Clarisa Wijaya hanya punya satu tujuan ketika beasiswa itu datang, pergi sejauh mungkin dari kampung halaman demi masa depan yang lebih baik, meski itu berarti meninggalkan pelukan hangat orang tuanya dan aroma bebek panggang yang selalu menemani setiap perayaan keluarganya. Namun ibu kota tak semudah yang ia bayangkan. Kerja paruh waktu sebagai pelayan restoran, kamar apartemen sempit yang sunyi, dan air mata yang ditelan sendirian di malam-malam kangen rumah semua itu baru permulaan dari perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Semua berubah sejak seragamnya basah kuyup terkena cipratan motor seorang pemuda yang bahkan tak sempat menoleh untuk minta maaf. Siapa sangka, pemuda angkuh itu bernama Daniel rekan kerja barunya yang ternyata menyimpan rahasia besar: ia adalah pewaris tunggal pemilik restoran tempat mereka bekerja, menyamar sebagai pelayan biasa atas perintah orang tuanya sendiri. Dari kebencian dan kesalahpahaman, benih-benih cinta mulai tumbuh perlahan, diam-diam disaksikan oleh Nikol, sahabat setia Clarisa yang menyimpan perasaannya sendiri tanpa pernah berani mengungkapkannya. Namun cinta Clarisa dan Daniel harus melewati ujian demi ujian bullying dari geng kampus yang memandang rendah latar belakangnya, gosip yang menyudutkan, hingga konspirasi bisnis jahat yang nyaris merenggut nyawanya lewat semangkuk makanan beracun. Ketika kebenaran tentang identitas asli Daniel akhirnya terbongkar, Clarisa harus menghadapi ketakutan terbesarnya: mampukah cinta bertahan di tengah jurang status sosial yang begitu dalam antara gadis desa sederhana dan pewaris konglomerat kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembur berdua
Malam itu, restoran “Kedai Rasa” kedatangan pesanan besar dari salah satu perusahaan yang mengadakan acara gathering karyawan mendadak, memesan puluhan porsi makanan untuk diantar sekaligus disiapkan sebagai catering dadakan. Pak Atok yang menerima pesanan tersebut menyadari bahwa jam kerja normal tidak akan cukup untuk menyelesaikan seluruh pesanan tepat waktu, sehingga ia meminta beberapa karyawan untuk bersedia lembur malam itu.
“Siapa yang bisa lembur malam ini? Ada pesanan besar mendadak yang harus selesai sebelum jam sepuluh malam,” tanya Pak Atok kepada beberapa karyawan yang masih bertugas shift sore itu.
Clarisa yang kebetulan tidak memiliki jadwal kuliah pagi esok harinya, mengangkat tangan menawarkan diri. “Saya bisa, Pak.”
Daniel yang berdiri tidak jauh dari situ, juga ikut menawarkan diri, sebagian karena memang jadwalnya memungkinkan, namun juga karena kesempatan untuk bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama Clarisa. “Saya juga bisa bantu, Pak.”
Pak Atok mengangguk, sedikit lega mendapatkan sukarelawan untuk lembur malam tersebut. “Baik, kalian berdua yang lembur malam ini. Nanti saya kasih tambahan bayaran khusus buat lembur.”
Malam itu, restoran yang biasanya mulai sepi menjelang pukul sembilan malam, masih dipenuhi kesibukan persiapan pesanan besar tersebut. Clarisa dan Daniel bekerja sama menyiapkan berbagai hidangan yang dipesan, mulai dari mengemas nasi kotak, menata lauk-pauk, hingga memastikan seluruh pesanan tersusun rapi sesuai dengan daftar pesanan yang telah dikonfirmasi pihak perusahaan.
Suasana restoran yang mulai sepi dari pelanggan lain memberikan atmosfer yang berbeda dibandingkan jam kerja biasa yang penuh keramaian. Hanya ada beberapa karyawan yang masih bertugas menyelesaikan pesanan tersebut, menciptakan suasana yang lebih tenang dan personal bagi Clarisa dan Daniel yang bekerja berdampingan.
“Capek juga ya kerja sampai malam gini,” ujar Clarisa sambil merapikan salah satu kotak nasi yang telah selesai ia kemas, sedikit meregangkan tubuhnya yang mulai terasa pegal.
“Iya, tapi lumayan buat tambahan uang,” jawab Daniel sambil tersenyum, meski dalam hatinya lebih menikmati kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua dengan Clarisa dibandingkan sekadar memikirkan bayaran tambahan tersebut.
Di sela-sela kesibukan mereka menyiapkan pesanan, percakapan mulai mengalir lebih santai dan mendalam, jauh dari topik-topik ringan seputar pekerjaan atau kuliah yang biasa mereka bicarakan sebelumnya.
“Clarisa, boleh tanya sesuatu?” tanya Daniel di tengah kesibukan mereka menata kotak-kotak makanan yang sudah selesai dikemas.
“Boleh, kenapa?” jawab Clarisa sambil terus fokus pada pekerjaannya.
“Kamu nggak pernah kepikiran buat nyerah aja terus pulang kampung? Maksudku, hidup di kota kan berat banget, apalagi buat kamu yang harus kerja sambil kuliah,” tanya Daniel dengan nada yang penuh rasa ingin tahu, penasaran dengan sumber kekuatan yang selama ini membuat Clarisa mampu bertahan menjalani kehidupan yang menurutnya cukup berat tersebut.
Clarisa terdiam sejenak, merenungi pertanyaan tersebut sebelum akhirnya menjawab dengan nada yang tulus. “Pernah kepikiran sih, apalagi waktu-waktu awal dulu, aku sempat nangis sendirian saking kangennya sama rumah. Tapi setiap kali inget perjuangan orang tuaku buat nyekolahin aku, inget impian mereka yang pengen aku sukses, aku jadi nggak tega buat nyerah gitu aja.”
Daniel mendengarkan jawaban tersebut dengan penuh perhatian, semakin kagum dengan ketulusan dan kekuatan mental yang dimiliki Clarisa. “Kamu hebat banget ya. Aku aja yang hidupnya jauh lebih gampang, kadang masih suka ngeluh soal hal-hal kecil.”
Clarisa menoleh, sedikit terkejut mendengar pengakuan tersebut dari Daniel yang selama ini terkesan selalu percaya diri dan tidak pernah menunjukkan sisi rentan dalam dirinya. “Semua orang punya perjuangannya masing-masing kok, nggak bisa dibanding-bandingin. Yang penting kita tetep berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan kita.”
Percakapan tersebut terus berlanjut, semakin mendalam seiring berjalannya waktu malam itu. Daniel mulai menceritakan sedikit mengenai tekanan yang ia rasakan sebagai anak tunggal yang diharapkan mampu meneruskan bisnis keluarga, meski tanpa mengungkap detail spesifik mengenai kekayaan keluarganya yang sebenarnya.
“Kadang aku ngerasa capek banget harus selalu memenuhi ekspektasi orang tua. Semua udah diatur, mau kuliah apa, mau kerja di mana, bahkan mau jadi siapa nantinya. Kayak nggak punya kebebasan buat nentuin jalan hidup sendiri,” ujar Daniel dengan nada yang lebih serius, mengungkapkan sedikit kegelisahan yang selama ini ia pendam.
Clarisa mendengarkan curahan hati tersebut dengan penuh empati, meski latar belakang kehidupan mereka sangat berbeda, ia bisa memahami perasaan terkekang yang dirasakan Daniel tersebut. “Mungkin orang tuamu cuma pengen yang terbaik buat kamu, meski caranya kadang bikin kamu ngerasa terkekang. Coba deh, pelan-pelan komunikasiin apa yang sebenernya kamu mau, siapa tau mereka bisa lebih ngerti.”
Nasihat sederhana tersebut, meski terdengar biasa, memberikan kesan mendalam bagi Daniel yang selama ini jarang mendapatkan perspektif tulus dari orang-orang di sekitarnya yang kebanyakan hanya peduli dengan status dan kekayaan keluarganya. Dari Clarisa, ia mendapatkan sudut pandang yang berbeda—sebuah ketulusan yang tidak dipengaruhi oleh kepentingan atau pamrih tertentu.
“Makasih ya, Clarisa. Entah kenapa, ngobrol sama kamu selalu bikin aku ngerasa lebih ringan,” ujar Daniel dengan tulus, memandangi Clarisa dengan tatapan yang mulai menunjukkan kehangatan yang berbeda dari sekadar pertemanan biasa.
Clarisa yang merasakan tatapan tersebut, sedikit salah tingkah namun juga merasakan kehangatan yang sama, tersenyum tipis sambil kembali fokus pada pekerjaan mereka yang belum sepenuhnya selesai. “Sama-sama. Kadang emang enak juga punya temen buat berbagi cerita, apalagi di kota asing kayak gini.”
Menjelang tengah malam, pesanan besar tersebut akhirnya berhasil diselesaikan tepat waktu, siap untuk diambil kurir yang akan mengantarkannya ke lokasi acara gathering perusahaan tersebut esok pagi. Clarisa dan Daniel, meski terlihat kelelahan, merasa puas telah berhasil menyelesaikan tugas mereka dengan baik.
“Akhirnya selesai juga,” ujar Clarisa sambil menghela napas lega, meregangkan tubuhnya yang terasa pegal setelah berjam-jam bekerja tanpa henti.
“Iya, untung kita kerja sama, jadi lebih cepat selesainya,” jawab Daniel sambil tersenyum, memandangi Clarisa dengan perasaan hangat yang semakin sulit ia sembunyikan.
Setelah membersihkan area kerja dan memastikan semua pesanan telah tersusun rapi, mereka berdua akhirnya bersiap untuk pulang. Pak Atok yang datang mengecek hasil pekerjaan mereka, tampak puas dengan kualitas dan ketepatan waktu penyelesaian pesanan tersebut.
“Bagus, kerja kalian rapi. Terima kasih sudah mau lembur malam ini,” ujar Pak Atok sambil memberikan sedikit bonus tambahan sebagai apresiasi atas kerja keras mereka.
Dalam perjalanan pulang malam itu, menggunakan mobil pribadi Daniel yang menawarkan diri untuk mengantar Clarisa mengingat waktu yang sudah larut malam, keduanya masih melanjutkan obrolan hangat yang telah terjalin sepanjang malam tersebut. Kedekatan yang semakin erat malam itu, meninggalkan kesan mendalam bagi keduanya, semakin memperkuat benih-benih perasaan yang telah lama tumbuh namun belum sepenuhnya mereka sadari atau ungkapkan secara terbuka.
sesuai dengan rencana💪👍
semoga training yang diberikan orang tuanya segera berakhir 🤭😄
membantumu sehingga kamu gak merasa asing dan sendirian 😍
juga punya tekad yang kuat supaya punya kehidupan yang lebih baik..
semangat Clarisa 💪