Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.

​Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.

​Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18.Badai media

Ruang konferensi pers utama di lantai tiga Danuartha Tower dijejali oleh puluhan wartawan dari berbagai media massa nasional, baik cetak, televisi, maupun portal berita digital.

Suara bisik-bisik yang riuh dan kilatan cahaya kamera yang saling menyambar menciptakan atmosfer yang amat tegang. Berita mengejutkan mengenai dugaan penyalahgunaan dana perusahaan sebesar dua miliar rupiah untuk transaksi pernikahan Arka Danuartha telah menjadi topik terpanas di seluruh penjuru negeri sejak dua jam lalu.

Di balik ruang tunggu VIP yang kedap suara, Aira berdiri di depan cermin besar. Gadis itu mengenakan gaun formal berlengan panjang berwarna krem elegan yang dipadukan dengan perhiasan mutiara sederhana namun anggun. Walau penampilannya sangat memukau, wajah Aira masih agak pucat. Tangan bahagianya gemetar pelan.

"Masih merasa cemas?"

Suara berat dan dalam milik Arka memecah keheningan. Pria berusia 39 tahun itu melangkah mendekati Aira dari belakang.

Arka tampak amat gagah dan dominan dalam balutan setelan jas kustom berwarna abu-abu gelap buatan penjahit terbaik Italia. Tidak ada sedikit pun raut kepanikan di wajahnya yang tegas.

Arka meletakkan kedua tangannya di bahu Aira, menatap pantulan bayangan mereka di cermin.

"Kamu tidak perlu mengucapkan sepatah kata pun di depan para wartawan itu jika kamu tidak siap. Cukup berdiri di samping saya."

Aira membalikkan badannya, menatap mata hitam Arka yang tenang dan tajam. "Aira tidak takut pada wartawan, Mas. Aira cuma... takut hal ini merugikan nama baik Mas Arka dan saham perusahaan."

Arka tersenyum amat tipis—sebuah ukiran senyum yang memancarkan rasa percaya diri yang tak tergoyahkan. Tangannya terangkat, merapikan helai rambut Aira yang jatuh di sisi pipinya.

"Nama baik saya tidak dibangun di atas fondasi yang mudah runtuh oleh tuduhan murahan, Aira. Dan perusahaan ini adalah milik saya secara mutlak. Tidak ada yang bisa menjatuhkan saya hanya dengan dokumen yang dipotong secara licik."

Pintu ruang tunggu terbuka pelan. Raymond melangkah masuk dengan setelan jas hitamnya yang rapi, membawa map tebal berlogo Danuartha Group.

"Pak Arka, seluruh wartawan sudah berkumpul. Para dewan komisaris—termasuk Tuan Kertarajasa dan Nyonya Dania—juga sudah hadir di kursi pengamat VIP di samping podium," panggil Raymond sigap.

Arka mengangguk singkat. Pria itu mengulurkan lengan kakunya pada Aira. "Siap?"

Aira menghembuskan napas panjang, meluruskan bahunya, lalu menyelipkan jemarinya di lekukan lengan Arka. "Siap, Mas."

Ketika pintu ganda ruang konferensi pers dibuka dari dalam, suara gemuruh jepretan kamera seketika meledak. Cahaya lampu flash membakar pandangan, menyambut langkah Arka dan Aira yang berjalan anggun menuju podium utama.

Di barisan kursi pengamat VIP sebelah kiri, Dania duduk dengan melipat kaki. Wanita itu mengenakan gaun hitam dengan riasan tebal. Di sampingnya, Tuan Kertarajasa duduk dengan wajah datar. Dania melemparkan tatapan cemas bercampur dendam saat melihat Aira melangkah tegar di samping Arka. Dania menyunggingkan senyum kemenangan yang amat tipis, merasa yakin bahwa hari ini adalah akhir dari reputasi Arka sebagai pengusaha tanpa cela.

Arka mendudukkan Aira di kursi samping podium, lalu pria itu berdiri tegap di depan beberapa mikrofon yang terpasang. Suasana ruangan yang semula riuh seketika hening total begitu Arka menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dengan aura dominasi mutlak yang membekukan.

"Selamat sore," buka Arka dengan suaranya yang tenang, dalam, dan berwibawa, menggema melalui sistem pengeras suara.

"Saya tahu alasan kalian berkumpul di sini hari ini. Berita mengenai transaksi keuangan pribadi saya sebesar dua miliar rupiah baru saja dipublikasikan secara sepihak oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk memicu opini publik."

Seorang wartawan senior dari media ekonomi ternama langsung mengacungkan tangan dan berdiri. "Pak Arka! Apakah benar dana dua miliar rupiah itu digunakan untuk melunasi utang keluarga istri baru Anda, dan apakah dana tersebut diambil dari kas operasional Danuartha Group?!"

Pertanyaan itu membuat suasana kembali mendidih. Beberapa wartawan lain mengangguk-angguk setuju.

Arka tidak memotong. Pria itu menatap wartawan tersebut dengan tenang, lalu memberi isyarat pada Raymond. Raymond segera mengoperasikan proyektor utama di belakang podium, menampilkan dokumen-dokumen audit keuangan berkekuatan hukum.

"Pertama," tegas Arka, suaranya menusuk tajam. "Dana dua miliar rupiah tersebut ditransfer secara langsung dari rekening pribadi saya atas nama Arka Danuartha, bukan dari kas operasional maupun investasi Danuartha Group. Ini adalah bukti audit rekening pribadi saya yang disahkan oleh bank nasional dua jam lalu."

Layar besar di belakang Arka menampilkan rincian rekening pribadi yang membuktikan tanpa keraguan bahwa tidak ada satu rupiah pun dana perusahaan yang disentuh.

Wajah Dania di barisan VIP seketika menegang. Tuan Kertarajasa melirik Dania dengan tatapan mata yang penuh amarah dan kejengkolan.

"Kedua," lanjut Arka, suaranya makin dingin dan tegas.

"Mengenai transaksi dua miliar rupiah itu... itu bukan 'uang pembelian istri' sebagaimana tuduhan beracun yang disebarkan media. Uang tersebut adalah dana bantuan medis dan pelunasan kewajiban hukum yang saya berikan secara tulus kepada keluarga ibu mertua saya, Ny. Wahyuni, yang saat itu sedang kritis di rumah sakit."

Arka membalikkan badannya sedikit, menatap Aira dengan binar mata yang melunak penuh kehangatan di depan ratusan kamera.

"Saya menikahi Aira bukan karena transaksi bisnis, bukan pula karena transaksi keuangan," kata Arka dengan nada suara yang begitu dalam dan menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya.

"Saya menikahi Aira karena dia adalah wanita yang memiliki kehormatan, keteguhan hati, dan kasih sayang murni yang dibutuhkan oleh putra saya, Elano, serta oleh hidup saya sendiri."

Deg.

Aira yang duduk di samping podium merasa jantungnya berhenti berdetak sejenak. Air mata haru menggenang di pelupuk matanya. Pernyataan Arka di depan media nasional dan puluhan kamera televisi secara langsung itu begitu mantap, jujur, dan tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk keraguan.

Ruang konferensi pers hening seketika. Para wartawan terpaku oleh penjelasan Arka yang sangat transparan, elegan, sekaligus sarat akan ketegasan seorang pria sejati.

Arka kembali menatap ke depan, aura protektifnya berubah menjadi kejam dan berbahaya dalam sekejap.

"Saya sudah mengantongi identitas oknum yang meretas dan menyebarkan dokumen internal serta menyebarkan fitnah ini ke media publik," ujar Arka dengan nada yang sanggup membekukan darah lawan-lawannya.

"Tim hukum Danuartha Group telah mendaftarkan gugatan pidana atas pencemaran nama baik, pelanggaran hak privasi, dan upaya sabotase saham perusahaan terhadap pihak pembocor dan media yang mempublikasikan berita hoaks ini tanpa verifikasi."

Arka melirik ke arah kursi VIP tempat Dania dan Kertarajasa duduk. Pandangan mata Arka yang pekat bagaikan mata pisau yang langsung menguliti Dania di tempatnya.

"Saya tidak akan memberikan toleransi sekecil apa pun bagi siapa saja—termasuk anggota dewan komisaris atau keluarga besar—yang mencoba menyentuh atau merusak kedamaian keluarga saya," tutup Arka tegas.

"Konferensi pers selesai."

Tanpa memberikan kesempatan bagi para wartawan untuk bertanya lebih jauh, Arka berbalik, melangkah mendekati Aira, lalu mengulurkan tangannya. Aira menyambut genggaman tangan Arka yang hangat.

Dengan pengawalan ketat dari Raymond dan tim keamanan, Arka menuntun Aira melangkah keluar dari ruang konferensi pers yang riuh, meninggalkan Dania yang terpaku pucat pasasi di kursinya.

Malam harinya, di dalam penthouse kediaman Danuartha.

Suasana rumah terasa sangat tenang dan damai. Berita konferensi pers sore tadi telah membalikkan keadaan secara total.

Opini publik yang semula mencibir kini berbalik memuji sikap tegas dan protektif Arka sebagai seorang suami idaman. Saham Danuartha Group di bursa efek bahkan melonjak naik sebesar tiga persen akibat kepercayaan investor terhadap ketegasan pimpinan mereka.

Di dalam kamar tidur utama, Aira berdiri di dekat balkon, memandangi gemerlap lampu kota Jakarta dari lantai atas. Angin malam yang sejuk mengibarkan rambut cokelatnya yang terurai halus.

Suara langkah kaki yang mantap mendekat dari belakang. Sebuah mantel hangat dilingkarkan di bahu Aira dari belakang, disusul oleh aroma parfum maskulin khas kayu cendana yang begitu familiar.

Arka berdiri tepat di belakang Aira, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Aira secara perlahan. Dada bidang pria itu menempel hangat di punggung Aira, menyalurkan rasa aman yang tak terlukiskan.

Aira tidak menolak. Gadis itu justru meletakkan kedua tangannya di atas lengan Arka yang melingkari pinggangnya, menyandarkan kepalanya di dada Arka.

"Terima kasih untuk yang sore tadi, Mas," bisik Aira pelan, suaranya dipenuhi rasa syukur yang amat murni. "Mas Arka membela Aira di depan seluruh dunia..."

Arka menundukkan kepalanya, membenamkan wajahnya di celah leher Aira, menghirup aroma harum tubuh gadis itu yang menenangkan pikiran lelahnya setelah seharian bertempur dengan konflik.

"Saya tidak cuma membela kamu, Aira," desah Arka dengan suara seraknya yang amat rendah di dekat telinga Aira. "Saya mempertahankan milik saya."

Aira memejamkan matanya, merasakan embusan napas hangat Arka yang menggetarkan seluruh saraf di tubuhnya.

"Mas Arka..." panggil Aira lirih, memberanikan dirinya untuk menanyakan hal yang selama ini mengganjal di dadanya.

"Bagaimana dengan perjanjian kontrak kita yang dua tahun itu? Apakah... apakah Mas Arka masih menganggap pernikahan ini cuma sebatas perjanjian kertas?"

Arka menghentikan pergerakannya sejenak. Pria berusia 39 tahun itu perlahan membalikkan tubuh Aira agar menghadapnya sepenuhnya. Di bawah pendar cahaya bulan malam yang temaram, mata hitam Arka menatap lurus ke dalam iris mata cokelat Aira yang jernih.

Arka meraih jemari Aira, membawanya ke dada kirinya—tepat di mana jantung pria itu berdetak dengan ritme yang cepat dan kuat.

"Apakah kamu bisa merasakan detak jantung ini, Aira?" tanya Arka dengan kejujuran yang telanjang tanpa topeng keangkuhan lagi.

"Sejak almarhumah Siska meninggal empat tahun lalu, dada saya terasa mati rasa dan dingin. Tapi sejak kamu hadir di rumah ini... sejak kamu tersenyum pada Elano dan merawat saya saat lelah... jantung ini kembali berdetak."

Arka mendekatkan wajahnya, mengusap pipi Aira yang mulai dibasahi air mata haru dengan ibu jarinya.

"Surat perjanjian dua miliar itu sudah saya bakar di ruangan kerja saya kemarin malam," bisik Arka tegas dan lembut.

"Tidak ada lagi masa berlaku dua tahun. Tidak ada lagi ikatan kontrak. Yang ada hanya kamu, saya, dan Elano sebagai satu keluarga yang utuh... selamanya."

Tangis bahagia Aira tak terbendung lagi. Gadis itu berjinjit dan melingkarkan kedua tangannya di leher Arka, memeluk pria itu dengan seluruh cinta yang selama ini ia sembunyikan di dalam hatinya.

"Mas Arka... Aira mencintai Mas Arka..." tangis Aira berbisik di ceruk leher pria itu.

Arka membalas pelukan Aira dengan amat erat, melingkarkan lengan kokohnya di tubuh molek gadis itu, mengangkatnya sedikit dari lantai.

"Saya tahu, Aira. Dan saya jauh lebih mencintaimu," balas Arka dengan nada suara yang penuh dedikasi cinta yang mutlak.

Di atas balkon yang diterangi cahaya bintang malam itu, Arka menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam, hangat, dan penuh kelembutan murni. Sebuah ciuman yang mengunci janji suci mereka bukan lagi di atas lembaran kertas transaksi bernilai dua miliar rupiah... melainkan di atas takdir cinta sejati yang tak akan pernah terpisahkan oleh apa pun.

_Bersambung

1
Penulis kentang🍠
apaan dahhhh busett
gurucantik
😍😍😍😍😍
sago
🤣🤣🤣🤣🤣
sago
nak😍😍
sago
uhuyyy
sago
sini aku bantu make kartunya🤣
sago
😍😍😍😍
sago
💪💪💪💪💪🙏
sago
🤣🤣🤣
sago
lucu banget elano
sago
😂tulahh
sago
iyaa ihhh
Saintz Gold
gasabarrrr
Saintz Gold
cemburuuuu
Saintz Gold
🤭🤭🤭
Saintz Gold
😍😍😍😍
Pendi Gudung
lanjuttt
Pendi Gudung
asik naga ajaaa
Rif Qi
up Thor jangan lama lama
Rif Qi
lnjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!