Indonesia
NovelToon NovelToon
Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Lari Saat Hamil / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nova sari

Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.

Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.

Sejak itu Lorenzo mengurungnya.

"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."

Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lorenzo Cemburu Buta

Senin pagi, jam 07.30.

Gerbang TK Pelangi Ceria macet lagi.

Bukan karena Rolls Royce De Luca.

Tapi karena Lorenzo menolak turun dari mobil.

"Pa, ayo turun, udah bel!" kata Luna dari kursi belakang, sudah rapi pakai seragam TK.

Lorenzo masih pakai kacamata hitam di dalam mobil, wajahnya cemberut. Se-cemberut Luna waktu stik kejunya dihabisin Leon.

"Pa kenapa?" Leon tanya polos.

Lorenzo akhirnya buka suara. "Tadi malam Luna bilang apa sebelum tidur?"

Luna mikir. "Luna bilang... Luna sayang Bu Guru Sarah karena Bu Guru kasih stiker 10 biji!"

Nah, itu masalahnya.

Sejak 3 hari lalu, Luna jadi lengket banget sama Bu Guru Sarah. Pulang sekolah cerita Bu Guru terus. "Bu Guru cantik, Bu Guru pinter gambar, Bu Guru kasih Luna bintang emas."

Lorenzo, bos mafia yang ditakuti se-Italia, cemburu sama Bu Guru TK umur 25 tahun.

Elena yang duduk di depan sudah ngakak dari tadi. "Pa, kamu cemburu sama Bu Guru? Ya ampun, Pa, itu guru TK lho."

"Guru TK juga perempuan! Luna bilang sayang! Luna gak pernah bilang sayang Papa 10 kali sehari!" protes Lorenzo, masih pakai jas hitam mahal tapi mukanya kayak anak kecil ngambek.

Thomas yang jadi supir pura-pura batuk. Dia gak berani ketawa.

Akhirnya mereka turun.

Bu Guru Sarah sudah menunggu di gerbang, senyum ramah.

"Selamat pagi, Leon, Luna! Selamat pagi, Tuan Lorenzo!"

Luna langsung lari peluk Bu Guru Sarah. "Bu Guru! Luna kangen!"

Bu Guru Sarah peluk Luna balik.

Lorenzo lihat itu, rahangnya mengeras. Tangannya mengepal.

Leon yang lihat Papa-nya mau meledak, langsung tarik tangan Lorenzo.

"Pa, jangan. Nanti Bu Guru takut. Ingat pesan Mama, jangan jadi mafia di sekolah," bisik Leon.

Itu nasehat Elena tiap pagi.

Jam 09.00, Lorenzo belum pulang. Dia duduk di pos satpam TK, pakai celemek biru PAPA SIAGA tapi matanya ngawasin kelas Luna terus dari jendela.

Di dalam kelas, Bu Guru Sarah lagi ajar menggambar.

"Hari ini kita gambar pahlawanku!" kata Bu Guru.

Luna angkat tangan semangat. "Luna mau gambar Bu Guru Sarah! Bu Guru pahlawan Luna!"

Satu kelas tepuk tangan.

Di luar jendela, Lorenzo dengar. Hatinya sakit.

"Thomas, beliin bunga paling mahal di toko sebelah. Sekarang," bisik Lorenzo lewat HT.

5 menit kemudian, Thomas datang bawa buket bunga mawar merah 100 tangkai.

Lorenzo bawa bunga itu, jalan ke kelas dengan percaya diri.

"Permisi, Bu Guru," kata Lorenzo, suaranya berat.

Bu Guru Sarah kaget. "Iya, Tuan Lorenzo?"

Lorenzo kasih bunga ke Luna, bukan ke Bu Guru.

"Luna, ini buat Luna. Dari Papa. 100 tangkai, lebih banyak dari stiker Bu Guru," kata Lorenzo.

Satu kelas hening. Anak-anak lain bengong lihat buket sebesar Luna.

Luna senyum lebar. "Wah! Banyak banget! Makasih Pa!"

Luna peluk Lorenzo. Akhirnya!

Tapi Luna habis peluk Papa, dia kasih satu mawar dari buket itu ke Bu Guru Sarah. "Bu Guru, ini buat Bu Guru! Biar Bu Guru juga punya bunga!"

Lorenzo bengong lagi.

Usahanya gagal.

Bu Guru Sarah senyum, terima bunga itu. "Makasih, Luna sayang."

Leon yang duduk sebelah Luna cuma geleng-geleng. "Papa, strategi Papa salah. Seharusnya Papa kasih stiker, bukan bunga. Luna suka stiker."

Lorenzo jongkok depan Leon. "Stiker? Papa gak punya stiker. Papa punya saham pabrik stiker. Mau Papa beliin pabriknya?"

Leon mikir. "Jangan, Pa. Nanti Bu Guru Sarah takut."

Jam pulang sekolah.

Luna keluar kelas sambil gandeng Bu Guru Sarah, bukan gandeng Lorenzo.

"Luna, pulang sama Papa yuk, Mama sudah masak rendang," ajak Lorenzo.

Luna angguk, tapi masih gandeng Bu Guru. "Bu Guru ikut yuk makan rendang di rumah Luna! Rendang buatan Mama enak!"

Bu Guru Sarah kaget, lihat Lorenzo. Lorenzo wajahnya sudah merah, tapi dia gak bisa nolak depan Luna.

"Boleh, Tuan Lorenzo?" tanya Bu Guru sopan.

Lorenzo terpaksa angguk. "Boleh..."

Jadi mobil Rolls Royce De Luca pulang bawa penumpang tambahan: Bu Guru Sarah.

Di mobil, Luna duduk tengah, kiri Bu Guru, kanan Leon. Lorenzo duduk depan sama Thomas, masih cemburu tapi gak bisa ngapa-ngapain.

Sampai di mansion, Elena sudah menunggu.

Waktu lihat Bu Guru Sarah turun dari mobil, Elena langsung paham. Dia lihat Lorenzo cemburu.

"Selamat datang, Bu Guru!" sapa Elena ramah.

Bu Guru Sarah salim. "Maaf merepotkan, Nyonya."

Makan siang jadi canggung.

Luna terus suapin Bu Guru Sarah. "Bu Guru coba rendangnya! Buatan Mama!"

Bu Guru makan, puji masakan Elena.

Lorenzo cuma makan diam, lihatin Luna yang perhatian banget sama Bu Guru.

Elena tendang kaki Lorenzo pelan di bawah meja.

Lorenzo lihat Elena. Elena bisik, "Pa, Luna sayang Bu Guru karena Bu Guru baik. Bukan berarti Luna gak sayang Papa. Papa itu cinta pertamanya Luna."

Lorenzo dengar itu, hatinya luluh.

Selesai makan, Bu Guru pamit pulang. Luna kasih bekal stik keju pink 2 bungkus buat Bu Guru.

"Papa, anterin Bu Guru pulang ya, pakai mobil yang bagus!" kata Luna.

Lorenzo anterin Bu Guru sampai gerbang, tapi kali ini dia senyum tulus.

"Terima kasih sudah jaga Luna di sekolah, Bu Guru," kata Lorenzo.

Bu Guru angguk. "Luna anak baik, Tuan. Leon juga. Tuan beruntung."

Setelah mobil Bu Guru pergi, Luna tarik tangan Lorenzo.

"Pa, Luna tetap paling sayang Papa kok! Papa nomor satu, Bu Guru nomor dua!" kata Luna, peluk kaki Lorenzo.

Lorenzo langsung gendong Luna tinggi-tinggi.

"Papa juga paling sayang Luna! Papa nomor satu sayang Luna!"

Leon yang lihat dari jauh cuma tutup mata. "Duh, drama lagi."

Malam itu, Lorenzo tempel stiker bintang emas di kulkas. Stiker pemberian Bu Guru Sarah yang Luna kasih ke dia.

Di stiker itu ada tulisan Luna: "Papa pahlawanku juga!"

Cemburu butanya sembuh seketika.

*BERSAMBUNG*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!