakaian besar, membimbing Celine dengan penuh kehati-hatian.
"Pilihan Anda sangat tepat, Nyonya," ucap Madam Rosa lembut sambil melirik kain yang berkilau halus di bawah cahaya lampu. "Warna ini sangat elegan, tidak terlalu mencolok namun memancarkan kekuatan dan keanggunan. Sesuai dengan posisi Nyonya."
Celine duduk di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang masih terasa asing namun mulai terbiasa. Ia menyentuh lembut perhiasan sederhana namun berharga yang Madam Rosa pasangkan di lehernya. Berlian kecil itu berkilau lembut, tidak berlebihan namun memberi kesan berkelas.
"Apakah aku terlihat... cukup baik?" tanyanya pelan, sedikit ragu masih terselip di nada bicaranya. "Aku takut nanti terlihat kaku di depan mereka."
Madam Rosa tersenyum tulus, menyisir rambut Celine dengan lembut hingga tertata anggun, menyisakan beberapa helai rambut yang menjuntai di pelipis.
"Nyonya tidak perlu menjadi orang lain. Nyonya cukup menjadi diri sendiri. Itulah yang membuat Tuan Damian memilih Nyonya."
Kata-kata itu menenangkan hati Celine. Ia menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak, lalu mengangguk. "Terima kasih, Madam Rosa. Kau selalu tahu cara membuatku merasa lebih baik."
Belum lama berselang, suara deru mesin mobil terdengar dari halaman depan. Celine langsung menoleh ke arah jendela, jantungnya berdebar sedikit lebih cepat.
"Dia pulang," bisiknya tak sadar.
Madam Rosa tersenyum penuh pengertian. "Silakan Nyonya turun menyambut Tuan. Tuan pasti akan sangat senang melihat Nyonya seperti ini."
Celine bangkit berdiri perlahan, memastikan lipatan gaunnya rapi, lalu melangkah keluar kamar menuju puncak tangga marmer yang luas. Langkahnya awalnya pelan namun semakin cepat seiring suara berat sepatu pria itu terdengar dari lantai bawah.
Damian melangkah masuk ke ruangan utama. Wajahnya tampak lelah, namun begitu matanya menangkap sosok di puncak tangga itu, seluruh kelelahan itu seketika lenyap.
Ia berhenti melangkah, menatapnya lekat-lekat, lalu perlahan melepaskan sarung tangan kulitnya.
Celine melangkah turun perlahan, satu langkah demi satu langkah, hingga akhirnya berdiri tepat di hadapan pria itu.
"Kau pulang..." sapanya lembut, menatapnya dengan senyum hangat yang selalu berhasil membuat Damian merasa pulang ke rumah yang sesungguhnya.
Damian meletakkan sarung tangannya ke meja samping, lalu mengulurkan kedua tangannya untuk menyambut tangan Celine.
"Aku pulang," jawabnya rendah, penuh makna yang dalam. Matanya menyapu seluruh penampilan istrinya dengan kekaguman yang tulus. "Kau tampak luar biasa, Celine. Gaun ini sangat cocok denganmu."
Wajah Celine memerah samar, ia menatap balik dengan berani. "Terima kasih. Madam Rosa yang menyiapkannya. Dan... kau yang memilihnya kan?"
Damian tersenyum tipis, namun sebelum sempat kata-kata itu keluar dari bibirnya, Celine menatapnya dengan sedikit kerut di dahi, penasaran.
"Damian..." tanyanya pelan, "Sebenarnya siapa yang akan datang? Kita akan makan malam dengan siapa?"
Damian membuka mulut hendak menjawab, namun suara klakson mobil yang terdengar tegas dan tak sabar memecah keheningan halaman, disusul deru mesin yang berat dan semakin mendekat.
Bruuum...
Keduanya serentak menoleh ke arah pintu utama. Damian menghela napas pelan, lalu menatap Celine kembali dengan tatapan yang sedikit lebih serius namun tetap lembut.
"Tamunya baru saja tiba," ucapnya singkat, lalu merangkul pinggang wanita itu pelan, menuntunnya menuju pintu depan. "Valentina dan suaminya, Matteo."
Celine mengangguk pelan, jantungnya kembali berdegup sedikit lebih cepat, namun ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. "Oh... jadi mereka."
"Jangan khawatir. Kau di sisiku. Apa pun yang terjadi, aku di sini." Damian mempertegas genggamannya di pinggangnya, memberi kekuatan tanpa banyak kata.
Pelayan segera membukakan pintu utama lebar-lebar. Sebuah mobil mewah berwarna hitam pekat berhenti rapi di halaman. Sopir turun lebih dulu, membukakan pintu penumpang.
Valentina keluar lebih dulu, gaun sutra biru dongkernya meluncur anggun di atas lantai teras, wajahnya tersenyum namun sorot matanya langsung menyapu Celine dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan penuh penilaian. Matteo keluar dengan senyum yang terlihat ramah, namun matanya tajam dan penuh perhitungan sejak pertama kali melihat sosok di samping Damian.
"Kak Damian," sapa Matteo dengan suara terdengar hangat, melangkah naik ke teras. "Maaf sedikit terlambat, lalu lintas sore ini cukup padat."
Ia kemudian menatap ke arah Celine, ujung bibirnya terangkat membentuk senyum miring, "Jadi ini... kakak iparku."
-
-
-
Bersambung...