Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pintu kamar rawat VVIP ketuk pelan sebelum seorang perawat ramah melangkah masuk membawa dua nampan makanan hangat khusus pasien.
Karena Nadya juga terdaftar sebagai pasien akibat luka trauma tumpul di dadanya, perawat meletakkan satu nampan di meja samping ranjang Armand dan satu nampan lagi di meja dorong Nadya.
"Selamat siang Pak Armand, Bu Nadya. Waktunya makan siang dan minum obat ya," tutur perawat tersebut dengan senyum ramah sebelum pamit meninggalkan ruangan.
Nadya segera menggeser kursi rodanya—atau melangkah pelan mendekati sisi ranjang Armand—lalu menarik nampan makanan suaminya. Dengan cekatan, ia membuka penutup mangkuk bubur hangat dan merapikan sendoknya.
"Nah, sekarang aku yang menyuapi Mas," ujar Nadya manis seraya mengambil satu sendok bubur dan meniupnya perlahan.
Armand menatap tangan kanan Nadya yang memegang sendok, lalu melirik nampan makanan Nadya yang masih utuh di meja sebelah. Senyum jahil muncul di wajahnya.
"Lalu, yang menyuapi kamu siapa, Dek?" tanya Armand seraya menaikkan sebelah alisnya, menggoda sang istri.
Nadya tertawa kecil, suara tawanya yang renyah memenuhi ruangan VVIP yang hangat itu.
"Aku sendiri yang menyuapiku," sahut Nadya diselingi terkekeh pelan.
"Tanganku kan tidak patah, Mas. Cuma dada aku saja yang masih sedikit sesak. Jadi Mas tidak usah sok perhatian mau menyuapiku pakai tangan kiri, ya!"
Armand ikut tertawa mendengar jawaban lugas istrinya.
Rasa hangat melingkupi dadanya. Ia pun membuka mulutnya, menerima suapan bubur dari Nadya dengan penuh rasa nikmat.
"Enak?" tanya Nadya berbinar.
"Enak banget, Dek. Soalnya disuapi sama CEO paling cantik se-Indonesia," goda Armand lagi setelah menelan suapannya.
"Pinter banget ambil hati," puji Nadya sambil tertawa seraya menyuapkan sendok berikutnya.
Di sela-sela menyuapi Armand, Nadya juga sesekali menyendok makanannya sendiri.
Momen sederhana itu terasa begitu indah dan berharga bagi mereka berdua.
Setelah melalui malam penuh darah, kekerasan, dan ancaman maut, kebersamaan di kamar rawat yang tenang ini menjadi hadiah paling manis atas perjuangan mereka.
Sementara itu di balik jeruji besi tahanan mapolres, suasana terasa begitu mencekam.
Pengacara pribadi Rian duduk di kursi besi di luar sel dengan wajah pucat dan mengusap keringat dingin di dahinya.
Ia menggeleng pasrah di hadapan Rian yang menggertakkan gigi dengan kedua kaki yang masih terbalut perban rapat akibat luka tembak.
"Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, Pak Rian," bisik sang pengacara dengan suara bergetar.
"Tapi, bukti-bukti dari tim Bu Nadya terlalu solid. Rekaman ultimatum, jejak digital, hingga pengakuan anak buah Anda di lapangan. Semuanya mengunci Anda dengan pasal berlapis. Saya tidak bisa membantu lagi. Jika dipaksakan ke persidangan, kita hanya akan makin hancur."
"Brengsek! Gaji kamu mahal-mahal cuma buat bilang tidak bisa?!" bentak Rian murka, memukul jeruji besi hingga menimbulkan dentuman nyaring.
Namun sang pengacara hanya bisa menunduk dan perlahan mundur, membiarkan Rian memaki sendirian dalam keputusasaan.
Tak jauh dari sel Rian, di ruang tahanan wanita, suasana tak kalah bising.
Sarah berteriak-teriak histeris seraya mencengkeram besi selnya.
"Lepaskan aku! Aku tidak bersalah! Ini semua jebakan Nadya!" jerit Sarah dengan suara melengking, rambutnya yang acak-acakan membuat penampilannya tak lagi anggun seperti biasanya.
Tiba-tiba, derap langkah sepatu dengan hak tinggi bergema di koridor tahanan.
Ibu Sarah—seorang wanita paruh baya berpenampilan mencolok dengan perhiasan emas menempel di jemarinya yang juga terkenal gila harta—berlari terengah-engah menghampiri sel anaknya.
Ia baru saja mendapat kabar mengenai penangkapan Sarah dan Rian dari berita televisi.
"Sarah! Astaga, Anakku!" teriak ibunya dari balik jeruji besi dengan raut wajah panik luar biasa.
"Kenapa kamu bisa masuk ke tempat kotor ini, Nak?! Bagaimana dengan uang dan nasib kita?!"
Melihat kedatangan ibunya, mata Sarah yang sembap langsung berbinar liar. Ia mencengkeram tangan ibunya erat-erat lewat celah jeruji.
"Ibu! Tolong Sarah, Bu! Bebaskan Sarah dari tempat jahat ini!" tangis Sarah memohon-mohon.
"Bagaimana caranya membebaskanmu, Sarah? Ibu tidak punya uang sebanyak itu untuk bayar jaminan!" ratap ibunya panik, takut kekayaannya ikut terkuras.
Otak licik Sarah langsung berputar cepat dalam kepanikan. Rasa dengkinya pada Nadya masih membakar dada.
"Ibu, dengarkan Sarah!" desis Sarah dengan mata berkilat jahat.
"Ibu pulang sekarang, kumpulkan semua wartawan! Adakan konferensi pers besar-besaran di depan kantor polisi!"
Ibunya tertegun. "Konferensi pers?"
"Tepat!" tegas Sarah setengah berbisik namun penuh penekanan.
"Katakan pada media kalau Nadya itu wanita licik yang pakai kekuasaannya untuk memeras kita!
Katakan di depan kamera kalau Nadya yang memaksa dan menjebak kita agar menjual Armand dulu! Putar balikkan semua faktanya, Bu! Buat citra Nadya hancur di mata publik sampai dia tidak punya pilihan selain mencabut laporan dan membebaskan aku!"
Ibu Sarah yang gila harta dan tak ingin kehilangan sumber kemewahannya langsung mengangguk-angguk paham.
Rencana kotor itu terasa begitu masuk akal di pikirannya yang sudah dibutakan keserakahan.
"Bagus, Nak! Ibu paham!" sahut ibunya mantap seraya tersenyum culas.
"Ibu akan bikin nama wanita sok berkuasa itu hancur di seluruh media hari ini juga!"
Setelah itu Ibu Sarah pulang ke rumah dan menyiapkan aksinya untuk besok.
Sementara itu di rumah sakit, Armand melihat istrinya yang sudah tertidur pulas.
"Mas berjanji akan selalu melindungi kamu, Dek" gumam Armand.
Ia tahu kalau semua ini belumlah berakhir begitu saja.
Apalagi dengan sifat Sarah, mantan istrinya yang begitu tamak dengan harta.
Nadya membuka matanya dan melihat suaminya yang sedang memandanginya.
"Mas, kenapa memandangiku seperti itu?" tanya Nadya.
Armand tersenyum tipis saat mendengar perkataan dari istrinya.
"Aku memandangi wajah kamu, karena kamu sangat cantik sekali." jawab Armand.
"Gombal kamu, Mas. Pasti ada apa-apa, ya?"
Nadya bangkit dari ranjang dan mendekat ke arah ranjang suaminya.
"Ada apa, Mas? Apa ada yang kamu sembunyikan saat aku tidur tadi?"
"Tidak ada, sayang."
Nadya mengerucutkan bibirnya saat mendengar jawaban dari suaminya.
Ia tahu suaminya sedang menutupnya sesuatu saat ia tidur.
"Baiklah, Mas akan mengatakannya. Tadi, waktu kamu tidur. Mas mengatakan kalau Mas berjanji akan selalu melindungi kamu, Dek." ucap Armand.
Nadya mendongak menatap wajah suaminya yang akhirnya mengatakannya.
Ia langsung memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.
"Mas, terima kasih sudah hadir di hidupku." ucap Nadya.
"Sayang, seharusnya Mas yang berterima kasih. Kamu yang sudah mengangkat derajat Mas sampai menjadi seperti ini" ujar Armand.
Nadya melepaskan pelukannya dan tersenyum tipis.
Setelah itu Nadya kembali ke ranjangnya dan menatap ke arah suaminya.
"Sekarang Mas harus istirahat dan jangan memandangiku terus."
"Siap, Bos Nadya." ucap Armand yang langsung memejamkan matanya.
Nadya tertawa kecil melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil.
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,