Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi yang gugur sebelum mekar
"Bisa, Mas. Silakan" Kata Senja dengan tenang. Suaranya halus, teratur, dan begitu terkontrol, benar-benar menunjukkan bahwa ia adalah seorang wanita yang anggun, terpelajar, dan berkelas.
Alfa tampak ragu. Tatapannya seolah menjabarkan perasaannya yang merasa amat sungkan pada Senja. Pria itu menarik napas panjang, menghembuskannya pelan sebelum akhirnya keberanian itu terkumpul di matanya.
"Kita berada dalam posisi yang sama saat ini" Ujar Alfa, suaranya terdengar makin serak oleh beban.
"Kita menikah karena paksaan kedua orang tua kita."
Senja tak terkejut. Di balik topeng bahagianya saat resepsi tadi, ia memang sudah tahu kalau Alfa pun menerima pernikahan ini karena orang tua mereka yang gila bisnis dan haus akan kekuasaan. Bagi kalangan seperti mereka, perjodohan bukanlah hal yang asing.
"Apa yang membuat kamu yakin kalau aku menerima pernikahan ini dengan terpaksa, Mas?" Tanya Senja.
Alfa tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kepahitan yang menghiasi wajah tampannya.
"Kamu wanita pintar, Senja. Kamu cerdas, dan aku yakin wanita hebat sepertimu tidak akan mudah menyerahkan dirimu pada pernikahan bisnis seperti ini kalau bukan karena terpaksa. Apalagi umur kita baru dua puluh delapan tahun. Kamu wanita intelektual dan berbakat, kamu pasti punya impian yang jauh lebih besar lagi di luar sana."
"Tidak, Mas. Kamu salah!" Senja hanya bisa menjawabnya dalam hati.
"Impianku justru sangat sederhana. Sangat kecil. Bahkan kamu sendiri pun tidak akan pernah menyangka bahwa aku hanya mendambakan sebuah rumah yang hangat... tempatku bisa merasa dicintai tanpa syarat."
Namun, kalimat itu hanya tertahan di tenggorokan Senja. Ia memilih menelan kembali impian rapuhnya rapat-rapat.
"Lalu, apa sebenarnya yang ingin Mas Alfa katakan?" Tanya Senja, tak sabar ingin langsung menuju inti pembicaraan.
Alfa semakin mendekat pada Senja. Pria itu melangkah pelan lalu mendaratkan tubuhnya di atas sofa empuk yang berada tak jauh dari meja rias tempat Senja duduk. Ia menangkupkan kedua tangannya, menunduk sejenak sebelum menatap Senja lurus-lurus.
"Senja, aku menerima pernikahan ini atas permintaan dan segala ancaman Papa" Aku Alfa jujur, nadanya bergetar tipis.
"Sebenarnya... aku masih menjalin hubungan dengan kekasihku sampai detik ini."
Deg...
Jantung Senja serasa berhenti berdetak. Kali ini Senja terkejut bukan main. Tatapan matanya yang semula tenang sempat goyah selama beberapa detik.
Kalau hanya soal Alfa yang mungkin tidak bisa mencintainya atau bersikap dingin, Senja bisa bersabar dan mengelus dada. Namun, kalau ada wanita lain di dalam hati pria yang baru saja mengucap janji suci bersamanya... kenapa Alfa memilih menerima pernikahan ini? Kenapa pria ini membiarkannya masuk ke dalam lingkaran penderitaan yang baru?
"Kenapa tidak bilang dari awal, Mas?" Tanyanya, ada desakan getir yang tak bisa disembunyikan dalam nada suaranya.
"Kalau saja kamu jujur sejak awal, aku pasti akan mencari cara lain untuk menolak permintaan orang tua kita!"
Alfa menatap Senja dengan pandangan redup.
"Apa kamu bisa?" Tanya Alfa pelan, seolah sudah tahu betul seperti apa sosok Prasetya Anjasmara dan betapa tidak berdayanya mereka berdua di hadapan kekuasaan orang tua masing-masing.
Senja bungkam. Pertanyaan Alfa menamparnya kembali pada kenyataan. Ya, memangnya apa yang bisa ia lakukan? Kabur pun ia tidak mampu.
"Maafkan aku Senja, karena aku tidak jujur padamu sejak awal." Lanjut Alfa, nada bersalah melingkupi setiap kata yang diucapkannya.
"Aku terpaksa menerima pernikahan ini karena kalau sampai aku menolak, segala akses keuangan dan posisi yang aku punya akan dibekukan oleh Papa. Aku tidak akan bisa berbuat apa-apa. Terutama untuk mencari donor ginjal yang cocok untuk Dila, kekasihku."
Tangan Senja di atas pangkuannya mengepal dengan amat kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Rasa terkejutnya malam ini datang bertubi-tubi, menghantam pertahanan batinnya hingga hancur berkeping-keping.
"Dia sedang sakit keras" Bisik Alfa, menyembunyikan wajahnya sejenak di balik jemarinya.
"Gagal ginjal akut. Dila tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, dia hanya punya aku. Aku tidak mungkin meninggalkannya di saat dia berjuang di antara hidup dan mati seperti ini..."
Dada Senja terasa kempit dan sesak. Air mata berdesakan di sudut matanya, namun dengan sekuat tenaga ia menahannya agar tidak jatuh. Ia adalah Senja Kala Anjasmara, wanita yang ditempa untuk tidak menangis di hadapan siapa pun.
"Apa kamu akan menyalahkanku karena menerima pernikahan ini, Mas?" Suara Senja memelan, menyimpan luka yang begitu dalam.
"Karena... pada akhirnya, aku menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian."
Alfa dengan cepat mendongak, menggeleng tegas.
"Tidak sama sekali! Aku tahu kamu pun berada dalam posisi yang sulit, Senja. Aku tidak pernah menyalahkanmu sedikit pun atas semua ini."
Alfa memajukan tubuhnya, menatap Senja dengan tatapan memohon yang amat sangat.
"Tapi aku mohon padamu, Senja... tolong berikan aku kesempatan untuk merawat Dila sampai dia sembuh. Setelah itu..." Alfa mendadak ragu, kalimatnya menggantung di udara.
"Setelah itu?" Tanya Senja, memburu jawaban.
"Setelah itu apa, Mas? Kita bercerai?" Tanya Senja lagi.
Drt... Drt... Drt...
Belum sempat Alfa menjawab pertanyaan itu, ponsel pintar yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur mendadak berdering nyaring. Getarannya memotong ketegangan tebal di antara mereka.
Alfa berdiri dari sofa, mengambil ponselnya dengan terburu-buru. Ia menggeser layar, meninggalkan Senja yang masih tertatih mencoba mencerna semua kejutan yang dihamparkan di malam pengantinnya.
Senja hanya diam membatu, menatap punggung Alfa yang kini sedang berbicara dengan seseorang di balik telepon. Raut wajah Alfa berubah drastis, panik, cemas, dan penuh ketakutan.
"Baiklah, aku segera ke sana sekarang!" Kata Alfa cepat tanpa memikirkan tempat dan waktu.
Senja bukan wanita bodoh. Otaknya yang cerdas bisa langsung membaca situasi hanya dengan satu kalimat yang meluncur dari bibir Alfa. Panggilan itu tentulah dari rumah sakit, mengabarkan kondisi wanita bernama Dila tersebut.
Alfa mematikan sambungan teleponnya. Dengan napas memburu dan rasa bersalah yang terpancar makin jelas, ia kembali menoleh pada Senja.
"Senja, aku..."
"Pergilah, Mas!" Potong Senja dengan suara yang teramat tenang.
"Dia pasti sangat membutuhkanmu saat ini."
Alfa terperangah. Pria itu terpaku di tempatnya, terkejut setengah mati dengan reaksi Senja yang begitu luar biasa tenang. Tidak ada histeria. Tidak ada jemari yang menahan lengannya, tidak ada linangan air mata kekecewaan, ataupun makian yang dilontarkan Senja karena suaminya pergi meninggalkannya di malam pengantin mereka.
"Senja... aku..." Alfa kehilangan kata-kata.
"Pergilah. Rumah sakit tidak bisa menunggu" Ulang Senja, memberikan anggukan kecil yang sangat sopan dan kaku.
"Terima kasih, Senja... aku akan secepatnya kembali" Kata Alfa penuh penyesalan. Pria itu bergegas melangkah masuk kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian dengan kemeja dan celana kasual.
Tak sampai tiga menit kemudian, pintu kamar executive suite itu tertutup dengan bunyi klak yang pelan. Langkah kaki Alfa menghilang cepat di lorong hotel, meninggalkan keheningan raksasa yang langsung menyergap ruangan tersebut.
Sementara itu, Senja masih duduk diam di depan meja rias.
Perlahan, ia memalingkan wajah cantiknya dari pantulan cermin, menatap ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian. Langit malam di luar sana tampak begitu kelabu. Tidak ada sebutir bintang pun yang bertaburan, tidak ada rembulan yang menyinari. Langit yang biasanya cerah kini tertutup sepenuhnya oleh awan hitam yang pekat dan tebal.
Langit kelabu itu, persis seperti menggambarkan dirinya saat ini. Seorang wanita yang hidup dalam kesendirian yang abadi. Tidak memiliki teman untuk berbagi cerita, tidak memiliki keluarga yang mau memeluk dan melindunginya, dan kini, bahkan ditinggal sendirian di dalam kamar hotel yang dingin pada malam pengantinnya sendiri.
Senja tidak menangis secara histeris. Ia tidak sedih karena Alfa meninggalkannya begitu saja untuk wanita lain. Ia juga tidak patah hati karena kenyataan bahwa Alfa sudah memiliki kekasih yang begitu dicintainya. Hatinya belum sempat berlabuh pada Alfa, jadi tidak ada rasa cemburu yang membakar.
Namun, dada Senja terasa hancur dan amat sesak oleh sebuah kenyataan pahit yang baru saja menamparnya. Ternyata, pelariannya sia-sia.
Senja memejamkan matanya rapat-rapat saat rasa dingin perlahan merayapi kulitnya. Ia mengira, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasannya, sebuah tiket keluar dari sangkar emas ciptaan Papanya menuju sebuah rumah yang hangat.
Ia mengira Alfa adalah pria yang dikirimkan Tuhan untuk menyelamatkannya.
Namun ternyata, ia hanya berpindah dari satu sangkar dingin ke sangkar dingin yang lain.
Di rumah orang tuanya, ia menjadi boneka tanpa jiwa demi gengsi dan kekuasaan. Dan di sini, di dalam kehidupan barunya bersama Alfa, ia hanyalah sebuah tameng, seorang istri pajangan yang digunakan Alfa untuk melindungi kekasihnya dan mengamankan harta keluarganya.
Senja mengusap pelan dadanya yang terasa sangat nyeri. Sebuah tawa sumbang dan lirih keluar dari bibirnya yang gemetar.
"Rumah yang hangat..." Bisik Senja pada keheningan malam yang sunyi.
"Ternyata tempat seperti itu memang tidak pernah ada untukku."
Malam itu, di bawah langit kelabu yang tak berbinar, Senja Kala Anjasmara menyadari satu hal: harapan rapuhnya telah gugur sebelum sempat mekar. Dan perjalanan hidupnya yang baru saja dimulai akan menuntut pengorbanan yang jauh lebih besar dari apa yang pernah ia bayangkan.
biar dia tau perasaan .yg sesungguhnya ...
Karena bisa jadi nanti pelarian Senja dalam pernikahan ada campur tangan orang tua Senja karena Senja diabaikan oleh Alfa
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.