Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
BRAK!
Pintu utama dibanting keras hingga dinding rumah besar itu seakan ikut bergetar. Marissa melangkah masuk, napasnya memburu, wajahnya masih merah padam menahan amarah yang belum usai. Blus sutra berwarna emasnya sedikit kusut di bagian bahu, rambut yang tadi disanggul rapi kini terurai beberapa helai.
"Mas!!"
Suaranya melengking, bergema di lorong luas yang menuju ruang keluarga.
Di ruang tengah yang luas itu, Aditya Ardian duduk tenang di kursi kulit favoritnya. Kemeja putihnya rapi, lengan digulung rapi hingga siku. Di tangannya masih terselip laporan keuangan yang ia baca perlahan. Di meja kecil di sampingnya berdiri secangkir kopi yang masih mengepul hangat. Semuanya terlihat begitu damai, terlalu tenang, seakan dunia di luar sana tidak sedang runtuh.
Ia baru menoleh perlahan ketika bayangan tubuh Marissa menutup cahaya matahari siang yang jatuh ke halaman-halaman bukunya.
"Kamu dari mana?" tanyanya datar, tidak ada nada panik. "Wajahmu terlihat seperti habis bertempur di medan perang."
"PERANG?! IYA, AKU BENAR-BENAR HABIS PERANG!" Marissa melempar tas tangannya ke sofa dengan kasar. "Anakmu gila, Mas! Reynand gila! Dia mau menceraikan Gisella! Mengirim surat cerai ke rumah lewat sekretaris barunya! Dan tadi di kantor... dia bilang mau membangun semuanya dari NOL! Tanpa dukungan kita! Tanpa keluarga Wijaya!"
Aditya meneguk kopinya pelan, seakan baru mendengar kabar tentang cuaca yang mendung. Tidak ada kerutan di dahi, tidak ada tanda keterkejutan sedikit pun.
"Lalu?"
Marissa melangkah maju, matanya membelalak tak percaya dengan jawaban setenang itu.
"LALU?! Itu perusahaan yang kita bangun bersama selama tiga puluh tahun, Mas! Tiga puluh tahun! Nama baik Ardian dan Wijaya yang susah payah kita jaga dan kita bangun di belakang nama Reynand Group! Dan kamu hanya bilang 'lalu'? Kamu tidak marah sama sekali?!"
Aditya meletakkan cangkir kopinya perlahan ke atas tatakan keramik, bunyi denting halus terdengar nyaring di tengah keheningan yang mendadak tegang itu. Ia menatap istrinya lelah, namun tetap tenang.
"Marissa... Reynand sudah dewasa. Dia sudah menjadi CEO yang memegang kendali penuh. Kalau dia memilih untuk menghancurkan semua yang kita bangun selama ini... itu pilihannya. Itu resiko yang harus dia tanggung sendiri."
"Tapi itu karena perempuan itu!" seru Marissa, tangannya mengepal erat di sisi tubuh. "Sekretaris barunya itu! Pasti dia yang menghasut, yang memutarbalikkan pikiran Reynand! Perempuan itu datang membawa masalah ke dalam rumah tangga anak kita!"
Aditya mengusap pelipisnya dengan jari telunjuk dan ibu jari, senyum tipis terukir di bibirnya, namun senyum itu dingin, tanpa kehangatan sama sekali.
"Kalau anak kita bisa digoyahkan keputusannya hanya oleh satu orang sekretaris... maka dari awal dia tidak pantas duduk di kursi tertinggi itu. Bukankah selama ini kita didik dia agar teguh pendirian?"
Marissa terdiam mendadak. Kata-kata itu menusuk lebih tajam dari sekedar nasihat. Dadanya naik turun, napasnya masih memburu menahan segala emosi yang bercampur jadi satu.
"Jadi... kamu membiarkan saja dia melakukan sesuka hatinya?" suaranya melembut sedikit, terdengar seperti seorang istri yang meminta dukungan, bukan sekedar marah.
"Aku tidak membiarkan," jawab Aditya tenang namun tegas. Ia berdiri perlahan, melangkah menuju jendela besar yang memandang ke halaman depan rumahnya yang luas. "Aku hanya tidak akan ikut campur. Semakin kita ikut campur, semakin dia merasa tertekan dan melawan. Kau tahu sendiri sifat anak kita, Marissa. Semakin dilarang, semakin dia ingin melakukannya."
"Aku ibunya, Mas! Aku yang melahirkannya, yang membesarkannya! Bagaimana mungkin aku diam saja melihat dia menghancurkan masa depannya sendiri?!"
Aditya berbalik perlahan menatap istrinya, tatapannya lembut namun penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.
"Dan aku ayahnya. Dan sebagai ayahnya... aku percaya pada kemampuan anakku. Kalau dia jatuh karena keputusannya sendiri... biarkan dia yang bangkit kembali dengan kekuatannya sendiri. Kalau dia menang dan berhasil membangunnya lebih baik lagi... maka Reynand Group akan jauh lebih kuat berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa bayang-bayang nama keluarga kita maupun keluarga Wijaya."
Marissa menatap suaminya, mata yang tadi menyala penuh api kemarahan kini justru semakin berkaca-kaca, bukan karena tersentuh, melainkan karena merasa tidak dipahami dan dibiarkan sendiri.
"Jadi menurutmu aku harus diam saja? Menunggu sampai semuanya hancur berkeping-keping baru menyesal?" suaranya meninggi kembali, napasnya memburu. "Tidak, Mas! Aku tidak bisa! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"
"Marissa, pikirkan dulu dengan tenang—"
"Jangan suruh aku tenang!" potongnya tajam, menepis tangan suaminya yang hendak menahan bahunya. "Kalian semua memang tidak pernah mengerti betapa beratnya menjaga nama baik keluarga ini!"
Dengan langkah yang gemetar namun penuh kekesalan, ia berbalik dan melangkah cepat menuju lorong kamar.
"Marissa!" seru Aditya, namun istrinya tidak menoleh sedikit pun.
Sesampainya di depan pintu kamar utama, Marissa berhenti sejenak, menarik napas panjang bergetar, lalu dengan satu gerakan kasar ia membuka pintu itu lebar-lebar.
BRAKK!!
Pintu dibanting keras hingga gagang pintu berbunyi nyaring menghantam dinding di belakangnya. Getaran itu terasa hingga ke lantai.
Aditya berdiri sendirian di ruang tengah, menghela napas panjang, lalu menatap ke arah pintu yang tertutup rapat itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau salah paham, Marissa..." bisiknya pelan pada keheningan yang kembali menyelimuti rumah besar itu. "Aku tidak membiarkan dia hancur. Aku hanya memberinya ruang untuk tumbuh."
-
-
-
Langit di luar jendela mulai memerah keemasan. Lampu kantor menyala satu per satu, mengusir cahaya sore yang memudar.
Anindya menutup laptopnya pelan. Sejak jam satu siang tadi, ia hanya merapikan meja dan membaca SOP. Belum ada pekerjaan sungguhan yang masuk.
Pintu ruangan utama terbuka. Hansen keluar, wajahnya datar seperti biasa.
"Anindya, pulang."
Anindya sedikit terkejut. "Eh... iya, Pak. Sebentar, saya beres-beres dulu."
Ia buru-buru memasukkan barang ke tas dengan tangan yang masih sedikit canggung.
Belum selesai sepenuhnya, pintu terbuka lagi. Reynand muncul. Kemeja putihnya masih rapi, dasi sudah dilepas dan digantung di satu tangan. Wajahnya tampak lelah, namun matanya langsung mengunci pandangan ke arah Anindya seketika.
"Mau pulang?" suaranya rendah, tidak ada nada bertanya yang sebenarnya.
Anindya langsung menegakkan badan. "I-iya, Pak. Saya pamit."
Reynand melirik jam di pergelangan tangannya. Tepat pukul lima lewat tujuh belas menit.
"Pulang naik apa?"
"Saya... saya pesan taksi online, Pak," jawabnya gugup, menunduk sedikit.
Reynand mengulurkan tangan ke arah Hansen. "Kunci mobilnya."
Begitu kunci berpindah ke tangannya, ia menatap Anindya kembali.
"Tidak perlu pesan taksi. Saya yang antar."
Anindya mendongak bingung. "T-tapi Pak... tidak perlu repot, saya bisa sendiri—"
"Saya tidak mengulang dua kali."
Nada itu datar, dingin, namun perintahnya tegas, tidak memberi celah untuk menolak.
Hansen yang sedari tadi berdiri diam langsung memalingkan wajah, pura-pura sibuk melihat layar ponselnya, menahan senyum tipis yang nyaris terlihat.
-
-
-
Bersambung...