Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Keheningan yang sangat mencekam menyelimuti seluruh arena Kolam Lahar Maut siang itu.

Semua pasang mata menatap Gibran dengan rasa tidak percaya yang berbaur dengan ketakutan absolut.

Master Tong yang masih duduk di lantai dengan kaki melepuh menatap Gibran dengan wajah merah padam.

Harga dirinya sebagai naga dari Thailand hancur lebur di depan ratusan mafia elit dunia.

"Kau menyuruhku memotong kepalaku sendiri bocah tengik?!" bentak Master Tong dengan urat leher yang nyaris pecah.

"Aku adalah dewa di negaraku, tidak ada satu pun orang yang berani menyuruhku mati!" teriaknya meronta bangkit berdiri.

Tuan Besar Surya hanya diam melipat tangannya di dada tanpa berniat menghentikan keributan tersebut.

Ia justru berharap Master Tong bisa melenyapkan Gibran dengan cara kotor saat pemuda itu lengah.

Sring.

Sebuah pisau belati beracun meluncur dari balik lengan baju Master Tong langsung ke telapak tangannya.

Pria bertato itu memaksakan kakinya yang melepuh untuk melompat menerjang punggung Gibran yang sedang berbalik arah.

Wush.

"Mati kau anak haram!" teriak Master Tong menusukkan belati beracun itu tepat ke arah jantung Gibran dari belakang.

Aurel yang melihat serangan pengecut itu langsung menjerit histeris.

"Gibran awas di belakangmu!" jerit Aurel dengan wajah sepucat kertas.

Namun Gibran sama sekali tidak terlihat panik atau terkejut.

[Analisis Titik Vital Musuh aktif.]

[Arah serangan terbaca. Titik buta musuh berada di leher sebelah kiri.]

Bahkan sebelum belati itu berjarak satu sentimeter dari punggung jasnya, Gibran sudah memutar tubuhnya dengan kecepatan kilat.

Trak.

Gibran menangkap pergelangan tangan Master Tong dengan sangat mudah seolah ia sedang menangkap daun kering yang jatuh.

Krek.

Suara tulang patah terdengar sangat nyaring saat Gibran memelintir tangan berotot itu hingga berputar seratus delapan puluh derajat.

"Aaaargh!"

Jerit Master Tong memuntahkan ludah karena rasa sakit yang tidak tertahankan.

Belati beracun itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai beton arena.

Gibran menatap pria raksasa di depannya dengan mata yang jauh lebih mematikan daripada lahar di kolam sana.

"Kau tidak punya kehormatan untuk mati menggunakan senjatamu sendiri Tuan Bertato."

Bugh.

Gibran mendaratkan tendangan lututnya tepat ke dada Master Tong dengan kekuatan monster.

Tulang rusuk pria itu hancur seketika dan tubuh besarnya terpental jauh ke udara melompati bibir arena.

Byur.

Tubuh Master Tong jatuh tepat ke tengah kolam lahar yang mendidih dengan suhu ratusan derajat celcius.

Jeritan kematian yang sangat mengerikan menggema selama dua detik sebelum akhirnya tubuh pria itu hangus tak bersisa ditelan lahar.

Bluk bluk.

Hanya gelembung lahar yang tersisa menandakan bahwa naga pertama dari Sembilan Naga telah resmi musnah dari muka bumi.

Ratusan elit mafia dan delapan naga yang tersisa langsung menelan ludah dengan keringat dingin yang mengucur deras.

Mereka akhirnya menyadari bahwa pemuda tampan ini bukanlah manusia normal, melainkan iblis pencabut nyawa yang sebenarnya.

Aurel menghembuskan napas lega yang luar biasa sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang.

Gibran merapikan jasnya dan menatap Tuan Besar Surya dengan senyum merendahkan.

"Satu ekor kadal sudah kembali ke habitat asalnya Tuan Surya."

"Keluarkan permainan ronde keduamu sekarang juga sebelum aku bosan dan menghancurkan pulau ini," tantang Gibran tanpa ampun.

Urat di dahi Surya berkedut hebat menahan amarah karena naga sewaannya dibunuh dengan sangat mudah di depan matanya.

"Jangan sombong dulu Gibran, kemampuan fisikmu tidak akan berguna di ronde kedua ini!" bentak Surya menggebrak pagar pembatas.

Surya memberikan isyarat kepada panitia untuk menyingkirkan kolam lahar dan membawa masuk meja baja berukuran panjang.

Di atas meja baja itu, terdapat kotak kayu tertutup yang hanya memiliki dua lubang kecil seukuran pergelangan tangan manusia.

"Ronde kedua adalah Ukiran Pisau Buta!" teriak Surya mengumumkan nama tantangannya.

"Kalian harus memasukkan kedua tangan ke dalam lubang kotak gelap itu dan mengukir sebongkah batu giok mentah menggunakan pisau presisi."

"Tidak ada celah cahaya sedikit pun, kalian hanya mengandalkan indra peraba untuk membuang kulit batu dan membentuk ukiran naga yang indah!" lanjutnya.

Barang siapa yang merusak inti giok atau gagal membentuk ukiran dalam waktu sepuluh menit akan langsung dieksekusi mati di tempat.

Seorang pria paruh baya berkepala plontos asal Jepang melangkah maju dari barisan delapan naga yang tersisa.

"Biar aku Master Kenji yang menghancurkan bocah sombong ini Tuan Surya," ucap pria plontos itu menatap tajam ke arah Gibran.

"Teknik ukiran buta adalah keahlian mutlak dari klan samurai pemahat giokku selama seratus tahun terakhir."

Gibran hanya tertawa pelan mendengarkan bualan kosong dari master Jepang tersebut.

Hahahaha.

"Kalau begitu tunjukkan teknik samuraimu itu Pak Tua, aku ingin melihat seberapa tajam pisaumu di dalam kegelapan."

Gibran dan Master Kenji berdiri berhadapan di dua meja baja yang berbeda dengan kotak gelap di depan mereka.

Seorang panitia meletakkan sebongkah batu giok kasar ke dalam masing masing kotak tersebut lalu menguncinya dari luar.

Klik.

"Waktu kalian sepuluh menit dimulai dari sekarang!" teriak Surya sambil menekan tombol layar hitung mundur raksasa.

Master Kenji langsung memasukkan kedua tangannya ke dalam lubang kotak dan mulai menggerakkan pisau ukirnya dengan kecepatan gila.

Srek srek srek.

Suara gesekan pisau dan serpihan batu terdengar sangat konstan dan berirama dari dalam kotak kayu milik Master Kenji.

Pria plontos itu memejamkan matanya berkonsentrasi penuh merasakan setiap serat material melalui ujung pisaunya.

"Luar biasa, kecepatan tangannya tidak berkurang sama sekali meski tidak bisa melihat bentuk batunya!" puji seorang bos mafia dari kursi penonton.

Di sisi lain, Gibran sama sekali belum memasukkan tangannya ke dalam kotak kayu tersebut.

Ia hanya berdiri diam melipat tangan di dada sambil menatap kotak itu dengan pandangan mata yang bersinar magis.

[Deteksi Struktur Material Level 1 diaktifkan secara maksimal.]

[Memindai komposisi kepadatan batu di dalam kotak. Menemukan inti giok biru laut dengan tiga lapisan kalsium keras sebagai pelindung luarnya.]

Gibran tersenyum tipis setelah sistemnya memetakan bentuk tiga dimensi dari batu tersebut langsung ke dalam layar otaknya.

Ia baru memasukkan kedua tangannya ke dalam lubang kotak saat waktu hitung mundur hanya tersisa dua menit lagi.

"Hahaha! Pemuda udik itu pasti sudah menyerah karena ketakutan! Dia membuang waktu delapan menit secara cuma cuma!" ejek salah satu naga dari Tiongkok.

Tuan Besar Surya menyeringai lebar merasa kemenangan mutlak sudah berada di dalam genggamannya.

Namun saat tangan Gibran mulai bergerak di dalam kotak, suara yang keluar bukanlah gesekan pisau ukir yang pelan dan berirama.

Wush wush krak.

Gibran tidak memahat batu itu secara perlahan, ia menebas dan memotong bongkahan kalsium itu dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Pisau di tangannya bergerak seperti kilat yang menyambar liar membantai setiap lapis kulit kotor batu tersebut tanpa ampun.

"Waktu habis! Hentikan pekerjaan kalian!" teriak Surya tepat sebelum angka di layar menunjukkan nol besar.

Teng teng teng.

Panitia segera mendekat dan membuka kunci tutup bagian atas kotak gelap milik Master Kenji terlebih dahulu.

Sorak sorai meriah langsung meledak saat panitia mengangkat sebuah ukiran giok putih berbentuk naga melingkar yang sangat detail.

"Sempurna! Sisik naganya terukir dengan sangat rapi tanpa merusak bagian inti giok putihnya sama sekali!" puji Surya dengan suara lantang ke arah penonton.

Master Kenji mengangkat dagunya tinggi tinggi menatap Gibran dengan pandangan penuh kemenangan dan rasa superior.

"Ini adalah seni tingkat dewa yang tidak akan pernah bisa dicapai oleh pemuda kampung sepertimu walau kau berlatih seribu tahun," sombong Kenji.

Gibran hanya memiringkan kepalanya dengan gaya sangat santai dan meremehkan.

"Seni tingkat dewa kau bilang? Ikan lele peliharaanku di kolam desa punya sisik yang lebih tajam dari patung kadalmu itu Pak Tua."

Panitia kemudian berjalan gemetar untuk membuka bagian atas kotak kayu milik Gibran yang sejak tadi terus diolok olok penonton.

Namun saat tutup kotak itu terbuka, sebuah cahaya biru laut yang sangat lembut dan menyejukkan memancar keluar menyapu wajah sang panitia. Sring.

Panitia itu langsung jatuh terduduk di lantai dengan mulut menganga lebar dan mata terbelalak sempurna menatap isi kotak tersebut.

Bruk.

Tuan Besar Surya yang merasa janggal langsung berjalan cepat menghampiri meja Gibran dan melihat ke dalam kotaknya.

Napas Surya seketika terhenti dan jantung tuanya seolah ditikam oleh ribuan jarum es dari dalam dada.

Di dalam kotak itu tidak terdapat patung naga tunggal biasa seperti karya andalan milik Master Kenji.

Gibran telah mengukir sembilan ekor naga yang saling melilit memperebutkan sebuah bola mutiara di tengahnya hanya dari satu bongkahan batu utuh.

Setiap sisik, setiap cakar tajam, dan setiap helai kumis naga itu terukir dengan tingkat mikroskopis yang mustahil dilakukan manusia menggunakan pisau manual.

"S-sembilan naga berebut mutiara giok? B-bagaimana mungkin kau mengukir kerumitan tingkat ini dalam waktu dua menit di dalam kegelapan mutlak!" teriak Master Kenji merangsek maju menabrak meja.

Kaki Master Kenji langsung lemas tak bertulang dan pria plontos itu jatuh berlutut meratapi kekalahannya yang sangat tragis dan menyedihkan.

Seni ukiran klan samurai yang ia banggakan selama puluhan tahun hancur lebur berkeping keping di hadapan pemuda muda dari tanah seberang.

"Dewa ukir yang sesungguhnya telah turun ke bumi! Kami semua hanyalah sekumpulan anak TK yang sedang bermain plastisin di depannya!" isak Master Kenji menangis histeris. Kekalahan mutlak yang sangat memalukan kembali menghantam kubu Asosiasi Nasional dengan telak malam itu.

Gibran menarik tangannya dari dalam kotak baja dan menatap Tuan Besar Surya yang wajahnya sudah sepucat mayat hidup.

"Naga keduamu baru saja menangis mengakui kelemahannya secara terbuka Tuan Surya."

"Cepat eksekusi kepalanya dan lanjutkan ke ronde pamungkas sekarang juga, karena waktu tidur siang Nona Aurel sudah terlewat banyak," perintah Gibran dengan dominasi absolut layaknya seorang kaisar tunggal.

1
nadymaddy
💚💟
setiawan
🤩🥳
nurul khusna
🌹🥳
fitri
semangat gibran🥰
pricilia
seru banget🥰
gofur
sangat menarik ingin cepat di lanjutkan crita nya
sasa
💕💋
yani
🥳🥳
samuel df
mantap kaka 😘
clara
mantap
DD
bab ini diulang ya Thor 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!