Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.
Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.
Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.
pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.
Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.
takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan
Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan di restoran
Hari pertama hidup di bawah aturan Takumi Kurosawa... dan Rin sudah merasa ingin menyerah. akhirnya gadis itu meraih kain pel dengan kesal, lalu menghantamkannya ke lantai.
Ia menggosok lantai dengan gerakan kasar. Air kotor yang menyebar tadi perlahan kembali terserap ke dalam serat kain pel.
“Bangun pagi-pagi disuruh bersihin kamar. Cuci ini, cuci itu. Sekarang ngepel malah begini!”
Rin terus mengomel seorang diri, mengisi kekosongan rumah yang sepi.
“Kalau bukan karena orang itu...”
Tangannya berhenti bergerak sebentar. Ia teringat wajah Takumi yang menatapnya datar dari balik kacamata pelindung.
“Dasar tukang atur!”
Dengan wajah yang masih cemberut, Rin kembali menggosok lantai. Kali ini bertenaga dan lebih kuat.
Sampai akhirnya...
Beberapa waktu kemudian, seluruh kekacauan di kamar itu benar-benar berhasil dibereskan.
Lantai sudah bersih mengilap. Tempat tidur sudah dirapikan terpasang rapi dengan sprei baru. Sarung bantal telah diganti, dan gorden wangi sudah terpasang kembali menghalau terik matahari. Bahkan aroma menyegarkan dari sabun lantai masih memenuhi setiap sudut ruangan.
Rin memandang sekeliling dengan wajah lelah.
“...Akhirnya.”
Ia menjatuhkan kedua bahunya yang terasa pegal luar biasa. Kamar yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya dari dunia luar kini terlihat begitu berbeda.
Kemudian, ia menurunkan pandangan dan melihat kedua telapak tangannya sendiri. Kulitnya mulai terasa kering dan kasar setelah berjam-jam terkena air dan deterjen.”
Rin menggerakkan jari-jarinya pelan. “Inilah risiko yang harus aku ambil karena bertahan di rumah ini...”
Dan yang paling menyebalkan dari seluruh rangkaian kerja keras ini, semua terjadi karena seorang pria asing tiba-tiba datang menempati rumahnya, lalu bertindak seenaknya menyuruhnya mengurus semuanya sendiri.
Rin mengembuskan napas panjang.
Ia menoleh ke arah jam dinding. Sudah pukul dua siang.
"Ya ampun, aku baru sadar dari pagi tadi aku blm makan, kan !! Pantas lemas banget sekarang .. "
Rin menghela napas pasrah. “Beli saja deh, aku gak punya tenaga buat belajar masak x ini ...”
Ia bangkit berjuang dari tempat bersandarnya, menuju kamar mandi lalu bersiap-siap keluar membeli makanan.
***
Beberapa menit kemudian, Rin sudah berada di sebuah rumah makan yang cukup ramai oleh pengunjung jam makan siang.
Ia membawa nampan berisi makan siangnya, matanya sibuk menyapu ruangan mencari meja kosong. Satu meja di dekat jendela terlihat pas. Rin langsung mengarahkan langkah ke sana.
Namun baru beberapa langkah berjalan, kakinya mendadak berhenti.
“Hah...?”
Tangannya hampir saja kehilangan keseimbangan memegang nampan.
Di meja yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, seseorang yang sangat dikenalnya sedang duduk bersama beberapa pria lain.
Takumi kurosawa
Rin spontan menundukkan kepala sedikit, seolah berharap orang yang dilihatnya tadi hanyalah seseorang yang kebetulan mirip. Ia mengintip lagi dari balik topinya.
Bukan. Itu benar-benar Takumi kurosawa.
“Kenapa dia ada di sini...?”
Jantung Rin berdetak sedikit lebih cepat karena terkejut.
Pagi tadi pria itu masih berdiri di depan kamarnya dengan masker, sarung tangan, apron, dan kacamata pelindung seperti hendak melakukan operasi steril terhadap kamarnya.
Sekarang? Takumi terlihat seperti orang yang sama sekali berbeda. Rin tanpa sadar memperhatikannya beberapa detik terlalu lama.
Kemudian Takumi mengangkat wajah. Pandangan mereka bertabrakan di udara.
Rin langsung tersentak.
Ia buru-buru mengalihkan pandangan dan berpura-pura sibuk mencari meja, padahal sejak tadi ia sudah tahu akan duduk di mana. Wajahnya terasa sedikit panas.
Jangan lihat aku... jangan lihat aku...
Rin berjalan lebih cepat menuju meja kosong di sudut.
Di belakangnya, Takumi masih sempat memperhatikannya. Ia juga tampak sedikit terkejut.
Penampilan gadis yang pagi tadi baru saja bangun dengan rambut berantakan dan wajah kusut itu sudah berubah cukup drastis. Rambutnya kini diikat rapi menjadi ekor kuda, wajahnya terlihat lebih segar dengan sedikit riasan tipis walau terhalang topi, sementara pakaian santai yang dikenakannya membuatnya tampak jauh lebih normal dibandingkan penghuni kamar yang kemarin hampir ia kira hantu penunggu rumah.
Namun Takumi tidak mengatakan apa-apa. Rin juga tidak.
Keduanya memilih bertingkah seolah-olah tidak pernah bertemu.
***
Rin meletakkan nampannya di meja, lalu duduk. Ia mengambil sumpit, tetapi sebelum mulai makan, matanya sempat melirik diam-diam ke arah Takumi. Pria itu sedang berbicara santai dengan teman-temannya.
Rin cepat-cepat kembali menatap makanannya. “Kenapa aku malah jadi gugup begini...?”
Ia menggigit bibirnya sebentar. “Dia cuma orang yang kebetulan menyewa rumah.”
Rin mengambil suapan pertama. Namun telinganya tanpa sengaja menangkap percakapan dari meja Takumi.
“Bagaimana rumah yang kau sewa? Apa masih ada kamar kosong?”
Rin menghentikan gerakan sumpitnya. Ia tidak menoleh, tetapi jelas memasang telinga lebar-lebar.
“Bagaimana jika kita jadikan rumah itu tempat berkumpul? Aku sudah lihat sekilas rumahnya. Bagus juga.”
Rin perlahan mengangkat alis. Tempat berkumpul?
Ia menahan diri untuk tidak menoleh.
Takumi menjawab dengan tenang dari mejanya, “Hanya ada satu kamar yang bisa digunakan. Sisanya dikunci oleh pemilik rumah.”
“Oh, begitu.” Temannya terdengar santai. “Kalau begitu tidak masalah. Boleh kan kalau kami datang. Lagi pula Makoto juga akan dikirim ke Ishikawa. Kalian bisa reuni nanti.”
Terdengar tawa renyah dari meja mereka. Rin mengerutkan kening. Reuni?
Ia akhirnya melirik sekilas. Takumi hanya diam menyantap makanannya tanpa membalas heboh.
Rin kembali menatap mangkuknya. Entah kenapa, mendengar orang-orang itu berencana menjadikan rumah Neneknya sebagai tempat berkumpul membuat dadanya sedikit tidak nyaman.
Rumah itu kan tempat tinggalku juga...
Namun Rin memilih tidak mengatakan apa pun. Ia hanya melanjutkan makan sampai isi mangkuknya habis.
***
Tak lama kemudian, Takumi dan teman-temannya berdiri dari meja. Rin yang sedang meletakkan sumpit langsung menyadari mereka akan berjalan melewatinya. Ia diam-diam menegakkan tubuh, mendadak kaku.
Takumi berjalan melewati mejanya.
Untuk sesaat, Rin menunggu. Mungkin pria itu akan mengatakan sesuatu. Mungkin setidaknya melemparkan lirikan atau menyapanya tipis.
Tetapi tidak ada apa-apa. Takumi hanya berjalan melewatinya tanpa sepatah kata pun.
Rin mengikutinya dengan sudut mata. Begitu Takumi dan teman-temannya keluar menembus pintu rumah makan, Rin baru mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tidak sadar ia tahan.
“Hahhh...”
Ia menyandarkan punggungnya lemas ke sandaran kursi.
“Kenapa rasanya seperti baru saja bertemu orang asing?” Rin menggaruk pipinya pelan.
Padahal pagi tadi mereka masih adu mulut dan bertengkar di dalam rumah. Dan sekarang, di tempat umum, mereka benar-benar bertingkah seperti dua orang yang tidak saling mengenal.