Indonesia
NovelToon NovelToon
Balas Dendam Sang Mawar Hitam

Balas Dendam Sang Mawar Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.

Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.

Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.

Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.

Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.

Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.

Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi Ke Markas The Raven

Suasana ruang makan pagi itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela besar, menerangi meja makan yang sudah dipenuhi berbagai hidangan. Aroma kopi, roti panggang, dan makanan hangat memenuhi ruangan, menciptakan suasana pagi yang nyaman.

Elena duduk dengan tenang di salah satu sisi meja. Ia menikmati sarapannya dengan keheningan yang terasa begitu langka.

Ini pertama kalinya setelah beberapa hari, ia bisa makan tanpa harus mendengar komentar menyebalkan.

Ya, Viona dan keluarganya sudah pulang.

Artinya, Elena tidak perlu lagi mendengar sindiran wanita itu setiap kali mereka berada di ruangan yang sama. Tidak ada tatapan merendahkan, tidak ada ucapan menyakitkan yang sengaja dilontarkan untuk memancing emosinya.

Elena menghembuskan napas lega. "Rasanya jauh lebih tenang," gumamnya pelan. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis.

Setidaknya, selama Viona tidak ada, ia bisa menikmati hari-harinya dengan lebih nyaman.

Tapi, ketenangan itu tidak sepenuhnya sempurna. Elena melirik pria yang duduk di sampingnya.

Leon sedang menikmati sarapannya dengan wajah datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Pria itu bahkan tidak menoleh padanya.

Elena menghela napas. "Yah... Kalau hanya Leon, setidaknya masih bisa ku tahan," batinnya. Ia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.

Meski Leon sering bersikap dingin, menyebalkan, dan gemar melontarkan kalimat-kalimat tajam, setidaknya pria itu tidak merendahkannya.

Elena kembali menikmati sarapannya.

Pagi itu sederhana. Tidak ada pertengkaran maupun suara sindiran.

Hanya keheningan yang sesekali diisi suara peralatan makan dan percakapan ringan dari orang-orang di sekitar mereka.

Dan untuk sementara, Elena merasa cukup tenang.

Ya, hanya sementara. Karena, ketenangan itu ternyata tidak berlangsung lama.

Leon yang sejak tadi hanya menikmati sarapannya dalam diam tiba-tiba membuka suara.

"Setelah ini, aku akan mengajak Elena ke markas."

Elena seketika menghentikan gerakan tangannya. Ia mengangkat wajah dan menoleh ke arah Leon.

Victor dan Maria pun melakukan hal yang sama.

"Kenapa tiba-tiba ingin mengajak Elena ke markas, Leon?" tanya Maria. Nada suaranya terdengar khawatir. "Kamu tahu sendiri dia masih terluka."

Daniel yang duduk tidak jauh dari mereka langsung menyahut. Seperti biasa, selalu ada nada mengejek dalam ucapannya.

"Kenapa tiba-tiba, Kak? Atau jangan-jangan..." Daniel menyeringai tipis. "Kakak ingin memancing musuh dengan menggunakan kakak ipar sebagai umpan?"

Mata Maria langsung melebar. "Leon, apa itu benar?"

Leon menghela napas panjang. Tatapannya beralih kepada Daniel sekilas sebelum kembali pada makanannya.

"Aku tidak akan melakukan hal seperti itu." Kemudian, ia melirik Elena.

"Aku hanya tidak ingin dia bosan terus berada di rumah."

Victor yang sejak tadi diam akhirnya ikut angkat bicara.

"Meskipun dia istrimu, dia tetap orang luar." Tatapannya beralih kepada Elena.

"Dan lagi, dia hanya seorang wanita biasa. Apa yang ingin kamu tunjukkan kepadanya di markas?"

Elena mengepalkan tangannya di atas pangkuan.

Ucapan Victor jelas merendahkannya, tetapi ia memilih diam. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya Leon rencanakan. Namun, jika pria itu benar-benar membawanya ke markas The Raven, mungkin saja kesempatan itu bisa membawanya lebih dekat pada sesuatu yang selama ini ia cari.

Elena akhirnya menatap Leon sejenak. Kemudian, ia berkata dengan tenang, "Aku tidak keberatan ikut ke markas."

Semua mata langsung tertuju padanya.

"Aku janji tidak akan mengganggu pekerjaanmu, Leon. Aku hanya ingin melihat-lihat."

Maria menatap Elena dengan tatapan tidak percaya. "Elena, apa kamu tahu apa yang kamu katakan? Markas The Raven bukan tempat untuk jalan-jalan."

"Tidak apa-apa, Nyonya." Elena tersenyum tipis. "Saya hanya ingin melihat seperti apa tempat kalian bekerja."

Victor terkekeh pelan dengan senyum sinis yang terukir di wajahnya.

"Terserah." Ia kembali menikmati sarapannya sebelum menambahkan dengan nada dingin, "Tapi, jangan salahkan kami jika sesuatu terjadi padamu."

Elena menundukkan kepalanya. Tidak ada yang menyadari senyum samar yang muncul di sudut bibirnya.

Jika mereka mengira dirinya hanya ingin melihat-lihat, biarlah. Justru itulah yang ia inginkan. Ini adalah kesempatan untuk masuk ke markas The Raven tanpa harus membuat curiga siapa pun.

Di sisi lain, Leon hanya melirik Elena dari sudut matanya dengan tatapan menyipit. "Pilihan yang salah," batinnya.

Entah Elena menyadarinya atau tidak, markas The Raven bukanlah tempat yang bisa ia masuki lalu keluar dengan mudah.

***

Di perjalanan, tidak ada yang mengeluarkan suara.

Sean fokus mengemudi, sesekali melirik Leon dan Elena dari kaca spionnya.

Leon terlihat diam sambil memeriksa laporan pembelian senjata. Sementara, Elena menatap ke luar jendela. Kedua tangannya saling meremas di atas pengakuan. Jantungnya berdetak kencang.

Tapi, bukan karena takut, melainkan ia sudah tidak sabar.

Di tengah keheningan, tiba-tiba ponsel Elena berbunyi. Tanda sebuah notifikasi pesan masuk.

Leon sempat melirik sekilas, sebelum kembali fokus pada pekerjaannya. Sedangkan, Elena membaca pesan itu dalam diam. Sedetik kemudian, sudut bibirnya terangkat tipis, nyaris tidak terlihat.

Tidak berapa lama, mobil mereka berhenti.

Elena menurunkan kaca jendela, menatap bangunan yang ada di sampingnya

Markas The Raven berdiri jauh dari keramaian, tersembunyi di balik kawasan industri tua yang nyaris tidak pernah didatangi siapa pun.

Dari luar, bangunan itu tampak seperti gudang tua yang sudah lama ditinggalkan. Dinding-dindingnya kusam, sebagian dipenuhi lumut, sementara beberapa jendela tertutup rapat oleh teralis besi. Tidak ada papan nama. Tidak ada tanda bahwa tempat itu masih digunakan.

Sean turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Leon dan Elena.

Wanita itu diam beberapa saat, memperhatikan sekitar dengan waspada.

"Kenapa diam? Kamu takut?" sindir Leon tiba-tiba. "Seperti yang Mommy katakan, ini bukan tempat untuk jalan-jalan. Jadi, sudah tidak ada jalan untuk kembali jika kamu berubah pikiran."

Elena tersenyum tipis. "Di sini tidak ada siapapun. Jadi, aku tidak akan berpura-pura lagi." Elena menatap Leon. "Aku tidak takut."

Wajah Leon berubah masam. "Semoga saja."

Leon berjalan lebih dulu, diikuti Elena yang mengekor di belakang.

Saat mereka melewati pintu besi utama, suasananya berubah seketika.

Udara lembap langsung menyergap. Lorong panjang terbentang di depan, diterangi lampu-lampu redup yang beberapa di antaranya berkedip tanpa henti. Dinding beton yang dingin tampak basah, meninggalkan jejak air yang perlahan merembes hingga ke lantai.

Bau anyir memenuhi udara. Bukan bau yang bisa dengan mudah dijelaskan.

Ada aroma besi yang menusuk hidung, bercampur dengan kelembapan, asap rokok, dan sesuatu yang membuat tenggorokan terasa tercekat.

Bagi orang yang tidak terbiasa dengan dunia gelap, aroma itu saja sudah cukup untuk menimbulkan rasa mual.

Suara tetesan air terdengar menggema di sepanjang lorong, menciptakan kesan seolah ada sesuatu yang sedang mengawasi dari balik kegelapan.

Tidak ada suara tawa maupun percakapan santai.

Orang-orang yang ada lorong hanya saling melirik sekilas sebelum kembali melakukan pekerjaan mereka. Sebagian mengenakan pakaian serba hitam dengan senjata terselip di balik jaket.

Wajah mereka dingin. Tidak ada satu pun yang terlihat ramah.

Semakin jauh masuk ke dalam, semakin terasa bahwa tempat itu bukanlah markas organisasi biasa.

Di beberapa sudut terdapat pintu-pintu besi tanpa tanda. Sebagian terkunci rapat, sementara dari balik salah satunya terdengar suara samar yang membuat bulu kuduk meremang.

Di sisi lain, beberapa meja dipenuhi dokumen, senjata, dan peralatan yang tidak seharusnya berada di tempat biasa.

Semua terasa asing dan mengancam. Seolah-olah dinding-dinding bangunan itu menyimpan terlalu banyak rahasia untuk dibiarkan keluar.

Bagi anggota The Raven, tempat itu adalah rumah. Tapi, bagi orang awam, tempat itu terasa seperti pintu menuju dunia yang seharusnya tidak pernah mereka masuki.

Dan, ini pertama kalinya Elena melangkahkan kakinya masuk ke markas suatu organisasi. Tapi, ia tidak takut karena ia terbiasa dengan suasana seperti ini. Bahkan, lebih mengerikan.

"Sebenarnya, apa tujuanmu mengajakku ke sini?" tanya Elena tiba-tiba.

Langkah Leon terhenti. Ia menaikkan sudut bibirnya sebelum berbalik menatap Elena.

"Menurutmu?"

1
Kustri
pengen'a kasih yg hitam spy sesuai... sayang'a gk ada🌹
+44
bentar lagi.. aku mencintaimu 🌚
Alissia
cemburu bilang dong jangan di geden gengsinya🤣🤣
Kustri
☕lah thor biar kalap UP'a😉
🇦 🇵 🇷 🇾👎
bucin lho kn cmbr kn😃
🇦 🇵 🇷 🇾👎: bnr😫😫😫
total 2 replies
Kustri
cemburu bilang boss! 🤣
💖💖💖
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Gengsi keknya, kak🤭
total 1 replies
Kustri
eummm.... ternyata leon bukan anak kandung victor
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Iyesss
total 1 replies
🇦 🇵 🇷 🇾👎
cp kh mrk
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Coba tebak!😌
total 1 replies
Kustri
owh owh siapa diaaa....
nyogok biar dobel up🤭
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Hari ini, udah q kasih double 😌
total 1 replies
Kustri
mgkin benar the reavan pelaku'a 20th yg lalu leon umur brp🤔
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Gak jauh sama Si El
total 1 replies
Kustri
siapa yg ngasih senjata ke elena!
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Aq/Grin/🤭
total 1 replies
Kustri
mgkin maria dijodohkan & daniel anak kekasih victor🤔
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Bukan gitu 🤧
total 1 replies
Kustri
itu viona apa perawan tua? apa dia gk ada kerjaan lain? apa gk punya tmpt tinggal?
huh benalu menyusahkan👊
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Dia udah berkeluarga 😃. Habis pesta, makanya nginep dulu di rumah mas Piktor🤭
total 1 replies
Kustri
wkwkkkk... kau laki" sejati, gk mgkin akan melewatkan itu🤣🤣🤣
Kustri
tenang leon bs jd el akan membantumu dlm sgl hal
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Atau, sebaliknya 😃
total 1 replies
Kustri
betul kata leon, qu jg bertanya" dr mana keahlian el didpt klo sehari" ada dipanti... tlg beri penjelasan sedikit thor mgkin 1 part u/perjalanan el🥺
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Belum ada penjelasan, tapi udah ada dugaan kalau identitas di palsukan 😌
total 1 replies
Kustri
eummm... daniel si munaf, serakah & pecundang👊👊👊
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next
🇦 🇵 🇷 🇾👎
sk crtvny
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Thankiyu, kak 💜
total 1 replies
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!