Indonesia
NovelToon NovelToon
Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Undangan yang Mencurigakan

"Aku ingin kau yang menyetir besok, Raka," kata Handoko pagi itu, tanpa basa-basi seperti biasanya. "Bukan sopir cadangan. Setelah kejadian di lampu merah dulu, aku merasa lebih aman dengan refleksmu di belakang kemudi."

Raka menahan senyum kecil yang hampir muncul — ironi bahwa kepercayaan barunya justru memberi akses persis yang ia butuhkan. "Tentu, Pak. Jam berapa pertemuannya?"

"Sepuluh pagi, di kantor Andratama." Handoko merapikan jasnya di depan cermin, wajahnya masih menyimpan keraguan yang belum sepenuhnya hilang sejak percakapannya dengan Cinta malam sebelumnya. "Aku juga sudah minta agar pertemuan ini singkat. Kalau memang cuma soal 'keamanan tambahan', seharusnya tidak perlu lebih dari tiga puluh menit."

Di bengkel tua, malam sebelumnya, tim sudah menyusun rencana cadangan. "Aku akan berada di van pemantau di parkiran bawah tanah Andratama Tower," kata Wulan, menunjukkan peta gedung di layar. "Kalau ada yang mencurigakan, aku bisa memberi peringatan dalam hitungan detik."

"Aku akan menunggu di kafe seberang gedung, siap bergerak kalau dibutuhkan," tambah Bara. "Tapi Raka, kali ini kau masuk sebagai dirimu sendiri — sopir Raka, bukan Bagas si petugas keamanan. Kalau Setiawan berbuat sesuatu di depanmu langsung, kau tidak punya alasan sah untuk campur tangan tanpa membuka identitasmu."

"Aku tahu risikonya," jawab Raka. "Tapi aku juga tahu, Setiawan tidak akan bertindak bodoh di kantornya sendiri, di depan pengacara dan staf yang bisa jadi saksi. Dia akan bermain lebih halus."

Kata-kata itu terbukti benar keesokan paginya.

Ruang pertemuan di lantai eksekutif Andratama Tower didekorasi elegan, jauh dari kesan mengancam yang Raka duga sebelumnya. Setiawan menyambut Handoko dengan hangat, seolah insiden racun beberapa hari lalu hanyalah kecelakaan tak terkait yang telah lama dilupakan.

"Terima kasih sudah bersedia datang, Pak Handoko," kata Setiawan, mempersilakan duduk. "Saya ingin memastikan tidak ada insiden serupa lagi sebelum penandatanganan ulang minggu depan."

"Saya menghargai perhatiannya," jawab Handoko, formal tapi waspada.

Raka berdiri di sudut ruangan, posisi standar seorang sopir pribadi yang menunggu tuannya, tapi telinganya menangkap setiap kata dengan presisi seorang agen terlatih.

"Setelah insiden itu," lanjut Setiawan, "saya merasa bertanggung jawab menawarkan sesuatu — tim keamanan pribadi tambahan dari Andratama, ditempatkan langsung di kediaman Bapak, untuk melindungi keluarga selama masa transisi merger ini."

Raka merasakan dadanya dingin seketika. Tim keamanan tambahan. Bukan sekadar bantuan — itu cara halus untuk menempatkan orang-orang Setiawan langsung di dalam rumah Wijayakusuma, mendapatkan akses yang jauh lebih dalam daripada yang bisa dicapai lewat pengawasan dari luar.

"Saya rasa keamanan kami sudah cukup," Handoko menjawab, sedikit terkejut oleh tawaran yang terlalu bermurah hati itu.

"Saya bersikeras, Pak Handoko." Nada Setiawan tetap ramah, tapi tegas di baliknya. "Setelah apa yang hampir terjadi, saya tidak bisa membiarkan mitra bisnis penting saya berada dalam risiko yang bisa saya cegah. Anggap ini bagian dari komitmen Andratama terhadap kerja sama kita."

Handoko melirik sekilas ke arah Raka, seolah mencari pendapat tanpa kata — sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya, tanda kecil betapa jauh kepercayaan di antara mereka telah bergeser sejak insiden lampu merah dulu.

Raka menjaga wajahnya tetap datar, meski di dalam benaknya, ia tahu ia harus menemukan cara menolak tawaran itu tanpa terlihat mencurigakan dari sisi mana pun.

"Kalau boleh saya sarankan, Pak," Raka akhirnya bersuara, memecah protokol biasa seorang sopir yang seharusnya diam, tapi memanfaatkan kepercayaan baru yang diberikan Handoko padanya. "Menambah personel keamanan asing di rumah, di tengah masa transisi yang masih rentan seperti ini, bisa menimbulkan kesan bahwa keluarga Wijayakusuma tidak sepenuhnya mengendalikan keamanan mereka sendiri — hal yang mungkin akan diperhatikan media dan pemegang saham menjelang penandatanganan."

Setiawan menatap Raka sejenak, matanya berkilat mengenali taktik itu untuk apa sebenarnya — bukan sekadar pendapat sopir biasa, tapi langkah seorang lawan yang tahu persis cara membalikkan tawaran licik menjadi risiko reputasi.

Handoko, tanpa menyadari makna tersembunyi di balik pertukaran itu, mengangguk setuju. "Raka benar. Kita cukup dengan keamanan internal kita sendiri untuk saat ini, Kolonel. Tapi saya hargai perhatiannya."

Untuk sesaat, senyum Setiawan mengeras, hampir tak terlihat, sebelum kembali ke topeng ramahnya yang biasa. "Tentu, Pak Handoko. Keputusan sepenuhnya di tangan Anda."

Pertemuan berakhir tanpa insiden lebih jauh, tapi saat Raka membuka pintu mobil untuk Handoko di area parkir, ia merasakan tatapan Setiawan dari balik jendela lantai eksekutif, jauh di atas mereka — tatapan seseorang yang baru saja kehilangan satu langkah dalam permainannya, dan sudah mulai memikirkan langkah berikutnya.

"Bagus sekali, Raka," suara Wulan masuk lewat earpiece tersembunyi begitu mobil melaju keluar dari area gedung. "Tapi dia sekarang tahu pasti, kau bukan cuma sopir yang beruntung. Dia tahu kau mengerti persis apa yang ia coba lakukan."

"Aku tahu," jawab Raka pelan, matanya tetap fokus ke jalan di depan. "Dan sekarang dia akan mencari cara lain, yang mungkin tidak semudah ditolak dengan kata-kata."

1
Eka P
c
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!