Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ovelia.shin

Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.

Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

— PERTANYAAN YANG MENYAKITKAN

Siang itu, sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Bu Ratih yang sedang duduk di ruang tamu langsung berdiri.

“Ah, Kak Mira.”

Seorang wanita paruh baya turun dari mobil.

Ia adalah kakak Bu Ratih.

Mira masuk sambil membawa beberapa tas.

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik.”

Mira melihat sekeliling rumah.

“Arga di mana?”

“Kerja.”

“Dan istrinya?”

“Nadira di atas.”

Mira mengangguk.

Tidak lama kemudian, Nadira turun.

Ia tersenyum sopan.

“Selamat siang, Tante.”

Mira memperhatikan Nadira dari atas sampai bawah.

“Jadi ini Nadira?”

“Iya, Tante.”

Mira tersenyum tipis.

“Kamu sudah berapa lama menikah dengan Arga?”

“Sudah beberapa bulan.”

“Beberapa bulan?”

“Iya.”

Mira kemudian bertanya tanpa basa-basi.

“Sudah hamil?”

Nadira terdiam.

Bu Ratih justru tersenyum kecil.

“Belum, Kak.”

Mira mengangkat alis.

“Belum?”

Nadira mencoba tetap tenang.

“Belum, Tante.”

Mira menggeleng.

“Kenapa?”

Nadira tidak langsung menjawab.

“Belum waktunya mungkin.”

“Belum waktunya?”

Mira tertawa kecil.

“Kamu harusnya mulai memikirkan anak. Jangan terlalu lama.”

Nadira tersenyum sopan.

“Saya dan Arga masih menikmati kehidupan kami sebagai pasangan.”

Mira tampak tidak puas.

“Kalau begitu, kapan mau punya anak?”

Nadira menatapnya.

“Itu urusan saya dan Arga, Tante.”

Bu Ratih langsung menyela.

“Nadira memang belum terlalu memikirkan itu.”

Mira mengangguk.

“Pantas.”

Nadira mengerutkan kening.

“Pantas apa, Tante?”

Mira menunjuk sekeliling rumah.

“Kalau kalian memang sudah menikah, kenapa masih tinggal di rumah orang tua?”

Nadira terdiam.

Mira melanjutkan,

“Arga kan sudah mampu membeli rumah sendiri.”

“Kenapa masih di sini?”

Bu Ratih tersenyum.

“Itulah yang juga aku pikirkan.”

Nadira mulai memahami arah pembicaraan.

Mira kembali bertanya,

“Kamu tidak ingin punya rumah sendiri dengan suamimu?”

“Saya ingin.”

“Lalu kenapa belum pindah?”

Nadira menarik napas.

“Kami sedang mempertimbangkannya.”

Bu Ratih langsung berkata,

“Arga sebenarnya belum mau.”

Nadira menoleh.

“Tante, saya—”

Mira memotong.

“Kalau begitu kamu harus bisa membuat suamimu mengerti.”

Nadira terdiam.

“Seorang istri harus tahu bagaimana mengatur rumah tangganya.”

Bu Ratih mengangguk setuju.

Nadira akhirnya tersenyum.

“Benar, Tante.”

Ia duduk di hadapan mereka.

“Tapi rumah tangga saya dan Arga bukan sesuatu yang harus diputuskan oleh orang lain.”

Mira terdiam.

Nadira melanjutkan,

“Begitu juga soal anak.”

“Kalau suatu hari saya dan Arga sudah siap, tentu kami akan memberitahu keluarga.”

“Tapi saya tidak ingin setiap kali bertemu keluarga, pertanyaan pertama yang saya terima adalah kapan hamil.”

Bu Ratih mulai terlihat tidak nyaman.

Mira justru berkata,

“Kamu cukup berani juga.”

Nadira tersenyum.

“Saya hanya menjawab dengan sopan.”

Tiba-tiba suara pintu depan terdengar.

Arga pulang.

Ia melihat semua orang di ruang tamu.

“Halo.”

Mira tersenyum.

“Nah, ini dia suaminya.”

Arga mendekat.

“Kapan Tante datang?”

“Baru saja.”

Mira kemudian menatap Arga.

“Kamu belum membuat Nadira hamil?”

Arga langsung terdiam.

Nadira menutup wajahnya sebentar karena malu.

“Tante…”

Mira tertawa.

“Kenapa? Tante cuma bertanya.”

Arga menarik napas.

“Kalau soal anak, itu urusan aku dan Nadira.”

Mira terdiam.

Arga kemudian menatap ibunya.

“Dan soal tempat tinggal juga.”

Bu Ratih langsung membuang muka.

Arga menggenggam tangan Nadira.

“Kami akan menentukan sendiri kapan kami pindah.”

Kemudian ia menatap Mira.

“Dan kapan kami punya anak.”

Nadira menatap suaminya.

Arga tersenyum kecil.

“Tidak perlu terburu-buru.”

Untuk pertama kalinya sejak kedatangan Mira, Nadira merasa sedikit lega.

Namun Bu Ratih hanya diam.

Karena kedatangan kakaknya ternyata tidak menghasilkan apa yang ia harapkan.

Justru semakin jelas bahwa Arga semakin teguh berdiri di pihak istrinya.

1
tanjiro azuma
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!