"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 19
"Terimakasih, Mas," senyum Trisna begitu lebar saat Oza membukakan pintu mobil. Oza juga tersenyum lebar ke arahnya. Namun senyum itu sirna ketika mereka sudah sepenuhnya duduk di dalam.
Klak
Bruuum
Mobil melaju, meninggalkan pekarangan perusahaan LT. Sepasang suami istri yang tadi menebar senyuman kini saling diam. Si suami fokus mengemudikan mobil, lalu si istri sibuk memainkan ponsel.
Suasana hening itu bertahan untuk sementara waktu, sekitar setengah perjalanan menuju ke rumah mereka.
"Mau makan apa?"
Akhirnya Oza membuka mulutnya, tapi dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya. Melirik pun tidak.
Trisna dia sejenak, dia mengalihkan pandangannya dari ponsel ke wajah suaminya. Nafas ditariknya dalam-dalam dan dihembuskan perlahan. Dadanya yang sesak itu, tetap terasa sesak meski berkali-kali dirinya mengatur nafas.
"Terserah," akhirnya kata itulah yang meluncur dari bibir Trisna. Perutnya tidak merasa lapar, dan dia tidak ingin memakan apapun saat ini.
"Jangan terserah, kamu maunya apa?" Sahut Oza. Kali ini dia melihat ke arah sang istri.
"Aku nggak laper, kamu aja yang makan," jawab Trisna, giliran dia yang tidak melihat ke arah Oza.
Mobil melaju terus, tanpa mampir ke tempat penjual makanan. Alhasil mereka sampai di rumah tanpa membawa makanan apapun.
Saat sampai di depan rumah, Trisna keluar mobil lebih dulu. Ia lalu melenggang cepat masuk ke rumah. Trisna juga segera menuju ke kamar.
Huuft
Hembusan nafas kasar meluncur dari bibir Trisna saat ia memindai seluruh isi kamar. Matanya terpejam sejenak, lalu ia melepaskan seluruh pakaiannya.
Dalam kondisi tak ada benang sedikit pun yang menempel pada tubuhnya, Trisna berjalan menuju cermin. Ia melihat pantulan tubuh polosnya di sana.
"Apa yang kurang dari ku?"
Matanya basah, pertanyaan yang sebenarnya ia tahu betul harus ditujukan kepada siapa. Trisna lalu memeluk tubuhnya sendiri, dan mengusap matanya yang terlanjur berair.
Ceklek
Trisna bersikap tenang saat pintu kamar di buka. Dia melenggang masuk ke kamar mandi tanpa memedulikan tatapan tajam Oza.
"Sial!" umpat Oza lirih. "Dia selalu kayak gitu," imbuhnya sambil mengusap wajahnya kasar.
Pandangannya turun ke bawah, merasakan benda yang terletak di kedua pahanya itu sedikit mengeras.
Oza memilih pergi dari kamar, menuju ke kamar mandi yang terletak di luar. Tubuhnya yang sempat panas itu, kini menjadi dingin kembali setelah diguyur dengan air dingin.
Satu jam berlalu, Trisna keluar dari kamar dengan gaun malam sepanjang paha dengan tali spaghetti. Meski tak dijelaskan tapi Oza melihat dengan jelas bahwa istrinya itu tak mengenakan pakaian dalamm di bagian dadanya.
"Kenapa tampilanmu begini?"
Oza mengerutkan alisnya, dia menatap tajam.
"Suka-suka aku, ini rumah bukan tempat umum. Bahkan jika aku telanjangg pun nggak jadi permasalahan kan? Kenapa?"
Trisna selama ini diam. Udara kamar yang tak pernah hangat sejak pernikahan dilakukan, usaha yang tak pernah berhasil, membuat wanita itu jengah.
Biasanya dia diam, tapi sekarang tidak. Ia berjalan mendekat ke arah dimana Oza berdiri, menempelkan tubuhnya di dada suaminya dan melayangkan tatapan tajam ke mata Oza.
"Kenapa, kenapa kamu begini ke aku?"
Oza memalingkan wajahnya, ia juga mendorong tubuh Trisna agar menjauh darinya.
"Apa salahku, Mas?"
Trisna kembali bertanya, dia memegang tangan Oza, dan meminta pria itu untuk kembali melihat ke arahnya.
"Nggak ada, kamu nggak ada salah," jawab Oza dia akhirnya kembali menatap wajah Trisna yang sendu. Mata wanita itu sudah berkaca-kaca.
"Lantas, kenapa kamu menjauh? Kenapa kamu menghindari ku. Sudah dua bulan lebih kita menikah tapi kamu~"
"Trisna!"
Oza memotong perkataan Trisna yang belum selesai. Wajah pria itu sedikit mengeras. Tangannya juga mengepal erat.
"Apa karena Rhea? Apa karena kamu masih memikirkannya?"
"Aku capek."
Hanya itu yang Oza katakan, tak ada penjelasan apapun darinya.
Oza melenggang pergi, masuk ke kamar lain di rumah itu. Dia meninggalkan Trisna dengan tatapan mata yang nanar.
Bruk!
Trisna jatuh terduduk. Ia memeluk lututnya sendiri dan air matanya pun akhirnya benar-benar luruh.
Tangisnya pecah. Udara malam yang sebenarnya tak dingin itu terasa sangat dingin baginya, bahkan terasa seperti menusuk kulit.
Trisna mengangkat wajahnya, melihat ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, dimana Oza ada di dalamnya.
"Kenapa, kenapa kamu memperlakukan aku kayak gini?"
TBC
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭