Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?
Ikuti perjalanannya yang memegangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi pohon
Bunga itu terlihat bercahaya terang dan sangat mencolok. Air di atas dan lava di bawah berhenti. Lalu bunga teratai pertama perlahan-lahan menghilang menjadi butiran-butiran emas yang beterbangan ke segala arah. Diikuti dengan nomor dua, hingga akhirnya yang terakhir. Tiga bunga teratai itu meledak dan butiran-butirannya seperti bunga dandelion yang ditiup angin.
Air di atas perlahan-lahan menghilang, begitu juga lava di bawah. Cahaya putih perlahan-lahan muncul di langit-langit. Semakin bercahaya dan terus memancarkan cahaya yang lebih kuat.
Pada akhirnya cahaya itu benar-benar kuat hingga Xuan Han tidak bisa melihat apa pun. Ia hanya bisa melihat cahaya putih yang terang. Hanya beberapa detik, sebelum akhirnya ada bentangan hamparan rumput hijau dengan bulan yang tampak jauh lebih dekat ke bumi dan bintang-bintang yang bercahaya terang, berkedip-kedip di langit malam yang cerah. Ini seperti jam 11–12 malam. Ada angin yang berembus. Terasa dingin dan nyata sekali. Sulit membedakan apa ini benar-benar ilusi atau tidak. Xuan Han bertanya apa yang akan terjadi lagi.
Tiba-tiba ia mendengar suara tawa yang renyah dan menyenangkan. Mendongak, ada seorang gadis yang kira-kira berusia 7 tahun melayang-layang dengan sepatu yang indah, bergaun hijau panjang. Memegang bunga teratai yang besarnya melebihi tubuhnya. Namun, ia dapat dengan mudah memegang tangkainya tanpa terlihat kesulitan. Tersenyum tipis saat menatap Xuan Han.
Segera tubuhnya dilengkungkan dan ia melesat ke bawah. Melayang-layang di atas tanah. Lalu ketika kaki kecil menyentuh permukaan rumput, segera bunga di tangannya yang besar itu meledak menjadi butiran-butiran emas yang tersapu angin. Bunga besar itu begitu indah dan mengingatkan seseorang yang sedang memegang payung kertas tradisional.
Menatap Xuan Han penuh dengan kegembiraan, ia lalu berusaha mendekat. Sekitar dua meter, menjulurkan hidungnya seperti sedang berusaha mencium aroma sesuatu. Lalu mundur dan melompat. Ketika itu, di bawah pantatnya bunga teratai emas muncul. Gadis itu dengan santai duduk di sana. Patatnya hanya menyentuh ujung beberapa kelopak bunga, tapi ia sepertinya tidak merasakan apa-apa dan nyaman duduk di sana.
“Tuan Han, apa kamu mengenalku?”
Xuan Han mencernanya sebentar lalu menggeleng.
“Kamu pasti lupa.”
“Kau mengenalku?”
Gadis itu menjawab antusias, “Tentu saja.”
Ia segera melompat ke langit. Melangkah beberapa langkah di udara seolah itu adalah tanah. Ia terbang menjauh. Lalu berbalik menatap Xuan Han. Perlahan-lahan cahaya kuning menyelimuti tubuhnya dan dalam sekejap gadis kecil itu menjadi wanita dewasa dengan gaun hijau yang indah. Mengulurkan tangannya, teratai emas di bawah melesat ke tangannya. Ia menatap serius Xuan Han.
“Kau mengenalku juga?”
Sekarang suaranya jauh lebih berat dan penuh keseriusan.
Xuan Han juga menggeleng.
“Tuan Han, sepertinya banyak hal yang kamu lupakan.”
“Kamu tahu identitasku? Bisakah kamu mengatakannya?”
“Tentu saja. Tapi aku tidak mau mengatakannya.”
Xuan Han ingat tusuk rambut bunga peony itu lagi dan mengeluarkannya.
“Kamu juga tahu siapa yang memiliki tusuk rambut ini?”
Wanita itu menatapnya sebentar.
“Tentu saja.”
“Jika kamu tahu, mengapa tidak mengatakannya padaku?”
“Kamu harus mencarinya sendiri. Oh, iya, Tuan Han. Aku datang untuk bertanya beberapa pertanyaan dari Tuan Putri. Pertama, apa yang akan kamu lakukan setelah terbangun? Berkultivasi? Mencari identitas atau hidup sebagai manusia fana yang melupakan masa lalunya?”
“Aku ingin tahu apa yang terjadi.”
Mengenai kultivasi, Xuan Han ingat berbagai bahaya yang dilaluinya dan bagaimana orang-orang kuat memperlakukannya.
“Aku juga ingin berkultivasi. Dunia ini sepertinya sangat kejam.”
“Jawaban yang bagus. Sepertinya Tuan Putri akan senang mendengarnya.”
“Tuan Putri? Siapa Tuan Putri?”
“Kamu akan tahu nanti. Sudahlah, aku harus pergi.
Wanita itu perlahan-lahan berubah menjadi gadis kecil, berbalik pergi ke langit dan semakin jauh.
"Hei, t-tunggu! Tolong jawab pertanyaanku!"
Gadis itu hanya sekilas menatapnya sembari tersenyum dan terus menjauh dan menjauh menuju bulan. Xuan Han hanya bisa menatapnya.
Lalu getaran tiba-tiba muncul dan ruangan itu terbalik. Xuan Han terjatuh ke langit. Ia berteriak ketakutan dan tubuhnya melesat ke langit. Terombang-ambing, lalu tiba-tiba telah kembali ke gua, berdiri menatap dua kotak yang harus dilewatinya. Tubuhnya dipenuhi keringat dan jantungnya berdetak seperti mau pecah. Ia merasa kelelahan dan menelan ludahnya. Kepala terasa pusing.
Setelah merasa lebih baik, menatap tiga orang yang masih menontonnya. Xuan Han ingin memukul mereka. Ini benar-benar membuat energi mentalnya terkuras. Ia tidak tahu apa yang akan menantinya di depan sana lagi.
Sementara itu, Wang Hao menampilkan ekspresi tidak suka.
“Kenapa dia berdiam diri di sana begitu lama?”
Meng Chahua menjawab dingin, “Sepertinya memang ada hal yang tidak terlihat terjadi padanya.”
Nona Xie sedikit tertawa.
“Anak ini punya banyak keberuntungan bisa sampai di sana.”
Meng Chahua kembali berkata, “Sepertinya tiga kotak paling akhir adalah ujian mental yang harus kita lewati sendiri.”
Xuan Han berbalik menatap dua kotak di depannya. Ia mengusap keringat di pelipisnya. Tidak punya pilihan lain. Jika ia punya, maka ia bisa kembali. Menguatkan dirinya beberapa saat, segera ia melompat dan mendarat di sana.
Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada tangan yang muncul atau panah yang melesat. Tetapi sebelum Xuan bisa menghela napas lega, tiba-tiba dari dalam kolam muncul tentakel kayu yang mengikat kedua kakinya, melilit dan terus melilit ke atas. Xuan Han ingin menggunakan pedangnya, tetapi ia tidak bisa bergerak sama sekali. Bahkan, ia juga tidak bisa berteriak meminta tolong.
Akar-akar itu pecah menjadi beberapa ujung yang terus tumbuh, menyelimuti tubuh Xuan Han, melilit kedua tangannya. Lalu tidak lama seluruh tubuhnya dililit akar. Tidak ada yang menolong seperti sebelumnya. Lalu ia hanya melihat warna hitam, tidak ada yang lain.
...----------------...
“Ibu, bangun....”
Tidak beberapa lama, Xuan Han mendengar suara tangisan. Perlahan-lahan ia juga mendengar embusan angin. Sepertinya ini di tempat terbuka.
Membuka matanya, ia mendapati seorang bocah menangis di samping ibunya yang telah terluka. Tidak jauh darinya, beberapa pria tua tertawa dan berjalan menjauh dengan ekspresi kegembiraan. Xuan Han merasa kedua kaki dan tangannya terselimuti selimut yang nyaman dan hangat.
Ia tidak bisa bergerak, hanya diam saja mengamati bocah kecil yang menangisi kepergian ibunya. Siapa bocah itu? Ia tidak tahu, tapi dari kelihatannya mereka baru dirampok dan karena sang ibu melawan, para perampok itu membunuhnya.
Darah segar masih ada di pakaiannya yang sederhana dan tentu saja bocah itu terus menangis dan menangis
Xuan Han menatap ke bawah. Betapa ia tercengang mendapati kulit pohon yang keras di bawahnya.
Ini ilusi juga, kan? Ia membatin dan mendongak. Daun-daun yang hijau tumbuh subur ada di atasnya.
Xuan Han tidak percaya, tapi ia benar-benar menjadi pohon. Dan setelah mengamati beberapa saat, akhirnya ia menyadari bocah yang menangis itu tidak menyadari bahwa pohon itu adalah Xuan Han dan memiliki kesadaran. Bahkan mungkin memang pohon itu punya mata yang tidak terlihat.
Setelah beberapa saat menangis, bocah itu berdiri. Matanya merah dan rambutnya acak-acakan. Ia membungkuk tiga kali sebelum akhirnya menggunakan tangannya untuk mencabut rumput-rumputan dan mulai menggali. Tangannya menjadi kotor dan terasa sakit. Karenanya, ia menatap dahan pohon terdekat. Berjalan dan melompat untuk meraih salah satu dahan.
Xuan Han merasa kesakitan dan ketika bocah itu menarik dahannya hingga patah, ia berteriak, tapi tidak ada suara yang muncul kecuali pohon itu bergoyang.
Ia mengutuk bocah itu, tapi bocah itu tidak sadar telah melukainya. Anak itu segera membersihkan dahan dari dedaunan dan mulai menggali lagi.
Sekarang jauh lebih cepat.
Sementara cahaya matahari sore yang bersinar di ufuk barat perlahan-lahan mulai turun dan warnanya menjadi jingga gelap.
Pada saat itulah bocah itu telah menggali banyak dan beberapa kali mengenai akar pohon hingga membuat Xuan Han kesakitan dan mengumpat.
Bocah itu segera menarik mayat ibunya dan menguburnya.
Ketika setengah matahari muncul, maka jadilah makam untuk ibunya. Ia menancapkan batang pohon yang digunakannya menggali. Lalu melihat dahan yang lain, mencari-cari mana yang bagus.
Saat itu masih pertengahan musim semi dan pohon bunga magnolia masih sedikit menyisakan bunga. Bocah itu menemukan salah satu bunga yang tersembunyi. Ia mendekati Xuan Han.
“Bocah bajingan, a-apa yang kamu lakukan?”
Anak itu bersusah payah naik di wajah Xuan Han yang sedang mengumpat. Wajahnya dipenuhi tanah, tapi bocah itu seperti tidak mendengar atau merasakan apa pun. Ia akhirnya berhasil memanjat salah satu dahan. Diam sebentar, lalu menuju dahan yang ada bunganya.
Melompat, menggapai dahan itu, dan Xuan Han menjerit. Dahan itu patah dan bocah itu terjatuh. Namun, ia tidak menangis. Membersihkan pakaiannya lalu menancapkan dahan dengan bunga magnolia putih itu. Lalu membungkuk memberi hormat.
“Ibu, beristirahatlah dengan tenang.”
Segera bocah itu melihat langit malam lalu mulai berlarian menjauh. Xuan Han mengutuknya, mengatakan anak bajingan, tidak tahu diri, dan perusak.