Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 29
“Benar, mas Rusli lihat sendiri bocah londo itu diladeni makan sama Anne, duduk sebelahan, keluar dari dalam rumah, lo rangkulan,” ucap Rodiyah di tengah-tengah mencuci pakaian bersama beberapa wanita desa lainnya.
“Berarti wes tinggal serumah, yo?” tanya seorang ibu paruh baya, istri salah seorang petani, sebut saja namanya Sutiyah.
“Jelaslah, kalau ndak tinggal serumah, mana mungkin wengi-wengi keluar rumah bareng, nunggangi kuda keliling kampung sampai rumah ganti kuda-kudaan di kasur,” sahut Tutik baru saja tiba membawa satu bakul cucian kotor. (wengi\= malam)
Sutiyah yang jarang ikut nimbrung tiap kali ibu-ibu desa sedang bergosip di bawah pohon manggut-manggut, sudut matanya menelisik dua ibu muda saling berhadapan mencuci pakaian.
“Mas Rusli juga pas tau mereka berdua keluar dari rumah bareng langsung melongo. Jare si Anne rambut ee awut-awutan, jarik nyingkap sampek pupu ne kelihatan. Padahal ada kamituwo juga di teras rumahnya. Berarti, ‘kan …?” ucapan Rodiyah dipotong seseorang dari arah belakang.
“Berarti memang sudah biasa dan dianggap lumrah. Heh … seperti itu kok masih dibiarkan, malah perangkat desa ikut mendukung aksi tak bermoralnya, bagaimana desa ini bisa terbebas dari malapetaka jika kelakuan warganya saja menyalahi norma. Bejat.” Marni menimpali sambil meletakkan bakul cucian di sebelah Rodiyah.
“Harusnya kepala desa cepat bertindak. Paling tidak memberi teguran, ini kok dibiarkan seolah malah memberi dukungan,” imbuh wanita tak lagi menutup kepalanya dengan kerudung panjang.
“Gimana mau bertindak, Mbokde, lawong perangkat desanya saja pelanggannya. Bisa Jadi tiap malam mereka ganti-gantian meniduri, atau malah barengan.” Tutik kembali menyahut, tangan tengah sibuk mengucek pakaian terhenti sejenak, sudut matanya melirik kanan-kiri.
Rodiyah mendekatkan wajahnya ke telinga Tutik sambil mengecilkan suara, seolah takut didengar orang lain. “Jangan-jangan kui syarat pesugihan kembang sore. Aku pernah dengar, jare yang ngilmu pesugihan itu harus berhubungan badan dengan beda orang tiap malam.”
Mendengar prasangka Rodiyah, Marni seperti mendapat angin segar untuk menambahi racun pada cerita menjadi gosip yang kian liar.
Sambil mengulum senyum wanita itu terbatuk pelan, lalu menyenggol lengan Rodiyah. “Kowe kok tau-tau nya ilmu yang wajib dipunyai gundik selain pengasihan.”
“Berarti benar, Mbokde ilmu itu ada? Terus syaratnya memang seperti itu?” tanya Rodiyah berbalik ingin tau dengan prasangka asal yang ia lontarkan.
“Kowe yang baru saja ngomong lakok malah balik bertanya ki piye maksudmu, Nduk?” sahut Marni, sengaja membuat wanita tak pernah berpikir ketika berbicara itu semakin penasaran.
“Aku tadi asal ngomong saja, hanya menduga-duga, ndak tau kalo benar ada ilmu seperti itu,” ucap Rodiyah.
Tutik yang melihat wajah cengo Rodiyah langsung terkikik, kepala dengan rambut dibiarkan tergerai sebab masih setengah basah menggeleng pelan. “Kowe ki tiap kali bicara pasti asal mangap, Yah. Tapi anehnya pesti tepat sasaran. Jangan-jangan kowe turunan dukun?”
“Pancen iyo. Dulunya Si mbah ku dukun paling terkenal di desa ini, tapi wes mati ndak lama setelah mbok ku melahirkan aku,” sambar Rodiyah.
“Besok kowe topo broto di bawah pohon besar, Nduk, siapa tau dapat wangsit, bisa menolak balak ilmu hitam,” seloroh Marni di sambut gelak tawa Rodiyah juga Tutik, sementara Sutiyah hanya mengangguk-angguk kecil.
“Mbokde, iki tibake bisa ngelucu juga,” ujar Rodiyah di sela-sela tawa.
“Yo hidupkan kudu imbang, to, ndak harus tegang terus. Kalau sembarang dibikin tegang, hari-hari jadi penuh ambisi, semua ingin dimiliki, akhirnya memakai berbagai cara, tak peduli melawan norma atau merugikan orang. Contohnya seperti Sulastri dan anaknya. Mereka yang berbuat bejat, penduduk desa yang harus menanggung akibatnya,” ujar Marni kembali memancing kecurigaan dua biang gosip desa.
“Tapi yang aku dengar, Sulastri itu menikah resmi dengan tuan Londo, menikahnya juga setelah resmi bercerai dari juragan Kartijo,” celetuk Sutiyah.
“Gosipnya memang begitu, tapi kowe opo tau kenapa Sulastri bisa diceraikan sama juragan Kartijo?” Marni balik melempar tanya, sudut bibirnya terangkat sebelah.
“Aku sih tidak tau pasti sebab bukan asli sini, hanya pernah dengar saat baru pindah dulu,” jawab Sutiyah ragu-ragu.
Sontak tangan Tutik mendorong lengan Sutiyah, bibir pucat sebab belum di poles gincu mengerucut sambil memutar mata malas. “Huh, ternyata hanya pernah mendengar, gitu sok tahu!”
Rodiyah turut mencebik kecil, dagu terangkat seraya membuang muka. “La iyo, kita yang dari bayi merah hidup di sini saja belum tau pasti kebenarannya, kowe yang baru kemarin sore wes sok-sokan tahu segalanya.”
Air muka Sutiyah berubah muram seketika, buru-buru ia membereskan cucian, lalu beranjak dari tempatnya tanpa lagi berpamitan.
“Wong mana bocah itu tadi, aku kok baru melihat dia mencuci di sini?” tanya Marni, tatapannya menjurus pada punggung Sutiyah yang mulai menjauh dari aliran sungai.
“Orang dekat lapak ujung desa, jarang mencuci di sungai pagi dia, biasanya sore hari bareng si janda gatel, Jamilah,” sahut Tutik.
Marni manggut-manggut, dalam hati sempat khawatir, takut wanita baru pertama dilihatnya itu mengenali dirinya, terlebih ia sengaja tak menggunakan tutup kepala seperti biasanya.
“Mbokde, mosok nggak kenal sama Yu Sutiyah, katanya mbokde dulu orang sini?” Rodiyah yang sudah menyelesaikan cuciannya melempar tanya, sambil menceburkan badan ke sungai, rutinitas setelah mencuci—mandi di sungai.
“Hah …!” Marni tergagap, netra sedari tadi belum lepas dari punggung Sutiyah berpindah cepat ke arah Rodiyah. Bibir sedikit pias, melengkung paksa. “Entahlah, aku juga lupa, mungkin dulu pernah bertemu, tapi tak tau juga sebab semenjak dinikahi papa nya Argono, aku tak boleh lagi keluar dari rumah.”
Ia kembali berdusta, lalu berpura-pura merapikan pakaian belum selesai di cucinya.
“Berarti suaminya, Mbokde ini orang terpandang di desa sini, manggilnya saja papa, opo jangan-jangan bener, Argono itu anaknya tuan Londo?” lanjut Rodiyah.
Wajah yang semula pias seketika merona diiringi tawa kecil dan sorot mata berbinar.
“Walah bener iki koyone, muka ee Mbokde, lo langsung cerah. Iyo, to Mbokde?” desak Tutik.
“Bukan. Kalian ini sembarangan saja, mana mungkin orang seperti meneer Petter mau dengan wanita desa seperti aku,” kilah Marni, dalam hati bersorak-sorai membayangkan wajah tampan yang merupakan cinta pertamanya.
“Tapi kok sampean langsung senyam-senyum pas Rodiyah bilang tuan londo, jangan-jangan ….”
Ucapan Tutik dipotong keplakan pelan pada pundak oleh Marni, sambil beranjak dari aliran sungai, wanita paruh baya itu berpamitan.
“Aku tak duluan, ngobrol sama kalian malah ngelantur kemana-mana jadinya,” ucapnya, tanpa menunggu jawaban para biang gosip langsung keluar dari air, berjalan setengah berlari ke lereng landai menuju atas bukit.
Sepeninggal Marni, Tutik dan Rodiyah saling menatap beberapa detik, seolah masing-masing baru mendapatkan fakta baru.
“Koyone bener, Tut.”
“Ho oh, Yah.”
Sementara itu di jalan setapak menuju permukiman, Marni berjalan dengan hati yang menghangat, senyum tak kunjung pudar dari wajahnya saat pikiran kembali terbayang pria tampan berkulit pucat dengan rambut pirang gondrong sebahu. Gigi terdapat bekas kinang atau kapur sirih menggigit ujung bibir yang berkedut, menggumamkan sebuah nama—Petter Van Beek.
Namun bayangan indah itu seketika sirna seiring tubuh gempal yang berjingkat, hingga pakaian pada bakul anyaman bambu berhamburan ke tanah, saat suara seseorang dari balik pohon besar mengejutkannya.
“Akhirnya ….”
Bersambung
apakah vampire nya bakallan bangkitt
aku pencett sesuaii mandattt yooww🙏
jgn2 pakde broto berucap
istrine ruslii jadi teman penghangatt kasmaan donkk 🤣
ngertio ngunuu
di potong habisss burunge kasman sama pak dokter dlu
di kasih racun ibu mu wae langsung ditenggak kog,
mana punya pendapat km gono
spy argono paham ,harta yg di incar nya
padahal itu jebakan terselubung
marni cuma mau memperalat nya saja
demi mengeruk kekayaan kartijo
anne dgn gamblang menjelaskan ke kamu argono , fakta nyata yang tertimbun doktrin busuk mbok mu Dewe
siapa yg nyulikk marni
kasman uduu kuii