Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Sertifikat Rahasia dan Ultimatum Sekolah
Ruangan Kepala Sekolah terasa makin memunculkan hawa dingin yang menusuk tulang. Cassandra mengepalkan jemarinya erat-erat, menatap pria bersetelan jas hitam yang tersenyum penuh kemenangan di balik meja kayu mahoni.
Narendra langsung bergeser secepat kilat, memblokir pandangan konsultan hukum itu dari wajah Cassandra yang mulai memucat. Cowok itu menyunggingkan senyum miring yang terkesan santai namun dipenuhi kewaspadaan tingkat tinggi.
"Bapak terlalu terburu-buru mengeluarkan ultimatum buat anak sekolah seperti kami," celetuk Narendra dengan nada santai seraya memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana abu-abunya. "Lagi pula, skorsing permanen butuh persetujuan tertulis dari seluruh dewan komite sekolah, kan?"
Pria berjas hitam itu tertawa sinis, merapikan lengan kemejanya seraya menatap Narendra dengan tatapan meremehkan. Namun sebelum pria itu sempat membalas, pintu ruang Kepala Sekolah mendadak diketuk keras dari luar.
Ibu Cassandra melangkah masuk ke dalam ruangan dengan anggun, membawa sebuah map kulit berwarna cokelat tua di tangannya. Kehadiran ibunya yang mendadak membuat suasana menegang di dalam ruangan seketika mencair menjadi gelombang kejutan baru.
"Maaf mengganggu pembicaraan penting ini, Pak Kepala Sekolah," sapa Ibu Cassandra dengan suara tegas namun sangat santun. "Saya kemari untuk menyerahkan dokumen legalitas aset riset almarhum suami saya yang sah secara hukum."
Cassandra bernapas lega seraya menghampiri ibunya, menggandeng lengan wanita itu dengan rasa haru yang meluap. Narendra ikut tersenyum tipis, merasa beban berat di pundak cewek kesayangannya perlahan terangkat.
Pria berjas hitam itu menggerakkan rahangnya ketat, tampak terkejut melihat dokumen legalitas yang terhampar di atas meja Kepala Sekolah. Rencana intimidasinya runtuh seketika, saat Kepala Sekolah membaca lembar demi lembar berkas bersertifikat resmi tersebut.
"Dengan dokumen ini, tuduhan bahwa anak saya mencuri data yayasan terbukti salah total," tegas Ibu Cassandra seraya menatap konsultan hukum itu tanpa gentar. "Riset tersebut adalah milik pribadi keluarga kami dan dilindungi oleh undang-undang hak cipta."
Kepala Sekolah mengangguk-angguk pelan, lalu berdeham untuk menetralkan ketegangan yang terlanjur membumbung tinggi. "Kalau begitu, keputusan skorsing untuk Cassandra dan Narendra batal demi hukum."
Pukul 14.00 WIB.
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, menyebarkan keceriaan di seluruh sudut SMA Garuda yang mulai lengang. Cassandra dan Narendra berjalan berdampingan menelusuri taman belakang sekolah yang rindang dan tenang.
Sinar matahari sore menembus celah dedaunan pohon mahoni, menciptakan pendar cahaya keemasan yang cantik di wajah Cassandra. Rintangan besar di ruang Kepala Sekolah tadi pagi seolah menguap, digantikan oleh kebebasan manis yang patut dirayakan.
"Gue tadi deg-degan banget pas pria berjas itu ngancam kita," aku Cassandra seraya duduk di kursi kayu taman dan memeluk tas sekolahnya. "Tapi lu keren banget pas memotong omongan dia dengan santai gitu, Ren."
Narendra ikut duduk di samping Cassandra, menyandarkan punggungnya seraya menatap langit sore yang cerah. Cowok itu melirik Cassandra dari samping, menyunggingkan senyum hangat yang selalu berhasil melelehkan hati cewek di sebelahnya.
"Kan ada lu di samping gue, Cas," sahut Narendra pelan dengan nada suara yang begitu tulus. "Gue cuma perlu bersikap tenang biar lu enggak merasa takut lagi."
Pipi Cassandra seketika merona merah mendengar perkataan tulus dari cowok di sampingnya. Ia menyenggol bahu Narendra pelan dengan wajah cemberut yang dibuat-buat demi menyembunyikan rasa canggung yang manis.
"Bisa banget ya bikin orang salting siang-siang gini!" cibir Cassandra seraya tertawa kecil yang terdengar sangat renyah.
Narendra tertawa lepas, meraup jemari Cassandra yang ada di atas paha cewek itu lalu mengusapnya penuh kasih sayang. Momen indah dan tenang di taman sekolah itu terasa begitu pas untuk menutup segala kerumitan hari ini.
"Habis ini mau langsung pulang atau nongkrong dulu beli minuman boba langganan lu?" tawar Narendra seraya menatap lembut mata cokelat jernih milik Cassandra.
Cassandra menyunggingkan senyum paling manisnya, mempererat genggaman tangannya pada jemari hangat Narendra. "Beli boba dulu yuk, gue yang traktir deh sebagai tanda terima kasih."
Pukul 16.30 WIB.
Kedai boba di dekat stasiun kereta api terasa sangat ramai oleh para remaja yang menikmati waktu sore. Cassandra dan Narendra duduk berdua di area outdoor, ditemani dua gelas boba cokelat dengan ekstra boba gula jawa.
Suara denting es batu beradu dengan sedotan saat Cassandra menyeruput minumannya dengan lahap. Narendra memperhatikan tingkah gemas ceweknya itu seraya menopang dagu dengan sebelah tangan, tersenyum tanpa henti.
"Sumpah ya, boba rasa cokelat ini emang paling pas buat ngilangin stres!" seru Cassandra riang dengan mata berbinar-binar penuh kebahagiaan.
"Bagus deh kalau stres lu udah hilang," balas Narendra seraya mengusap sedikit bekas krim manis di sudut bibir Cassandra menggunakan jempolnya.
"Soalnya mulai besok kita harus fokus persiapan ujian akhir semester."
Perlakuan tiba-tiba Narendra membuat Cassandra terdiam kaku dengan jantung yang mendadak berdebar kencang luar biasa. Pipi cewek itu makin merona merah bak buah tomat matang di bawah sorotan lampu jalanan yang baru menyala.
"Bisa enggak sih ngasih usapan di bibir itu pakai aba-aba dulu?" protes Cassandra malu-malu seraya memegang kedua pipinya yang terasa panas.
Narendra tertawa penuh kemenangan, sangat menikmati reaksi menggemaskan dari cewek peretas yang biasanya tampil tangguh tersebut.
"Lagian lu minumnya belepotan banget kayak anak TK, Cas."
Tawa riang mereka menyatu dengan hiruk-pikuk sore kota Jakarta yang hangat dan romantis. Segala masalah ancaman peretas dan isu sekolah seakan menguap tanpa bekas di antara tegukan minuman manis mereka.
Namun, ketenangan dan tawa bahagia mereka mendadak terhenti ketika sebuah pemberitahuan darurat berbunyi nyaring dari jam tangan pintar milik Narendra.
BZZZZZT! BZZZZZT!
Narendra mengernyitkan dahinya seraya menatap layar digital di pergelangan tangannya yang tiba-tiba berkedip warna kuning menyala.
Sebuah sinyal geolokasi yang terhubung dengan akun anonim di grup sekolah baru saja aktif di radius kurang dari seratus meter dari tempat mereka duduk.
Ponsel Cassandra yang tergeletak di atas meja mendadak menerima sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal: "Kalian berdua memang pintar membongkar ancaman besar, tapi kalian tidak sadar kalau pembuat dokumen anonim di grup sekolah, sedang duduk tepat di belakang kalian sekarang."