Indonesia
NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:494
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Keheningan di ruang kerja pribadi Dominic bercampur dengan aroma tembakau mahal, kayu cendana, dan sisa-sisa hujan pagi mengendap di udara. Madam Vane telah diseret ke sel isolasi bawah tanah, tetapi atmosfer di lantai tiga Manor bukannya melunak, justru ketegangan kian menjadi.

Dominic masih berdiri sangat dekat di hadapan Evangeline. Jemari pria itu yang tadinya menggenggam jemari Eva kini bergeser perlahan, menyusuri lengan baju gaun zamrud Eva yang lembut hingga berhenti di siku wanita itu.

Eva menahan napas. Sensasi hangat dari sentuhan Dominic begitu kontras dengan hawa dingin yang selalu memancar dari aura sang penguasa Blackwood Syndicate.

"Kau baru saja membuat pertunjukan yang sangat mengagumkan di depan para tetua, Nyonya Blackwood," bisik Dominic, suaranya serak dan dalam, hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Eva.

Eva mendongak, mengunci pandangan matanya pada iris kelam milik Dominic. Ada bahaya di sana, tetapi ada pula sesuatu yang lain, sebuah pendar rasa tertarik yang pekat, yang berusaha diredam.

"Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan untuk bertahan hidup," balas Eva dingin, meski dadanya berdesir oleh kedekatan jarak yang tak biasa ini. "Jika aku diam saja, jarum scopolamine itu sudah menembus kulitku."

Dominic terkekeh pelan. Getaran tawanya terasa hingga ke dada bidangnya yang hampir menempel pada bahu Eva.

"Kau selalu punya alasan logis untuk setiap gerakan nekatmu," kata Dominic. Tangannya yang lain naik tanpa tergesa, ujung jarinya menyapu lembut garis rahang Eva, menelusuri leher jenjang Eva.

Refleks pembunuh dalam diri Eva menjerit untuk menghindar, tetapi logikanya menahan raga itu tetap diam di tempat. Setiap sentuhan Dominic terasa seperti ujian baginya.

"Kenapa kau melihatku seperti itu, Dominic?" tanya Eva pelan. Nada suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar tenang, meski jantungnya bergedup kencang di balik dada gaun zamrudnya.

"Aku sedang mencari kebenaran di balik mata hazel ini," jawab Dominic, ibu jarinya berhenti tepat di sudut bibir Eva. Sentuhan itu sangat halus, hampir seperti belaian seorang kekasih yang tulus, jika saja mereka tidak berada dalam permainan saling mengintai ini.

"Aku ingin tahu... apakah di balik semua sandiwara dan kebohonganmu, ada sedikit saja bagian dari dirimu yang tidak ingin membunuhku?"

Eva membeku. Tatapan Dominic begitu tajam, seolah pria itu sanggup menembus topeng wajah datar yang dikenakannya selama bertahun-tahun.

Jarak di antara mereka terkikis semakin tipis. Dominic menundukkan kepalanya perlahan, napas hangatnya menyapu permukaan kulit leher Eva.

Untuk satu detik yang terasa abadi, Eva merasakan ketegangan di antara mereka bergeser dari ancaman murni menjadi ketertarikan magnetis yang berbahaya.

Dua musuh yang saling mengagumi ketangkasan masing-masing, terperangkap dalam lingkaran nafsu yang salah.

Bibir Dominic menyapu pelan sudut rahang Eva, sebuah sentuhan singkat yang mengirimkan sengatan panas ke seluruh jaringan saraf wanita itu. Namun, sebelum keintiman asing itu melangkah lebih jauh, Dominic menarik kepalanya kembali secara perlahan.

Pria itu menyunggingkan senyum tipis, penuh kontrol diri yang menakjubkan. Jarak kaku di antara mereka kembali terbentang, meski jejak kehangatan sentuhannya masih tertinggal di kulit Eva.

"Istirahatlah di kamar," kata Dominic, suaranya kembali datar dan berwibawa, seolah momen emosional tadi tak pernah terjadi. "Madam Vane memang telah ditangkap, tapi permainan ini baru saja dimulai."

Eva mengangguk kaku, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan kekacauan di dalam dadanya sebelum melangkah keluar dari ruang kerja tersebut.

Sore hari menjelang malam, suasana di Blackwood Manor tampak begitu tenang di permukaan. Namun di balik dinding batu tebal, pergerakan pasukan keamanan terjadi dalam skala masif. Viktor dan timnya terus melakukan penyisiran terhadap seluruh aset Faksi Vane di distrik barat.

Eva menghabiskan waktunya di perpustakaan pribadi lantai dua. Buku-buku sejarah kuno Verona Heights terbuka di atas meja mahoni besar di hadapannya, tetapi matanya jarang membaca baris-baris kalimat tersebut. Otaknya terus mengolah teka-teki yang makin rumit.

The Five Thorns.

Siapa sebenarnya sosok di balik maskot lima duri itu? Jika Madam Vane hanyalah pion yang dimanfaatkan untuk mengalihkan perhatian, berarti dalang sesungguhnya berada jauh lebih dalam di dalam hierarki konsorsium.

Tiba-tiba, suara langkah kaki berderap pelan mendekati meja perpustakaan.

Eva menoleh dan mendapati Lady Eleanor berjalan mendekat, disanggah oleh tongkat berukir kepala naga miliknya. Wanita tua itu tidak lagi mengenakan gaun serba hitam formalnya, melainkan gaun rumah tangga berlapis rajutan benang perak.

"Kau belum tidur, Evie?" tanya Lady Eleanor, mengambil tempat duduk di kursi berbusa di hadapan Eva.

"Pikiran saya terlalu ramai untuk tidur, Lady Eleanor," jawab Eva sopan seraya menutup buku di hadapannya.

Eleanor mengamati Eva selama beberapa saat. Binar matanya yang penuh pengalaman seolah mampu membaca letupan konflik di balik wajah tenang gadis itu.

"Dominic adalah pria yang sangat sulit dipercayai," ujar Eleanor tiba-tiba, suaranya tenang namun sarat makna. "Sejak kematian ibunya empat belas tahun lalu, dia membangun dinding tebal di sekeliling hatinya. Dia memandang setiap orang sebagai potensi ancaman atau pion musuh."

Eva menyimak dengan cermat. "Termasuk almarhum ibunya?"

Lady Eleanor menarik napas panjang, pandangannya menerawang ke arah jendela tinggi yang memperlihatkan pemandangan taman mawar di bawah tebing.

"Vivienne adalah wanita yang luar biasa," bisik Eleanor. "Dia bukan sekadar istri dari putraku, dia adalah pemimpin jaringan intelijen Blackwood pada masanya. Namun, kecerdasannya adalah alasannya tewas."

"Apakah Lady Vivienne dibunuh oleh The Five Thorns?" pancing Eva pelan, menjaga agar suaranya tidak terlalu dipenuhi rasa ingin tahu yang mencolok.

Eleanor menoleh kembali pada Eva, matanya menyempit tipis. "Kelompok itu hanyalah tangan eksekutor, Evie. Senjata yang disewa oleh ketakutan. Yang membunuh Vivienne... adalah fakta bahwa dia menemukan sebuah dokumen rahasia yang tidak seharusnya ada."

Jantung Eva berdenyut kencang. Dokumen rahasia.

"Dokumen apa?" tanya Eva.

"Manifes logistik operasi gabungan St. Jude tahun 2012," sahut Eleanor lambat-lambat. "Dokumen yang sama yang coba dicuri oleh Gareth di vault malam tadi."

Eva menahan napasnya. "Mengapa dokumen itu begitu penting? Bukankah St. Jude hanyalah distrik kumuh di perbatasan barat?"

Lady Eleanor menyunggingkan senyum pahit. "Di mata orang awam, ya. Tapi empat belas tahun lalu, St. Jude adalah tempat di mana transaksi aset ilegal terbesar dalam sejarah kota ini dilangsungkan. Aset yang melibatkan tidak hanya konsorsium mafia, tetapi juga nama-nama besar di pemerintahan distrik. Vivienne menemukan bahwa ada pengkhianatan tingkat tinggi yang melibatkan dana jutaan dolar."

"Dan ibu Dominic tewas sebelum sempat mempublikasikan dokumen itu?"

"Dia tewas tiga hari setelah menyembunyikan manifes asli tersebut," bisik Eleanor. Wanita tua itu memajukan tubuhnya sedikit, menatap Eva dengan tajam.

"Dan jika catatan yang ditinggalkan Vivienne benar... kunci untuk membaca sandi manifes tersebut terikat pada silsilah sebuah keluarga yang lenyap di St. Jude malam itu. Keluarga Cross."

Bam!

Dunia di sekitar Eva seolah berhenti berputar seketika.

Selama ini Eva percaya bahwa ibunya hanyalah seorang korban tidak bersalah yang dihabisi karena berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.

Namun pernyataan Lady Eleanor baru saja membuka kabut tebal yang menyelimuti masa lalunya, Clara Cross adalah bagian dari teka-teki manifes tersebut.

Eva memaksa jemarinya tetap tenang di atas meja kayu, meski dadanya bergemuruh hebat oleh kejutan kejujuran ini.

"Kenapa Anda menceritakan ini pada saya, Lady Eleanor?" tanya Eva dengan suara bergetar yang hampir tak tertahankan.

Lady Eleanor bersandar kembali di kursinya, menyunggingkan senyum misterius. "Karena aku melihat cara Dominic menatapmu pagi ini di aula pertemuan. Dia mempertaruhkan reputasinya demi melindungimu dari serum kejujuran. Dan aku tahu... kau bukan sekadar gadis biasa dari distrik luar, Evie."

Eleanor mengetukkan tongkat naganya ke lantai, lalu berdiri perlahan.

"Cari tahu apa yang tersembunyi di kotak kayu berukir mawar milik Vivienne," bisik Eleanor sebelum berbalik pergi.

"Sebelum orang yang membunuh Vivienne dan keluarga Cross menemukan cara untuk menghancurkan rumah ini dari dalam."

Malam kembali membalut Blackwood Manor dalam kegelapan yang dingin.

Di kamar utama lantai tiga, rintik hujan kembali membasahi dinding kaca antipeluru. Dominic baru saja kembali dari markas bawah tanah pukul sebelas malam. Pria itu tampak sangat lelah, garis-garis ketegangan terpahat jelas di wajah tampannya.

Eva berdiri di dekat tempat tidur, telah berganti pakaian menggunakan gaun tidur longgar berwarna putih gading.

Dominic melepaskan jas dan dasinya, melemparkannya ke atas sofa tanpa banyak bicara. Pria itu melangkah menuju meja bar, tetapi membatalkan niatnya untuk menuang minuman. Ia justru berjalan mendekati Eva.

Jarak kaku yang biasa membentang di antara mereka terasa sedikit melunak malam ini, terkikis oleh lelahnya perang politik dan kebenaran-kebenaran implisit yang mulai terungkap.

"Penyelidikan pada Faksi Vane sudah selesai," kata Dominic rendah, berdiri satu langkah di hadapan Eva. "Madam Vane bungkam di bawah interogasi, tetapi kami menemukan pemancar radio tersembunyi di kediamannya."

"Apakah dia pimpinan utamanya?" tanya Eva.

Dominic menggelengkan kepala pelan. "Dia hanya perantara. Seseorang membayarnya dengan jalur penyelundupan senjata di distrik selatan. Dalang sebenarnya masih bersembunyi di balik layar."

Dominic menatap Eva, pandangan matanya sayu namun penuh kehangatan yang tertahan. Tanpa diduga, pria itu mengulurkan tangannya dan meraih jemari Eva.

Eva tidak menarik tangannya.

Dominic menarik tubuh Eva mendekat secara halus, melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu dan menyandarkan kepalanya di bahu Eva. Sebuah gestur kekalahan dan kelelahan dari seorang pria yang harus selalu berdiri tegap sebagai penguasa yang tak tersentuh di mata dunia luar.

Eva menyentak pelan di dalam hati. Ini adalah pertama kalinya Dominic menunjukkan sisi rentan di hadapannya.

"Dominic?" bisik Eva pelan.

"Biarkan seperti ini sebentar, Evie," gumam Dominic serak di lipatan leher Eva. Hawa napas hangatnya menyapu kulit sensitif Eva.

"Di rumah ini, semua orang menginginkan bagian dari kekuasaanku atau kepalaku. Kau adalah satu-satunya hal yang tidak bisa kuprediksi... dan anehnya, itu satu-satunya hal yang membuatku merasa tenang malam ini."

Keheningan menyelimuti mereka berdua di dalam kamar yang remang. Eva merasakan detak jantung Dominic yang teratur memukul dadanya. Tangan kanan Eva yang tadinya tergantung kaku di samping tubuhnya, secara perlahan terangkat bukan untuk menarik senjata, melainkan membalas pelukan itu dengan menyentuh punggung kekar Dominic pelan.

Jarak di antara mereka memang masih terbentang lebar oleh kebohongan dan dendam masa lalu. Namun di tengah kegelapan benteng mafia ini, dua jiwa yang dipenuhi luka perang itu menemukan momen kedamaian singkat yang sangat berbahaya.

"Kita punya banyak rahasia yang harus diselesaikan, Dominic," bisik Eva lembut.

Dominic mendongak, menatap mata hazel Eva dari jarak yang sangat dekat. Jarinya mengusap pipi Eva dengan kelembutan yang memabukkan.

"Dan aku akan membongkar setiap rahasia itu bersamamu, Nyonya Blackwood," sahut Dominic pelan sebelum mengecup kening Eva dengan ciuman yang dalam dan hangat.

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!