AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 - TOKO DI RUANG TAMU MBAH SARTI
Enam bulan setelah pindahan dari kontrakan cat hijau sembilan ratus ribu, rumah induk Wonorejo itu sudah tidak terlihat seperti rumah duka lagi.
Pagi ini jam lima pagi, aku bangun di kamar belakang. Kamar yang dulu tempat Mbah Sarti menyuruhku mencuci piring dan menyapu halaman sebelum subuh, sebelum aku hamil duluan. Sekarang kamar itu sudah kucat hijau muda. Kasur spring bed dari kontrakan sudah di sini. Di dinding masih ada foto keluarga dengan pita hitam di foto Mbah Sarti, tapi di bawahnya sudah ada kalender baru tahun 2036.
Aku keluar kamar. Ruang tamu besar yang dulu hanya berisi tikar pandan dan lemari kayu besar yang tidak boleh kubuka, sekarang sudah penuh.
Bukan penuh dengan foto-foto lama yang harus dibakar. Tapi penuh dengan daster.
Aku menata sendiri pagi ini. Lapak kayu yang dulu hanya dua kali satu meter di depan kontrakan, sekarang sudah kujadikan lima kali tiga meter, hampir memenuhi setengah ruang tamu. Di atasnya tergantung daster bunga biru. Daster pertama. Daster yang kupakai saat diusir ke rumah bocor. Aku masih menyimpannya, tidak kujual. Kugantung paling atas sebagai pengingat. Di bawahnya baru daster-daster jualan: bunga merah, hijau, kuning, bunga-bunga baru model 2036. Di sampingnya kerudung coklat, hitam, pink. Di rak bawah baju bayi biru 35 ribu, yang dulu dilempar Rendo lewat pagar bambu dengan kasar. Sekarang baju itu kujual 40 ribu, laku keras.
Tabungan warisan Mbah Sarti tiga puluh juta itu tidak kuhambur-hamburkan. Aku belikan seratus potong daster baru, dua mesin jahit baru untuk dua tetangga yang sekarang jadi karyawan jahitku, dan sisanya kutabung lagi. Sekarang saldo di BRI sudah lima puluh juta. Dari omzet toko di kontrakan yang satu juta sehari, sekarang di rumah induk bisa dua juta sehari. Untung satu juta bersih.
Kenapa bisa lebih ramai? Karena warga Wonorejo yang dulu menghinaku, sekarang semua jadi pelangganku.
Bu Tati, ibu PKK yang dulu datang bawa tiga ibu-ibu dengan sapu lidi mengusirku dari rumah bocor karena nikah siri tanpa izin Mbah Sarti, sekarang setiap Jumat datang beli daster dua potong. Katanya dasterku adem.
Bu Lasmi, yang punya warung dan dulu mengusirku karena takut warungnya kena sial kalau ada perempuan hamil duluan duduk di warungnya, sekarang malah jadi reseller. Dia ambil sepuluh potong daster setiap minggu, dijual lagi di warungnya.
Bahkan Pak Lurah yang dulu mau mengusirku dari kontrakan 400 ribu karena aku hanya punya kertas HVS tipis nikah siri, kemarin datang. Beli daster untuk istrinya. Dia salaman sama Arga, minta maaf pelan.
Arga sendiri sekarang sudah bukan satpam biasa. Usianya tiga puluh tujuh tahun, gajinya sudah empat juta sebagai kepala keamanan Puskesmas. Seragamnya sudah empat stel. Peci hitamnya masih sama seperti saat akad KUA Jumat jam sembilan pagi sepuluh tahun lalu. Sepatu mengkilap tiga pasang. Pagi ini dia berangkat jam enam pagi ke kota naik motor Beat hitam, bukan untuk jaga malam, tapi untuk rapat. Sore nanti dia pulang lagi ke Wonorejo. Pulang pergi satu jam. Dulu dia kuli bangunan, sekarang kepala keamanan.
Salsa, anak tiriku yang dulu kukira anak yatim tetangga, sekarang sudah kelas 6 SD. Dua belas tahun mau tiga belas. Tingginya sudah hampir sama denganku. Rambutnya tidak dikepang dua lagi, diikat satu. Dia juara satu terus. Bulan depan dia mau ujian kelulusan SD. Sudah diterima di SMP Negeri 1 Jombang favorit lewat jalur prestasi. Sama seperti SD favoritnya dulu. Salsa yang dulu kurawat dengan telur dadar satu butir dibagi dua di rumah bocor, sekarang kalau sore menjaga toko. Dia yang melayani pembeli kalau aku sedang live TikTok. Pembeli suka dilayani Salsa karena Salsa ramah, seperti Mira, ibu kandungnya.
Aisyah, anak kandungku, darah Rendo, yang dulu jadi alasan aku diasingkan, sekarang sudah kelas 1 SD. Sembilan tahun setengah. Gigi ompongnya sudah tumbuh gigi baru. Putih bersih. Dia sudah tidak pakai seragam TK biru putih lagi. Sekarang merah putih. Sama seperti Salsa dulu. Tas ransel pink kecil bergambar kuda poni yang dulu dipakai Salsa dari TK A sampai kelas 3 SD dan diwariskan ke Aisyah, sekarang sudah sobek lagi dan kuberikan ke anak tetangga. Sekarang Aisyah pakai tas ransel pink baru besar. Dia sudah bisa baca tulis. Sudah bisa mengaji Iqro 3. Cita-citanya masih sama seperti saat perkenalan di TK B dulu: ingin jadi dokter seperti Kakak Salsa, agar bisa menolong Ibu yang dulu hampir meninggal pendarahan.
Siang jam dua belas, setelah live TikTok dua jam, aku duduk di ruang tamu. Di depan toko daster besar lima kali tiga meter. Di sebelahku ada Salsa yang baru pulang sekolah dan Aisyah yang baru pulang SD. Di dapur ada Bu Minah, umur enam puluh tiga tahun, yang sekarang tinggal bersama kami di rumah induk, tidak lagi di rumahnya sendiri, karena Pak Karim sudah tidak kuat bolak-balik Wonorejo - kota. Bu Minah masih dengan rantang besarnya, tapi sekarang rantangnya tidak pernah kosong. Selalu ada opor ayam, sayur lodeh, telur dadar.
Pak Karim, umur tujuh puluh tahun, sakit lututnya makin parah, sekarang tidak lagi jaga parkir Pasar Legi. Dia duduk di kursi roda kayu yang dulu dipakai Mbah Sarti. Kursi roda buatan Arga. Sekarang dipakai Pak Karim.
Kami makan siang di ruang tengah. Lantai keramik, bukan semen. Lauk opor ayam kampung, telur dadar enam butir dibagi enam orang, nasi banyak, sambal terasi, krupuk, es teh manis. Tidak lagi telur satu butir dibagi dua seperti sebelas tahun lalu di rumah bocor.
"Kir, ini rumah induk sekarang rame ya. Dulu sepi, hanya Mbah Sarti sendiri," kata Bu Minah sambil menyendok opor.
Aku mengangguk. "Iya, Bu. Dulu rumah ini besar tapi sepi. Sekarang besar dan rame. Karena ada toko."
Sore jam empat, pembeli datang lagi. Ibu-ibu dari kebun karet sebelah. Mereka naik motor berdua. Beli daster tiga potong. Bayar tunai. Aku masukkan uang ke dalam kaleng bekas biskuit yang sekarang jadi tempat uang.
Malam jam delapan, hujan turun. Deras. Seperti biasa.
Dulu kalau hujan deras di rumah bocor, aku takut. Atapnya bocor tiga titik. Suara tet tet tet air jatuh ke panci alumunium penyok. Aku takut mati kedinginan, takut seperti Mira yang meninggal pendarahan di rumah itu.
Kalau hujan deras di kontrakan 400 ribu, aku juga takut. Takut genteng bocor, takut Pak Lurah datang nagih sewa sambil marah-marah karena aku hanya punya kertas HVS nikah siri.
Sekarang hujan deras di rumah induk dua ratus meter persegi, aku tenang. Gentengnya tidak bocor. Tidak ada suara tet tet tet. Hanya suara hujan di genteng, menenangkan.
Salsa dan Aisyah sudah tidur di kamar belakang. Kamar yang dulu adalah kamarku yang disuruh nyapu halaman. Sekarang kamar mereka. Mereka tidur memeluk boneka kain sobek sebelas tahun peninggalan Wonorejo. Boneka yang sudah tidak berbentuk. Tapi masih mereka peluk. Ditambah boneka baru beruang coklat dan kelinci pink.
Aku dan Arga duduk di ruang tamu toko. Di depan lapak besar lima kali tiga meter. Di depan sertifikat tanah yang sekarang sudah balik nama menjadi Kirana binti Slamet dan buku tabungan BRI yang saldonya lima puluh juta.
"Kir, dulu kamu diasingkan ke rumah bocor karena hamil duluan. Sekarang kamu punya toko di rumah induk Mbah Sarti yang dulu mengusirmu. Hebat kamu," kata Arga pelan.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya menggenggam tangan Arga. Tangan kasar yang dulu karena nyadap karet dan jadi kuli bangunan, sekarang tangan kepala keamanan, tapi masih kasar.
Aku menatap keluar jendela. Hujan masih deras. Ke arah kebun karet. Ke arah tempat rumah bocor itu dulu berdiri, yang sekarang sudah jadi kebun pisang. Ke arah makam Mbah Sarti dan Mira yang bersebelahan, yang foto-fotonya sudah kubakar enam bulan lalu agar kutukan Kembang Kantil hilang.
Sebelas tahun lalu aku diasingkan. Diusir Mbah Sarti dengan sapu lidi. Diusir Bu Lasmi. Didobrak Rendo yang lempar baju bayi 35 ribu. Diusir Pak Lurah karena hanya punya kertas HVS nikah siri. Melahirkan Aisyah 2,8 kilo dengan takut mati pendarahan seperti Mira.
Sembilan tahun aku di kontrakan cat hijau dari 400 ribu sampai 900 ribu. Jadi juragan daster. Mengantar Salsa masuk SD favorit. Mengantar Aisyah masuk TK.
Tujuh hari lalu Mbah Sarti wafat di pangkuanku di kontrakan itu.
Tiga hari lalu aku bakar foto-foto lama.
Tujuh hari lalu aku pindahan dari kontrakan ke rumah induk.
Dan hari ini, enam bulan setelah itu, aku berdiri di ruang tamu rumah induk Mbah Sarti, yang dulu mengusirku, sekarang menjadi toko dasterku sendiri. Omzet dua juta sehari. Tabungan lima puluh juta. Dua anak sekolah favorit.
Judul novelku "Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan" memang benar. Tapi sekarang judulnya sudah berubah di hatiku.
Menjadi "Aku Yang Dulu Diasingkan, Kini Menjadi Juragan Daster di Rumah Induk Warisan Mbah Yang Dulu Mengusirku."
Dan untuk malam ini, di tengah hujan deras yang tidak bocor, di rumah induk dua ratus meter persegi yang hangat, itu cukup.
Sangat cukup.
---