Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Darurat: Sahabat Sendiri!

Suami Darurat: Sahabat Sendiri!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
​Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
​Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
​Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
​Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
​Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Janji di Ujung Batas Waktu

​Suara denting sendok yang beradu dengan piring kaca memenuhi ruang makan keluarga Ruella. Di meja kayu jati berbentuk oval itu, suasana makan malam yang semula tenang mendadak berubah tegang hanya karena satu pertanyaan sederhana dari kepala keluarga.

​"Nadira," panggil Doni, mengelap bibirnya dengan serbet kain sebelum menatap putri sulungnya. "Bulan depan kamu umur berapa?"

​Nadira yang baru saja hendak menyuapkan potongan daging sapi ke mulutnya mendadak membeku. Ia menghentikan sendoknya di udara, lalu menatap sang ayah dengan pandangan penuh kewaspadaan.

​"Kenapa Papa nanya-nanya umur? Kan tiap tahun juga Nadira ulang tahun," sahut Nadira pelan, mencoba mengalihkan pembicaraan sambil mengunyah lambat-lambat.

​Dinan, sang ibu, menghela napas panjang melihat tingkah putrinya. "Mama yang minta Papa tanya. Kamu sadar enggak, Nadira? Tiga puluh. Angka tiga di depan itu tinggal menghitung hari."

​"Dua puluh sembilan sebelas bulan, Ma," potong Nadira cepat. Matanya melotot menegaskan. "Masih ada waktu sebulan. Jangan dibulat-bulatin gitu, dong!"

​Dari sebelah kanan meja, Nadeo—adik laki-laki Nadira yang baru lulus kuliah—hanya menyeringai lebar sambil menyesap teh hangatnya.

​"Alah, sebulan lagi juga tetep aja tiga puluh, Mbak. Gaya bener pake nahan-nahan hari. Hilal jodoh lo aja kagak keliatan," celetuk Nadeo tanpa dosa.

​"Deo! Bisa diam enggak lo?" desis Nadira tajam, menatap adiknya dengan tatapan membunuh. "Gue lagi fokus sama karier ya! Jodoh itu urusan belakangan!"

​"Fokus karier apa fokus patah hati?" balas Nadeo santai. "Bulan lalu nangis-nangis gara-gara Mas Rian yang ternyata udah mau nikah sama cewek lain. Dua bulan sebelumnya nangis gara-gara cowok penyedia jasa mentoring yang ternyata penipu. Tiga bulan lalu—"

​"Nadeo, cukup," tegur Doni halus, meski sudut bibirnya sedikit terangkat melihat kelakuan kedua anaknya.

​"Bener kata adikmu, Nadira," timpal Dinan, menatap Nadira dengan tatapan penuh selidik. "Kamu itu terlalu ceroboh kalau milih cowok sendiri. Selalu aja dapet yang aneh-aneh. Padahal yang jelas-jelas ada di depan mata, yang udah terbukti baiknya, malah kamu cuekin."

​Nadira langsung menghempaskan sendoknya ke piring. Ctek!

​"Jangan mulai deh, Ma. Tolong banget, jangan bahas perjodohan sama Askara lagi. Nadira udah bilang berapa kali, Askara itu sahabat Nadira dari zaman masih main seluncuran di taman!"

​"Sahabat tapi dari dulu jagain kamu terus, kan?" sahut Dinan tak mau kalah. "Kamu pikir Tante Iliana sama Om Alan di sebelah enggak nungguin kamu jadi menantu mereka? Mereka itu dari dulu udah ngode ke Mama terus!"

​"Ya tapi Askara-nya sendiri aja enggak pernah ngomong apa-apa, Ma!" seru Nadira dengan nada gengsi yang meluap-luap. "Askara aja santai! Dia enggak pernah maksain kehendak! Kenapa malah Papa sama Mama yang heboh?"

​Nadeo menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sang kakak. "Mbak... Mbak. Kasihan gue sama Mas Ka. Lo-nya aja yang kurang peka atau sengaja nutup mata."

​"Bisa diam enggak, Deo?!"

​Sementara itu, di rumah sebelah yang hanya terpisahkan oleh pagar tanaman hijau, suasana ruang makan keluarga Pradipta jauh lebih tenang.

...****************...

​Alan Pradipta sedang membaca koran digital di tabletnya saat istrinya, Iliana, meletakkan cangkir kopi panas di sampingnya. Di ujung meja yang lain, Askara Pradipta—pria berusia 30 tahun dengan kemeja kerja yang gulungan lengannya sudah disingkap hingga siku—sedang sibuk memeriksa dokumen di laptopnya.

​"Ka," panggil Iliana lembut.

​"Iya, Ma?" sahut Askara tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.

​"Tadi siang Mama ketemu Tante Dinan di minimarket depan kompleks."

​"Oh ya? Tante Dinan sehat?"

​"Sehat. Tapi pusing mikirin Nadira," kata Iliana, sengaja memancing reaksi anak tunggalnya itu.

​Jari-jari Askara yang sedang mengetik di atas kibor mendadak berhenti. Ia mengangkat kepalanya perlahan, menatap ibunya dengan raut wajah yang tetap tenang, meski tatapan matanya berubah fokus.

​"Kenapa sama Nadira, Ma?"

​Iliana menghela napas, duduk di sebelah anaknya. "Apalagi kalau bukan urusan jodoh? Katanya Nadira kemarin habis nangis-nangis lagi gara-gara cowok yang dideketinnya bermasalah. Mama kasihan sama Tante Dinan. Kamu ini gimana sih, Ka? Saham perusahaan papa kamu yang lain bisa kamu urus, tapi urusan cewek di sebelah rumah kok macet total?"

​Alan terkekeh di balik tabletnya. "Kamu ini, Ma. Jangan mendesak Askara terus. Anak kita ini kan tipe pria penyabar."

​"Sabar sih sabar, Pa! Tapi kalau kelamaan, keburu diambil orang gimana?" seru Iliana gemas. "Kemarin juga pas acara kumpul kolega bisnis Papa, Pak Hendar nawarin anak gadisnya yang baru lulus dari Inggris buat dikenalin sama Askara. Anak Pak Hendar itu cantik, pinter, sopan... Tapi Papa sama Mama kan maunya Nadira!"

​Askara tersenyum kecil. Ia menutup laptopnya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

​"Ma, Pa," suara Askara terdengar sangat tenang namun berwibawa. "Tawaran dari kolega Papa, tolong ditolak secara halus ya. Askara enggak tertarik."

​"Tuh kan, pasti enggak tertarik karena hatinya udah nyangkut di sebelah," cetus Iliana. "Kalau udah tahu nyangkut di Nadira, kenapa kamu diam aja dari dulu, Ka? Dari kalian SMA, kuliah, sampai sekarang udah sama-sama kerja. Kenapa enggak langsung kamu lamar aja? Orang tua Nadira itu pasti langsung ngerestuin!"

​"Nadira itu punya gengsi yang tinggi banget, Ma," jawab Askara pelan, matanya menerawang membayangkan wajah sahabatnya itu. "Nadira keras kepala. Kalau Askara maksain perjodohan lewat Papa dan Mama, Nadira bakal merasa terpojok. Dia malah bisa lari makin jauh dari Askara."

​"Jadi kamu mau nunggu sampai kapan?" tanya Alan, kini ikut menatap putra tunggalnya itu dengan serius.

​Askari melirik jam tangannya, lalu tersenyum tipis—senyuman misterius yang selalu disembunyikannya dari semua orang, terutama Nadira.

​"Enggak bakal lama lagi kok, Pa, Ma," ujar Askara penuh keyakinan. "Satu bulan lagi."

​Iliana mengernyitkan dahi. "Satu bulan lagi? Ada apa satu bulan lagi?"

​"Ulang tahun Nadira yang ke-30," jawab Askara singkat.

...****************...

​Pukul sepuluh malam. Nadira duduk di ayunan kayu yang ada di halaman samping rumahnya. Udara malam cukup dingin, tapi hatinya jauh lebih panas memikirkan obrolan di meja makan tadi.

​Suara langkah kaki yang sangat ia kenali mendekat dari arah pagar penghubung rumah mereka.

​"Belum tidur?"

​Nadira menoleh dan menemukan Askara berdiri di sana, mengenakan kaos oblong hitam dan celana santai. Pria itu membawa dua kaleng minuman cokelat hangat di tangannya. Askara berjalan mendekat, lalu menyerahkan satu kaleng pada Nadira sebelum duduk di kursi kayu tak jauh dari ayunan.

​"Enggak bisa tidur. Kesel," gerutu Nadira sambil menerima kaleng cokelat itu.

​"Kesel kenapa? Gara-gara nyokap lo bahas nikah lagi?" tanya Askara santai, mengusap puncak kepala Nadira sebentar sebelum membuka kaleng minumannya sendiri.

​"Siapa lagi kalau bukan gara-gara itu!" bentak Nadira pelan, menghentakkan kakinya ke tanah. "Gue sebel banget, Ka! Kenapa sih semua orang di rumah gue selalu ngerasa gue ini cewek malang yang kagak laku-laku? Deo juga ikut-ikutan lagi!"

​"Ya kan emang lo belum ketemu yang pas, Nad," sahut Askara tenang. "Enggak usah dipikirin banget."

​"Tapi harga diri gue terinjak-injak, Ka!" Nadira cemberut, meminum cokelatnya seraya menatap langit malam. "Masa nyokap gue masih aja berusaha jodoh-jodohin gue sama lo? Emang mereka kira kita apaan? Kita kan sahabat!"

​Askara menatap profil wajah Nadira dari samping. Di balik kegelapan malam, tatapan matanya begitu hangat, dalam, dan penuh rasa kerinduan yang ditahannya bertahun-tahun.

​"Sahabat, ya?" gumam Askara pelan.

​"Iya lah! Lagian lo juga pasti ogah kan dinikahin sama cewek kaya gue? Lo kan bisa dapet cewek mana aja yang lo mau. Tante Iliana cerita lo sering dijodohin sama anak kolega Om Alan!"

​Askara terkekeh kecil. "Gue tolak semuanya kok."

​"Tuh kan! Lo aja milih-milih! Masa gue enggak boleh milih?!" seru Nadira bangga.

​Askara menghembuskan napas pelan, lalu menatap Nadira lurus-lurus.

​"Nadira."

​"Apa?"

​"Lo inget janji kita lima tahun lalu di balkon pas lo baru putus dari mantan lo yang pesepak bola itu?"

​Nadira mendadak terdiam. Wajahnya perlahan memerah di dalam kegelapan. "J-janji apaan? Gue lupa."

​"Jangan pura-pura lupa," bisik Askara. Suaranya terdengar makin dalam dan intim, membuat dada Nadira mendadak berdebar aneh. "Waktu itu lo nangis-nangis, terus lo bilang: 'Ka, kalau umur gue 30 tahun belum ada cowok yang nikahin gue, lo wajib nikahin gue! Awas kalau enggak!'"

​"I-itu kan cuma omongan bercandaan orang frustrasi!" sanggah Nadira cepat, berusaha menutupi kegugupannya dengan suara keras. "Gue asal ngomong doang waktu itu!"

​"Tapi gue enggak pernah nganggap itu becandaan, Nad," potong Askara tenang.

​Kata-kata Askara menggantung di udara malam. Nadira menahan napasnya, menatap Askara dengan mata membelalak.

​"M-maksud lo apa?"

​Askara tersenyum tipis, berdiri dari kursinya lalu melangkah mendekati ayunan Nadira. Ia menunduk sedikit, menyejajarkan posisinya dengan wajah Nadira yang membeku.

​"Satu bulan lagi umur lo 30 tahun, Nadira Ruella," tegas Askara tepat di depan wajah Nadira. "Waktu lo buat nyari cowok lain udah habis. Dan gue... udah cukup sabar nunggu lima tahun ini."

1
Azizah az
ikutan disini Thor ☺️🤗
Fitra Sari
lanjut lagi KK 🙏🥰
N07
New reader nie Thor. Suka sama gaya berceritanya, susunan kata & tanda baca juga rapi jadi enak bacanya. Semoga ceritanya juga menarik sampe ending ga bertele2.
mak mak doyan novel
nah gini kan adem.. g ada gengsi yg tinggi lgi
mak mak doyan novel
ini mah calon suami idaman
mak mak doyan novel
udah ya nad gengsinya.. semua dukung kmu sama aska
Fitra Sari
lanjut KK sampe halal 🥰
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏
aku jadi semangat nih...
total 1 replies
umie chaby_ba
lanjut thor
umie chaby_ba
ceritanya ringan, dan bagus...
semangat terus thor...
/Heart/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak ya kakak♥️
total 1 replies
English Lesson
Bagus👍🏻👍🏻
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
waduh... askara serem juga...
umie chaby_ba
lah aska mah lemah banget ngambek bentaran doang... 🤣
umie chaby_ba
hayo loh ...
umie chaby_ba
nadira ngeselin ih... malah cerita lagi udah tahu suasananya lagi ga beres malah cerita
mak mak doyan novel: setuju..
ngeselin bgt dia
total 1 replies
umie chaby_ba
nah kan... bukan orang biasa aja yang ujug-ujug dateng. pasti ada maksud terselubung 🤭
umie chaby_ba
mode protektif nih🤭
umie chaby_ba
dih... bisa aja brondong... bahaya banget nih... nanti nadira tergoda lagi, kesempatan banget buat nadira malah ini mah...🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
umie chaby_ba
kagak inget umur banget si nad sumpah 30 tahun masih begitu, askara lo sabarnya kebangetan ini mah !!!
umie chaby_ba
sumpah nadia ini ngeselin! main nuduh penjahat kelamin lagi🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
nah loh... kan bader banget lo nad udah tua geh🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!