Indonesia
NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Cinta Handoko untuk Mellisa

Setelah Pratiwi pergi mencari makanan lain, Handoko kembali menatap Mellisa. Kesempatan itu akhirnya datang juga. Meski suasana di sekitar mereka tetap ramai, bagi Handoko percakapan ini terasa jauh lebih penting daripada keramaian pesta.

"Mel, aku minta nomor kontakmu. Aku perlu penjelasan kenapa dulu kamu pergi dari sisiku."

Mellisa terdiam sesaat. Tatapannya menatap Handoko dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Apa itu penting buatmu, Mas?"

"Sangat penting."

Jawaban Handoko begitu tegas tanpa sedikit pun keraguan.

Mellisa akhirnya mengembuskan napas pelan.

"Oke, kemarikan ponselmu!"

Handoko segera menyerahkan ponselnya. Mellisa menerimanya, kemudian dengan cekatan mengetikkan nomor kontaknya. Tak sampai beberapa detik, ponsel itu sudah kembali berada di tangan Handoko.

Handoko memandang layar ponselnya sejenak, memastikan nomor tersebut sudah tersimpan. Namun ada satu hal lain yang masih mengganjal di pikirannya.

"Kamu benar-benar nggak tahu kalau Raka adalah putraku?"

Mellisa menggeleng. "Nggak sama sekali. Aku single parent, jadi terlalu sibuk dengan pekerjaan. Makanya hal-hal seperti itu luput dariku."

Handoko mengangguk kecil. "Pantesan," gumamnya.

Ada banyak hal yang tiba-tiba terasa masuk akal. Selama ini dia memang tidak pernah tahu bagaimana kehidupan Mellisa setelah mereka berpisah. Dia hanya tahu perempuan itu menghilang dari hidupnya, tanpa pernah meninggalkan penjelasan.

"Lalu, Mas sendiri... Mas nggak tahu kalau Kania adalah anakku?"

Handoko langsung menggeleng. "Nggak."

Jawabannya singkat.

Belum sempat keduanya melanjutkan percakapan, suara Pratiwi kembali terdengar dari arah belakang.

"Papi!"

Handoko dan Mellisa sama-sama menoleh.

Pratiwi berjalan menghampiri mereka dengan wajah ceria. Kali ini tangannya membawa piring makanan.

"Ayo, kita makan! Ada rendang kesukaan Papi."

Handoko bahkan belum sempat menjawab ketika Pratiwi sudah meraih tangannya.

"Oh, ya?"

"Iya, makanya kita makan dulu!"

Pratiwi menarik tangan suaminya dengan penuh semangat.

"Ayo, Jeng Melli. Papinya Raka agak susah makannya, jadi kadang harus diginiin."

Mellisa tersenyum kecil melihat tingkah Pratiwi.

"Oh iya, Mbak. Silakan!"

Pratiwi pun kembali menarik tangan Handoko menuju meja makan. Handoko hanya bisa pasrah mengikuti langkah istrinya. Sesekali dia menoleh ke belakang, menatap Mellisa yang masih berdiri di tempatnya.

Percakapan mereka kembali terputus. Namun setidaknya, kali ini Handoko sudah mendapatkan satu hal yang selama ini tidak pernah dia miliki.

Nomor kontak Mellisa. Dan dengan nomor itu, dia tahu masih ada kesempatan untuk meminta jawaban atas masa lalu yang selama bertahun-tahun membuatnya bertanya-tanya.

Sampai acara lamaran Raka dan Kania benar-benar selesai, tidak ada lagi kesempatan bagi Handoko untuk berbicara berdua dengan Mellisa.

Setelah berpamitan kepada keluarga Mellisa, Handoko dan keluarganya berjalan menuju mobil. Keluarga Mellisa bahkan mengantarkan mereka sampai ke halaman depan. Setelah saling mengucapkan salam dan basa-basi terakhir, Handoko masuk ke dalam mobil bersama Pratiwi.

Mobil perlahan bergerak meninggalkan rumah Mellisa.

Namun, meski tubuhnya sudah berada jauh dari rumah itu, pikiran Handoko seolah masih tertinggal di sana.

Dia lebih banyak diam sepanjang perjalanan. Pandangannya lurus ke depan, tetapi pikirannya terus berkelana ke masa lalu. Wajah Mellisa berkali-kali muncul dalam ingatannya.

Cara perempuan itu terkejut ketika melihatnya. Jawaban-jawabannya yang singkat. Tatapannya yang sesekali menghindar. Dan yang paling mengganggunya adalah satu pertanyaan yang sejak dulu tidak pernah mendapatkan jawaban.

Mengapa Mellisa pergi?

Bertahun-tahun dia mencoba mengubur pertanyaan itu. Menganggap bahwa mungkin Mellisa memang sudah tidak ingin bersamanya. Namun, pertemuan hari ini kembali membuat semua kenangan yang pernah dia simpan rapat-rapat seolah terbuka.

Ditambah lagi kenyataan yang baru diketahuinya.

Raka, putra semata wayangnya dan Kania anak Mellisa akan melangsungkan pernikahan.

Handoko mengembuskan napas panjang.

"Pi..." Suara Pratiwi membuat lamunannya terputus.

"Kenapa, Mi?"

"Kamu dengerin Mami, nggak?" Handoko menoleh sebentar.

"Dengerin."

Padahal sejak beberapa menit lalu, dia bahkan tidak tahu apa yang sedang dibicarakan istrinya.

Pratiwi kembali melanjutkan ceritanya dengan penuh semangat.

"Kalau menurut Mami, konsep pernikahan Raka sama Kania nanti jangan terlalu ramai. Lebih bagus elegan, tapi tetap hangat. Terus untuk dekorasinya, Mami kepikiran warna putih dipadukan sama warna hijau sage. Cantik, kan?"

Handoko hanya mengangguk. "Iya."

"Terus Mami tadi juga sudah kepikiran soal gedung. Kalau mereka mau menikah tahun depan, kita harus mulai cari dari sekarang. Belum lagi katering, undangan, baju pengantin, seserahan..."

Pratiwi terus berbicara, membayangkan berbagai persiapan pernikahan anak mereka. Sesekali Handoko menjawab pendek.

"Iya."

"Bagus."

"Terserah Mami."

Jawaban-jawaban itu membuat Pratiwi akhirnya menoleh lebih lama kepada suaminya. "Papi kenapa, sih?"

Handoko sedikit tersentak. "Kenapa apanya?"

"Sejak tadi kok diam terus. Biasanya kalau Mami ngomong soal pernikahan anak, Papi paling banyak komentar."

Handoko terdiam sejenak. Dia tidak mungkin mengatakan kepada istrinya bahwa pikirannya sedang dipenuhi wanita dari masa lalunya.

"Nggak apa-apa, Mi. Papi cuma capek."

Pratiwi mengangguk, lalu kembali membicarakan rencana pernikahan Raka dan Kania.

Sementara itu, Handoko kembali menatap jalanan di hadapannya. Tangannya menggenggam ponsel yang terletak di pangkuannya.

Di dalam ponsel itu kini tersimpan satu nomor baru. Nomor yang sudah bertahun-tahun dia pikir tidak akan pernah lagi dia miliki.

Nomor Mellisa.

Handoko menatap layar ponselnya sekilas, lalu kembali menyimpannya. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan. Namun untuk saat ini, dia hanya bisa menunggu.

Karena setelah pertemuan hari ini, Handoko tahu satu hal. Masa lalu yang selama ini dia kira telah selesai ternyata belum benar-benar berakhir.

Handoko memejamkan matanya. Entah mengapa, perjalanan pulang yang seharusnya terasa biasa saja justru membuat pikirannya semakin dipenuhi bayangan masa lalu. Percakapan dengan Mellisa tadi kembali terngiang-ngiang di kepalanya.

Seolah sebuah pintu yang selama bertahun-tahun tertutup rapat, tiba-tiba terbuka kembali. Satu demi satu kenangan lama berkelebat di benaknya.

***

Saat itu, sebulan menjelang wisuda. Handoko dan Mellisa sedang duduk berdua di salah satu sudut kantin kampus. Suasana siang itu cukup ramai. Mahasiswa berlalu-lalang, suara obrolan dan tawa terdengar dari berbagai penjuru. Namun, bagi mereka berdua, keramaian itu seakan tidak terlalu berarti.

Mereka tengah menikmati makan siang sambil membicarakan rencana setelah menyelesaikan kuliah. Mellisa memainkan sendok di tangannya sebelum akhirnya bertanya, "Mas, apa rencanamu setelah wisuda nanti?"

Handoko yang sedang menikmati makanannya langsung menoleh. "Yang pasti melanjutkan S2. Setelah itu kerja, dan melamar kamu." Jawaban itu keluar begitu saja, tetapi terdengar mantap.

Mellisa terdiam beberapa detik. Kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.

"Yakin?"

"Yakinlah. Emang kenapa?"

Handoko menatap kekasihnya dengan heran. "Apa kamu meragukanku?"

Mellisa menggeleng pelan. "Bukan begitu."

Dia menarik napas sebelum melanjutkan.

"Ya, soalnya sampai detik ini, Mas belum pernah sekalipun mengenalkanku kepada keluarga Mas." Pun sebaliknya, Mas belum pernah berkenalan dengan keluargaku."

Senyum Handoko perlahan memudar. Dia menatap Mellisa beberapa saat, seolah baru menyadari bahwa hal sederhana yang selama ini dianggapnya belum terlalu penting ternyata menjadi sesuatu yang begitu dipikirkan oleh wanita di hadapannya.

Mellisa tidak sedang menuntut. Dia hanya ingin tahu, seberapa serius sebenarnya hubungan mereka di mata Handoko.

Selama ini mereka memang saling mencintai. Mereka sudah melewati begitu banyak hal bersama. Namun, bagi Mellisa, ada satu langkah yang belum pernah dilakukan Handoko—membawanya masuk ke dalam kehidupan keluarganya.

"Aku bukannya nggak serius sama kamu, Mel."

Handoko mencoba meyakinkan.

"Terus kenapa?"

"Karena aku ingin menyelesaikan semuanya dulu. Setelah wisuda, aku lanjut S2. Setelah itu aku cari kerja. Kalau semuanya sudah lebih jelas, baru aku bawa kamu ke rumah."

Mellisa menatapnya. "Jadi aku harus menunggu?"

"Iya." Handoko tersenyum dan meraih tangan Mellisa di atas meja. "Tunggu aku, ya.!"

Mellisa terdiam. Ada senyum tipis di wajahnya, tetapi jauh di dalam hatinya masih tersimpan kekhawatiran yang tidak mampu dia ungkapkan.

Dia mencintai Handoko. Sangat mencintainya.

Dan justru karena itulah, dia ingin memastikan bahwa janji yang baru saja diucapkan lelaki itu bukan sekadar kata-kata.

Sementara Handoko saat itu sama sekali tidak menyadari bahwa percakapan sederhana di kantin kampus tersebut kelak akan menjadi salah satu kenangan yang paling sering menghantuinya.

Karena tidak lama setelah hari itu, sesuatu terjadi. Sesuatu yang membuat semua rencana mereka berubah. Dan Mellisa akhirnya pergi dari sisinya.

1
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
Jamayah Tambi
Kacau ni kerana cinta lama
Jamayah Tambi
Kan dah kata salah faham.Dapat pulak ART dungu
Jamayah Tambi
ART Yg bodoh jawab call dari Mellusa mengatakan Handoka melamar kekasih hati.Dah agak dah mesti salah faham.
Jamayah Tambi
Tak salah faham ke ni
Jamayah Tambi
Mesti suami Mellisa selingkuh
Jamayah Tambi
Bahaya ni ,bila lelaki berjumpa semula dgn cinta pertama
Oma Gavin
wed .. wes .. angel musuh wong tuwo ora duwe isin yg ada seperti puber kedua 😅
Oma Gavin
drama perselingkuhan dimulai dari sekarang ngga mikir anak . mereka masing" yg akan nikah udah ketutup sama cinta pertama yg blm kelar
Oma Gavin
intinya sudah pada tua dan mau jadi besan tolong dijaga kehormatan diri masing" jgn merasa kayak abg mau clbk ingat umur
Oma Gavin
ngga bisa dibayangin kalau ada di dunia nyata bukannya mikir gimana anaknya bisa bahagia dgn pernikahan nya malah mengenang mantan sampai segitunya
Dew666
💜
Oma Gavin
berarti yg berkhianat pertama kali handoko dong jgn salahin mellisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!