Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Selamat pagi Bos," ucap sang sekretaris melangkah masuk dengan setumpuk berkas di dekapan, menyunggingkan senyum profesional yang sudah terbiasa ia suguhkan kepada Bintang atasannya setiap bertemu. Namun, langkahnya mendadak berhenti saat menatap pemandangan di depannya dengan ekspresi terkejut yang sulit disembunyikan.
Atasannya itu tidak sedang bersama ibu Mentari, sosok yang sudah lama tidak ia lihat lagi ikut ke kantor, tapi bos nya justru menggandeng tangan wanita yang berdiri anggun di sampingnya seolah ada hubungan khusus di antara mereka.
Belum sempat rasa heran itu berubah menjadi pertanyaan yang terucap dari bibir sang sekretaris, suara Bintang memecah keheningan.
"Simpan berkas itu di atas meja, mau sampai kapan kamu berdiri di situ?" Tanya Bintang ngegas, menatap sekretarisnya datar.
"Baik Pak," jawab sekretaris, dengan tangan bergetar meletakkan tumpukan kertas di atas meja hingga beberapa berkas jatuh ke lantai.
Bulan yang melihat sekretaris itu ketakutan, tangannya mencubit pelan lengan Bintang dengan tatapan penuh isyarat. Bulan tidak setuju Bintang berbicara dengan nada keras kepada sekretaris.
"Tolong buatkan tiga gelas minuman," perintah Bintang selanjutnya, kali ini lebih lembut, jelas mengikuti kata-kata Bulan.
"Dua cangkir teh hangat untuk saya dan Bulan, lalu satu gelas susu putih untuk Talita."
"Maaf, untuk saya tidak usah ya Mbak. Sudah bawah air putih," potong Bulan, mengangkat air minum dalam tumbler.
"Lita juga nggak mau minum susu, tadi sudah minum di rumah," tolak Lita tiba-tiba sudah berada di tempat itu.
"Baik..." jawab sekretaris lalu meninggalkan tempat itu.
"Pak Bintang suka galak sama karyawan ya? Kasihan sekretaris tadi sampai takut begitu," protes Bulan ketika sekretaris sudah tidak terlihat.
"Katanya suruh tegas," Bintang tidak ingin sekretarisnya berpikir macam-macam tentang Bulan dan membuat fitnah bersama karyawan lain. Maka ia harus memagari privasi keluarganya dari orang yang sengaja ingin mencari celah untuk menjatuhkan.
Hingga siang hari, Bulan menemani Bintang dan saatnya memfokuskan diri untuk memberi perhatian kepada Talita dengan cara belajar sambil bermain. Menjelang makan siang mereka meninggalkan tempat itu.
"Bull..." panggil Bintang sambil berdiri merenggangkan otot yang kencang karena duduk setengah hari.
"Apa?" Jawab Bulan yang masih duduk di samping kaca.
"Kita cari makan," lanjut Bintang, lalu minta sekretaris untuk merapikan berkas. Kira-kira satu menit, Bulan sudah berdiri di seberang meja kerja menggandeng Talita.
Bintang, Bulan, dan Talita akhirnya melangkahkan kaki keluar dari pintu kaca kantor. Setelah berkutat dengan tumpukan berkas dan deretan spreadsheet sejak pagi, hembusan angin jalanan meski panas terasa seperti kebebasan kecil yang sangat Bintang butuhkan.
"Kita makan di mana Bull?"
"Tidak tahu," Bulan menggerakkan pundaknya. "Bapak yang punya rencana berarti sudah punya pandangan dong. Tapi awas! Kalau seperti kemarin, mengajak makan tapi pergi begitu saja," ancam Bulan lirih agar tidak didengar Talita.
Bintang terkekeh pelan sambil menjalankan kendaraan menuju restoran favoritnya bersama Mentari yang terletak beberapa ratus meter dari gedung perkantoran. Selama perjalanan singkat itu, celetukan santai sering kali terdengar dari bibir Bintang, tapi gadis kecil di belakang mereka tampak tidak biasa. Diam dan murung.
"Talita kenapa?" Tanya Bulan menoleh ke belakang.
"Coba... Bunda ikut..." ucapnya memelas.
"Oh, kalau Bunda sembuh nanti kita pergi bersama," jawab Bulan, perasaan bersalah seketika mendera. Selama ini ia sudah berupaya membuat ibu Talita sehat kembali, tapi dirinya juga manusia yang hanya bisa berusaha, garis hidup manusia sudah ditentukan oleh yang kuasa.
"Wah, dulu kita sering datang ke restoran ini bersama Bunda ya, Pah? Tapi kapan kita bisa kesini bareng Bunda lagi?" Talita semakin sedih, ketika sampai di restoran.
Bintang tercekat mendengar pertanyaan itu, jelas dirinya pun menginginkan hal yang sama.
"Sayang... Bunda sekarang sudah mendingan kok, Mama yakin dalam waktu dekat beliau akan segera sehat kembali, apa lagi didoakan oleh anak sholehah seperti Lita," Bulan berjongkok di pinggir meja kosong, mengangkat ujung jari nya dan menyusut air mata bening disudut mata bocah kecil itu.
Setelah Talita mengangguk dan agak tenang, mereka memilih meja di dekat jendela kayu yang menghadap ke taman kecil, tempat sinar matahari masuk melalui celah-celah dedaunan hingga tidak merasakan panas.
Tanpa perlu waktu lama membolak-balik menu, mereka segera menjatuhkan pilihan, ditunggu pelayan yang siap mencatat pesanan.
Hingga pesanan pun tiba, Bintang dan Bulan hendak menyendok makanan. Namun, menurunkan kembali, ketika tatapannya tertuju kepada hati yang masih tetap sedih.
Talita ingat beberapa bulan yang lalu ketika datang bertiga ke restoran ini dan makan bersama papa dan bunda diselingi canda tawa.
Sendok plastik merah berbentuk kelinci itu menggeluncur pelan di atas meja restoran, tapi jemari mungil Talita sama sekali tidak mau mengambilnya. Mata bulat itu berair saat menatap piring ayam goreng favoritnya yang masih utuh.
"Bunda kasihan... Bunda di rumah sendirian, lagi sakit. Talita enggak mau makan kalau Bunda enggak ikut," rengeknya lirih, bibirnya melengkung ke bawah.
Bulan bangkit dari kursi, lalu berlutut di samping Talita, merapikan poni tipis bocah empat tahun itu dengan lembut. Bukan seorang ibu jika Bulan tidak merasakan kesedihan yang sama, tapi ia berusaha sekuat nya untuk tidak menjatuhkan air mata di depan Lita.
"Talita tahu tidak? Saat Bunda lagi istirahat di rumah, Bunda sedang mengumpulkan kekuatan supernya supaya cepat sembuh," suara Bulan mengalun tenang. "Dan kekuatan super Bunda itu datangnya dari mana, coba?" Lanjut Bulan mencoba untuk tersenyum.
"Dari Mama dan obat," lirih Talita menengadah, mengusap matanya yang basah.
"Mama dan obat itu hanya perantara sayang, tapi kekuatan paling besar milik Bunda itu datang dari senyuman Talita dan perut Talita yang kenyang."
Bulan mengambil sendok kelinci itu, menyendok sedikit nasi hangat dan potongan ayam ke mulut Talita, tapi anak itu tetap menggeleng.
"Bunda di rumah sekarang mungkin sedang memejamkan mata, tapi tidak tidur, membayangkan Talita di sini hatinya riang, tidak sedih dan makan yang banyak. Tapi kalau Talita tidak mau makan dan jadi lemas, nanti kekuatan super Bunda malah berkurang karena kepikiran Talita terus. Sebaliknya, kalau Talita habiskan makanan ini. Nasi dan Ayam ini bakal bikin tubuh Talita kuat. Nanti waktu kita pulang, Talita bisa peluk Bunda dengan super hangat dan bilang, 'Bunda... Talita sudah pintar, sudah bisa makan sendiri sampai kenyang buat bagi kekuatan ke badan Bunda'
Bintang yang menyaksikan keduanya hanya bisa diam mematung, membiarkan makanan di piring tetap utuh..
Ia memandangi kursi di sudut sana, tempat di mana mereka jadikan momen yang indah karena sering kali bercanda ria dengan waktu yang tidak bisa dihitung. Hampir setiap akhir pekan mereka makan di restoran itu. Namun, entah kapan lagi Bintang, Mentari dan putrinya bisa mengulang saat seperti itu lagi? Air mata Bintang pun kini tidak bisa dibendung.
Waktu makan siang yang seharusnya indah kini berubah dramatis
Sementara Talita memandangi sendok di tangan Bulan, hanya menggeleng tidak lagi berselera, bayangan Bunda yang meringkuk di tempat tidur hanya seorang diri membuat perut Talita seolah penuh.
"Talita nggak mau makan, Talita mau pulang, Mah..." air mata gadis kecil itupun terus mengalir.
"Baiklah kita pulang," Bulan meletakkan sendok dan garpu, sekuat apapun ia berusaha menenangkan Talita tapi toh tidak ada gunanya. Ia peluk tubuh kecil itu memberikan kehangatan.
Belum hilang rasa sesak karena Lita, Bulan terkejut ketika tatapannya beralih ke arah Bintang yang tampak menunduk menopang dahi.
"Pak Bintang, sebaiknya kita pulang," kata Bulan, lalu menggendong tubuh Talita keluar dari restoran, tanpa menunggu Bintang yang mungkin sedang membayar makanan yang belum mereka sentuh.
Satu jam kemudian, mereka tiba di rumah, kali ini Bulan yang mengendarai mobil, tidak membiarkan Bintang yang tidak kalah kacau dari Lita itu menyetir.
"Bundaaaa..." Seru Talita saat berlari dari luar menuju kamar bunda. Anak itu menangis sesegukan di samping ranjang Mentari yang sedang tidur.
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌