Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 KEMULIAAN JUGA DATANG BERBALUT PAKAIAN TANPA MEREK

Pada panggilan kelima, Maya menekan nomor Karina. Karina dulu sahabat terbaiknya di sekolah. Mereka pernah berbagi rahasia, mabuk-mabukan pertama, patah hati pertama.

Mereka pernah bersumpah menjadi sahabat selamanya, janji-janji masa remaja yang diucapkan dengan sepenuh hati dan patah termakan waktu. Karina tak mengangkat dua panggilan sebelumnya. Kali ini ia mengangkat.

"Maya," ucap Karina, dan suaranya terdengar aneh, jauh. "Dengar, aku nggak mau berbelit-belit. Semua orang tahu soal ayahmu. Nggak akan ada yang mau meminjamimu apa pun. Kamu itu beban risiko."

Kata-kata itu menghantam Maya bagai bogem mentah di ulu hati.

"Beban risiko?" ulangnya, tak percaya. "Ini aku, Karina. Ini Maya. Aku beban risiko?"

Keheningan menjadi jawabannya. Sebuah keheningan dingin, mutlak. Maya menunggu. Ia menunggu sebuah ralat, sebuah permintaan maaf, sebuah "bukan itu maksudku". Tapi Karina tak berkata apa-apa lagi. Bahkan tak berpamitan. Ia hanya memutus sambungan.

Maya terus menatap layar ponselnya sampai layar itu meredup sendiri karena tak dipakai. Bayangan wajahnya sendiri balas menatapnya: mata sembap, kantung mata dalam, cat kuku merah muda yang mengelupas.

Ia bukan lagi Maya Adiwangsa dari pesta-pesta dan jamuan makan malam mewah. Ia orang lain. Seorang asing.

Ia menyimpan ponselnya. Ia tak menelepon siapa pun lagi.

* * *

Hari-hari berikutnya menjadi pelajaran tentang penghinaan sehari-hari.

Maya belajar bahwa lapar itu tidak puitis. Lapar itu menyakitkan. Lapar adalah hewan yang bersarang di perut dan menggerogotinya dari dalam, yang mengaburkan pikiran dan mengasah naluri.

Setelah dua hari hanya makan roti keras dan air, Maya paham mengapa orang mencuri. Bukan karena jahat. Demi bertahan hidup.

Ia belajar mengulur uang seolah uang itu permen karet. Tiap rupiah berarti. Tiap keping recehan punya tujuan yang telah ditentukan. Roti untuk sarapan. Nasi untuk makan malam. Pulsa ponsel, karena ia harus bisa dihubungi seandainya si pengacara menelepon.

Ia belajar bahwa di warung dekat rumahnya ia tak bisa berutang. Bahwa daging kini menjadi kemewahan yang tak lagi mampu ia beli.

Bahwa sayuran di kios sayur pojok jalan lebih murah kalau ia datang tepat menjelang tutup, saat penjualnya ingin menghabiskan sisa dagangan.

Ia belajar bahwa perempuan di lantai dua, seorang ibu tua bernama Bu Erna, selalu tersenyum padanya tiap kali mereka berpapasan di tangga. Awalnya, Maya membalasnya dengan gerak tubuh ketus, nyaris kasar.

Ia tak mau belas kasihan. Tak mau dikasihani. Tapi Bu Erna tak menyerah, dengan kesabaran orang yang telah banyak melihat namun sedikit menghakimi.

"Ini, Nak," ucapnya suatu hari, menyodorkan sekotak sup buatan sendiri. "Nggak ada yang makan enak di gedung ini. Tapi setidaknya kamu nggak akan kelaparan, dengar Ibu?"

Maya ingin menolak. Ingin berkata ia tak butuh bantuannya. Tapi perutnya berbunyi tepat pada saat itu, pengkhianatan biologis yang membongkar kebutuhannya.

Ia menerima sup itu. Sup sayur, sederhana, tanpa daging. Tapi hangat. Dan ada rasanya. Rasa dari sesuatu yang bukan roti kering dan kepasrahan.

"Terima kasih," bisik Maya, dan kata-kata itu terasa seperti kekalahan sekaligus kemenangan.

Bu Erna tersenyum, memperlihatkan celah-celah gigi yang tanggal.

"Sama-sama, cah ayu. Di sini kita saling bantu. Atau kita mati sendirian. Nggak ada pilihan lain."

* * *

Ia menelepon ayahnya.

Itu panggilan tersulit dalam hidupnya. Sambungannya buruk sekali, seolah penjara itu berada di negara lain, di abad lain.

Suara Bramantyo Adiwangsa terdengar terputus-putus, berlogam, terdistorsi.

"Maya? Kamu, Nak?"

"Ini aku, Papa. Aku sayang Papa. Kita pasti keluarkan Papa dari sana."

"Ibumu? Bagaimana keadaan ibumu?"

Maya berbohong. Ia tak pernah berbohong pada ayahnya, tapi malam itu ia belajar.

"Baik, Papa. Mama baik-baik saja. Ia banyak istirahat. Kata dokter beberapa minggu lagi ia sudah pulih seperti sedia kala."

Kebohongan itu tersangkut di tenggorokannya, tapi ia mengucapkannya. Ia mempertahankannya. Ia membelanya.

"Nak... hati-hati dengan pamanmu. Laki-laki itu berbahaya. Kamu tak tahu apa yang bisa ia perbuat."

"Papa jangan khawatir. Biar aku yang urus."

"Kamu kuat, Maya. Lebih kuat dari yang kamu kira."

Maya ingin mempercayainya. Tapi ketika ia memutus sambungan, ketika suara ayahnya lenyap dalam bunyi putih sambungan yang terputus, ia duduk di lantai dan memeluk lututnya.

Ia tak merasa kuat. Ia merasa seperti sehelai daun kering yang pasrah pada angin.

* * *

Saat itulah, di tengah malam penuh keputusasaan itu, Maya mengambil sebuah keputusan.

Si pengacara telah menelepon lagi. Empat puluh delapan jam telah menyusut menjadi dua puluh empat. Waktu lolos bagai air lewat celah jari, sedangkan ia tak punya lima ratus juta rupiah.

Ia tak punya lima ratus juta. Tak punya seratus. Yang tersisa cuma recehan untuk roti esok hari.

Ia menatap ibunya, yang tertidur di sofa dengan napas tersendat. Ia menatap ponselnya, bisu, penuh kontak yang tak lagi menjadi teman. Ia menatap tangannya yang kosong, kukunya yang mengelupas, pakaiannya yang usang.

Aku harus menemukan jalan keluar, pikirnya. Apa pun taruhannya.

Ia mengenakan satu-satunya sepatu yang tersisa: sepasang sepatu balet kulit hitam yang sudah usang, solnya menipis termakan pemakaian, talinya putus dan telah ia ikat dalam simpul kencang agar tak terurai.

Ia mengikat rambutnya dalam kuncir tinggi, sebab rambut tergerai adalah kemewahan yang tak boleh ia miliki di jalanan berbahaya. Ia menatap bayangannya di cermin retak kamar mandi dan tak mengenali dirinya sendiri.

Saat itu pukul sepuluh malam. Kawasan itu sedang hidup: musik yang menggelegar dari salah satu apartemen, sirene polisi di kejauhan, anjing-anjing menggonggong, para tetangga saling berteriak dari satu balkon ke balkon lain.

Bau sampah dari gang mengambang di udara, pekat, sesak untuk dihirup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!