Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.
Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.
Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.
pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.
Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.
takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan
Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Canggung
Perjalanan pulang terasa jauh lebih tenang. Di bangku paling belakang, Rin duduk bersandar di dekat jendela. Tubuhnya terkuras lelah setelah seharian bermain di tepi laut, kakinya masih menyimpan sisa hangat pasir, sementara rambutnya yang sempat basah kini mulai mengering diterpa angin sore.
Di sebelahnya, Kiba masih sibuk mengoceh soal permainan mereka. “Kalau tadi kau tidak curang, aku pasti bisa menang tiga ronde berturut-turut.”
Tidak ada sahutan.
Kiba menoleh. “Rin?”
Gadis itu rupanya sudah terlelap. Kepalanya perlahan jatuh dan bersandar pasrah di bahu Kiba. Pria itu mendadak terdiam, menatap wajah lelap Rin beberapa detik sebelum terkekeh pelan. “Capek juga ternyata...”
Tak tega membangunkannya, Kiba membiarkan posisi itu. Tak lama kemudian, kepala Kiba sendiri ikut berlabuh pelan di atas kepala Rin. Keduanya terbuai mimpi sepanjang sisa perjalanan.
“Hei... kalian, sudah sampai halte,” tegur sang sopir bus memecahkan hening.
Kiba tersentak bangun, lalu menyentuh bahu gadis di sebelahnya. “Rin, bangun. Sudah sampai.”
Rin mengedipkan mata lambat. “Hm...?” Begitu sadar kepalanya bersandar di bahu Kiba, ia terperanjat pelan. “Eh... maaf.”
“Gak papa kok.”
Mereka melangkah turun di halte yang sama saat awal ketemu tafi pagi. Kiba membetulkan letak ranselnya. “mau aku antar pulang?”
Rin menggeleng. “tidak usah , aku bisa pulang sendiri"
“baiklah kalau gitu, Sampai ketemu lagi, Rin.”
“Sampai ketemu, Kiba.”
Keduanya melangkah berlawanan arah. Rin sempat menoleh sejenak melepas pandang sebelum melanjutkan jalan pulangnya.
***
Sesampainya dirumah,
“Aku pulang!” panggil Rin seraya menggeser pintu genkan.
Takumi yang berada di ruang tengah segera muncul. “selamat datang..”
Namun, pandangan Takumi fokus pada penampilan Rin. Kaki gadis itu kotor berbalut butiran pasir, ujung roknya basah, dan rambutnya lepek menempel di pipi.
Takumi bersedekap dada. “Kau masuk dari samping.”
Rin mengerutkan dahi. “Egh..Apa?”
“Bersihkan dulu pasirnya di luar. Ada keran kan di samping,” tegas Takumi menunjuk arah luar.
Rin menunduk dan baru menyadari pasir pantai menempel di sekujur kakinya. “Oh... iya, iya.”
Ia berbalik pasrah. Takumi mengikutinya dari belakang. Begitu di luar, Takumi meraih selang air lalu langsung mengarahkan kucuran air ke kaki Rin.
“Angkat sedikit kakimu.”
Rin menurut sambil membasuh sisa pasir. Air menyiram betis, tangan, hingga lehernya. “emm dingin air nya..!”
“kau ini berguling-guling dipasir hah ??.” Takumi mengarahkan selang ke pangkal rambut Rin.
Rin memejamkan mata saat air mengguyur. Pakaian Rin yang sudah lembap sejak di pantai kini makin membasah dan menempel ketat di tubuhnya. "Soalnya aku sekali kali kepantai . Apa sudah hilang pasir nya ?.!"
Mata Takumi tak sengaja menangkap hal itu. Sontak raut wajahnya memerah kaku. Ia buru-buru memalingkan pandangan ke samping. “Sudah.”
Rin membuka mata, lalu tersadar akan kondisinya. Sambil membalikkan badan canggung, ia memanggil, “Takumi...”
“Hm?”
“Tolong Ambilkan aku handuk.”
“Tunggu di situ, aku ambilkan,” potong Takumi cepat seraya mematikan selang dan bergegas masuk tanpa menoleh lagi.
Tak lama, ia kembali menyerahkan handuk bersih dari jarak aman. Rin mengeringkan tubuh serta rambutnya hingga tuntas, lalu masuk lewat pintu samping tanpa mengotori lantai rumah, langsung menuju kamar mandi.
Di ruang tengah, Takumi berdiri kaku sejenak sebelum mengembuskan napas panjang. “Benar-benar merepotkan...” gumamnya pelan.
***
Setelah selesai mandi, Rin turun ke lantai bawah dengan pakaian bersih—kaus hitam dan celana cargo hitam. Rambutnya yang masih sedikit lembap dibiarkan terurai hingga jatuh di depan dadanya.
Takumi sedang duduk di ruang tengah. Ponselnya berada di tangan, dan matanya sesekali masih memperhatikan layar. Rin berjalan mendekat, lalu duduk di sofa yang tidak jauh darinya.
"Takumi."
"Hm."
Jawaban itu terdengar pendek. Rin menoleh. Wajah Takumi masih terlihat tidak bersahabat seperti tadi.
"Kau kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa."
Rin menyipitkan mata. Jelas sekali ada sesuatu.
Beberapa saat sebelumnya rin turun, Takumi baru saja melihat foto-foto yang dikirim Kiba ke status percakapan mereka. Ada beberapa foto Rin dan Kiba di pantai, salah satunya memperlihatkan Rin sedang tertawa lepas. Entah kenapa, melihat foto-foto itu membuat suasana hatinya semakin buruk.
Rin yang tidak mengetahui hal itu justru mulai tersenyum.
"Kau mau dengar cerita serunya tadi?"
"Tidak perlu. Aku tidak tertarik."
Rin langsung mengembungkan pipinya. Takumi mengambil remote lalu menyalakan televisi, mengganti beberapa saluran sebelum akhirnya berhenti pada acara pertandingan sepak bola.
Rin masih memandangnya.
"Kau kesal karena hari ini libur dan aku malah pergi, ya?"
Takumi melirik sebentar.
"Aku hanya sedang tidak ingin mendengar cerita."
Rin mendengus pelan.
"Padahal tadi malam kau yang mengajakku pergi."
Takumi terdiam. Ia kembali memusatkan perhatian pada televisi.
"Lalu kau sendiri yang membatalkannya," lanjut Rin.
Takumi tetap diam.
"Kamu tiba-tiba ngambek, terus masuk kamar."
Takumi akhirnya memalingkan wajah ke arahnya. Rin menatapnya beberapa detik, kemudian tersenyum kecil.
"Ya sudah. Sebagai gantinya, bagaimana kalau malam ini kita pergi jalan-jalan?"
Rin mendekat sedikit sambil menangkupkan kedua tangannya di bawah dagu, memasang wajah memelas. Takumi hanya melirik sekilas, kemudian kembali menatap televisi.
"Tidak. Lain kali saja. Aku sedang menonton."
Ia bersandar di sofa, matanya tetap tertuju pada pertandingan. Rin memanyunkan wajah. Karena tidak mendapatkan respons yang diinginkan, ia akhirnya ikut bersandar dan menonton televisi bersamanya.
Beberapa menit berlalu dalam sunyi.
"Rin."
"Ya?"
"Tolong buatkan susu hangat."
Rin menoleh.
"Oh, iya. Sebentar."
Ia kemudian bangkit dan berjalan menuju dapur.
Rin berjalan ke dapur dan menyiapkan segelas susu hangat. Beberapa menit kemudian, ia kembali ke ruang tengah dan meletakkan gelas itu di meja di depan Takumi.
"Nih."
Takumi mengangguk kecil.
"Terima kasih."
Rin kembali duduk di sofa. Ia bersandar dengan nyaman, lalu mengambil ponselnya dan membuka game yang tadi belum sempat diselesaikannya. Takumi mengambil gelas susu itu dan meniup permukaannya sebentar sebelum meminumnya.
"Kau tidak mau?"
Rin menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Tidak. Aku sudah minum tadi."
Takumi kembali menyeruput susu. Beberapa saat kemudian, ia melirik Rin yang sudah begitu fokus dengan permainannya.
"Rin."
"Hm?"
"Tolong buka pintu samping itu sedikit."
Rin tidak menjawab, matanya masih terpaku pada layar. Ia berdiri tanpa menghentikan permainan, berjalan menuju pintu samping, lalu menggesernya sedikit menggunakan kakinya. Setelah terbuka, Rin kembali ke sofa dan duduk bersandar.
Takumi memperhatikannya sebentar, lalu meraba saku celana sebelah kanan. Kosong. Tangannya berpindah ke saku sebelah kiri. Kosong juga. Takumi mengernyit.
"Hei, Rin."
Rin masih memainkan game.
"Apa lagi?"
"Tolong ambilkan rokokku di kamar."
Gerakan jempol Rin langsung berhenti. Ia menekan tombol pause, kemudian meletakkan ponselnya di sofa dengan sedikit kesal. Rin menatap Takumi.
"kamu gak bisa ambil sendiri?"
Takumi bersandar santai. "to-long."
Rin mendengus.
Ia akhirnya bangkit dan berjalan menuju kamar Takumi. Sesampainya di depan pintu, Rin menggesernya sedikit lebih kasar dari biasanya. Takumi yang masih berada di ruang tengah sempat tersenyum kecil melihat sikapnya.
"Kau marah?"
Rin menolak, memasang senyum yang jelas-jelas dipaksakan.
"Ahh... enggak kok."
Takumi terkekeh pelan. Sepertinya ia justru cukup menikmati melihat Rin kesal karena harus meninggalkan game-nya.
Sekarang Rin berdiri di tengah kamar sambil menatap sekeliling. Ia memang sudah beberapa kali melihat kamar itu dari pintu, tetapi baru kali ini ia benar-benar masuk.
"Rokoknya di mana?" tanyanya dari dalam kamar.
"Coba lihat di atas meja," jawab Takumi dari ruang tengah.
Rin berjalan ke meja kecil di samping tempat tidur. Ia membuka laci paling atas, lalu melihat ke permukaannya.
"Tidak ada."
"Kalau begitu coba di saku celana yang tergantung."
Rin menolak ke arah beberapa pakaian Takumi yang tergantung rapi di sisi lemari. Ia menghela napas panjang.
"Ih... kamu saja yang ambil. Aku sudah masuk ke kamarmu, tahu."
Takumi yang masih duduk di sofa mengangkat alis.
"Rin...Tolong?"
"Ya. Kamarmu saja sudah terasa seperti museum. Aku takut salah menyentuh sesuatu."
Takumi terkekeh kecil.
"Aku seharian sudah mengurus banyak hal yang seharusnya menjadi tugasmu."
Rin langsung mendengus.
Ia pun berjalan mendekati celana yang tergantung dan mulai memeriksa sakunya satu per satu. Beberapa menit berlalu. Takumi yang menunggu di ruang tengah akhirnya bersuara.
"Ketemu tidak? Celana yang digantung cuma satu. Kenapa lama—”
Kalimatnya terhenti. Seketika Takumi berdiri. Ada sesuatu yang baru ia ingat—sesuatu yang seharusnya tidak boleh ditemukan Rin. Takumi langsung melangkah cepat menuju kamar.
"Rin, tunggu—”
Namun terlambat. Begitu sampai di ambang pintu, ia melihat Rin sedang berdiri di dekat celana yang tergantung dengan tangan yang sudah masuk ke salah satu saku. Rin menarik sesuatu keluar.
Takumi juga terdiam.
Di tangan Rin kini terdapat satu bungkus rokok, sebuah pemantik, dan sebungkus pengaman pria. Wajah Rin perlahan memerah. Ia menatap benda-benda itu beberapa detik, lalu buru-buru mengulurkannya kepada Takumi dengan gerakan sedikit kasar.
"Ini."
Takumi mengambil semuanya, lalu menghela napas pelan. Rin hendak melewatinya untuk keluar dari kamar, tetapi Takumi tanpa sadar menahan tangannya.
"Kenapa merona begitu?"
Rin langsung menoleh dengan wajah semakin merah.
"Kamu sengaja menyuruhku mengambilnya, kan? Supaya aku melihat isi kantongmu?"
Takumi mengerutkan kening, seolah baru menyadari kesalahpahaman itu.
"Tidak. Bukan begitu. Aku benar-benar tidak ingat kalau aku menyimpannya di saku celana itu."
Rin menarik tangannya pelan. "Ya sudah... aku tidak mau tahu."
Ia mencoba kembali berjalan, tetapi tangan Takumi masih menahannya. "Rin, tunggu dulu."
"Apalagi?"
Takumi belum sempat menjawab ketika Rin berusaha melepaskan tangannya sekali lagi. Gerakannya membuat keseimbangan mereka berubah. Rin mundur satu langkah, dan Takumi refleks menariknya agar tidak jatuh. Namun—
Bruk!
Tubuh Rin jatuh lebih dulu ke atas kasur. Takumi ikut kehilangan keseimbangan dan menahan tubuhnya dengan kedua tangan di sisi Rin.
Untuk beberapa detik, kamar itu benar-benar sunyi. Rin membeku. Takumi pun diam. Jarak wajah mereka begitu dekat sampai keduanya bisa merasakan napas satu sama lain. Mata Rin perlahan terangkat, dan tatapan mereka bertemu. Takumi yang semula hendak segera bangkit justru berhenti sesaat.
Rin tidak berkata apa-apa. Wajah keduanya sama-sama memerah. Takumi perlahan memiringkan wajahnya sedikit,
Dan tepat saat suasana itu mulai terasa semakin canggung—
Keduanya tersentak.