Bagi Jema (24 tahun), hidup ini hanya tentang bau oli, tagihan listrik, dan obat Ibunya yang mahal. Lulusan S1 Elektro yang terpaksa jadi montir ini punya hati sedingin es dan tidak punya waktu untuk urusan cinta.
Sampai akhirnya, Maikel (18 tahun) datang mengacaukan segalanya.
Ceria, berisik, dan kaya raya. Bocah SMA bad boy itu sengaja merusak mobil sport mewahnya berkali-kali hanya agar punya alasan sah untuk menggoda Jema di bengkel.
Jema mati-matian menjaga jarak. Baginya, Maikel hanyalah gangguan berisik. Namun, saat Maikel pelan-pelan menyusup ke titik paling rapuh di hidup Jema, benteng pertahanan itu mulai goyah.
Sanggupkah Jema mengabaikan perbedaan usia enam tahun dan jurang status sosial di antara mereka? Apalagi ketika dunia remaja Maikel yang liar mulai menyeret hidup Jema ke dalam bahaya.
"Gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari, biar bisa dapet servis dari montir pribadi hati gue." — Maikel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INTEROGASI TUAN MUDA POSESIF
Begitu punggung tegap Samuel menghilang sepenuhnya di balik pintu kaca balkon, suasana sunyi malam mendadak terasa mencekam.
Angin malam bertiup pelan, memainkan ujung gaun satin biru dongkerku. Aku menelan ludah dengan susah payah, menatap Maikel yang masih berdiri mematung.
Perlahan, Maikel membalikkan tubuhnya. Riak manja yang tadi diperlihatkannya pada sang kakak lenyap tanpa sisa. Sepasang matanya menyipit tajam, menatapku lurus-lurus dengan tatapan interogasi yang teramat intens dan posesif.
Dia melangkah maju satu tindakan, membuatku refleks mundur setengah langkah hingga punggungku membentur pagar pembatas balkon.
Maikel menumpukan kedua tangan kekarnya di pagar besi, mengurung tubuhku di antara kedua lengannya. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya yang memburu karena menahan kesal sekaligus syok.
"Jema Juvita," desis Maikel, memanggil namaku tanpa embel-embel 'Kak' dengan nada suara yang merosot drastis menjadi berat.
"Utang penjelasan lu ke gue meroket tinggi ya malam ini. Jadi... selama ini lu kerja di bawah hidung keluarga gue sendiri? Dan lu sengaja bungkam?"
Aku memalingkan wajah sedikit ke samping, menghindari tatapan matanya yang terlalu membakar.
"Aku... aku kan sudah bilang tadi, Kel. Aku cuma takut kamu bakal nekat bolos sekolah lagi buat nyusul ke tempat kerja dan bikin kehebohan di depan Pak Yusuf. Aku kan anak baru di sana, butuh kesan profesional, lagian mana tau aku jika perusahaan tempat ku bekerja adalah perusahaan milik keluarga mu."
"Kesan profesional katanya?" Maikel mendengus kasar, namun sebuah seringai licik dan jail perlahan mulai terbit di sudut bibir tampannya. Dia mencondongkan wajahnya lebih dekat, membuat jantungku mendadak melewatkan satu detak karena panik.
"Terus kenapa lu enggak panik pas tahu nama belakang perusahaan itu 'Bach', hm? Lu sengaja pura-pura amnesia atau emang nama gue kurang melekat di otak lu?"
"Dunia ini luas, Maikel. Mana aku tahu pemilik diler raksasa itu ternyata keluarga kamu!" sahutku ketus dengan wajah yang sudah memerah padam karena posisiku yang terpojok.
"Bisa lepasin dulu, posisinya kelewat dekat ini!"
Maikel bukannya mundur, dia justru menaikkan sebelah alisnya dengan gaya angkuh khas tuan muda kaya raya yang baru saja menyadari kekuasaan mutlaknya.
"Enggak mau. Kenapa harus lepas? Lu tahu enggak, secara hukum struktur perusahaan, lu itu sekarang statusnya adalah karyawan di bawah kepemilikan keluarga besar gue. Berarti... secara tidak langsung, gue ini adalah bos kecil lu, Jema."
Aku membelalakkan mata tidak percaya mendengar logika ngawurnya.
"Sembarangan. Direktur Utamanya itu Pak Samuel, bukan bocah SMA yang besok pagi masih harus pusing mikirin rumus Pythagoras!"
"Bocah SMA ini bakal lulus sebentar lagi, Ibu Guru," potong Maikel cepat dengan cengiran jail yang sangat menyebalkan namun sukses membuat dadaku kembali berdesir hebat.
Dia mengangkat pergelangan tangan kirinya, lalu dengan gerakan pelan memasangkan jam tangan sport hitam seharga dua juta pemberianku ke tangannya. Jam itu melingkar sempurna, membuatnya kelihatan sangat gagah.
Maikel menatap jam tangan itu penuh kemenangan, lalu kembali menatap mataku lekat-lekat.
"Karena gue sekarang tahu wilayah kerja lu, jangan harap lu bisa sembunyi lagi dari gue hari Senin nanti. Kalau lu berani cuekin pesan gue atau coba-coba jaga jarak lagi kayak tadi pas les... gue bakal suruh Kak Samuel buat mindahin kubikel kerja lu tepat di samping ruangan direksi. Biar gue bisa mantau lu tiap hari."
"Maikel Sebastian Bach. Kamu beneran nekat dan penyalahgunaan kekuasaan ya!" seruku sebal sambil memukul pelan dadanya, berusaha mendorong tubuh tegapnya menjauh.
Maikel tertawa renyah, tawa bebasnya yang merdu berpadu indah dengan gemerisik dedaunan taman. Dia akhirnya menarik tubuhnya mundur, melepaskan kurungannya sembari menggandeng kembali jemariku dengan erat tanpa bisa ditolak.
"Hahaha! Makanya, jangan pernah coba-coba main rahasia lagi sama gue, Jema. Sekarang, ayo balik ke aula. Gue mau pamerin jam tangan baru dari pacar... eh, maksudnya dari montir kesayangan gue ini ke depan muka si Vera!"
Aku hanya bisa menghela napas pasrah dengan senyuman tipis yang tak bisa kusembunyikan lagi di bibirku. Egonya yang liar namun protektif malam ini benar-benar membuat seluruh wejangan logis Ibuku tentang batasan usia menguap tanpa bekas ke udara malam.
Dengan jemari yang bertautan erat, Maikel menuntunku kembali melangkah masuk ke dalam aula pesta yang masih ramai. Begitu kaki kami menginjak lantai marmer dalam, suasana ceria Maikel langsung menyedot perhatian kerumunan teman-temannya.
Di dekat meja pancuran cokelat, Vera sedang berdiri bersedekap dada bersama beberapa anak perempuan diler elit lainnya. Begitu melihat Maikel berjalan mendekat dengan senyum benderang, mata Vera langsung berbinar, namun sedetik kemudian wajahnya kembali kecut saat menyadari tanganku masih berada di dalam genggaman erat Maikel.
"Maikel! Lu dari mana aja sih?! Tega banget ya ninggalin gue sendirian dari tadi!" seru Vera manja dengan nada suara yang melengking tinggi, melangkah maju beberapa tindak menghadang jalan kami.
Maikel tidak menghentikan langkahnya, dia justru sengaja mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi dengan gestur yang sangat kentara, membetulkan letak lengan jas hitamnya agar jam tangan sport hitam beraksen perak pemberianku terpampang nyata di bawah sorotan lampu kristal aula.
"Gue habis dapet hadiah paling berharga malam ini, Ver. Makanya gue harus pasang sekarang juga," ujar Maikel lantang dengan cengiran jail penuh kemenangan yang sengaja ia tujukan untuk memanaskan suasana.
Vera langsung menghentikan langkahnya, sepasang matanya memicing tajam menatap jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan Maikel. Dia melirik kantong kertas kado hitam agak penyok yang kini diselipkan Maikel di bawah lengannya, lalu beralih menatapku dengan pandangan merendahkan yang sangat menusuk.
"Cih," Vera mendengus kasar, melipat kedua tangannya di depan dada sembari memutar bola matanya dengan ekspresi muak yang dipaksakan.
"Jam tangan kayak begitu? Lu bangga banget, Kel? Itu kan merek lokal biasa yang harganya paling cuma sekitar dua jutaan! Jam murah kayak begitu aja lu pamerin sampai segitunya di pesta mewah keluarga Bach!"
Teman-teman di sekitar Vera sempat terdiam, menatapku dengan pandangan menilai yang canggung. Uang dua juta memang sudah menguras seluruh sisa tabunganku, namun di lingkungan konglomerat ini, angka itu mungkin setara dengan harga sekali makan siang mereka.
Harga diriku sempat berdesir aneh karena disindir di depan umum.
Namun, belum sempat aku membuka mulut untuk menjaga tata kramaku sebagai wanita dewasa, cengiran jail di wajah Maikel seketika hilang sepenuhnya, digantikan oleh sorot mata tajam nan dingin yang memancarkan wibawa mutlak sang pewaris.
Dia melangkah maju satu langkah, menyembunyikan sebagian tubuhku di balik punggung tegapnya yang gagah.
"Mau harganya dua juta atau dua ratus ribu, itu bukan urusan lu, Vera!" desis Maikel dengan nada suara yang merosot drastis menjadi berat dan penuh penekanan yang bergetar.
"Jam tangan ini jauh lebih mewah dan berharga dari semua kado impor yang ada di ruangan ini. Kenapa? Karena ini dibeli pakai peluh keringat dan ketulusan orang yang paling gue hargai dalam hidup gue, bukan modal gesek kartu kredit orang tua kayak lu!"
Vera seketika terbelalak kaget, wajahnya memerah padam bagai kepiting rebus karena diskakmat total oleh Maikel di depan teman-teman geng sekolahnya.
"Lu—! Kel, lu tega banget ya ngomong begitu demi ngebela cewek montir ini?!"
"Gue bakal lakuin apa aja buat orang yang gue suka, Ver. Jadi, stop cari gara-gara sebelum gue sendiri yang suruh sekuriti rumah gue buat seret lu keluar dari pesta gue!" potong Maikel kejam tanpa ada toleransi sedikit pun di suaranya.
Genggaman tangan Maikel di jemariku terasa semakin erat dan hangat, menyalurkan perlindungan mutlak yang membuat rasa canggung di dadaku perlahan menguap berganti menjadi desiran bahagia yang membuncah.
Di bawah tatapan kesal dan dendam pekat dari Vera yang langsung berbalik pergi menahan malu, aku melirik Maikel dari samping.
Malam ulang tahunnya yang ke-19 ini benar-benar menjadi saksi runtuhnya seluruh benteng pertahananku, mengabaikan total semua logika tentang batasan usia, karena malam ini pria muda di sampingku ini telah membuktikan kedewasaannya yang sesungguhnya untuk melindungiku lahir dan batin.