Giorgio Bianchi — Dom mafia paling ditakuti di seluruh Italia. Dingin, kejam, dan tak pernah sudi mencintai siapa pun. Ketika sang istri meninggal saat melahirkan, ia bahkan menolak menyentuh putrinya sendiri, si mungil Vida.
Ayla Martins — gadis Brasil berusia dua puluh tahun, manis dan berhati tulus, datang ke Italia dengan sebuah beasiswa dan mimpi sederhana. Tak pernah ia bayangkan pekerjaan sebagai pengasuh bayi akan menyeretnya masuk ke dunia penuh senjata, darah, dan rahasia — ke dalam rumah sang mafioso.
Satu bayi mungil. Satu pria yang bersumpah takkan pernah jatuh cinta. Satu pengasuh yang berani menatap matanya dan berkata bahwa ia keliru.
Di antara peluru dan dendam, musuh lama yang mengintai, dan luka masa lalu yang belum sembuh, sebuah hati yang telah lama membeku perlahan mulai mencair. Namun mencintai seorang Dom mafia menuntut harga yang mahal — dan tak semua orang di sekeliling mereka ingin melihat kisah ini berakhir bahagia.
Mampukah kelembutan menaklukkan pria paling berbahaya di Italia? Atau justru cinta inilah yang akan menghancurkan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valéria Bezerra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Tidak Bersalah
Ayla Martins, 20 tahun. Gadis yang penuh mimpi, rajin, pekerja keras, manis, tenang, lembut, dan polos... Anak tunggal dari sepasang orang tua yang saling mencintai, yang membesarkannya bagai seorang putri semampu mereka. Keluarga sederhana, tapi hangat dan bahagia. Dengan tinggi 1,60 meter, ia bukan tipe gadis mungil yang galak; sebaliknya, ia memancarkan kelembutan yang luar biasa. Ia lulus SMA dua tahun lalu, dan sejak itu berjuang meraih beasiswa impiannya untuk kuliah gastronomi di Italia — sebab ia jatuh cinta pada negara itu dan masakannya.
AYLA: MAMA... PAPA! (aku masuk sambil berteriak gembira)
ABIGAIL: Ya Tuhan, ada apa, Nak?
Abigail Martins, 45 tahun, ibu Ayla. Sudah 20 tahun menjadi perawat. Memiliki semua sifat Ayla, tak hanya dari luar tapi juga dari dalam.
AYLA: Aku lulus seleksi, Ma... akhirnya aku berhasil! (aku menangis terharu)
JOSAFÁ: Beasiswanya? Di Italia? Kau berhasil, Nak?
Josafá Martins, 50 tahun, ayah Ayla. Guru matematika. Pria baik, tapi bertemperamen keras, sanggup melakukan apa saja demi keluarganya. Ia mencintai dan melindungi mereka dengan nyawanya sendiri.
AYLA: Iya, setelah percobaan keempat akhirnya aku berhasil.
ABIGAIL: AHAHAHAHA, TERIMA KASIH TUHAN!
JOSAFÁ: SELAMAT, SAYANG! (kami berpelukan)
AYLA: Aku bahagia sekali. (menangis)
ABIGAIL: Mama tahu. (tersenyum)
JOSAFÁ: Lalu kapan kau berangkat?
AYLA: Dua hari lagi.
ABIGAIL: Kalau begitu, bagaimana kita bisa saling bertemu nanti?
AYLA: Aku akan bekerja keras di sana, Ma, dan setidaknya setahun sekali aku pulang, atau kalian yang datang ke sana.
JOSAFÁ: Berat rasanya hanya bisa bertemu setahun sekali, tapi semua ini pasti sepadan.
AYLA: Terima kasih. (aku memeluk mereka)
JOSAFÁ: Hati-hati di tempat itu, ya? Kalau terjadi apa-apa, telepon Papa. Papa akan ke sana, kujungkirbalikkan negara itu dan kubunuh siapa pun yang perlu.
ABIGAIL: JOSAFÁ! (tertawa) Bicaramu seolah kau ini seorang pembunuh saja.
JOSAFÁ: Demi kalian, aku bisa langsung jadi pembunuh dalam sekejap.
AYLA: Tak perlu sampai begitu, Pa, aku akan menjaga diri. (tertawa)
ABIGAIL: Nah, sekarang kurasa kita harus merayakannya.
JOSAFÁ: Bersiap-siaplah, kita pergi ke restoran favorit kita itu.
AYLA: Nah, itu baru mantap — masakan Italia! (kami naik ke atas dan bersiap-siap)
DI MANSION... ITALIA 🇮🇹
FÁBIO: Nak, bagaimana kau akan mengurus Vida?
GIORGIO: Pengasuh.
MARGARETH: Boleh aku coba mencarikan satu?
GIORGIO: Boleh, dan cepatlah. Aku tak mau pusing mengurus anak itu.
FÁBIO: Anak itu? Jangan-jangan maksudmu seperti yang kupikirkan?
GIORGIO: Bukankah dialah yang membunuh putri satu-satunya kalian?
FÁBIO: (aku menghantamnya dengan satu pukulan penuh amarah) DASAR BOCAH KURANG AJAR, BERANI-BERANINYA KAU! DIA HANYA BAYI DAN TAK PERNAH MINTA DILAHIRKAN — INI BUKAN SALAHNYA! (aku berteriak)
GIORGIO: Aku ini Dom-mu. (aku menyeka darah di sudut bibir sambil bangkit) JANGAN PERNAH BERANI LAGI MELAYANGKAN TANGAN SIALANMU ITU KE WAJAHKU! (aku menatapnya tajam sambil mencengkeram kerahnya)
FÁBIO: Sebelum kau menjadi Dom-ku, akulah Dom-mu... Kalau kau berani menyakiti anak ini, aku sendiri yang akan membunuhmu, mengerti? (aku mendorongnya)
MARGARETH: SUDAH CUKUP! (aku berteriak) Kalian menakuti bayi ini. Giorgio, jangan berani-berani menyakitinya.
GIORGIO: Aku bukan pengecut... aku hanya takkan menjadi ayah seperti yang kalian harapkan. Biar dia di sudutnya, dan aku di sudutku.
MARGARETH: Aku akan mencarikan pengasuh; sementara itu, aku akan membantu Isabel merawat Vida.
FÁBIO: Apa dia sudah mulai minum susu?
ISABEL: Sudah, para perawat sudah mengurusnya di rumah sakit.
MARGARETH: Bagus. Kami pamit dulu. Beristirahatlah, Giorgio, dan pikirkan lagi baik-baik. (aku memeluknya) Sampai jumpa, boneka kecilku. (aku mencium keningnya) Sampai nanti, Bel. (berpelukan)
ISABEL: Sampai nanti, Marg.
FÁBIO: Kau sudah kuperingatkan. (aku menatapnya tajam lalu kami pergi)