Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.
Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.
Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.
Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13 — Modal, Media, dan Bantuan yang Tak Terlihat
Tiga unggahan yang mempertanyakan harga mural berubah menjadi dua puluh tujuh dalam satu malam.
Judulnya berbeda, tetapi nadanya sama: seniman kontrakan dibayar terlalu mahal, sekolah memakai anak untuk promosi, dan popularitas Raka hanyalah hasil drama perceraian. Beberapa akun bahkan memakai potongan wajah Sasa yang sudah diminta pihak sekolah untuk tidak disebarkan.
Raka tidak membalas dengan kemarahan.
Ia mengirim permintaan penghapusan untuk konten anak, menyimpan tautan dan cap waktu, lalu mengunggah satu halaman berisi ruang lingkup proyek, hasil pemeriksaan, serta penjelasan bahwa angka Rp200.000.000 mencakup material, tenaga, pengamanan, desain, pengujian, dan garansi—bukan honor pribadi semata.
Bu Rina ikut mengonfirmasi. Prof. Damar menulis satu kalimat pendek: Kritik karya boleh. Fitnah tanpa memeriksa karya adalah kemalasan.
Serangan itu tidak hilang, tetapi berhenti tumbuh liar.
Bagas menelepon dan menawarkan nama dua jurnalis yang bersedia membongkar hubungan akun-akun tersebut dengan jaringan promosi Sanjaya.
"Belum," kata Raka. "Kita baru punya pola waktu, bukan bukti pembayaran atau perintah. Kalau gue menuduh sekarang, gue melakukan hal yang sama dengan mereka."
"Jadi lo diam?"
"Gue dokumentasikan. Kalau mereka menyerang proses kerja, kita jawab dengan data. Kalau mereka menyentuh Sasa lagi, kita pakai kanal perlindungan anak. Saat bukti hubungan dananya ada, baru kita sebut nama."
Bagas mengembuskan napas keras. "Kadang gue lupa kenapa musuh lo lebih kesal saat lo tidak marah."
"Karena orang marah mudah dibuat salah."
Di sebuah klub bisnis kawasan SCBD, Sebastian membaca laporan sentimen sambil memutar gelas air mineral. Di seberangnya, Larasati duduk bersama dua penasihat restrukturisasi Balet Larasati.
"Angka negatifnya mulai turun," kata salah satu penasihat.
Sebastian tersenyum. "Tujuan kita bukan menghancurkannya dalam sehari. Cukup membuat calon mitra bertanya dua kali sebelum menandatangani kontrak. Orang kreatif paling mudah ditekan lewat ketidakpastian pendapatan."
Larasati menatapnya. "Kamu mengatur unggahan itu?"
"Aku hanya bertanya kepada beberapa media apakah kontrak tersebut layak diperiksa. Bukankah transparansi hal yang baik?"
"Mereka memakai wajah anak kecil."
"Itu keputusan editor, bukan aku."
Jawaban licin tersebut membuat Larasati teringat Raka yang menolak peliputan bila wajah murid direkam tanpa izin. Perbedaan itu datang tanpa ia minta.
Sebastian mendorong map lain ke hadapannya. "Fokus pada masa depanmu. Sanjaya dapat membawa Balet Larasati masuk ke holding hiburan, merapikan laporan keuangan, lalu menyiapkan jalur pencatatan di Bursa Efek Indonesia. Namamu menjadi wajah utama."
"Berapa sahamku?"
"Struktur final setelah due diligence."
"Itu bukan jawaban."
"Laras." Suara Sebastian melunak. "Aku kembali bukan hanya untuk bisnis. Dulu aku pergi karena belum punya kuasa menentukan hidup. Sekarang aku punya semuanya. Aku bisa memberimu panggung yang seharusnya kamu miliki."
Tangan Sebastian bergerak hendak menyentuh tangannya. Larasati menarik jari untuk membalik halaman.
Di antara proyeksi valuasi dan foto panggung internasional, yang muncul di benaknya justru Raka dengan noda cat hijau, berdiri di depan karya yang disentuh ratusan anak.
Raka tidak pernah menjanjikan panggung.
Ia membangun dindingnya sendiri.
"Aku perlu membaca semua syarat," kata Larasati.
Senyum Sebastian menipis. "Tentu. Tapi jangan terlalu lama. Momentum, seperti ketenaran mantan suamimu, punya umur pendek."
Sementara itu, Raka berada di kantor kuasa hukumnya. Pihak pengadilan hanya memberi penyesuaian tujuh hari, bukan dua minggu seperti yang diminta Larasati. Tanggal mediasi baru ditetapkan dan kedua pihak diwajibkan hadir.
"Kalau termohon kembali tidak hadir tanpa alasan sah, ketidakhadiran itu masuk catatan," jelas kuasa hukumnya. "Mediator tetap menentukan langkah berikut sesuai prosedur."
"Kita hadir dan bawa posisi tertulis," kata Raka. "Tidak ada serangan terhadap usaha mereka. Saya hanya ingin pernikahan selesai, pengasuhan Keisha jelas, dan kewajiban saya tercatat."
"Pihak mereka mungkin menawarkan penundaan dengan imbalan pernyataan publik."
"Tolak. Pernikahan bukan instrumen hubungan masyarakat."
Sebelum pulang, Raka menandatangani konfirmasi jadwal dan menyimpan salinannya. Di luar kantor, dua email penolakan proyek sudah menunggu. Keduanya memakai kalimat hampir sama: manajemen memilih menunggu sampai isu publik mereda.
Sebastian berhasil membuat dua pintu menutup.
Raka hanya belum tahu ada pintu ketiga yang sedang dibuka dari tempat lain.
Kirana Skydining menempati lantai tinggi sebuah gedung di pusat Jakarta. Ruang makannya menghadap garis kota, dengan panel kaca, taman gantung, dan ruang privat yang sering dipakai pertemuan para pemimpin perusahaan. Malam itu, manajer merek restoran menerima instruksi dari pemilik yang namanya tidak muncul di materi publik.
"Undang Studio Nusa Karya untuk sesi live art," kata Nindya melalui sambungan terenkripsi.
"Paket nasional atau acara privat?"
"Acara publik terbatas. Ia membuat relief kecil bertema cakrawala Jakarta dan menyelesaikan ukiran giok di depan kamera. Semua biaya produksi, honor, hak tayang, serta batas penggunaan nama harus tertulis. Tidak ada eksklusivitas."
"Berapa honornya?"
Nindya menyebut angka berdasarkan tarif dua seniman dengan jangkauan serupa, bukan angka khayalan yang hanya bisa dijelaskan oleh rasa cintanya.
"Jangan beri harga istimewa," lanjutnya. "Tim kurasi harus menilai portofolionya. Kalau tidak lolos, kirim penolakan."
Manajer itu terdiam sejenak. "Bu, Anda pemilik tempat ini."
"Justru karena itu prosesnya harus bisa diaudit."
Keesokan siang, tim kurasi menilai video proses tanpa nama kreator. Tiga dari empat penilai memilih karya Raka karena teknik relief, kejelasan presentasi, dan tingkat interaksi penonton. Hasil tersebut dilampirkan pada berkas undangan.
Baru setelah itu email dikirim.
Raka membacanya di kontrakan ketika Sasa sedang tidur siang dan Nindya pura-pura menyapu teras rumahnya dua pintu dari sana.
Subjek: Undangan Kolaborasi Live Art — Kirana Skydining.
Ia membuka dokumen penawaran. Satu malam pertunjukan, dua sesi. Hak Studio Nusa Karya atas desain tetap utuh. Kirana hanya memperoleh lisensi rekaman promosi selama enam bulan. Honor Rp25.000.000 di luar bahan dan transportasi. Tidak ada klausul pengelolaan akun atau larangan menerima klien lain.
Kebalikan sempurna dari kontrak Sebastian.
Raka menelepon nomor resmi restoran, memeriksa nama perusahaan pada dokumen, lalu meminta waktu untuk meninjau detail keselamatan area kerja dan pembayaran pajak. Jawaban mereka profesional. Tidak ada desakan untuk langsung setuju.
Ia keluar membawa cetakan penawaran.
Nindya berhenti menyapu daun yang sama untuk kelima kali. "Ada kabar bagus, Mas?"
"Kirana Skydining mengundang Studio Nusa Karya."
"Restoran yang di atas gedung itu? Wah, hebat."
Keterkejutannya sedikit terlalu rapi.
Raka mengangkat dokumen. "Tim kurasi mereka menilai karya tanpa nama. Tiga dari empat memilih saya."
"Berarti Mas memang layak."
"Mungkin." Raka menatapnya. "Yang aneh, restoran sebesar itu menghubungi saya tepat ketika dua calon klien mundur dengan kalimat penolakan yang sama."
Sapuan Nindya berhenti di atas satu daun kering.
"Mas curiga ada orang yang membantu?"
"Saya curiga ada dua kekuatan yang sedang memakai pintu berbeda." Raka melipat dokumen. "Saya hanya belum tahu siapa yang berdiri di balik pintu Kirana."