Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 — Orang yang Tidak Boleh Dipercaya
Arif terbaring di tanah.
Wajahnya pucat dan napasnya tersengal.
Dila berdiri beberapa langkah darinya, masih sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
«“Orang yang selama ini kalian cari… ada di dalam keluarga kalian sendiri.”»
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Fadil berdiri di samping Dila, sementara Azam menatap Arif dengan wajah yang sangat serius.
“Bawa dia ke mobil,” perintah Azam.
Dua orang anak buahnya segera mengangkat Arif.
Fadil menatap Azam.
“Jelaskan.”
Azam tidak menjawab.
“Azam!”
Nada suara Fadil meninggi.
Dila langsung memegang lengannya.
“Mas…”
Fadil menoleh.
“Aku cuma ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Azam akhirnya berkata,
“Kita tidak aman di sini.”
“Kita?” Fadil tertawa hambar. “Sekarang kamu bilang kita?”
Azam menatapnya.
“Kalau kamu ingin Dila selamat, berhenti berdebat.”
Fadil mengepalkan tangan.
Dila berdiri di antara mereka.
“Sudah.”
Ia menatap Azam.
“Bawa Arif ke tempat aman.”
Azam mengangguk.
Kemudian mereka semua meninggalkan kawasan gudang.
Namun sepanjang perjalanan, Dila tidak mengatakan apa pun.
Ia duduk di samping Fadil.
Tangan suaminya masih menggenggam tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak kontrak itu dimulai, Dila merasa sedikit tenang.
Fadil berada di sampingnya.
Namun di sisi lain, ia tahu masalah mereka sudah jauh lebih besar daripada sekadar pekerjaan.
---
Mereka tiba di sebuah rumah besar yang tidak pernah Dila lihat sebelumnya.
Rumah itu berada di kawasan perumahan elite dan tampak sangat tertutup.
Begitu mobil berhenti, Azam turun lebih dahulu.
“Masuk.”
Dila mengikuti.
Fadil berjalan di sampingnya.
Di dalam rumah, Laras sudah menunggu.
“Pak.”
“Bagaimana kondisi Arif?”
“Masih sadar, tapi cukup lemah.”
“Panggil dokter.”
“Sudah.”
Dila menatap Laras.
“Kamu tahu tempat ini?”
“Ini rumah aman.”
“Punya Pak Azam?”
Laras mengangguk.
Fadil melihat sekeliling.
“Jadi kamu memang sudah mempersiapkan semua ini?”
Azam menjawab,
“Sejak beberapa tahun lalu.”
Fadil menatapnya curiga.
“Kenapa?”
“Karena saya sudah tahu suatu hari masalah ini akan kembali.”
Dila langsung bertanya,
“Masalah apa?”
Azam tidak menjawab.
Laras kemudian membawa mereka ke ruang tengah.
“Silakan duduk.”
Dila duduk bersama Fadil.
Azam berdiri di dekat jendela.
Beberapa menit kemudian seorang dokter datang memeriksa Arif.
Setelah selesai, dokter itu keluar.
“Lukanya tidak terlalu parah,” katanya. “Tapi dia perlu istirahat.”
Azam mengangguk.
“Terima kasih, Dokter.”
Dokter pergi.
Fadil menatap Azam.
“Sekarang jelaskan.”
Azam menarik napas.
“Dua puluh delapan tahun lalu, kakak saya, Larasati, meninggal.”
Dila mendengarkan dengan saksama.
“Namun sebelum meninggal, dia menemukan sesuatu.”
“Apa?” tanya Dila.
“Bukti bahwa seseorang dalam keluarga saya telah melakukan pengkhianatan besar.”
Fadil menyela,
“Pengkhianatan apa?”
Azam menggeleng.
“Belum bisa saya pastikan.”
Dila mengerutkan kening.
“Lalu apa hubungannya dengan saya?”
Azam menatapnya.
“Larasati memiliki seorang anak.”
Dila terdiam.
Fadil juga membeku.
“Anak?” tanya Dila.
Azam mengangguk.
“Seorang anak perempuan.”
Dila menelan ludah.
“Siapa?”
“Tidak ada yang tahu.”
“Tidak mungkin.”
“Setelah Larasati meninggal, anak itu menghilang.”
Dila merasa dadanya sesak.
“Berapa umur anak itu?”
“Sekitar dua tahun.”
Ruangan mendadak sunyi.
Fadil menatap Dila.
Dila tidak sanggup berkata apa-apa.
Azam melanjutkan,
“Dan namanya…”
Ia berhenti.
Dila menatapnya.
“Namanya siapa?”
Azam menjawab perlahan.
“Dila.”
Fadil berdiri.
“Tidak.”
Azam menatapnya.
Fadil menggeleng.
“Jangan katakan itu.”
Dila juga berdiri.
“Mas…”
Fadil menatap istrinya.
“Ini tidak mungkin.”
Dila memegang dadanya.
Ia tidak tahu harus percaya kepada siapa.
Azam berkata,
“Kami belum memiliki bukti bahwa kamu benar-benar anak Larasati.”
“Lalu kenapa Anda begitu yakin?”
“Karena ada terlalu banyak kesamaan.”
Azam menunjukkan foto lama.
“Usia.”
“Wajah.”
“Gelang.”
“Dan nama.”
Dila melihat foto tersebut.
Tangannya bergetar.
“Tapi saya punya orang tua.”
Azam mengangguk.
“Siapa?”
Dila terdiam.
Ia memang tahu nama orang yang membesarkannya.
Tetapi ada sesuatu yang aneh.
Sejak kecil, ia tidak pernah memiliki banyak foto masa bayi.
Tidak pernah mengetahui bagaimana dirinya ditemukan.
Dan setiap kali bertanya tentang masa lalu, orang yang membesarkannya selalu menghindar.
Dila mulai menyadari bahwa selama ini mungkin ada bagian hidupnya yang sengaja disembunyikan.
---
Tiba-tiba terdengar suara langkah.
Arif keluar dari kamar dengan bantuan seorang dokter.
Azam langsung mendekat.
“Kamu seharusnya beristirahat.”
Arif menatapnya.
“Aku harus bicara.”
“Tidak sekarang.”
“Sekarang.”
Arif kemudian melihat Dila.
“Dia harus tahu.”
Azam diam.
Arif menatap Fadil.
“Kamu suaminya?”
Fadil mengangguk.
“Jaga dia.”
“Apa maksudmu?”
“Karena setelah malam ini, banyak orang akan mencarinya.”
Fadil berdiri lebih dekat.
“Siapa mereka?”
Arif menghela napas.
“Orang-orang yang selama ini menjaga rahasia keluarga Wiratama.”
Dila bertanya,
“Siapa yang mengambil berkas Larasati?”
Arif menatap Azam.
“Dia.”
Azam mengerutkan kening.
“Siapa?”
Arif menjawab,
“Bagas.”
Dila terkejut.
Fadil langsung teringat.
Bagas adalah temannya.
Teman yang beberapa jam lalu membantunya mencari informasi tentang Azam.
Fadil memucat.
“Tidak mungkin.”
Arif mengangguk.
“Bagas bekerja untuk mereka.”
Fadil mundur satu langkah.
“Dia teman saya.”
“Dia sengaja mendekatimu.”
Dila menatap suaminya.
“Mas…”
Fadil tidak mampu menjawab.
Selama ini ia mengira Bagas sedang membantunya.
Ternyata mungkin dirinya hanya sedang digunakan.
Azam bertanya,
“Bagaimana kamu tahu?”
“Karena aku pernah bekerja untuk mereka.”
“Siapa mereka?”
Arif terdiam.
Kemudian berkata,
“Kelompok yang dipimpin seseorang dari keluarga Wiratama.”
Dila langsung bertanya,
“Siapa?”
Arif menatapnya.
“Orang yang paling dekat denganmu.”
Dila merasakan tubuhnya membeku.
“Siapa?”
Arif membuka mulut.
Namun sebelum ia sempat menjawab, lampu rumah tiba-tiba mati.
Gelap.
“Semua diam!”
Suara Azam terdengar tegas.
Dila refleks memegang tangan Fadil.
“Mas…”
“Aku di sini.”
Suara benda pecah terdengar dari arah jendela.
Kemudian beberapa suara langkah.
Azam bergerak cepat.
“Laras, bawa Dila ke ruang bawah.”
“Baik.”
Laras menarik tangan Dila.
“Tunggu!”
Dila menolak.
“Fadil ikut!”
Laras menatap Azam.
Azam mengangguk.
“Bawa mereka berdua.”
Mereka berlari menuju pintu tersembunyi di belakang lemari.
Dila dan Fadil masuk lebih dahulu.
Namun ketika Laras hendak mengikuti, suara benturan keras terdengar dari ruang tengah.
“Laras!”
Dila hendak kembali.
Fadil menahannya.
“Jangan!”
“Tapi Laras—”
“Kita harus pergi!”
Mereka menuruni tangga.
---
Di ruang bawah tanah, Dila berdiri sambil gemetar.
Fadil memeluknya.
“Tenang.”
“Aku takut.”
“Aku di sini.”
Dila menatapnya.
“Mas…”
“Ya?”
“Kalau semua ini benar…”
Ia tidak sanggup melanjutkan.
Fadil mengusap rambutnya.
“Jangan pikirkan sekarang.”
“Aku mungkin bukan orang yang selama ini aku kira.”
Fadil menatap matanya.
“Buatku kamu tetap Dila.”
Air mata Dila jatuh.
“Mas tidak takut?”
“Takut.”
“Lalu kenapa tetap di sini?”
Fadil tersenyum.
“Karena aku suamimu.”
Dila memeluknya erat.
Untuk beberapa saat, dunia seolah berhenti.
Namun kemudian terdengar suara dari speaker kecil di dinding.
Suara seorang pria.
“Dila.”
Dila langsung melepaskan pelukannya.
“Siapa?”
Suara itu kembali terdengar.
“Kamu tidak perlu bersembunyi.”
Fadil berdiri di depan Dila.
“Siapa kamu?”
Pria itu tertawa kecil.
“Fadil.”
Darah Fadil terasa dingin.
“Aku tahu kamu.”
“Bagaimana?”
“Aku tahu semuanya tentang keluargamu.”
Fadil mengepalkan tangan.
“Keluar!”
“Tidak perlu terburu-buru.”
Suara tersebut kemudian berkata,
“Dila, kamu ingin tahu siapa orang tuamu?”
Dila membeku.
“Siapa?”
“Datanglah sendiri.”
Fadil langsung berteriak,
“Jangan dengarkan dia!”
Suara itu tertawa.
“Kamu punya pilihan, Dila.”
Kemudian sebuah video muncul di layar kecil di dinding.
Dila melihat seorang pria tua duduk di kursi.
Pria itu terlihat ketakutan.
Di sebelahnya berdiri seorang perempuan.
Dila mengenali perempuan tersebut.
Bu Ratih.
Dila terkejut.
“Ibu Azam?”
Bu Ratih terlihat menangis.
Kemudian perempuan itu berkata kepada kamera,
“Dila… kalau kamu melihat ini…”
Ia berhenti beberapa detik.
“Maafkan saya.”
Dila menutup mulut.
Video berlanjut.
“Selama ini kami berusaha melindungimu.”
Dila menatap layar tanpa berkedip.
“Tapi kami melakukan satu kesalahan besar.”
Bu Ratih menangis.
“Kami membiarkanmu tumbuh tanpa mengetahui siapa ibumu sebenarnya.”
Dila merasa lututnya lemas.
Fadil memegang tubuhnya.
Kemudian Bu Ratih mengatakan kalimat terakhir.
“Larasati adalah ibumu.”
Video berhenti.
Ruangan menjadi sunyi.
Dila menatap layar kosong.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Selama puluhan tahun, ia mengira hidupnya sederhana.
Kini seluruh masa lalunya berubah dalam satu malam.
Fadil memeluknya.
“Aku di sini.”
Dila menangis di dadanya.
Namun di balik kesedihan itu muncul sebuah pertanyaan besar.
Jika Larasati benar-benar ibunya…
siapa ayah kandung Dila?
Dan mengapa keluarga Wiratama rela menyembunyikan identitasnya selama dua puluh delapan tahun?
Di atas mereka, suara tembakan terdengar.
Kemudian semuanya kembali sunyi.
Dila menatap Fadil.
“Mas…”
“Ya?”
“Aku ingin tahu semuanya.”
Fadil menggenggam tangannya.
“Kita cari bersama.”
Di saat yang sama, pintu ruang bawah tanah perlahan terbuka.
Azam berdiri di sana.
Wajahnya penuh luka.
Namun matanya hanya tertuju kepada Dila.
“Aku sudah menemukan orang yang selama ini kita cari.”
Dila berdiri.
“Siapa?”
Azam menatap Fadil.
Kemudian kembali melihat Dila.
“Orang itu…”
Ia berhenti.
“…adalah ayah kandungmu.”
Bersambung…