Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dark Romance / Psikopat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Jeritan Estella masih bergema membelah sunyinya hutan pinus, menyisakan deru napasnya yang tersengal-sengal di dalam kegelapan. Tubuhnya gemetaran hebat di atas tanah basah, sementara kedua telapak tangannya bergetar hebat menatap noda merah kental yang melapisi seluruh jemarinya.

Di hadapannya, Lucian berdiri tegak tanpa emosi. Pria itu menyapu pandangannya ke arah potongan-potongan tubuh yang berserakan, lalu merogoh saku belakangnya dan melemparkan sebendel plastik sampah hitam tebal berukuran raksasa tepat ke pangkuan Estella.

PLAK!

"Tugasmu adalah membersihkan semua ini ke dalam plastik," ujar Lucian dengan suara deep voice-nya yang teramat dingin dan mutlak. "Bersihkan tanpa sisa. Dan jangan tinggalkan jejak sedikit pun."

Mendengar perintah gila itu, mata Estella membelalak selebar-lebarnya. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya yang berdarah, suaranya naik beberapa oktav karena panik setengah mati.

"A-aku?! Aku banget nih?!" pekik Estella histeris, suaranya cempreng memecah malam. "Aish, Ganteng! Bayangin dong, aku ini anak gadis orang kaya yang biasanya megang sisir sama kuas makeup! Masa sekarang disuruh jadi tukang jagal yang memunguti potongan tubuh orang malam-malam begini?!"

Estella mendongak, menatap wajah tampan Lucian dengan pandangan memelas penuh ketakutan. "Lagian... Nanti kalau korban kamu ini dendam gimana?! Kalau arwahnya gentayang terus ngetok jendela kamar pembantu aku tiap malam gimana?! Kalo aku diteror gimana?! Kalo dihitam-hitami alias dihantui gimana?! Kan aku yang berabe, Lucian!"

Lucian tidak merespons rengekan panjang itu dengan empati sedikit pun. Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap iris abu-abu Estella dengan pandangan mematikan dari balik bayangan cahaya bulan.

"Kalau begitu..." berdesis Lucian amat pelan, laras pistolnya kembali muncul di balik pinggangnya dan mengetuk pelan bahu Estella. "...kau bergabung saja dengannya di dalam plastik."

DEG!

Darah Estella serasa membeku seketika. Ancaman singkat itu menghantam kepalanya bagaikan petir. Pilihan hidupnya sangat simpel: membersihkan ceceran organ manusia ini, atau dijadikan ceceran organ berikutnya!

"EITSSS! Jangan dong, Ganteng!" seru Estella refleks sambil menyilangkan kedua tangannya membentuk huruf X di depan dada, mengabaikan lengketnya darah di kulitnya.

Ia memamerkan cengiran ringis yang teramat pasrah, menyambar plastik sampah hitam itu dengan gerakan sergap. "Iya, iya! Niih, aku bereskan sekarang juga! Sumpah, aku ini babu paling rajin dan serba bisa! Kagak bakal ada hantu yang berani ganggu babunya Lucian Voss!"

Estella langsung merangkak di atas tanah basah, mulai membuka gulungan plastik tebal tersebut dengan jemari yang masih tremor parah. Rasa mual melilit perutnya hingga ia harus memalingkan wajah berkali-kali saat memunguti satu per satu potongan yang berserakan.

"Permisi ya, Mas... Mbak... atau siapa pun nama Anda," bisik Estella komat-kamit ketakutan pada ceceran di hadapannya sambil memasukkannya ke dalam plastik. "Jangan hantui saya ya... Yang ngebunuh cowok ganteng di samping saya itu, saya cuma babu yang tertekan!"

Sementara Estella bersusah payah merangkak dan mengumpulkan sisa-sisa perburuan itu di bawah teror malam, Lucian hanya berdiri beberapa meter darinya, menyandarkan punggungnya pada batang pohon pinus besar seraya menyalakan sebatang rokok. Iris matanya yang sehitam jelaga terus mengawasi setiap pergerakan Estella menilai seberapa jauh gadis dari keluarga Aurora ini bisa bertahan di bawah cengkeraman kekuasaannya.

Sekitar satu jam berlalu. Di bawah remang cahaya bulan dan dinginnya angin malam hutan pinus, Estella akhirnya berhasil menyelesaikan tugas menggidikkan tersebut. Sepanjang satu jam penuh, ia tak henti-hentinya merengek, meratapi nasib, dan menggerutu pelan sembari mengikat rapat kantong plastik tebal yang kini sudah terisi penuh.

"Haaaaah... akhirnya selesai juga! Gila, ini mah rekor kerja bakti paling ekstrem se-dunia!" keluh Estella seraya menyapu keringat di dahinya menggunakan lengan baju yang masih relatif bersih.

Ia berdiri dengan kaki yang terasa lemas bagaikan jeli, menghampiri Lucian yang masih berdiri tenang bersandar di batang pohon pinus. "Lucian... aku capek banget, tahu! Pinggang aku serasa mau patah, tangan aku bau amis, napas aku sampai ngos-ngosan begini!"

Lucian tidak merespons keluhan dramatis itu. Pria itu hanya menatapnya dengan pandangan datar, melangkah dingin melewatinya menuju mobil sedan hitam yang sudah menunggu. Tanpa opsi lain, Estella menyeret kakinya dan ikut masuk ke kabin belakang mobil.

Begitu pintu mobil tertutup dan pendingin udara menerpa wajahnya yang lelah, rasa kantuk yang luar biasa dahsyat langsung menyerang Estella. Tubuhnya yang kehabisan energi akhirnya menyerah. Kepala Estella terkulai ke samping, dan ia tertidur pulas dalam hitungan detik.

Di dalam lelap tidurnya, pikiran Estella ditarik masuk ke dalam sebuah mimpi masa lalu yang teramat asing namun terasa sangat nyata.

Hari itu, matahari sore menyinari sebuah taman kota yang rindang. Estella kecil yang berusia enam tahun, dengan gaun renda merah muda yang mengembang manis, sedang berlarian mengejar kupu-kupu. Namun, langkah kaki kecilnya terhenti ketika matanya menangkap sosok anak laki-laki yang duduk sendirian di sudut taman tersembunyi, tepat di bawah rindangnya pohon beringin tua.

Anak laki-laki itu meringkuk diam, bahunya bergetar pelan saat menangis tanpa suara.

Estella kecil yang pada dasarnya periang dan penuh rasa ingin tahu melangkah mendekat, lalu berlutut di depan anak laki-laki itu.

"Kenapa kamu menangis?" tanya Estella kecil dengan suara cemprengnya yang polos.

Anak laki-laki itu perlahan menengadahkan kepala. Wajahnya yang rupawan dipenuhi memar kebiruan dan bekas luka goresan yang masih mengeluarkan darah tipis. Matanya yang gelap menatap Estella dengan pandangan hampa.

"Habis dipukuli... sama Ayah," bisik anak laki-laki itu parau.

Sejak hari itu, Estella kecil selalu datang ke sudut taman tersebut setiap sore selama satu minggu berturut-turut. Ia membawa bekal kue manis, menempelkan plester bergambar kartun pada luka-luka di wajah anak laki-laki itu, dan mengobrol tanpa henti untuk menghiburnya. Sepanjang minggu itu, anak laki-laki tersebut hanya diam menatapnya, membiarkan Estella kecil menguasai percakapan.

Hingga di hari ketujuh hari terakhir mereka bertemu.

Estella kecil yang duduk di atas rumput menatap anak laki-laki di sampingnya. "Eh, dari kemarin kita main tapi aku belum tahu nama kamu! Nama kamu siapa sih?"

Anak laki-laki itu diam sejenak, menatap iris mata Estella kecil sebelum akhirnya bibirnya yang pucat bergerak pelan pelan.

"...Lucian," bisiknya halus.

Mata Estella kecil berbinar gembira. "Wah, nama kamu bagus banget! Kalau nama aku—"

"Nona Ayo kita pulang sekarang, Tuan Besar sudah menunggu!"

Suara panggilan keras dari seorang pelayan wanita paruh baya memotong kalimat Estella kecil. Sang pelayan lari menghampiri dan langsung menarik lembut lengan Estella kecil untuk mengajak pulang.

"Tunggu sebentar, Bi!" seru Estella kecil panik. Sebelum diseret menjauh, Estella kecil melepas sebuah kalung sederhana buatan tangannya sendiri kalung dari untaian manik-manik plastik berwarna keperakan dengan liontin bintang kecil lalu menggenggamkannya ke telapak tangan Lucian kecil.

"Ini buat kamu! Jangan menangis lagi ya, Lucian!" teriak Estella kecil seraya melambaikan tangannya saat ditarik pergi oleh sang pelayan. Itu menjadi kali terakhir mereka bertemu dalam ingatan masa kecil tersebut.

SRET!

"Ugh!"

Estella tersentak kaget! Kesadarannya ditarik paksa dari alam mimpi saat bahunya dicengkeram dan ditarik dengan sangat kasar dari luar mobil!

"Aish... apa-apaan sih?!" pekik Estella meringis kesakitan, matanya terbuka lebar secara refleks.

Mobil ternyata sudah kembali parkir di area mansion. Lucian berdiri di luar pintu mobil yang terbuka, menarik paksa lengan Estella hingga gadis itu hampir tersungkur keluar dari jok belakang.

Iris mata sehitam malam milik Lucian menatap Estella dari atas ke bawah dengan raut wajah yang tidak sabaran dan sedingin es.

"Turun," perintah Lucian pendek dengan suara deep voice-nya yang tajam. "Jangan buang-buang waktuku hanya untuk menunggu babu yang malas bangun."

1
putmelyana
bodoh banget ceweknya orang MH ngejauh dari kematian malah ngedeketin udah tau dia psikopat malah deketin. orang mh kabur nikmati karena transmigrasi jadi kaya malah jadi babu
putmelyana
apasih karakter ceweknya sikapnya berlebihan banget gajelas.
Alissia
up thor🤭🤭
Alia Chans
Hadir Thor, saling support💪/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!