Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Srek.
Marko menutup resleting dua buah tas ransel kanvas berukuran sangat besar yang sudah terisi penuh.
"Sepuluh AK-47 dan lima ribu butir peluru tajam kaliber tujuh koma dua enam sudah siap Tuan Raka."
Raka melempar tas ransel sisanya yang berisi sisa uang lima ratus juta rupiah ke atas meja besi.
"Bagus Bang Marko, senang berbisnis dengan pedagang jujur seperti Anda."
Raka memanggul dua tas ransel berat itu di kedua bahunya seolah itu bukan beban yang berarti.
Ia berjalan keluar dari peti kemas merah itu dan kembali menuju mobil Range Rover putihnya yang terparkir jauh.
Setelah memasukkan tas-tas mematikan itu ke dalam bagasi, Raka langsung melajukan mobilnya kembali ke gudang industri.
Tiba di gudang, Raka langsung membuka sistem penyimpanannya.
"Simpan dua tas ransel ini ke dalam sistem," perintah Raka.
Wush.
Dua tas ransel besar itu lenyap seketika masuk ke dalam ruang gaib.
[Barang berhasil dimasukkan. Kapasitas Terisi: 2.5 Meter Kubik]
Raka tidak membuang waktu dan langsung memanggil gerbang dunianya.
Sring.
Celah cahaya terbuka dan Raka melangkah mantap menuju desa kuno yang sedang bersiap menghadapi kiamat kecil.
Pagi menyapa desa kuno saat Raka muncul kembali di alun-alun.
Karta dan Boris sedang membagi tugas jaga untuk warga desa ketika melihat kemunculan Raka.
"Tuan Dewa Raka sudah kembali!" seru Boris berlari mendekat.
"Boris, kumpulkan delapan pemuda desa yang matanya paling tajam dan tangannya paling stabil."
Raka memberi perintah tanpa basa-basi sambil berjalan menuju area kosong di dekat tembok beton.
"Karta, kau dan Boris juga ikut masuk ke dalam barisan delapan pemuda itu."
Karta dan Boris saling berpandangan bingung tapi langsung menuruti perintah tersebut.
Tidak lama kemudian sepuluh orang pria sudah berdiri berjajar rapi di hadapan Raka.
"Keluarkan dua tas ransel dari sistem," batin Raka.
Bruk.
Dua tas kanvas berat jatuh ke tanah membuat sepuluh pria di depan Raka melompat kaget.
Raka membuka resleting tas itu dan mengeluarkan senapan serbu AK-47 yang terbuat dari baja dan kayu keras.
Logam hitam pekat dari senapan itu memantulkan cahaya matahari pagi yang dingin.
"Ini adalah Tongkat Petir Penembus Baja dari alam dewaku," ucap Raka mengangkat senjata itu tinggi-tinggi.
Mata warga desa membelalak melihat bentuk senjata yang sangat aneh dan belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.
"Benda ini tidak butuh ayunan tenaga otot seperti pedang atau tombak kalian."
Raka memasukkan magasin peluru ke dalam senapan itu dengan suara klik yang tajam.
Klik.
Ia mengarahkan laras senapan itu ke arah sebuah batang pohon kelapa yang berjarak lima puluh meter.
"Kalian cukup menekan pelatuk kecil ini, dan petir logam akan keluar menghancurkan apapun di depannya."
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan senapan mesin itu memekakkan telinga seluruh penduduk desa.
Batang pohon kelapa yang tebal itu langsung berlubang besar dan hancur berkeping-keping.
Jeritan ketakutan terdengar dari mulut para warga desa dan beberapa pemuda di barisan depan langsung jatuh terduduk.
"Ya ampun! Suaranya seperti guntur dari langit!" teriak Boris menutup kedua telinganya.
Karta sampai gemetar hebat melihat kerusakan parah pada pohon tebal yang biasanya butuh waktu seharian untuk ditebang itu.
"Ini... ini benar-benar sihir penghancur dari dewa," gumam Karta dengan wajah pucat pasi.
Raka menurunkan senapannya dan tersenyum melihat reaksi panik mereka yang sudah ia tebak dari awal.
"Sekarang ambil masing-masing satu tongkat petir ini dan aku akan mengajari kalian cara menggunakannya."
Sepuluh pria itu maju dengan ragu-ragu dan mengambil senapan mematikan itu dengan tangan yang sangat gemetar.
Selama dua hari berikutnya desa itu dipenuhi oleh suara tembakan yang tidak ada henti-hentinya.
Ratatatata! Dor! Dor!
Raka melatih mereka cara memegang senjata, menahan hentakan mundur, dan membidik sasaran dengan tepat.
Pemuda desa yang terbiasa melempar tombak ternyata punya insting membidik yang cukup bagus.
Dalam waktu singkat mereka sepuluh orang sudah bisa menembak target diam dengan cukup akurat dari jarak jauh.
Boris bahkan terlihat sangat menyukai senjata itu dan terus mengelus laras kayunya sambil tertawa serakah.
"Dengan tongkat ini aku bisa membunuh harimau dari jarak jauh tanpa perlu lari ketakutan lagi," bangga Boris.
"Jangan gunakan peluru ini sembarangan Boris, kita cuma punya lima ribu butir untuk menghadapi pasukan kerajaan," tegur Raka tajam.
Hari ketiga yang dijanjikan akhirnya tiba membawa awan mendung kelabu di langit desa.
Suara terompet kulit kerang terdengar sayup-sayup dari arah jalan setapak di perbukitan luar hutan.
Tuut tuuut.
Lin berlari menghampiri Raka yang sedang duduk di atas tembok beton mengamati keadaan sekitar.
"Tuan Dewa, pasukan kerajaan sudah terlihat di bukit seberang, jumlah mereka sangat banyak," lapor Lin dengan napas tersengal.
"Bagus, suruh sepuluh penembak jitu kita naik ke atas tembok sekarang juga," perintah Raka berdiri perlahan.
Raka memegang satu senapan AK-47 di tangannya dan menatap ke arah gerbang kayu besar desa.
Dari kejauhan ratusan prajurit berbaris rapi menuju desa dengan langkah kaki yang bergemuruh.
Bruk bruk bruk.
Mereka memakai baju zirah yang terbuat dari kepingan besi kasar dan membawa perisai kayu berlapis tembaga.
Tombak-tombak panjang mereka menjulang ke udara memantulkan cahaya dari balik awan mendung.
Di barisan paling depan, seorang jenderal besar berkuda memimpin pasukan itu dengan wajah sangat arogan.
Jenderal itu memakai zirah perak penuh yang terlihat jauh lebih mahal dan kuat dari prajurit biasa.
Pasukan kerajaan itu berhenti sekitar seratus meter di depan tembok beton abu-abu milik desa Karta.
Jenderal berkuda itu menatap tembok beton tersebut dengan dahi berkerut keras.
"Tembok batu abu-abu yang sangat rata dan tinggi? Sejak kapan desa rendahan ini punya arsitek hebat?" gumam jenderal itu kebingungan.
Tapi kebingungan itu tidak menyurutkan niatnya untuk merampas apapun yang ada di dalam desa ini.
"Hei kalian para penduduk desa bodoh! Buka gerbangnya sekarang juga!" teriak jenderal itu dari atas kudanya.
Suaranya menggema memecah kesunyian desa yang warganya sedang bersembunyi ketakutan di dalam rumah.
Raka melongokkan kepalanya dari atas tembok tepat di atas gerbang kayu desa.
"Desa ini sedang tutup untuk kunjungan tamu yang tidak diundang Jenderal!" balas Raka berteriak santai.
Jenderal itu mendongak dan melihat seorang pemuda berpakaian sangat aneh membalas teriakannya.
"Siapa kau bocah kurus? Mana Kepala Desa Boris dan si tua Karta yang katanya punya ginseng pusaka itu?"
"Aku adalah pelindung tempat ini Jenderal, kalau kau mau masuk kau harus bayar tiket dulu."
Jenderal itu tertawa keras meremehkan ucapan Raka dan mencabut pedang besarnya dari sarung.
Sring.
"Aku adalah Jenderal Barata dari pasukan inti kota! Aku tidak butuh izin untuk memenggal kepalamu!"
Barata mengarahkan pedangnya ke arah gerbang kayu yang baru saja selesai dibuat oleh para bandit tawanan.
"Pasukan! Maju dan hancurkan gerbang kayu lapuk itu! Bunuh semua pria dan jadikan wanitanya budak kita!" perintah Barata kejam.
Ratusan prajurit bersorak sorai dan langsung berlari berhamburan menyerbu ke arah gerbang desa.
Aaaaargh!
Suara teriakan perang pasukan kerajaan itu terdengar sangat mengerikan dan mengintimidasi.
Di atas tembok beton sepuluh penembak jitu desa yang dipimpin oleh Boris mulai berkeringat dingin melihat ratusan musuh datang.
"T-Tuan Dewa, mereka terlalu banyak! Zirah besi mereka terlihat sangat tebal," ucap Boris gemetar memegang senapannya.
"Jangan takut pada kaleng sarden berjalan itu Boris."
Raka mengokang senjata AK-47 miliknya dengan suara klik yang sangat mantap dan tenang.
"Arahkan moncong senjata kalian ke dada mereka, jangan tembak kepalanya karena terlalu sulit dibidik."
Karta menempelkan popor senapan ke bahunya dan membidik salah satu prajurit yang berlari paling depan.
"Tunggu perintah dariku, biarkan mereka masuk ke jarak lima puluh meter agar pelurunya tidak meleset," intruksi Raka.
Jarak ratusan prajurit itu semakin dekat dan suara derap langkah mereka membuat tanah bergetar pelan.
Tujuh puluh meter.
Enam puluh meter.
Lima puluh meter.
"Tembak mereka semua!" teriak Raka menarik pelatuk senapannya.
Dor! Dor! Dor! Ratatatata!
Sebelas pucuk senapan otomatis memuntahkan ratusan peluru tajam secara bersamaan dari atas tembok beton.
Kilatan api keluar dari moncong laras senapan menciptakan hujan peluru mematikan yang tidak pernah ada dalam sejarah dunia ini.