Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodoh Di Tangan Sahabat

Jodoh Di Tangan Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bohong?

Agnia mengepalkan tangannya kuat-kuat, mematikan layar ponselnya dengan napas memburu. Penolakan halus Reyna semalam, alasannya yang terkesan dibuat-buat soal pekerjaan yang menumpuk, hingga keputusannya menyembunyikan kenyataan pahit ini sendirian.

​"Terima kasih banyak ya, Pak," ucap Agnia dengan suara bergetar.

​Agnia berbalik cepat, melangkah lebar menuju mobilnya tanpa memedulikan kantong kue pastry yang kini terasa sama sekali tidak berguna. Ia melempar kantong itu ke kursi penumpang dan membanting pintu mobil, lalu menyalakan mesin dan menuju kontrakan Reyna.

​Sepanjang perjalanan membelah jalanan Bandung yang padat, pikiran Agnia berkecamuk antara rasa marah, sedih dan kecewa karena Reyna berbohong.

​Beberapa saat kemudian, Agnia sampai di gang kontrakan Reyna. Ia memarkirkan mobilnya di bahu jalan, lalu setengah berlari menyusuri gang beraspal rusak yang membelah deretan rumah petak.

​Begitu tiba di depan pintu kayu berwarna hijau pudar milik Reyna, Agnia tidak mengetuknya dengan pelan. Ia mengetuk papan pintu itu berkali-kali dengan kepalan tangannya, menimbulkan suara keras yang menggema di lorong gang.

​"Reyna! Reyna, buka pintunya! Aku tahu kamu di dalam!" teriak Agnia, suaranya tak mampu lagi menahan emosi yang membendung.

​Di dalam kontrakannya yang sunyi, Reyna yang sedang istirahat setelah mencari pekerjaan pun terkejut ketika mendengar suara ketukan dan teriakan keras dari luar. Dengan dahi berkerut bingung, Reyna bergegas bangkit dan membuka selot pintu.

​Ceklek.

​Pintu terbuka, memperlihatkan Agnia yang berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah, mata yang memerah dan tatapan tajam yang menghunus tepat ke arah mata Reyna.

​"Nia? Kamu kok ada di sini? Katanya...,"

​Belum sempat Reyna menyelesaikan kalimatnya, Agnia melangkah maju dan mendorong bahu Reyna pelan dan masuk ke dalam kontrakan lalu memutar tubuh untuk menutup pintu dengan sentakan keras.

​"Kenapa kamu bohong sama aku, Rey?" potong Agnia langsung pada intinya. Suaranya serak, menahan tangis yang siap pecah kapan saja.

​Reyna terpaku di tempatnya berdiri, rona kebingungan di wajahnya perlahan luntur dan berganti dengan riak kecemasan.

"Bohong? Bohong soal apa, Ni? Aku nggak...,"

​"Soal pekerjaan kamu!" potong Agnia setengah berteriak, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetas membasahi pipinya.

"Pekerjaan banyak apa, Reyna? Berkas apa yang harus kamu selesaikan sampai nggak bisa ikut aku? Kamu sudah dipecat tiga hari yang lalu! Kamu dimarahi Bu Sandra di depan semua orang dan kamu diusir dari kantor itu!" lanjut Agnia.

​Kata-kata Agnia menghantam keheningan kamar kontrakan itu bagai dentuman keras. Reyna mematung, lidahnya mendadak kelu, ia menatap Agnia dengan pandangan tak percaya dan menyadari bahwa rahasia yang ia tutup rapat-rapat telah terbongkar sepenuhnya.

​"Kamu... tahu dari mana, Ni?" bisik Reyna pelan, menundukkan kepalanya.

​"Aku tadi ke kantor kamu, Reyna! Aku mau kasih kejutan, mau bawain makanan buat kamu dan teman-teman kamu!" cecar Agnia seraya melangkah mendekati Reyna dan meremas kedua bahu sahabatnya itu dengan erat.

"Pak Joko yang cerita semuanya! Kenapa kamu nggak cerita sama aku, Rey? Kenapa kamu malah bohong dan bilang pekerjaan kamu lagi padat?" tanya Agnia.

​Reyna menarik napas panjang dan mencoba menahan rasa sesak yang kembali menggerogoti dadanya, ia tidak berani menatap mata Agnia.

"Aku... aku cuma nggak mau nambahin beban kamu, Nia. Kamu baru aja nikah, kamu lagi bahagia-bahagianya baru pulang dari Jepang dan mau pindah rumah. Aku nggak mau merusak suasana kamu cuma buat dengerin masalah hidup aku yang selalu ruwet ini," jawab Reyna.

​"Kamu bodoh ya, Reyna?" tangis Agnia pecah seketika, ia menarik Reyna ke dalam pelukan yang sangat erat dan merengkuh tubuh sahabatnya yang selama ini selalu memikul segalanya sendirian.

"Kita ini sahabat dari dulu! Mau aku menikah, mau aku bahagia, kamu itu tetap sahabat aku! Kenapa harus ada yang disembunyikan? Kalau kamu ada masalah besar begini dan kamu diam aja, aku justru merasa jadi sahabat yang paling gagal di dunia ini!" lanjut Agnia.

​Dipeluk dengan begitu tulus oleh Agnia, benteng pertahanan yang dibagun Reyna selama tiga hari terakhir runtuh seketika. Air mata yang selalu ia tahan, akhirnya menetes deras membasahi bahu Agnia. Reyna membalas pelukan sahabatnya itu, meluapkan seluruh rasa lelah dan kepedihan yang menyiksa batinnya.

​"Maaf... Maafin aku, Ni. Aku cuma takut... aku takut kelihatan lemah dan menyusahkan orang lain lagi," cicit Reyna di antara isak tangisnya.

​"Kamu nggak pernah menyusahkan aku, Rey. Sama sekali nggak pernah," bisik Agnia lembut dan mengelus punggung Reyna yang bergetar hebat.

​Setelah beberapa menit meluapkan emosi, Agnia mengurai pelukannya. Ia menyapu air mata di wajahnya sendiri, lalu mengusap pipi Reyna yang basah dengan ujung jarinya dan Agnia menuntun Reyna untuk duduk di atas kasur busa tipis yang terhampar di lantai.

​Agnia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan petak yang rapi itu. Di atas meja lipat kayu, layar laptop Reyna masih menyala, menampilkan situs lowongan kerja dan dokumen daftar riwayat hidup yang sedang diperbarui.

​Agnia menghembuskan napas panjang, tatapannya berganti menjadi penuh ketegasan. "Sekarang cerita sama aku, cerita semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi sedikit pun. Kenapa Bu Sandra sampai tega memecat kamu?" pinta Agnia.

​Reyna mengusap hidungnya dengan tisu, menatap laptopnya sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. Dengan suara yang masih sedikit serak, Reyna mulai menceritakan secara detail peristiwa pahit tiga hari lalu.

​Agnia mendengarkan setiap patah kata itu dengan rahang terkatup rapat. Tangannya mengepal di atas pangkuannya, menahan amarah yang membakar dada mendengarkan perlakuan kejam yang diterima sahabatnya dari atasan arogan tersebut.

​"Wanita gila! Bu Sandra itu benar-benar tidak punya hati dan pikiran! Sudah bagus kamu lawan dia, Rey. Bekerja di tempat racun begitu cuma bikin kamu makin tertekan!" ucap Agnia dengan nada dingin yang menusuk usai mendengar cerita Reyna.

​"Tapi ganjaran dari perbuatannya langsung datang kok, Ni," ucap Reyna tipis dan menyunggingkan senyum kecil yang dipenuhi rasa puas.

Reyna kemudian menceritakan tentang bagaimana Bu Sandra meneleponnya berulang kali, hingga terpaksa memakai ponsel Clarissa untuk mengintimidasi dan memohon bantuan padanya.

​Mendengar bagian itu, raut wajah Agnia yang tadinya tegang perlahan berubah. Sebuah tawa remeh meledak dari bibirnya.

​"Bagus! Rasain itu! Biar dia tahu rasa bagaimana rasanya kehilangan orang yang selama ini menopang pekerjaan dia! Dasar atasan tidak tahu diri, cuma bisa menyuruh tapi otak sendiri kosong!" seru Agnia puas.

​Agnia lalu menatap Reyna kembali dengan raut serius, "Terus, sekarang rencana kamu gimana? Tabungan kamu gimana, Rey?" tanyanya.

​Reyna menghela napas, menatap layar laptopnya, "Gaji dan bonus lemburan bulan lalu sudah cair dua hari sebelum aku dipecat, jadi minimal aku masih punya pegangan. Tapi uang itu harus aku hemat setengah mati buat bayar sewa kontrakan bulan depan dan bertahan hidup sambil nunggu panggilan kerja baru, aku dari kemarin sudah ngelamar ke beberapa perusahaan kok," jawab Reyna.

.

.

.

Bersambung.....

1
Felycia Fernandez
gue lagi nggak pengen pacaran katanya...mungkin langsung nikah kali ya 🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
Keisengan belaka ya bagusnya
lia juliati
ayo anton pepet terooooosssss,
falea sezi
lagian krja kantoran masak sepatu pesta satu aja kaga punya 🤣🤣 bloon
falea sezi
bodoh resain lah
Rizky Manik
bagus Anton dekatin aja Reyna,aku liat reaksi Dikta kekmana🤭🤭🤭
lanjut thor
Rizky Manik
meleleh adk pak dokter🤭🤭🤭
Sastri Dalila
🤣🤣
Felycia Fernandez
duuuuh Dikta...kamu bisa bisa buat Reyna baper ...katanya nggak mau pacaran
Felycia Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
😘😘😘
Syifa Fauziah
so sweet dikta😍
Aidil Kenzie Zie
kok jawabnya terserah sich Dikta biar nggak ada yang curiga ya kalo ternyata ente emang udah ada rasa
Felycia Fernandez
pernah denger sih mie ini,katanya enak banget khas wonosobo
Felycia Fernandez: ntar kk Thor aku cobain kalau ada perjalanan ke daerah sana👍
total 2 replies
lia juliati
bonus 1 update tor😍
lia juliati
bumbu anton seru nih tor😄
Rizky Manik
makin seru ni pdkt antara Dikta sama reyna🤭
lanjut thor
lia juliati
biarin anton deketin Reyna tor.... biar ada bumbunya🤭
Rizky Manik
lanjut thor🙏
Rizky Manik
yakin Dikta gkmau pacaran? jangan2 nnti langsung nikah aja yakan🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!