Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Wush!
Seketika, semua bayangan ilusi yang diciptakan oleh sistem Gilang hancur berkeping-keping terbawa angin panas.
Warna api di sekeliling mereka kembali menjadi merah menyala seperti semula.
Gilang yang berdiri tidak jauh dari sana membelalakkan matanya tidak percaya.
"Bagaimana bisa kau menghancurkan ilusi traumaku?!" teriak Gilang panik.
"Tidak ada manusia yang bisa menahan rasa bersalahnya sendiri!"
Reyhan melangkah maju menembus sisa-sisa asap tipis ilusi tersebut.
"Karena aku sudah menerima diriku yang sekarang, Gilang."
"Aku memang bukan pahlawan suci tanpa dosa."
"Tapi aku juga bukan boneka yang bisa kau kendalikan dengan rasa bersalah."
Reyhan berlari kencang menerjang Gilang sebelum pria itu sempat bereaksi.
Bugh!
Reyhan mendaratkan tendangan lutut yang sangat keras tepat ke ulu hati Gilang.
"Uhk!" Gilang memuntahkan darah dan langsung jatuh tersungkur ke lantai.
Sistem Gilang sudah tidak bisa melindunginya lagi dalam pertarungan fisik murni.
Reyhan mencengkeram kerah baju Gilang dan menarik wajahnya mendekat.
"Permainan sistemmu sudah tamat, Tuan Sutradara."
Bugh!
Reyhan mendaratkan satu pukulan terakhir yang sangat telak ke rahang Gilang.
Pukulan itu langsung membuat Gilang kehilangan kesadarannya sepenuhnya.
Tubuh Gilang terkulai lemas di atas lantai panggung yang mulai menghitam karena panas.
[Ding! Misi Puncak Arc 1 berhasil diselesaikan!]
[Inti Sistem Sutradara Tragedi telah lumpuh bersama dengan hilangnya kesadaran target.]
[Proses Evolusi Sistem Pemeran Penjahat Profesional akan dimulai setelah Host berada di lokasi aman.]
Reyhan tidak memedulikan notifikasi sistemnya untuk saat ini.
Prioritas utamanya sekarang adalah menyelamatkan Alena dan keluar dari studio yang hampir runtuh ini.
Kriet. Krak.
Suara retakan kayu dan besi terdengar dari atas langit-langit studio.
Besi penyangga lampu sorot mulai bengkok karena suhu panas yang ekstrem.
Reyhan mengangkat tubuh Gilang dan menyampirkannya ke bahu kirinya.
Ia kemudian mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang.
"Bertahanlah, Reyhan," batinnya menyemangati diri sendiri.
Ia memusatkan seluruh sisa tenaga pada kedua kakinya.
Wush!
Reyhan melompat dan berlari menembus dinding api yang melingkari panggung tersebut.
Panas api itu sempat membakar ujung jaket dan rambutnya, tapi ia berhasil keluar dengan selamat.
Bruk.
Reyhan menjatuhkan Gilang ke lantai yang lebih aman dan langsung berlari menghampiri Alena.
"Alena! Bangun!" teriak Reyhan sambil menepuk pipi detektif itu.
Alena sudah setengah sadar karena kekurangan oksigen.
Uhuk.
"Rey... panas sekali..." rintih Alena dengan mata setengah tertutup.
Reyhan merobek ujung kemejanya sendiri dan mengikatkannya ke hidung serta mulut Alena sebagai masker darurat.
Ia kemudian mengangkat tubuh Alena dengan kedua tangannya.
"Kita keluar dari sini sekarang."
Reyhan menggendong Alena di depan dan menarik kerah baju Gilang yang pingsan dengan satu tangan lainnya.
Beban dua manusia itu sangat berat, namun dorongan adrenalin dan sistem ketahanan fisiknya membuat Reyhan terus melangkah maju.
Krak! Duar!
Sebagian atap studio akhirnya runtuh dan jatuh tepat di tengah panggung yang mereka tinggalkan beberapa detik lalu.
Puing-puing berjatuhan menimbulkan suara gemuruh yang mengerikan.
Reyhan terus berjalan menuju pintu besi keluar yang terlihat semakin kabur karena asap.
"Sedikit lagi."
Sepuluh meter. Lima meter. Dua meter.
Brak!
Reyhan menendang pintu besi itu hingga terbuka lebar dan mereka semua akhirnya jatuh terguling ke luar gedung.
Hah... hah... hah.
Udara malam yang dingin dan segar langsung mengisi paru-paru mereka yang sempat terbakar asap.
Reyhan berbaring telentang di atas tanah berdebu, menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
Napasnya memburu sangat cepat dan seluruh ototnya terasa seperti mau putus.
Alena yang berada di sebelahnya mulai terbatuk-batuk keras dan perlahan membuka ikatan kain di wajahnya.
"Kita... kita berhasil keluar," ucap Alena dengan suara serak namun penuh kelegaan.
Reyhan menoleh ke arah Alena dan memaksakan sebuah senyuman tipis.
"Aku sudah bilang, aku tidak akan membiarkan pertunjukan ini berakhir dengan kita sebagai korbannya."
Di sisi lain, Gilang masih terbaring pingsan dengan napas yang sangat lemah.
Sutradara gila itu akhirnya berhasil ditaklukkan tanpa Reyhan harus menjadi seorang pembunuh.
Ngiung! Ngiung! Ngiung!
Suara sirene kembali terdengar memecah kesunyian malam dari arah jalan utama.
Namun kali ini bukan hanya mobil polisi yang datang.
Tiga buah mobil pemadam kebakaran, belasan mobil ambulans, dan beberapa mobil van liputan stasiun televisi ikut berdatangan.
Kania keluar dari salah satu mobil liputan itu dan berlari menerjang ke arah Reyhan.
"Reyhan! Detektif Alena!" teriak Kania dengan wajah yang bercucuran air mata.
Kania langsung berlutut di samping Reyhan dan Alena dengan perasaan lega yang luar biasa.
"Kalian masih hidup, syukurlah kalian masih hidup."
"Bagaimana situasi di luar, Nona Jurnalis?" tanya Reyhan dengan sisa tenaganya.
Kania tersenyum lebar sambil menunjuk ke arah iring-iringan mobil di belakangnya.
"Kita menang, Reyhan."
"Artikel tentang Yayasan Pelita Hati sudah dikonfirmasi oleh KPK lima menit yang lalu."
"Brigjen Surya dan beberapa jenderal kotor lainnya sudah ditangkap oleh tim internal khusus."
"Dan aku sudah menyiarkan secara langsung keberadaan kita di studio ini agar polisi bersih dan medis segera datang."
Reyhan menutup matanya dan menghela napas yang sangat panjang.
Permainan gila yang menguras darah dan air mata ini akhirnya benar-benar menemui titik terang.
Beban berat yang selama ini menekan pundaknya sebagai Aktor Kematian perlahan terangkat.
Namun, di tengah rasa damai yang baru saja ia rasakan, suara sistem kembali berbunyi di kepalanya.
[Ding! Syarat lokasi aman telah terpenuhi.]
[Memulai Proses Evolusi Sistem Pemeran Penjahat Profesional...]
Reyhan membuka matanya kembali.
Cerita tentang pembunuh bertopeng mungkin sudah usai malam ini.
Tapi cerita tentang dirinya dan sistem aneh ini sepertinya baru saja membuka babak yang baru.