Indonesia
NovelToon NovelToon
Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: bunda Qamariah

"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."

Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.

Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.

Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.

Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Kebencian

Humaira terlonjak kaget saat Zidan tiba-tiba membanting sebuah benda ke atas meja.

Ia refleks menoleh ke arah pria itu, akan tetapi Zidan justru membalikkan badan dan melangkah lebar keluar dari kamar.

Tak sampai di situ, suara dentuman keras kembali bergema saat Zidan membanting pintu kamar dari luar dengan kasar.

Selama beberapa menit, Humaira berdiri mematung di tempatnya. Bingung ada apa sebenarnya dengan perubahan sikap pria itu.

Setelah berhasil menguasai diri dan menata kembali perasaannya yang kacau, ia menghela napas panjang lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Seusai mandi dan memakai pakaiannya, rasa lapar mendadak menyerang perut Humaira.

Tubuhnya juga lemas karena belum sempat menyentuh makanan sejak siang tadi. Namun, saat melirik jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam, langkahnya terhenti.

Humaira ragu untuk turun ke dapur mencari makanan. Khawatir, takut jika ibu mertuanya melihatnya berkeliaran malam-malam, berakhir melontarkan makian, mengingat wanita itu sama sekali tidak menyukai kehadirannya di rumah tersebut.

"Aku lapar sekali..." gumam Humaira pelan pada dirinya sendiri, meraba perutnya yang kosong.

_____

Sudah menunjukkan jam 12 malam, tapi Humaira masih belum bisa memejamkan mata. Ia terus membolak-balikkan tubuhnya yang gelisah di atas kasur.

Matanya sama sekali tak bisa terlelap akibat rasa lapar yang makin menyiksa perutnya. Namun, rasa takut dan sungkan menahan langkahnya untuk mencari makanan.

Ia melirik ke sisi tempat tidur yang kosong. Zidan ternyata belum kembali ke kamar semenjak kejadian tadi—sejak pria itu mendadak meluapkan amarahnya tanpa alasan yang jelas.

Karena merasa tidak akan bisa tidur jika perutnya terus meronta, Humaira akhirnya memberanikan diri untuk duduk di tepi ranjang.

"Aku tidak bisa menahan lapar ini... Aku benar-benar lapar," bisik Humaira.

Tak peduli jika nanti dia akan dimarahi, Humaira melangkah menuju pintu dan membukanya perlahan. Ia tidak tahu ke mana Zidan pergi, tetapi yang pasti, pria itu tidak berada di sekitar kamar.

Humaira berjalan menyusuri koridor dan turun ke lantai bawah.

Beberapa sudut dapur sudah tampak remang karena lampu utama telah dimatikan oleh pelayan.

Sesampainya di dapur, Humaira mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas. Tatapannya kemudian tertuju pada sebuah wadah buah di atas meja makan.

Ia menarik salah satu kursi, mengambil sebuah apel merah segar, lalu menggigitnya perlahan.

Sensasi manis dan dingin dari buah itu perlahan membasahi kerongkongannya. Bagi Humaira malam ini, setidaknya segelas air dan sebiji apel sudah lebih dari cukup untuk mengganjal perutnya yang kosong.

"Kau belum makan?"

Humaira terperanjat kaget. Namun, ia buru-buru menguasai diri saat menyadari bahwa itu adalah suara Zidan yang mendadak muncul di kegelapan dapur.

"Aku tidak sempat makan," jawab Humaira singkat, lalu kembali menggigit apel di tangannya.

Ia memilih mengabaikan keberadaan pria itu. Baginya, tidak masalah jika hanya Zidan yang memergokinya di dapur malam-malam begini. Yang paling penting, itu bukan ibu mertuanya.

Tanpa banyak bicara, Zidan melangkah mendekati area kompor. Pria itu membuka kulkas, merogoh beberapa bahan makanan segar, lalu meletakkannya di atas meja pantry.

Dengan gerakan jemari yang terampil dan tenang—Zidan mulai memotong sedikit dada ayam fillet, mencuci segenggam brokoli, dan menyiapkan sebutil telur.

Ia meracik nasi goreng mentega sehat bertabur sayuran dan potongan ayam panggang gurih dalam porsi satu piring.

Aroma wangi mentega dan bawang tumis perlahan merebak, mengisi udara dapur yang hening.

Wangi... Humaira bertambah lapar saat menghirup aroma enak masakan pria itu.

Hanya butuh waktu belasan menit hingga Zidan mematikan kompor.

Ia memindahkan hidangan hangat yang asapnya masih mengepul itu ke atas piring porselen, lalu melangkah mendekati meja makan dan meletakkannya tepat di hadapan Humaira.

"Makanlah," ucap pria itu, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka berdua.

Humaira kembali dibuat terperanjat.

Matanya tertuju pada sepiring nasi goreng yang aromanya begitu menggugah selera di hadapannya, sebelum perlahan menaikkan pandangan menatap Zidan.

"Buat aku?" tanya Humaira datar.

"Iya. Aku tidak mau kamu mati kelaparan di rumah ini," jawab Zidan.

"Oh."

Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Humaira. Tanpa mengucapkan terima kasih sedikit pun, ia langsung meraih sendok dan menyantap makanan tersebut.

Namun, baru saja suapan pertama mendarat di lidahnya, ia benar-benar dibuat jatuh cinta pada nasi goreng itu.

Rasa nasi goreng Zidan benar-benar pas di lidahnya—bahkan terasa seperti masakan paling lezat yang pernah ia makan. Entah karena masakan Zidan yang memang luar biasa enak, atau mungkin pengaruh janin di dalam kandungannya yang merindukan masakan dari ayah biologisnya.

Aku tidak pernah suka makan sayur brokoli... tapi kenapa yang dibuat oleh pria ini rasanya lezat sekali? batin Humaira heran.

Ia terus menyuapi makanan itu dengan tenang hingga suapan demi suapan tandas, sama sekali tak mempedulikan Zidan yang duduk memperhatikannya di hadapan meja.

Tidak ada rasa canggung, tidak ada rasa malu, apalagi keinginan untuk bersikap manis.

Bagi Humaira, pria di hadapannya itu sudah mati dalam hatinya. Ia telah membentengi jiwanya begitu kokoh—yakin tak akan pernah jatuh cinta pada Zidan akibat rasa benci yang teramat dalam, atas insiden malam kelam yang telah merusak masa depannya.

"Lain kali, kalau kamu lapar, seharusnya kamu turun dan cari makanan," ujar Zidan membuka suara, menatap wanita yang sedang menyantap masakan buatannya itu.

"Jadwal kerja kita di rumah sakit tidak menentu, kadang kita pulang terlambat. Shift kerja bisa berubah-ubah. Kalau kamu sampai ketiduran dalam keadaan lapar lalu terjadi apa-apa, aku yang bisa dituntut oleh keluargamu." Lanjut Zidan.

"Aku takut turun mencari makan. Nanti Bundamu melihatku dan memarahiku," sahut Humaira jujur.

Wanita itu menjawab tanpa niat menutupi sedikit pun ketakutan serta rasa tidak nyamannya di rumah itu.

"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu tentang Bunda?"

"Tentu saja. Orang kaya memang sering seperti itu," jawab Humaira tenang.

Dia mengangkat pandangannya, menatap lurus ke dalam iris mata Zidan lalu menyunggingkan sebuah senyum miring seperti sebuah celaan.

Tatapan dan ukiran senyum itu seolah-olah sedang menegaskan: Itulah diri kamu dan keluargamu—merasa berada di atas dan merendahkan orang dibawah.

Zidan terdiam menatap dingin Humaira yang sengaja menyinggungnya.

Humaira tanpa rasa bersalah kembali menyantap nasi goreng itu hingga tak tersisa sebutir pun.

Ia meneguk air mineralnya, lalu langsung berdiri dari kursi tanpa niat untuk menetap lebih lama.

"Aku sudah selesai. Nasi gorengnya lumayan enak," ujar Humaira singkat. Bibirnya terkunci rapat dari kata 'terima kasih', lalu ia berbalik melangkah pergi meninggalkan Zidan begitu saja.

Sepiring nasi goreng tidak akan pernah bisa mengganti kehormatanku yang sudah kamu renggut! Jadi jangan pernah berharap kata terima kasih dariku, batin Humaira saat melangkah keluar dari area dapur.

Dadanya bergemuruh. Rasa benci itu sudah mengakar begitu dalam, meresap hingga ke tulang-tulangnya. Ia benar-benar membenci Zidan.

Didapur, Zidan yang tadi sempat terpancing emosi oleh sikap dingin dan senyum miring Humaira, hanya bisa menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan untuk menekan rasa kesal.

"Ada apa sebenarnya dengan wanita itu? Sejak pertama kali menikah, dia sering menurut. Tidak pernah membantah atau menolak sedikit pun. Tapi setelah kedatangan Melodi, dia berubah total...

Bahkan sampai mengajukan surat cerai. Tatapannya seolah menegaskan kalau dia tidak suka padaku. Kenapa aku merasa dia sangat membenciku? Apa ini cuma perasaanku saja?"

Zidan berbicara pada dirinya sendiri, bingung dengan perubahan drastis istrinya.

Tak ingin terlalu larut dengan pemikirannya. Zidan akhirnya berdiri. Pria itu mengambil piring bekas makan Humaira, melangkah ke wastafel, lalu mencuci dan menyimpannya di rak.

Tak lupa, Zidan juga merapikan botol air mineral sisa Humaira yang masih terisi sedikit, lalu kembali ke kamar.

Sesampainya di kamar, Zidan melihat Humaira sudah tertidur pulas.

Seperti biasa, wanita itu sering memilih posisi tidur di paling sudut ranjang dan membentangkan bantal guling di tengah sebagai batas pemisah diantara mereka.

Selama dua minggu usia pernikahan mereka, hal itulah yang selalu terjadi setiap malam. Humaira seolah tidak sudi disentuh oleh Zidan—bahkan gerak-geriknya dengan jelas menunjukkan betapa ia sebenarnya tidak sudi berada di dalam satu ruangan yang sama dengan pria itu.

Jika wanita-wanita di luar sana berbondong-bondong mengantre hanya demi bisa mencuri perhatian Zidan, maka Humaira adalah sebaliknya.

Sikapnya dingin, tatapannya datar, dan responsnya kaku layaknya robot yang tak memiliki perasaan.

Sebenarnya, sejak awal Zidan sudah menyadari kejanggalan dari sikap Humaira. Namun, ia berpikiran positif—menganggap Humaira mungkin hanya merasa malu atau canggung sebagai pengantin baru.

Namun, semakin ke sini, semua prasangka baik Zidan perlahan memudar. Humaira justru semakin gencar dan terang-terangan menegaskan bahwa wanita itu ingin segera bercerai!

1
bunda n3
kamu salah pilih lawan zidan
Miranti Husna💥
pokoknya, mereka harus segera bercerai. aku nggk mau tahu. alva ama humaira harus nikah
Miranti Husna💥
arkhhhhhhhhb sumpah, satu cowok ini bener² bukin kesal baget zidannnnnnn alva rebut aja tu isterinya 😡
Miranti Husna💥
kak, kenapa ini barusan pendk banget updt bab nya kak.
Miranti Husna💥
🤣ngaku qja va, bilang kalau itu ankmu, biat dia bggk dpt apa² dasar pak direktor bikin Gemas....!!!
bunda n3
semoga aja Alva mengakui kalau itu anaknya😄
Miranti Husna💥
waduh. bakal ketahuan ni humaira sama zidan kalo lagi berbadan 2
Miranti Husna💥
Kayaknya alva itu serius suka sama humaira.
bunda n3
alamat Zidan tahu nih
Syakirah Dzaky
Alva kayakx emang mencintai Humairah dgn tulus , ayolah Humairah terima pak Alva , aku suka keluarga nya
bunda n3
Humaira terlalu overthinking
Miranti Husna💥
🤣 kocak! ternyata keluarga alva itu nggk semenyeramkan yg di luar 🤣 mereka itu sangat humoris, udah lengkap. astaga... tidak sabar menanti moment pernikahan mrka. semoga cepat bersatu ya🤭
Miranti Husna💥
cemburu, marah dan kecewa. hanya sebatas itu sj kemampuan mu zidan. tk punya perjuangan sm sekali 🤦
bunda n3
Mungkin dimata kamu Humaira itu ga berarti Zidan, tapi dimata orang lain dia sangat istimewa
bunda Qamariah: bener banget say
total 1 replies
partini
pacar setingan lah,
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂
bunda Qamariah: iya, emg. sekarang kebanyakan author2 baru say
total 5 replies
Syakirah Dzaky
Aduh tdk sabar liat Humairah cerai dan zidan trus nikah dgn pak Alva , pasti Humairah akan di ratukan dan sangat di syg di keluarga nya Alva . Tp ngomong2 apa judul novel org tua nya Alva Thor?
bunda Qamariah: aku tidak ada buat kak🤭 tapi kalo banyak yang mau, bisa kok dibuatkan
total 1 replies
Miranti Husna💥
noh, liat zidan, kamu sendiri kan yg kenak batunya. awalnya kamu membiarkan melodi untuk ngaku² hubungan kalian..sekgg alva gunakan itu sebagai umpan untuk membungkam mu
Miranti Husna💥
Dasar para manusia munafik dan toxic 😤 enak aja mau manfaatin humaira setelah berpikr humaira dkat sama org kaya😡 emang ibu sama anak sama saja! gila harta
bunda Qamariah: bener kak🤧
total 1 replies
bunda n3
Zidan secara tidak langsung menghina ibunya Humaira
bunda n3
nah Zidan, orang yang akan merebut istrimu ada di depanmu, blak-blakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!